Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Menunggu yang Tidak Pasti #25


__ADS_3

Setelah berganti baju dengan seragam formal lain yang lebih dominan warna biru muda bercampur putih di setiap tepiannya, Altezza melaksanakan tugas yang diberikan ibunya dengan segera. Tugasnya adalah memeriksa dan memastikan kesiapan untuk pesta yang akan diadakan besok. Kenan setia menemaninya dan keduanya memulai tugas dari aula utama.


Aula utama terlihat sangat cantik dan indah dengan dekorasi lampu permata berwarna biru muda yang bercahaya terang karena elemen sihir di dalamnya. Lantai keramiknya terlihat mengkilap tanpa sedikitpun debu. Nuansa penyambutan musim dingin yang begitu terasa, dengan warna putih salju dan biru muda yang cerah, bahkan langit-langit yang awalnya dominan warna keemasan pun tiba-tiba berubah menjadi biru muda cerah. Tempat itu akan dijadikan sebagai tempat di mana sesi utama acara diselenggarakan, yaitu sesi berdansa. Hanya beberapa meja panjang yang diletakkan di tepi-tepi aula dan sebuah panggung orkestra di salah satu sudut.


Semuanya terlihat baik-baik saja. Para pelayan dan penjaga istana bekerja dengan sangat baik dan penuh ketelatenan. Mereka beberapa kali memberikan hormat ketika melihat atau berpapasan dengan Altezza. Karena sudah dipastikan tidak ada kekurangan ataupun hal yang dikhawatirkan, Pangeran Altezza kemudian melanjutkan langkahnya menuju halaman samping.


"Sepertinya pesta besok akan sangat meriah, ya?" ucap Kenan ketika berjalan mengikuti langkah Altezza menuju ke halaman samping melalui sebuah pintu besar di samping aula yang terbuka lebar.


"Seharusnya, karena sudah dipastikan akan ada lebih dari lima belas kerajaan yang datang," jawab Altezza datar tanpa ekspresi.


"Jujur saja, ini pertama kalinya saya akan mengalami pesta di istana," sahut Kenan tersenyum dan terlihat sangat senang untuk hari esok.


Altezza kemudian menoleh ke arah pengawal setianya dan berkata, "sebaiknya kau mencari pasangan karena sepertinya banyak orang yang akan berpasangan di pesta nanti."


"Bagaimana dengan anda? Apakah kemarin berjalan dengan baik?" sahut Kenan menatap pangeran tersebut.


Altezza menghela napas panjang dan menjawab, "entahlah, aku masih menunggu jawabannya," dengan ekspresi pasrah. Hatinya tetap berharap-harap cemas.

__ADS_1


"Bagaimana denganmu? Apakah kau tidak ingin mencari pasangan untuk besok?" tanya Altezza saat keduanya melangkah melalui jalan bebatuan taman yang sudah dihiasi oleh banyak lampu taman yang terbuat permata berwarna biru di sisi kanan dan kiri jalan tersebut.


Kenan tertawa kecil dan menggeleng, "tidak, saya tidak berniat dan juga tidak diwajibkan untuk itu, jadi lebih baik saya santai saja," jawabnya kemudian melirik Altezza dan lanjut berkata, "berbeda dengan anda. Anda pasti diwajibkan langsung oleh Baginda Raja bahkan semua mata akan tertuju kepada anda dan pasangan anda."


Altezza menghela napas berat, "iya, iya, aku tahu! Sudahlah, jangan diingat-ingat, aku malah semakin berharap jadinya," sahutnya kesal.


"Berharap?" gumam Kenan yang sedang mencoba menyindir dirinya.


Namun, Altezza cuek tak menggubris apa yang dikatakan Kenan dan fokus mengerjakan tugas. Ia memeriksa kesiapan pesta di sekitar taman halaman samping istana.


Taman yang sangat luas itu telah dihiasi dengan pernak-pernik pesta yang sangat indah. Banyak meja bundar berwarna putih dengan kursi empuk dan terlihat cantik dengan warna yang sama. Banyak juga hiasan permata yang digunakan, dominan dengan warna biru muda dan putih, bersinar cantik di sekitar taman. Dekorasinya sederhana, namun terkesan mahal dan mewah.


Altezza mengangguk, "ya, semuanya asli," lalu menoleh kepada pengawalnya dan berceletuk, "memangnya kenapa? Kau mau mengambil secuil?"


Kenan tertawa kecil mendengar pertanyaan tersebut, "bagaimana kalau ada orang lain yang mengambilnya?"


Dengan pandangan yang terus memeriksa sekitar taman, Altezza menjawab cuek, "bukan urusanku."

__ADS_1


Beberapa pekerja yang melihat Altezza langsung memberikan hormat seperti biasa, sebelum kembali bekerja mempercantik taman dengan pernak-pernik hiasan permata yang ada.


Tidak ada yang perlu dicemaskan, Altezza pun segera beranjak ke halaman depan melalui halaman samping yang dapat langsung terhubung ke depan. Halaman depan istana dipasangi dekorasi sederhana namun mewah dan elegan. Gerbang utamanya diselimuti oleh permata berwarna biru di tepiannya dan dilapisi cat berwarna keemasan yang memantulkan cahaya jika terkena sinar dari permata di tepiannya. Rerumputan dipasangi oleh lampu-lampu taman yang terbuat dari permata, juga berwarna biru dan dapat bercahaya karena energi sihir di dalamnya.


Semuanya didominasi oleh warna biru, biru muda, dan putih cerah yang secara keseluruhan menciptakan suasana musim salju dan dingin yang akan segera tiba. Istana terlihat lebih mewah dan megah dari biasanya sejak pagi hari.


"Apakah kita tidak mengalami kerugian dengan menggunakan banyak perhiasan asli?" tanya Kenan karena dia penasaran.


Altezza yang berdiri di depan gerbang istana menjawab, "tidak sepertinya. Sebaliknya, dengan semua dekorasi mewah ini, Kerajaan Zephyra akan mendapatkan keuntungan timbal balik yang melibatkan semua orang, bukan hanya pihak kerajaan atau keluarga kerajaan."


"Anda terlihat sangat yakin," ucap Kenan yang berdiri di samping Altezza dan tersenyum senang melihat betapa optimis pangerannya.


"Aku yakin sekali. Besok pesta yang akan diselenggarakan adalah pesta untuk semua warga Kerajaan Zephyra, bukan hanya untuk bangsawan. Semua orang dapat merayakannya dan bersenang-senang di istana ini." Altezza menjawab dengan meyakinkan sambil berdiri sedikit lebih maju dan memandangi jalan utama di depannya.


Di sepanjang jalan utama kota, dekorasi menyambut musim dingin sangat banyak terlihat cantik dan indah. Tidak hanya di jalan utama dan pusat kota, tapi juga di seluruh penjuru kota dan di setiap rumah warga, mereka memasang banyak dekorasi musim dingin untuk menghias rumah atau halaman rumah mereka.


Altezza terlihat gembira melihat pemandangan ramai kota yang dipenuhi dengan dekorasi musim dingin dari bukit tempat ia berdiri. Namun senyumannya perlahan-pudar dan berganti menjadi ekspresi cemas atau gelisah, menunggu sesuatu yang belum kunjung tiba hingga hampir waktu tengah hari.

__ADS_1


Kenan sepertinya menyadari perubahan ekspresi yang sangat terlihat dan bertanya, "ada apa, Yang Mulia?"


Mendengar pertanyaan dan menyadari bahwa ia diperhatikan, Altezza mengangkat kedua bahunya dan kemudian menjawab, "sedang menunggu sesuatu yang tidak pasti," dengan nada rendah atau penuh pasrah. Pandangannya masih memandang jalan di depannya yang menurun, dengan persimpangan yang selalu dilaluinya. Jika ia berbelok kiri, itu akan membawanya menuju ke perpustakaan kerajaan.


__ADS_2