
"Altezza, dirimu adalah salah satu hal yang berharga yang aku miliki, juga negeri ini miliki. Jika kau pergi berkelana, bukan hanya istana, namun negeri serta kerajaan juga akan terasa hampa." Raja Aiden masih berbicara dengan menatap serius putra bungsunya.
Pria dengan jubah raja berwarna merah itu kemudian memalingkan pandangannya ke arah taman samping istana yang terlihat dari atas balkon lantai dua tersebut, sebelum kemudian kembali lanjut berkata, "selain itu sadarilah bahwa kekuatan yang ada pada dirimu sangat berharga dan langka, tidak dimiliki oleh orang lain."
Altezza paham ke arah mana topik pembicaraan yang sedang dibahas oleh Raja Aiden padanya, "ya, aku tahu segala risiko yang ada jika aku keluar dari istana serta benteng kerajaan ini."
"Namun aku telah mengambil keputusan!" lanjut pangeran muda itu, menatap yakin Raja Aiden yang tampak masih bimbang untuk mengambil keputusan apa atas putranya.
Raja Aiden menghela napas berat dengan pandangan cenderung ke bawah, bahkan ia sempat melirik dan melihat tatapan tajam putranya yang terlihat sungguh bertekad untuk pergi berkelana. Dengan intonasi yang terdengar rendah namun sangat serius, pria itu berkata, "akan ku pikirkan, tunggu sampai akhir musim dingin ...!" sebelum kemudian berbalik badan dan hendak melangkah pergi.
"Aku tidak peduli apapun keputusan ayah, apakah ayah akan mengizinkan diriku atau tidak. Yang pasti, apapun yang terjadi, aku akan tetap pergi berkelana di awal musim semi!" ujar Altezza, mempertegas keputusannya dengan tatapan tajam, serta ego yang terlihat cukup tinggi. Terlihat tidak begitu menghiraukan apa yang dikatakan oleh putranya, Raja Aiden kemudian beranjak pergi begitu saja dari sana meninggalkan Altezza seorang diri.
***
Derap kuda putih terdengar sangat jelas, dan dengan cepat melalui jalanan utama ibu kota, sebelum kemudian keluar melalui gerbang utama kerajaan. Salju perlahan turun di siang hari yang mendung ini. Altezza menunggangi kudanya di tengah hamparan salju, terus berlari menuju ke arah Selatan, hingga memasuki sebuah hutan yang cukup lebat.
__ADS_1
Di hutan tersebut Altezza memperlambat langkah dari kuda putihnya, hingga sampai pada sebuah pohon beringin yang berdiri kokoh di tengah tanah lapang yang berada di dalam hutan. Pangeran muda itu menghentikan kudanya tepat di bawah pohon beringin, dan kemudian turun dari kuda tersebut.
Pohon beringin yang berdiri kokoh di tengah sebuah tanah lapang, dan terselimuti oleh salju yang cukup tebal. Altezza bersandar pada salah satu sisi batang pohon, dan menghela napas dengan pandangan memandangi ranting-ranting pohon serta dedaunan lebat di atasnya.
Angin berhembus lembut menerpa tubuh laki-laki itu seolah sedang mengajak dirinya berbicara, "apakah ada yang sedang membuat suasana hatimu buruk?" suara lembut terdengar dan berbicara dengannya. Tidak ada siapapun di lokasi Altezza saat ini, hanya ada dirinya, pepohonan, rumput, serta angin yang selalu berhembus lembut di sekitarnya.
Altezza menggeleng menanggapi pertanyaan yang ia dengar, "hanya saja aku bingung bagaimana caranya untuk bisa meyakinkan ayah agar mengizinkan ku pergi berkelana," ucapnya kemudian.
Angin yang sebelumnya berhembus lembut dengan membawa suasana dingin, secara perlahan berubah menjadi sedikit hangat seolah sedang mencoba untuk menghibur dirinya. Sesaat setelah perubahan angin yang terasa hangat, suara perempuan kembali terdengar dengan sangat lembut dan sopan berbicara, "apakah ini membuatmu lebih baik?"
"Kau selalu bisa menghibur serta membuat diriku lebih baik, terima kasih." Altezza tersenyum senang, dan berbicara kembali, sendiri. Tidak terlihat sosok atau seseorang yang sedang ia ajak berbicara, karena angin yang berbicara dengan dirinya tidak memiliki wujud.
"Tanpa harus aku menunjukkan diri, seharusnya kamu sudah mengetahui serta melihat seperti apa diriku, Altezza. Kita pernah bertemu bahkan dalam jangka waktu yang cukup lama, hanya saja pada saat itu mungkin kamu tidak sadar," jawab suara lembut dan sopan itu mengelilingi dirinya.
Altezza terlihat bingung dengan jawaban yang diberikan oleh angin miliknya. Tetapi kebingungan tersebut langsung mendapat penjelasan dari sesuatu yang tidak terlihat itu, "kamu seharusnya sudah mengetahui atau pernah membaca-baca buku tentang bagaimana atau apa itu 'Kekuatan Alam'."
__ADS_1
Mendengar penjelasan singkat itu membuat Altezza kembali tersenyum, "benar juga, kau bisa menjadi apapun yang kau mau," ucapnya.
SreeKk ...!!
Angin tersebut tiba-tiba saja berhembus pergi setelah mendengar suara daun bergesekan yang berasal dari balik pepohonan. Tak berselang lama, seorang laki-laki berambut hitam berkulit sawo matang, dan dengan pakaian sederhana berwarna cokelat muda tiba-tiba saja keluar dari balik pepohonan dengan salah satu tangan membawa sekumpulan ranting kering.
"Yang Mulia?!" cetus laki-laki itu terkejut melihat kehadiran Altezza di bawah pohon beringin. Sepertinya dia adalah salah satu warga desa terdekat yang sedang mencari kayu bakar. Masih berada dalam wilayah yuridiksi Kerajaan Zephyra, jadi tidak heran jika laki-laki itu mengenal sosok Altezza.
"Sedang mencari kayu bakar?" tanya Altezza memastikan, tersenyum melihat laki-laki itu.
"I-iya, Yang Mulia," sahut laki-laki itu, "saya tidak menyangka akan bertemu dengan anda di sini. Apa yang membawa anda ke mari, Yang Mulia?" lanjutnya sembari berjalan sedikit mendekat kepada Altezza.
"Kupikir ada tempat yang bagus untuk mencari ketenangan, maka dari itu aku datang ke sini untuk beristirahat," jawab Altezza.
Laki-laki itu terlihat cukup gugup ketika bertemu dengan seseorang yang sangat terhormat, namun pekerjaannya tidak akan selesai jika hanya berdiam, "ya sudah, Yang Mulia. Saya harus kembali mengumpulkan kayu bakar," ucapnya.
__ADS_1
Altezza tersenyum mengangguk dan berkata, "silakan, senang bertemu denganmu."
Setelah laki-laki desa itu benar-benar pergi dari sana, tidak terlihat lagi. Angin kembali berhembus lembut dan terasa hangat menemani Altezza, menghabiskan waktunya bersantai sejenak di tempat yang menenangkan itu, tidak terusik oleh siapapun dan apapun. Hanya ada dirinya, kuda miliknya, angin, serta vegetasi alam yang menyejukkan pandangan meskipun terselimuti oleh putihnya salju.