
Satu hari telah berlalu, Istana Zephyra dijaga sangat ketat oleh banyak sekali prajurit dan kesatria. Tak hanya itu, para ahli sihir dari hampir semua tingkatan kelas juga diturunkan dan ditugaskan untuk berjaga. Selain menjaga benteng istana yang berdiri kokoh dan megah itu, mereka juga ditugaskan untuk berjaga di benteng kerajaan atau ibu kota. Lebih dari belasan hingga puluhan ribu personel dikerahkan, bahkan tak hanya dari pihak Kerajaan Zephyra saja, namun juga ada belasan ribu prajurit dari Kerajaan Victoria dan Kerajaan Lagarde yang juga turut dihadirkan.
Suasana ibu kota sangat ramai dan tegang. Hidup di bawah ketakutan, kegelisahan, dan kecemasan. Polemik di antara dan berbagai gelombang masyarakat pun terjadi, menciptakan banyak asumsi serta spekulasi yang masih tak pasti. Berita soal jatuhnya Wilayah Mutiara sebagai perbatasan akhir dari Selatan Zephyra telah meluas, dan bukan lagi menjadi rahasia atau pemberitaan di kalangan para petinggi.
Tepat pada pagi ini, Ratu Caitlyn berada di kamarnya, bersama dua orang tabib yang ahli dalam sihir penyembuhan. Tak hanya kedua tabib itu saja, di dalam kamar itu juga terdapat Pangeran Welt dan Kenan yang berdiri di dekat jendela. Raja Aiden tergeletak lemah di atas kasur dengan kondisi yang terlihat sangat buruk. Tampaknya tak hanya tangan dan kaki kirinya saja, sang raja juga hampir kehilangan tubuh bagian kirinya secara penuh akibat beberapa luka dalam yang tak dapat dilihat dengan kasat mata. Darah-darah yang sebelumnya keluar telah dibersihkan, dan pakaian-pakaian yang dikenakan raja juga telah digantikan.
"Luka dalam yang dialami beliau cukup parah, Yang Mulia. Akan tetapi ini masih bisa diobati, dan beliau tidak boleh terlalu banyak bergerak." Salah seorang tabib wanita berbicara kepada Ratu Caitlyn yang duduk tepat di tepi ranjang, di sebelah lelakinya yang terbaring lemah dengan kedua mata terpejam.
Sedangkan seorang tabib laki-laki berambut hitam tampak baru saja selesai melakukan pengobatan dengan sihir di bagian kaki kiri milik sang raja, sebelum kemudian ia melaporkan kondisinya kepada Ratu Caitlyn dengan berkata, "saya telah menghentikan beberapa pendarahan yang terjadi, hanya saja luka-luka yang terlalu terbuka ini tidak bisa disembuhkan secara instan dan membutuhkan waktu."
Ratu Caitlyn tampak kacau, terlihat dari ekspresi wajahnya yang masih syok untuk menerima apa yang sedang terjadi saat ini. Namun wanita cantik itu masih menyempatkan tersenyum walau terlihat cukup pait dan berkata, "terima kasih, kalian sudah boleh keluar," kepada kedua tabib yang sudah membantunya, dan sedikit mengobati beberapa luka parah yang dialami oleh Raja Aiden.
Kedua tabib tersebut menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat, sebelum kemudian mereka berdua beranjak keluar dari kamar tersebut. Sesaat setelah kedua tabib itu selesai, Pangeran Welt melangkah sedikit mendekat kepada ibundanya dan berkata, "kita kedatangan perwakilan dari pihak Victoria dan Lagarde, mau aku terlebih dahulu yang menemui mereka?"
Ratu Caitlyn yang tampak tak bisa melepaskan perhatiannya dari sang lelaki yang hanya bisa terbaring itu hanya mengangguk dan menjawab, "tolong, ya, Welt." Pandangannya tampak berkaca-kaca, menggambarkan kesedihan yang cukup mendalam, dan tampak lekat memandangi paras sang suami yang masih memejamkan kedua matanya.
Pangeran Welt menundukkan pandangannya sejenak di dekat Raja Aiden yang terbaring, sebelum akhirnya ia beranjak keluar dari kamar tersebut. Langkahnya diikuti oleh Kenan.
"Kenan, tunggu ...!" ujar Ratu Caitlyn memanggil kesatria yang berhasil membawa sang raja pulang dalam keadaan hidup.
Langkah kedua kaki Kenan terhenti di ambang pintu kamar yang berukuran besar, berbalik badan dan bertanya, "ada apa, Yang Mulia ...?" dengan intonasi lembut.
"Apakah Franz juga selamat dari Pertempuran Mutiara?" tanya Ratu Caitlyn teringat pada salah satu prajurit yang biasanya berperan sebagai pembawa berita.
Pandangan Kenan cenderung ke bawah, ia menggelengkan kepalanya dan berkata, "saya tidak tahu, Yang Mulia. Situasi di sana sangat kacau, mereka yang selamat dan masih bisa berlari saling berpencar meninggalkan mereka yang terluka."
"Aku terpisah dengannya sejak pertempuran pecah," lanjut Kenan, menyimpan cukup kesedihan di balik ekspresi dingin dan datarnya.
__ADS_1
Ratu Caitlyn menundukkan pandangannya ke bawah dan berucap, "maaf."
"Tidak apa, Yang Mulia. Sudah konsekuensi yang harus dihadapi," sahut Kenan, tersenyum tipis meskipun terkesan pahit.
Ratu Caitlyn kemudian beranjak berdiri dari ranjang tersebut, melangkah mendekati Kenan dengan tatapan mendalam, dan berkata, "aku sebenarnya ingin memberikan tugas penting untuk kalian berdua, namun ...."
"Katakan saja tugasnya, Yang Mulia. Saya siap melakukannya dengan ataupun tanpa rekan!" sahut Kenan, sedikit menyela dan memotong pembicaraan sang ratu yang tampak ragu.
"Kau sudah bekerja keras di Pertempuran Mutiara dan membawa raja kembali dengan selamat, jadi lebih baik pergilah ke pihak medis dan ambil waktu untuk istirahat," jawab sang ratu, tampak bersimpati kepada salah seorang kesatrianya.
Kenan tiba-tiba setengah berlutut tepat di hadapan sang ratu, dan dengan kepala yang tertunduk ia berbicara, "saya siap menerima apapun tugas dan perintah yang anda berikan, Yang Mulia."
"Saya sudah berjanji pada diri saya sendiri sejak akademi untuk bisa menjadi seorang kesatria dan mengabdi kepada negeri ini," lanjut Kenan, mempertegas bahwa dirinya sanggup menerima apapun perintah atau tugas penting tersebut.
"Baiklah, jika itu maumu," ujar ratu Caitlyn, menatap lembut laki-laki berambut hitam dengan zirah kesatria yang bertekuk lutut di hadapannya.
Astaroth berjalan di pesisir teluk dan dermaga yang tampak porak-poranda, dan memandang ke arah lautan di sebelah Barat. Pemandangan alam yang indah dengan langit di Barat yang tampak sangat cerah di pagi ini, namun pemandangan cerah tersebut tak berlaku di wilayah di mana ia menginjakkan kedua kakinya saat ini. Kedua iris mata biru milik Astaroth perlahan terangkat, memandang dan menyaksikan awan gelap yang selalu mengikuti dirinya beserta pasukannya ke manapun ia pergi.
Tak hanya itu, ketika Astaroth memandangi kondisi lingkungan di sekitarnya. Tampak tumbuhan serta berbagai macam vegetasi lain yang enggan untuk dekat dengannya, mereka semua mati atau membeku setiap dilewati oleh Astaroth.
"Pasukan telah siap untuk menerima perintah selanjutnya, Yang Mulia. Terlebih kita tampaknya mendapatkan bantuan tambahan dari Baginda Raja Asmodeus." Baltazhar tiba-tiba muncul seperti biasa, dan berdiri di sebelah Astaroth yang tampak tenang memandangi lautan.
"Bantuan berupa apa?" tanya Astaroth, tanpa menoleh atau bahkan melirik sedikitpun sosok berjubah hitam yang berdiri di sebelahnya.
"Prajurit-prajurit dari neraka yang terdiri dari iblis, faun, satyr, minotaur, hingga manusia serigala. Mereka didatangkan oleh Asmodeus tepat sebelum matahari terbit agar dapat beradaptasi dengan lingkungan di dunia ini." Baltazhar berbicara, dan menyebutkan beberapa golongan prajurit yang didatangkan oleh sosok terhormat Asmodeus.
"Berapa jumlah mereka?" tanya Astaroth kembali.
__ADS_1
"Dua kali lipat lebih banyak dari jumlah pasukan kita, Yang Mulia. Tampaknya Baginda Asmodeus tak main-main dan ingin segera memenangi perang ini," jawab Baltazhar.
Setelah mendengar semua penjelasan dan jawaban dari Baltazhar. Astaroth kemudian menoleh dan menatap sosok berjubah itu sembari berkata, "pertemukan aku dengan pasukan tersebut ...!"
...
Berdiri di atas bukit, Astaroth dapat menyaksikan rombongan pasukan yang berdiri memenuhi lereng bukit serta bukit-bukit lain. Mereka berjumlah sangat banyak seperti koloni semut, dan terdiri dari berbagai macam bentuk.
Iblis, mereka memiliki wujud yang bermacam-macam, namun yang jelas tubuh mereka hampir secara keseluruhan berwarna hitam, memiliki sepasang tanduk di kepala, kuku serta cakar tajam, dan buruk rupa alias memiliki rupa yang sangat mengerikan. Jumlah mereka saat ini sangat banyak, dan dipersenjatai oleh berbagai macam senjata berukuran besar, serta bernaung di balik zirah baja berwarna hitam pekat.
Faun, mereka memiliki wujud yang unik dan aneh. Ukuran tubuh mereka tidak terlalu besar, bahkan jika dibandingkan oleh pasukan iblis jelas mereka kalah. Ciri-ciri fisik mereka adalah berbadan manusia laki-laki, namun memiliki kedua kaki kambing beserta kukunya. Di bagian kepala terdapat sepasang tanduk layaknya tanduk kambing, dan tajam.
Satyr, wujud serta ciri-ciri fisik mereka kurang lebih sama seperti Faun. Mereka adalah manusia setengah kambing, namun dengan kedua mata berwarna merah darah dan memiliki jumlah yang sangat banyak.
Minotaur, makhluk berbentuk manusia namun setengah banteng dengan badan yang tampak sangat kekar, dan dipersenjatai oleh beberapa kapak tajam berukuran besar. Semakin tambah mengerikan, karena jumlah mereka cukup untuk meratakan satu desa.
Yang terakhir adalah Manusia Serigala, mereka memiliki wujud yang tak kalah kekar dan gagah seperti minotaur di barisan samping. Meski tak dipersenjatai oleh apapun, namun mereka dapat mengandalkan taring-taring tajam serta cakar-cakar yang dimiliki. Tak hanya itu, pergerakan mereka juga sangat lincah layaknya seekor serigala yang kelaparan.
"20.000 lebih, Yang Mulia, dan itu belum total dengan pasukan kita saat ini. Bagaimana? Baginda Asmodeus tak main-main, bukan?" Baltazhar muncul kembali tepat di samping Astaroth, dan kemudian berbicara demikian ketika laki-laki berambut hitam itu terdiam memandangi jumlah pasukannya yang bisa dikatakan sangat fantastis jika ditotalkan.
DRAAPP ...!!!
Secara bersamaan, pasukan berjumlah sangat banyak itu berlutut hingga menciptakan suara gemuruh yang cukup kencang, bahkan tanah pun terasa bergetar ketika makhluk-makhluk aneh itu berlutut secara bersamaan. Mereka tampak menundukkan kepala, memberikan hormat kepada sosok Astaroth yang berdiri tenang di puncak bukit di depan mereka.
"Ini akan sangat menyenangkan, bukan? Kita akan segera menyerang dan menaklukkan Zephyra, sebelum kemudian merambat ke wilayah dan benua lain!" ujar Astaroth kepada Baltazhar, dan tampak menyeringai angkuh sebelum akhirnya tertawa sinis dengan sendirinya dengan sikapnya yang masih tampak dingin.
Astaroth kemudian menoleh, menatap kepada Baltazhar dan memberikan perintah, "terbanglah, Baltazhar, gunakan kuasamu untuk menyelimuti Zephyra dengan kegelapan ...!"
__ADS_1