Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Kau, Permata Alam!? #125


__ADS_3

"Silakan ...!" dengan ramah gadis cantik berambut kelabu dengan kedua telinga kucing itu menyajikan empat cangkir teh hangat di meja sekelompok pengembara tersebut.


Selesai meletakkan cangkir terakhir. Kedua mata indah berwarna biru muda milik perempuan atau pelayan bernama Emily itu tiba-tiba saja terbuka lebar, dengan tatapan seolah terkejut menatap sosok Altezza yang duduk dekat dengan jendela, "bukankah anda ...!?" ujarnya.


Seketika perhatian dari Aaron, Alaia, dan Eugene tertuju kepada Altezza sebelum kemudian menoleh kembali ke arah Emily yang masih berdiri di ujung meja. Mereka terlihat bingung, terlebih ketika melihat Emily tampak seperti mengenal atau tahu Altezza.


"Ada apa? Apa ada yang salah dariku?" sahut Altezza, tampak sedikit terkejut, dan sudah menduga-duga ke hal-hal lain.


"Senang sekali bisa bertemu dengan anda, Permata Alam!" cetus Emily, tiba-tiba bertindak layaknya seorang rakyat bertemu dengan bangsawan. Ia menundukkan kepalanya, memberikan hormat kepada Altezza.


Spontan Altezza berdiri dari kursinya, "apa yang kau katakan? Permata Alam, apa maksudnya ...?!" sahutnya, terkejut.


"Kami sudah lama menantikan kedatangan anda di Arcadia, Yang Mulia," ujar Emily, mengangkat kembali kepalanya dan tampak tersenyum senang dengan tatapan masih lekat tidak lepas dari sosok laki-laki berjubah hitam yang berdiri di samping Eugene yang sedang duduk.


Yang Mulia? Permata Alam? Jelas, hal-hal tersebut semakin membuat Altezza bingung. Dalam benaknya hanya ada pemikiran bahwa memang gadis berambut kelabu itu mengetahui dirinya karena dirinya adalah seorang pangeran, dan hal tersebut tidak diketahui oleh rekan-rekannya.


"Yang Mulia?" gumam Aaron, menatap bingung Altezza yang duduk tepat di hadapannya.

__ADS_1


"Tunggu, bisakah jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi!" sahut Altezza.


Emily si gadis kucing itu tersenyum, dan diam sejenak sampai pria berambut pirang kembali dengan membawa sebuah buku tebal di salah satu tangannya. Ketika sampai di meja tersebut, Emily tampak sangat bersemangat memberitahukan sosok Altezza di matanya kepada pria berambut pirang bertelinga runcing itu.


"Apakah itu benar, Emily?" tanya pria berambut pirang itu, mengerutkan dahinya, kemudian menatap Altezza tidak percaya.


"Tidak salah lagi, kedua mataku tidak pernah salah melihat kekuatan magis yang tersimpan di dalam diri seseorang!" sahut Emily, kembali menatap lekat sosok Altezza yang kini sudah kembali duduk tenang di kursinya dengan kedua mata biru.


Tatapan tajam penuh curiga, pria berambut pirang itu kembali beranjak pergi menuju meja kasir kedai, dan kembali lagi dengan membawa sebuah bola kristal indah berwarna putih ke meja sekelompok pengembara itu. Altezza melihat bola kristal yang kini ada di hadapannya, dan langsung tahu bahwa itu adalah kristal sihir yang digunakan untuk menerawang potensi sihir seseorang yang meletakkan tangannya di atasnya.


Sedari tadi ketiga teman Altezza hanya diam, menyimak semua kebingungan serta kejutan-kejutan yang hadir.


Altezza sendiri enggan menuruti permintaan tersebut dengan meletakkan tangannya di atas kristal, akan tetapi dirinya tidak enak hati bila harus menolak hal tersebut. Semua orang yang ada di meja menatap dirinya dengan wajah penuh penasaran, terutama Alaia yang tampak sangat lekat memandanginya tanpa berkedip sedikitpun.


"Mereka tidak boleh mengetahuinya, aku harus melakukan sesuatu," batin Altezza, tampak berpikir di balik sikapnya yang terlihat tenang.


Tidak bisa menghindar, Altezza harus melakukannya. Ia menatap dalam-dalam bola kristal yang ada di hadapannya sembari satu tangannya terulur. Tetap dengan sikap tenang dan santainya--meski dirinya harus berkonsentrasi. Ketika telapak tangannya perlahan menyentuh bola kristal tersebut, kristal itu langsung bereaksi, berubah warna menjadi hijau muda indah.

__ADS_1


"Potensi sihir yang biasa saja, meski kekuatan sihirnya lebih dominan pada elemen angin," gumam pria berambut pirang bertelinga runcing, tampak kecewa.


Altezza segera melepaskan sentuhannya, dan menghela napas lega secara diam-diam ketika teman-temannya memperhatikan pria berambut pirang itu berbicara.


Pria tersebut kemudian melirik kepada Emily yang berdiri di sampingnya dan bertanya, "apa kau benar-benar yakin dia Permata Alam seperti yang digambarkan pada buku ramalan kita?"


"Sungguh, aku sangat yakin! Tidak salah lagi! Mata sihirku berkata demikian!" sahut Emily masih bersikukuh dengan apa yang ia katakan. Tatapan gadis cantik bertelinga serta berekor kucing itu masih lekat memandangi Altezza yang duduk tenang di sebelah Eugene dengan kedua iris mata biru indah miliknya yang tampak menyala sekejap.


"Buku ramalan?" tanya Alaia, penasaran.


"Memangnya apa yang dikatakan buku ramalan kalian?" timpal Aaron.


"Mungkin ada salah penafsiran?" imbuh Altezza dengan intonasi serta sikap yang sungguh tenang, meski jantungnya berdebar-debar.


Eugene sendiri masih terdiam, tidak berkata atau bahkan membuka mulutnya untuk berbicara--kecuali sesekali ia menyeruput secangkir teh hangat manis miliknya. Tampaknya laki-laki ahli sejarah itu tidak begitu mengerti dengan pembicaraan di meja saat ini.


Pria berambut pirang itu mengambil sebuah bangku dari meja lain, memindahkannya pada ujung meja milik sekelompok pengembara itu, dan duduk di sana sembari membuka buku tebal yang ia bawa dari lantai dua.

__ADS_1


"Ini adalah buku ramalan yang kalian pertanyakan," jawab pria berambut pirang itu kemudian berkata, "awalnya aku ingin menunjukkan jawaban atas kebingungan kalian mengenai bahaya apa yang sedang mengancam desa ini, akan tetapi sepertinya kita singkirkan topik itu terlebih dahulu," lanjutnya sembari membuka buku berwarna ungu tua dan sudah tampak sangat usang itu, bahkan beberapa halamannya tampak sudah robek-robek--jika buku itu ada di perpustakaan, pasti buku itu sudah mendapatkan perbaikan berkali-kali atau bahkan sudah tergantikan dengan buku yang lebih baru dan layak baca.


__ADS_2