
Altezza membuka jendela kamarnya lebar-lebar, dan di saat itu juga seekor elang putih yang menampakkan diri di indahnya langit malam perlahan terbang mendekat. Tidak salah lagi, kedua matanya juga tidak asing melihat elang dengan jambul di atas kepalanya sebagai ciri khas yang sangat unik dibandingkan elang biasa. Elang itu juga tampak sangat nurut dan patuh ketika mendekati Altezza, bahkan mendarat dan hinggap di atas lengan kanan milik pangeran muda itu.
Tidak dapat dipungkiri lagi, terlihat jelas ekspresi bahagia Altezza ketika melihat sosok Shiro yang sempat menghilang berhari-hari yang lalu, dan kini elang itu kembali lagi padanya. Senyuman bahagia selalu tersungging, tampak sulit sekali untuk pudar. Beberapa kali ia mengelus bulu lembut berwarna putih milik Shiro.
"Akhirnya kamu menyadari juga, Altezza?"
Terdengar suara yang sama dan tidak asing lagi di kedua telinga milik Altezza. Suara lembut dan sopan itu berbicara padanya, seperti melalui telepati, bergaung di dalam kepalanya.
"Maaf membuatmu sedih, Altezza. Aku memberikan sinyal alam kepada Shiro untuk pergi, karena ia tidak bisa diketahui oleh para tamu bangsawan ketika pesta beberapa hari yang lalu."
Altezza menghela napas lega dan berkata, "terima kasih, walau mengejutkan."
Tok ... Tok ... Tok ...!!!
Shiro langsung mengepakkan kedua sayapnya, terbang dan pergi dengan cepat ketika mendengar ada seseorang yang mengetuk pintu, disusul dengan hembusan angin yang turut perlahan pergi. Altezza spontan menoleh ke arah pintu kamarnya dan bertanya, "siapa?!"
"Welt," ucap suara yang tidak asing di kedua telinga Altezza, suara laki-laki yang terdengar berat dari kakak kandungnya.
"Masuk!" pinta Altezza.
__ADS_1
Pintu kamar yang berukuran cukup besar itu pun perlahan terbuka lebar, dan terlihat sosok pangeran pertama yaitu Welt berdiri di ambang pintu, masih mengenakan jubah formal kerajaannya. Welt perlahan melangkah masuk, melihat adiknya yaitu Altezza yang terlihat asyik berdiri di depan jendela terbuka, "kau sedang apa? Menikmati langit malam?" tanyanya kepada Altezza.
"Ya," jawab singkat Altezza, sempat menoleh melihat kepada Welt yang berjalan menghampirinya, sebelum kemudian ia melemparkan pandangannya ke arah langit malam yang tampak indah.
"Udara dingin, Altezza. Kau juga hanya mengenakan baju tidur, awas kedinginan, loh!" cetus Welt ketika sudah berdiri di samping Altezza, dan tampak cukup perhatian pada adiknya.
Altezza tertawa kecil mendengar apa yang dikatakan oleh Welt, "perlahan aku sudah mulai terbiasa dengan iklim ini," ucapnya kemudian dengan senyuman yang masih tersungging.
Lirikan Welt tampak curiga disertai senyuman kecilnya, ketika dirinya melihat ekspresi wajah bahagia dari adik tercinta, "kau terlihat bahagia sekali, apakah terjadi sesuatu hari ini yang membuatmu bahagia?"
"Atau seharian tadi kau sempat menghabiskan waktu dengan Bianca lagi?" lanjut Welt, tampak sedang menerka-nerka.
"Yah, aku salah," sahut Welt, tersenyum.
Setelah basa-basi tersebut, Altezza menoleh menatap serius kakaknya dan bertanya, "ada apa gerangan yang membuatmu datang ke kamarku?"
"Aku hanya ingin memastikan sesuatu," jawab Welt, kemudian menatap serius adiknya setelah berbasa-basi, "kau ingin pergi berkelana di awal musim semi?" lanjut Welt langsung bertanya, memastikan hal tersebut kepada adiknya dengan tatapan tajam dan serius.
Altezza kembali memalingkan pandangannya ke arah luar jendela, kini memandangi ibu kota kerajaan yang tampak gemerlap dan semakin indah dengan lapisan salju berwarna putih yang menyelimuti hampir semua bangunan. Tidak terkejut jika Welt mengetahui hal tersebut, pasti Raja Aiden sudah bercerita atau membicarakan persoalan itu padanya.
__ADS_1
"Iya, aku sudah memutuskan tekadku," jawab singkat Altezza.
"Kau memang bukan pewaris tahta kerajaan ini, Altezza. Namun kau adalah satu-satunya permata berharga yang dimiliki oleh Negeri Zephyra," ucap Welt, dengan intonasi yang terdengar rendah namun serius. Altezza tidak berkata-kata alias hanya diam ketika Welt sedang mengambil waktunya untuk berbicara.
"Aku tahu seorang pengembara itu pasti akan pergi jauh, berkelana ke tempat-tempat yang sangat jauh, sebelum akhirnya kembali lagi ke tanah kelahirannya. Aku tahu kau pasti akan kembali lagi," ucap Welt, sempat menoleh menatap paras tampan adiknya yang masih memandangi pemandangan malam perkotaan, "namun yang aku tidak tahu, apakah semuanya akan baik-baik saja selama kau pergi atau saat kau pergi," lanjutnya kemudian memalingkan pandangannya, memandangi pemandangan yang sama dengan adiknya.
Sudah tidak berbicara lagi, mungkin ini saatnya bagi Altezza untuk mengambil gilirannya berbicara. Ia memandangi ke arah langit dan berkata, "dunia sudah damai, tidak seperti satu abad yang lalu, Kak."
"Apa yang membuat kalian khawatir? Lalu mengapa seolah Negeri Zephyra benar-benar membutuhkan diriku?" lanjutnya bertanya-tanya.
Altezza kemudian menoleh, menatap pangeran pertama atau kakaknya itu dengan senyuman kecil yang tersungging, "aku percaya kepada orang-orang hebat di istana dan kerajaan ini, seperti dirimu, Kak Welt."
Pangeran kedua kerajaan itu kembali memalingkan pandangannya memandangi ribuan bintang di langit malam ini, "ayah dan ibunda juga dua orang yang hebat, para ahli sihir kerajaan, prajurit-prajurit tangguh, dan para kesatria hebat yang kita miliki. Semuanya akan baik-baik saja, aku selalu mempercayai hal itu selama ada kalian semua," lanjutnya berbicara.
"Selain itu kita juga memiliki rakyat yang hebat, berhati kuat, dan berjiwa nasionalisme yang sangat tinggi. Jadi tidak ada yang perlu ditakutkan, bukan?" lanjut Altezza, kemudian menghela napas sejenak, tersenyum kecil memandangi gemerlap kota yang tampak masih ramai dengan aktivitas di malam hari.
"Kerajaan Zephyra adalah kerajaan yang besar dan kuat, bahkan dalam sejarah satu abad yang lalu, kerajaan ini mampu bertahan dari segala gempuran, berkat orang-orang hebat di masa itu salah satunya adalah kakek dan nenek moyang kita." Altezza mencoba untuk meyakinkan kakaknya, agar mendapat kepercayaan untuk dirinya bisa pergi berkelana.
Welt tampak tersenyum kecil mendengar semua yang dikatakan oleh Altezza, "kalau ayah sudah mengizinkan, persiapan apa yang sudah kau persiapkan?" tanyanya kemudian.
__ADS_1
Altezza tersenyum tipis, sempat melirik Welt yang masih berdiri di sampingnya sebelum kemudian memalingkan kembali pandangannya ke arah luar jendela dan menjawab, "kurasa sudah hampir seratus persen siap, hanya tinggal menunggu salju-salju ini mencair," dengan intonasi yang terdengar sangat yakin.