
Setelah selesai dengan Arcadia, dan melalui beberapa hal yang tidak terencana. Altezza bersama ketiga temannya kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju Ibu Kota Neverley, bahkan mereka sudah beranjak dari Arcadia dan melanjutkan perjalanan sejak pagi. Tak sabar, tentu perasaan itu sedang menyelimuti sekelompok pengembara tersebut, terutama sosok gadis berambut perak bernama Alaia yang tampak paling semangat serta antusias.
Seperti biasa, gadis itu tidak kehabisan bahan pembicaraan di tengah perjalanannya mendaki bukit, menyusuri lereng pegunungan, dan bahkan melalui beberapa hutan. Alaia hampir selalu mengajak siapapun temannya untuk berbicara, termasuk Altezza yang tak luput dari sasarannya sebagai lawan bicara.
Namun segala pembicaraan tersebut sempat terhenti ketika mereka berempat sampai di sisi lain dari gunung yang telah mereka kelilingi. Tepat matahari berada di atas kepala, Altezza berdiri di salah satu sisi tebing, dan memandang jauh ke arah Timur. Dari kejauhan dirinya dapat menyaksikan adanya sebuah kota yang cukup besar dan sangat luas, berdiri di balik benteng kokoh di tengah hamparan rumput yang tak terhingga jaraknya. Di sisi lain, tepatnya sedikit ke arah Tenggara dari kota besar tersebut, Altezza dapat menyaksikan adanya bioma padang pasir. Tak hanya dirinya yang dapat menyaksikan pemandangan luas tersebut, namun teman-temannya juga dapat melihatnya.
"Ibu Kota Neverley," gumam Eugene, tersenyum lebar melihat kota besar yang berada cukup jauh di sana.
"Lalu di mana istana kerajaannya?" cetus Alaia dengan sikap serta ekspresi penasarannya, karena memang sejauh mata memandang tak terlihat adanya istana dari kejauhan.
"Istana Kerajaan Neverley dibangun di kawasan pemerintah Neverley yang berada di tengah-tengah ibu kota. Jadi kemungkinan besar benteng dan istana tersebut berada di balik bangunan-bangunan tinggi itu." Aaron berbicara, menjawab pertanyaan dari adik perempuannya.
"Ya sudah, tunggu apa lagi?! Ayo lanjut!!" seru Eugene, tampak semakin bersemangat.
__ADS_1
Langkah keempat pengembara itu kembali berlanjut, menyusuri jalanan tanah di lereng pegunungan, dan menuruninya hingga membuat mereka kembali bertemu dengan hutan. Di dalam hutan yang terletak tepat di kaki gunung tersebut terasa sangat sejuk, sinar matahari saja harus melalui banyak ruas ranting dan dedaunan untuk bisa mencapai tanah dari hutan tersebut.
Kicau burung berkali-kali terdengar, dan rata-rata suara kicauan burung-burung lokal terdengar sangat unik. Beberapa kali juga Altezza kembali dibuat kagum dengan fauna yang ada di Benua Timur--yang tak ia temukan di negeri kesayangannya yakni Zephyra.
"Lihat! Bukankah itu sekumpulan Burung Surga?" celetuk Alaia, tampak riang dengan menujuk ke arah langit tepat di atasnya.
Ketiga temannya seketika langsung tertuju pada sekumpulan burung yang ditunjuk oleh Alaia, dan mereka berhasil dibuat terpana dengan kecantikan burung-burung yang sedang terbang tak terlalu tinggi di atas mereka.
Sekawanan burung itu memiliki ukuran yang tak terlalu besar, dengan bulu-bulu indah berwarna-warni, ekor unik seperti sekumpulan rambut berwarna kuning di pangkal ekor dan putih di ujung ekor, serta yang terakhir mereka memiliki paruh panjang yang ramping dan tajam. Setiap kepakan sayap, kawanan burung itu selalu bernyanyi merdu dengan kicauan-kicauan mereka yang khas, terdengar tidak terlalu nyaring dan terasa sangat lembut.
Alaia mengangguk, menoleh dan menatap Altezza dengan penuh antusias sembari menjelaskan, "mereka sangat cantik dengan ciri-ciri yang khas, ditambah suara mereka yang terdengar merdu, maka dari itu mereka dinamai Burung Surga."
Pandangan gadis berambut putih itu kembali memandang ke arah langit, tepatnya ke arah di mana kawanan burung itu menjauh sembari berkata, "tetapi sayangnya mereka makhluk langka yang dilindungi, populasi mereka kian menipis," dengan tatapan sedih.
__ADS_1
Banyak sekali satwa liar dan langka di negeri tropis ini, berkali-kali juga semua hal unik tersebut berhasil menyihir kedua mata Altezza ketika memandang atau mengetahuinya.
Tetapi menyadari perjalan mereka masih cukup jauh, mereka berempat kembali melanjutkan langkah menuju ibu kota.
...
Waktu terasa cukup cepat, dan tanpa disadari matahari perlahan sudah berpindah di langit bagian Barat. Sekelompok pengembara yang telah melalui perjalanan panjang itu akhirnya sampai juga di Ibu Kota Neverley, kota paling besar, paling ramai, dan menjadi pusat dari segalanya di Neverley. Perdagangan, restoran atau kedai, hotel atau penginapan sederhana, vila, butik, dan masih banyak lagi bangunan yang ada di kota tersebut--semuanya tak bisa disebutkan satu per satu.
Setelah melewati pemeriksaan yang dilakukan oleh beberapa penjaga di gerbang kota, Altezza berjalan melewati jalanan utama di kota tersebut bersama ketiga temannya. Suasana yang kurang lebih sama dengan Ibu Kota Zephyra, ramai dan selalu aktif. Hanya saja yang menjadi pembeda adalah Altezza tidak tahu seluk-beluk kota tersebut, tak seperti ketika ia berada di negeri atau kota asalnya.
"Ramai sekali," gumam Alaia, lagi-lagi dengan ekspresi riangnya, menoleh ke arah manapun itu, menyaksikan keramaian warga kota yang memiliki kesibukan mereka masing-masing.
"Wajar jika ramai, namanya saja ibu kota," ujar Eugene, tersenyum lebar, berjalan bersama rekan-rekannya di atas trotoar.
__ADS_1
"Berhubung kita sudah sampai di ibu kota, bagaimana kalau kita mengunjungi kantor pos di kota ini terlebih dahulu?" cetus Aaron, mengusulkan idenya.
Ide yang diusulkan oleh Aaron langsung mendapat restu dari teman-temannya, dan mereka pun memutuskan untuk mencari kantor pos yang ada di kota tersebut.