Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Selatan Zephyra #135


__ADS_3

Pagi yang tampaknya tak terlalu cerah, dengan langit yang cenderung berawan ditambah hembusan angin yang terasa lembut menenangkan. Akan tetapi di Wilayah Mutiara ketenangan yang terasa tidak hanya sekadar ketenangan saja, karena bercampur dengan ketegangan. Terlihat bukit-bukit kecil di wilayah tersebut telah dibangun berbagai pangkalan militer, benteng buatan yang terbuat dari kayu-kayu tajam berduri, dan menara-menara penjaga yang tentunya diisi oleh banyak prajurit berzirah emas dan putih.


Di area teluk juga tampak didirikan beberapa dermaga, dan bersandar beberapa perahu sekoci yang membawa berbagai perlengkapan serta suplai untuk para pasukan yang ada di wilayah tersebut. Sekitar pesisir tersebut juga tampak berdiri beberapa pos persenjataan, dan beberapa alutsista prajurit seperti balista, meriam, sampai kereta-kereta perang yang ditarik oleh kuda-kuda perang yang gagah.


Tak hanya pasukan dari pihak Zephyra saja yang berada di perbatasan sementara selatan Zephyra, namun juga hadir pasukan-pasukan dari kerajaan sahabat seperti Victoria dan Lagarde. Selain ketiga kerajaan tersebut, Zephyra juga tampaknya sedang menunggu bala bantuan dari tiga kerajaan di tiga benua lain yang masih belum datang.


Kenan berdiri di salah satu benteng yang berdiri di sepanjang bukit-bukit kecil itu, bersama dengan Franz sahabatnya. Pandangan kesatria kerajaan dan satu prajurit itu tampak tak bisa lepas dari pemandangan gelap langit dan wilayah Selatan.


"Gelap sekali, kira-kira apa yang sedang terjadi di sana?" gumam Franz, tampak penasaran dan mulai menebak-nebak di dalam benaknya ketika memandangi langit gelap di selatan.


"Kita tidak tahu pasti, tetapi sesuatu yang mengerikan dan berpotensi mengancam dunia sedang ada di sana," jawab Kenan, masih memandang ke arah yang sama dengan Franz. Beberapa kali langit di sebelah selatan menampakkan petir-petir birunya yang menyambar, dan semakin menciptakan kesan yang sungguh menyeramkan.


Beberapa detik berlalu, dan Franz kemudian menoleh kepada Kenan yang berdiri tepat di sebelahnya lalu bertanya, "apa rencana dari para petinggi untuk kedepannya?"


Kenan menggelengkan kepalanya, "aku belum mengetahuinya," lalu menoleh ke arah teluk, memandang berbagai alutsista yang telah disiapkan di sana dan berkata, "akan tetapi sepertinya kita akan bertahan di sini untuk sementara waktu, sampai pasukan dari Neverley, Arandelle, dan Flowring tiba."

__ADS_1


"Semuanya akan berkumpul di sini ...?" gumam Franz, memandang ke arah sekitarnya, menyaksikan banyaknya prajurit yang sudah menduduki Wilayah Mutiara tersebut. Tidak bisa dihitung dengan jari lagi, jika ditotal jumlah mereka semua sudah dapat menyentuh angka ribuan.


Kenan mengangguk, "ya, karena perbatasan ini adalah penentu bagi kita."


"Jika kita kehilangan Wilayah Mutiara, maka kita juga akan berpotensi untuk kehilangan wilayah lain termasuk ibu kota," lanjut Kenan, perlahan kembali menoleh ke arah selatan, melihat ganasnya langit di Selatan sana yang tidak henti-hentinya menyambarkan petir.


"Ada banyak nyawa tak bersalah di sana, dan juga ibu kota adalah rumah kita," ujar Franz dengan pandangan sedikit tertunduk, dan dengan napas yang terdengar berat, getir.


Kesatria berzirah perak dengan simbol elang berwarna emas pada dada kirinya itu tampak mengangguk, dan kemudian berkata, "apapun yang terjadi, aku tidak akan membiarkan Zephyra jatuh ...!" dengan tatapan tajam penuh ambisi dan intonasi rendah, meski tersimpan ketakutan di dalamnya, akan tetapi ketakutan tersebut tenggelam oleh ambisinya.


Baltazhar tampak tunduk di hadapan Astaroth yang tengah duduk di atas kursinya. Sosok berjubah hitam itu menemui tuannya di dalam sebuah tenda, dan tampak membawakan sebuah kabar untuk Asta.


Penampilan Astaroth masih sama seperti biasanya, identik dengan zirah dan jubah serba hitam dari atas pundak hingga kaki, namun kali ini ia tampak tak memakai mahkota hitamnya yang berkilau. Kedua iris matanya juga tampak cerah dan indah berwarna biru muda, yang menandakan bahwa dirinya sedang sangat tenang.


"Baginda Asmodeus ingin mengunjungi anda, Yang Mulia. Beliau akan datang sesaat lagi," ujar Baltazhar ketika berlutut dan tunduk di hadapan Astaroth.

__ADS_1


"Sesaat lagi? Kapan tepatnya?" sahut Astaroth dengan santainya, bersandar pada kursi empuk yang ia duduki.


Angin tiba-tiba saja berhembus dengan sangat kencang dari luar tenda, menyibak tirai depan tenda, dan langsung menampakkan sosok pria tampan dengan pakaian serba hitam serta perawakan gagah tampak berdiri di depan tenda. Pria tersebut perlahan berjalan masuk ke dalam tenda, memperlihatkan mahkota emas berlapis perak serta beberapa permata seperti berlian dan rubi, sepasang sayap hitam gagahnya di punggung, dan sepasang tanduk tajam di atas rambut hitamnya.


Tidak ada satu menit Astaroth bertanya, sosok Asmodeus sudah tiba hanya dalam kedipan mata tepat di hadapannya. Baltazhar sempat dibuat terkejut dengan kehadiran sang raja yang sangat tiba-tiba, ia tetap pada posisi berlututnya.


"Tubuh manusia, tubuh yang sangat lemah ...!" ujar Asmodeus, menghela napas dan berbicara dengan intonasi berat. Tatapannya tajam dengan sepasang iris mata berwarna merah layaknya api yang terus membara, dan tampak melingkar sebuah cincin berwarna emas berlapis perak pada jari manis tangan kanannya.


"Apa yang membuat anda sampai datang ke dunia ini, Baginda Raja yang Terhormat?" cetus Astaroth bertanya, masih tetap pada posisi serta sikapnya yang santai meski dirinya tahu siapa yang sedang berdiri di hadapannya.


"Aku hanya ingin melihat secara langsung perkembangan dari dirimu, Astaroth. Rupanya kau benar-benar melakukan tugasmu dengan baik, bagaimana bisa?" Asmodeus berbicara dengan nada serta sikap yang terkesan sungguh dingin, berdiri santai di hadapan Astaroth.


Astaroth tertawa angkuh mendengar apa yang dikatakan oleh Asmodeus kepadanya, "jangan anda remehkan pangeran kegelapan ini, Yang Mulia. Untuk bisa berada di titik ini, saya harus melalui lebih dari 18 tahun, dan itu bukanlah waktu yang singkat di dunia ini," ucapnya, masih tersenyum dengan ekspresi yang terkesan congkak.


Suasananya lengang sejenak, dan terasa cukup dingin. Astaroth memutuskan untuk bernajak dari kursinya, dan mengajak sosok terhormat Asmodeus untuk berjalan berkeliling kamp pasukannya. Sebelum itu, dirinya memerintahkan sosok Baltazhar untuk menghilang melakukan tugasnya sebagai pengintai kembali.

__ADS_1


__ADS_2