Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Dipermainkan Alam #160


__ADS_3

Langit malam yang sangat gelap, awan-awan hitam seolah masih enggan untuk berpindah. Petir terus menyambar, disusul dengan suara-suara menggelegar yang memekakkan telinga. Derap langkah kaki puluhan ribu prajurit berzirah hitam terdengar, menderu, dan seolah menggetarkan tanah. Mereka telah sampai di Wilayah Zephyria sejak matahari terbenam.


Wilayah Zephyria, di mata Astaroth dan puluhan ribu pasukannya, wilayah tersebut adalah hamparan rumput yang sangat amat luas dan tidak memiliki akhir. Berjam-jam telah berlalu, dan malam seolah terasa sangat lama sekali. Angin berhembus tenang, lebih tenang dan stabil daripada sebelumnya, menerpa tubuh Astaroth yang terus melayang di atas ribuan prajuritnya.


Kebingungan perlahan timbul dalam diri Astaroth, karena telah lama ia dan pasukannya berada di wilayah tersebut, dan terus berjalan ke Utara. Jika estimasi waktu itu dihitung, seharusnya ia dan pasukannya telah keluar dari Wilayah Zephyria dan hanya memerlukan beberapa jam saja untuk sampai di Ibu kota Zephyra. Namun ternyata apa yang dialaminya di luar dari rencana dan dugaan.


"Mengapa seolah kita hanya berjalan di tempat yang sama?!" gusar Astaroth, tampak tidak tenang, dan cukup marah.


Baltazhar yang senantiasa berada di sampingnya hanya bisa tertunduk dan berkata, "saya tidak tahu, Yang Mulia. Tetapi rasanya kita sedang dipermainkan."


"Dipermainkan?! Siapa yang berani-beraninya mempermainkan ku!!?" bentak Astaroth, intonasi suaranya terdengar berat, dan dengan sorot mata berubah berwarna jingga kemerahan. Ia tampak semakin marah ketika Baltazhar menyebut dirinya dan pasukannya tengah dipermainkan.


Tidak berani menjawab pertanyaan tersebut, Baltazhar lebih cenderung menunduk ke bawah. Jika saat ini jubah hitamnya masih utuh, mungkin menyembunyikan kepala merahnya di balik jubah tersebut adalah pilihan yang akan ia ambil.

__ADS_1


Sosok Astaroth terlihat sangat mengerikan dan menyeramkan ketika sedang naik pitam. Kedua iris mata yang awalnya berwarna biru dalam sekejap berubah menjadi jingga kemerahan, dan terlihat sedikit kobaran api di dalamnya. Suasana di sekitar dalam sekejap menjadi dingin, bahkan awan-awan hitam di atasnya sampai menurunkan butiran-butiran es, bukan air lagi.


"Maaf bila ini menyinggung anda, Yang Mulia. Namun saya ingin mengatakan bahwa mungkin Alam yang sedang mempermainkan kita." Baltazhar berbicara dengan intonasi rendah, kepala tertunduk, dan tampak ketakutan ketika berbicara.


Jelas, apa yang dikatakan Baltazhar sangat tidak disukai oleh Astaroth. Laki-laki berambut hitam itu tampak mengeluarkan aura kegelapan di sekitarnya, menciptakan hembusan angin yang sangat kencang mengelilingi tubuhnya, dan hal tersebut tampaknya juga memicu kemarahan alam yang cukup luar biasa. Kilat dan petir tampak berkali-kali menyambar, disusul dengan suara menggelegar guntur yang sangat memekakkan telinga.


"Sialan ...!" gusar Astaroth dengan intonasi rendah, dan sorot mata tajam berwarna merah, membara. Kedua tangannya kemudian terangkat ke atas, meraih awan-awan hitam yang ada di atasnya, dan menciptakan sambaran petir yang sangat dahsyat melesat ke arah langit. Sebuah petir berwarna biru gelap menampakkan kilatnya, berukuran cukup besar, menggelegar, dan melesat membelah langit tepat di atas kepala Astaroth.


Kilatan petir terus seolah membelah awan gelap di atasnya, dan memperlihatkan adanya sedikit retakan di langit. Namun hal itu hanya berlangsung sebentar, sebelum akhirnya kegelapan kembali menyelimuti langit malam. Astaroth sempat memejamkan matanya sejenak sesaat setelah membelah langit, dan kembali membuka kedua kelopak mata itu dengan sepasang iris indah berwarna biru muda indah, bukan warna jingga kemerahan lagi.


Tanpa penolakan, Baltazhar mengangguk patuh, "baik, Yang Mulia," dan kemudian merubah wujudnya menjadi gumpalan asap berwarna hitam, sebelum akhirnya terbang dengan cepat mengarah Utara.


***

__ADS_1


Situasi yang sungguh tenang, pasukan berjumlah puluhan ribu itu masih mengisi setiap bukit kecil serta hamparan rerumputan yang sangat amat luas di depan gerbang benteng kerajaan. Angin berhembus dengan cukup kencang, menerpa dan mengobarkan banyak sekali api yang dinyalakan di setiap barisan pasukan. Api-api kecil juga terlihat mengisi banyak titik di atas benteng kerajaan, dan terlihat juga banyak prajurit berzirah perak milik Kerajaan Zephyra yang selalu berlalu-lalang di atas sana.


Berdiri di atas salah satu menara, Pangeran Welt tak bisa lepas dari pantauannya memandangi pasukan yang berjumlah ribuan itu. Beberapa hal terlintas dalam benaknya, hal-hal mengenai kebutuhan-kebutuhan yang mungkin diperlukan oleh setiap prajurit yang ada.


"Bagaimana dengan suplai makanan, minuman, serta kebutuhan-kebutuhan darurat mereka?" tanya Pangeran Welt ketika seorang laki-laki tampan berambut hitam dan bermata biru bernama Pangeran Azura yang barusaja berdiri di sebelahnya.


"Tidak perlu khawatir soal itu, Xavier sudah mengaturnya." Pangeran Azura menjawab pertanyaan Welt, menoleh dan lanjut berkata, "jumlah kita sangat banyak, jadi kita bisa berlakukan sistem pengelompokan."


Pandangan Azura kembali tertuju ke arah depan, melihat prajurit-prajurit berkuda yang berbaris tepat di depan gerbang benteng kerajaan. Tenang, dan dingin. Sikap yang tidak terlalu berbeda dari sosok Welt.


"Tidak hanya dirimu yang menyimpan perasaan itu, Welt. Aku dan Xavier juga merasakan hal yang sama." Azura berbicara dengan intonasi rendah, dan sikap yang sungguh tenang. Seragam pangeran berwarna putih miliknya tampak berkibar, tertiup oleh angin malam yang terasa cukup dingin.


"Kita tidak memiliki pengalaman berperang, jauh berbeda jika dibandingkan para pendahulu kita. Kita tumbuh dan menikmati kehidupan damai pemberian para pahlawan kita yang sudah berjuang mati-matian dalam perang besar satu abad yang lalu." Azura perlahan menoleh, melirik sosok Welt di sebelahnya dan lanjut berkata, "dan sekarang, kita harus mempertahankan dunia damai yang sudah diwujudkan oleh keringat dan darah mereka."

__ADS_1


Derap langkah kaki besi terdengar menaiki anak tangga, "Yang Mulia, Baginda Raja sudah siuman, dan ingin berbicara dengan anda," ucap seorang prajurit berzirah, berdiri tepat di belakang Pangeran Welt dengan napas tersengal.


__ADS_2