
Tersesat, sepertinya pengalaman buruk tersebut sedang dihadapi atau dialami oleh Aurora di tengah kutub. Benua Selatan adalah benua yang isinya salju, tidak ada tumbuhan sedikitpun di benua tersebut. Badai salju tentu menjadi mimpi buruk siapapun yang berada di benua itu, terlebih ketika berada di tengah antah berantah dan tidak ada tempat untuk berteduh dari badai salju yang dapat mengubur apapun dalam hitungan menit.
Beruntung sekali Aurora tidak sendirian dalam penjelajahannya kali ini untuk keluar dari benua tersebut. Seekor tupai berwarna putih yang ia namai Ruru, tupai tersebut setia bersamanya dan selalu hinggap di atas pundaknya--atau lebih tepatnya bersembunyi di balik rambutnya. Tupai ajaib itu memberikan sebuah naungan magis untuk Aurora agar dapat terus berjalan, membelah tebalnya salju serta menjaga agar tubuhnya tetap tidak kedinginan. Akan tetapi naungan magis tersebut akan menjadi percuma, jika gadis berambut putih cantik itu tidak segera mendapatkan tempat berlindung dari badai. Rasa lelah perlahan mulai menyerang kedua kakinya, dan tak mungkin ia beristirahat di tengah lebatnya badai salju yang sangat mengerikan--meskipun ada si tupai ajaib yang selalu bersamanya, namun tetap saja ia tidak dapat terus mengandalkan kekuatan magis yang dimiliki oleh tupai tersebut.
"Pandanganku terbatas, apakah kamu tidak melihat sesuatu di depan sana, Ruru?" tanya Aurora, tampak berusaha melihat ke depan hingga memicingkan kedua mata indahnya berwarna biru muda itu. Saking lebatnya badai yang sedang ia terjang, membuat pandangan matanya terbatas, sangat terbatas.
"Kita pergi ke arah sana, seharusnya ada gua di lereng bukit itu!" jawab Ruru, berdiri di atas pundak Aurora, dan menujuk ke arah depan.
Aurora tidak melihat apapun di depan sana, juga tak melihat adanya bukit yang dimaksud oleh Ruru. Akan tetapi ia menaruh kepercayaan kepada tupai kecil itu, dan melangkah menuju ke arah yang ditunjuk oleh si tupai. Gadis berambut putih itu terus melangkah maju, hingga dirinya dapat merasakan bahwa struktur tanah yang ia pijak perlahan menanjak.
"Di depan ada gua! Apakah kamu melihatnya?!" seru Ruru secara tiba-tiba, berlari kecil di atas lengan kanan Aurora dan menujuk ke arah depan.
"Mana? Di mana? Aku tidak melihatnya!" sahut Aurora, benar-benar memicingkan matanya, mencari di mana gua yang dimaksud oleh Ruru.
Di depan sana hanyalah tabir putih yang terdiri dari butiran-butiran salju yang turun sangat deras. Kedua iris mata berwarna biru muda milik Aurora sangat sulit melihat apa yang dilihat oleh Ruru.
"Terus maju ke depan, Aurora! Aku akan memandu jalanmu," ujar Ruru, menghadap serta memandang paras cantik Aurora yang lebih besar daripada ukuran tubuhnya, sebelum akhirnya ia kembali ke pundak dan bersembunyi di balik rambut putih milik Aurora.
Terus berjalan maju, perlahan kedua mata Aurora dapat melihat sebuah gua yang dimaksudkan oleh Ruru. Gua tersebut berukuran cukup besar, dan memiliki struktur bebatuan yang membeku hingga seperti kristal. Tanpa berbasa-basi, gadis cantik berpakaian dress dan jubah putih itu berjalan memasuki gua, dan mencari tempat yang cocok di dalam gua tersebut untuk digunakan istirahat.
__ADS_1
Batu-batu yang tak terlalu tajam, bahkan di dalam gua itu juga menyimpan sumber daya berharga seperti kristal-kristal cantik yang berkilau putih hingga biru. Aurora duduk di salah satu sisi gua, dan bersandar pada dinding bebatuan gua, berisitirahat.
Tupai berbulu putih itu tampak mengumpulkan batu-batu kecil ke depan Aurora yang sedang duduk, dan tampak menyusun batu-batu yang kering tersebut hingga berbentuk kerucut ke atas. Gadis berambut putih itu tidak mengerti apa yang sedang dilakukan oleh Ruru, ia hanya terus memperhatikan setiap pergerakan kecil dari tupai menggemaskan itu.
Setelah batu-batu kecil itu tersusun rapi tepat di hadapan Aurora. Ruru si tupai kecil berdiri tepat di depan Aurora, menghadap ke arah bebatuan tersebut, dan mengulurkan kedua tangan kecilnya ke depan. Beberapa detik kemudian, sebuah percikan api tiba-tiba saja muncul dan membakar tumpukan batu tersebut, sehingga menciptakan sebuah api unggun kecil.
"Bagaimana caramu melakukannya?!" cetus Aurora tampak terkejut sekaligus tak menyangka.
"Rahasia!" sahut si tupai, menoleh ke belakang dan sedikit mendongak untuk memandang wajah Aurora. Ruru kemudian tersenyum, dan tertawa kecil, "hehe~"
Menghela napas, Aurora tidak begitu mempedulikan Ruru yang tampak merahasiakan trik magisnya. Baginya yang terpenting untuk saat ini adalah kehangatan yang tercipta dari api unggun yang ada di hadapannya.
"Ruru, apa yang kamu ketahui soal pewaris Kekuatan Alam?" tanya Aurora, membuka pembicaraan antara dirinya dan Ruru si tupai kecil yang tampak duduk manis tepat di sebelahnya.
"Pewaris Kekuatan Alam? Aku pernah dengar legenda serta ramalan soal itu, akan tetapi aku tidak begitu mengetahui seperti apa si pewaris itu." Ruru menjawab pertanyaan itu dengan suara kecil yang menggemaskan.
"Dahulu diceritakan saat Iblis Lucifer tiba di dunia ini bersama pasukan kegelapan miliknya dan menginvasi berbagai benua, alam tidak diam begitu saja dengan mengirimkan sebuah kekuatan magis misterius yang kemudian mengakhiri perang besar di abad tersebut, dan peristiwa bersejarah sekaligus ajaib itu terjadi di Benua Tengah atau tepatnya di Tanah Zephyra," lanjut Ruru, bercerita singkat mengenai sejarah satu abad yang lalu.
"Benua Tengah ...? Zephyra ...?" gumam Aurora tampak berpikir. Seketika dirinya teringat kembali dengan apa yang sempat dikatakan oleh ibundanya yang ia temui di alam bawah sadar soal, "temui-lah seorang laki-laki pewaris Kekuatan Alam, dia tinggal di salah satu kerajaan besar di Benua Tengah. Hanya laki-laki itu yang bisa mengalahkan Pangeran Kegelapan Astaroth."
__ADS_1
"Lalu apa yang terjadi setelah semua itu selesai?" tanya Aurora kembali, menoleh dan sedikit menunduk untuk memandang kepada Ruru yang duduk manis tepat di sebelahnya.
Tupai kecil berbulu putih itu menoleh, sedikit mendongak, menatap datar paras cantik Aurora dan berkata, "kau tidak lupa bahwa aku adalah bagian dari dirimu, bukan? Pengetahuan yang ku miliki dengan pengetahuan yang kamu miliki itu sama."
Pandangan Aurora perlahan beralih ke arah api unggun yang ada di hadapannya sembari berbicara, "benar juga ...!"
"Aku mengetahui soal sejarah itu dari buku-buku pengetahuan yang tersimpan di istana, dan semua yang ada di pikiranku sama persis dengan apa yang kamu katakan barusan," lanjut Aurora, tampak berpikir dan baru menyadari hal tersebut.
"Namun yang pasti, kekuatan magis dari alam tidak terlihat lagi setelah semua konflik yang terjadi pada masa itu selesai. Semuanya menjadi misterius, dan tidak ada yang pernah mengetahui atau menemukan jejaknya," ucap Ruru.
Aurora tampak menghela napas berat dengan kepala tertunduk ke bawah, duduk menekuk kedua lututnya dan kemudian memeluknya sembari berbicara, "lalu bagaimana aku bisa menemui si pewaris itu ...? Apa yang harus aku lakukan ...?"
Ruru berdiri kembali dengan kedua kaki mungilnya, beranjak berpindah berdiri tepat di hadapan Aurora, dan dengan ekspresi optimisnya ia berkata, "angkat kepalamu, Aurora! Yang terpenting kita harus keluar terlebih dahulu dari benua beku ini, dan berpindah menuju Benua Tengah."
Gadis berambut putih itu kembali mengangkat pandangannya, memandang ke arah Ruru, dan tersenyum kecil kepadanya, "terima kasih, Ruru. Berkat kamu di sini, aku jadi merasa tidak kesepian," ucapnya.
"Hehe!" Ruru tertawa kecil, berdiri berkacak pinggang dan lanjut berkata, "Ruru akan selalu bersama Aurora, apapun yang terjadi! Kenapa? Karena Ruru adalah bagian dari diri Aurora!"
"Ruru dan Aurora, selalu bersama, dan tidak akan terpisahkan!" lanjut Ruru, berseru dengan semangat di hadapan Aurora, hingga membuat gadis cantik berambut putih itu tersenyum lebar.
__ADS_1