
Aurora masih menjelajahi lautan salju beserta badai yang cukup lebatnya. Gadis berambut putih itu tak tahu harus ke arah mana, dirinya benar-benar dibuat buta arah oleh badai salju yang seolah tak pernah henti, bahkan cahaya matahari saja rasanya cukup sulit untuk bisa menembus lebatnya badai tersebut. Beruntung ia tak sendirian, selalu ada Ruru si tupai putih yang hinggap pundaknya dan suka bersembunyi di balik rambutnya yang indah itu.
Rasa lapar dan haus tentu dirasakan, dan perlahan semakin terasa. Meski di tengah lebatnya salju dengan cuaca yang terasa dingin, namun tak dapat dipungkiri tenggorokan Aurora terasa kering. Ingin mencari air atau sumber air, ia tak bisa menemukannya, apalagi mencari sumber makanan seperti tanaman atau buah-buahan. Tidak ada sumber daya alam seperti itu di tengah salju seperti ini.
"Kamu masih bisa bertahan, Aurora? Sebentar lagi kita sampai di perbatasan Selatan dan Tengah." Ruru melangkah keluar dari balik rambut Aurora, berjalan di atas pundak kanan milik gadis itu dan berbicara dengan menoleh serta melihat paras cantik Aurora yang berukuran besar dari samping.
Aurora mengangguk, "tidak masalah, sama sekali tidak masalah!" ujarnya meski perut sudah keroncongan, bahkan sudah sedikit terasa pedih.
Harus mendaki satu bukit salju lagi untuk bisa mencapai perbatasan, dan Aurora melakukannya. Dibantu oleh sihir milik Ruru yang senantiasa melindungi dirinya dari terpaan angin serta salju yang sangat kencang, ia terus melangkahkan kakinya mendaki bukit yang tak terlalu tinggi itu.
Badai salju perlahan semakin mereda, dengan intensitas turunnya salju yang juga turut menurun. Angin juga perlahan berganti arah, terasa sedikit lebih hangat ketika berdiri di atas bukit tersebut. Perubahan cuaca serta iklim yang sangat signifikan dapat dirasakan.
Namun ekspresi wajah Aurora tampak dibuat kebingungan dengan apa yang ia lihat. Seharusnya ia bisa langsung melihat negeri hijau yang sangat amat luas. Akan tetapi pemandangan tersebut tidak dapat ia lihat seolah ditutup oleh tabir berwarna gelap yang tinggi menjulang. Tabir gelap tersebut juga memanjang ke arah Timur dan Barat, bahkan sejauh mata Aurora memandang kedua arah tersebut, dirinya tak dapat melihat ujung dari tabir tersebut.
"Ada yang tidak beres," ujar Ruru, beranjak menuruni lengan kanan milik Aurora, sebelum kemudian ia perlahan berjalan di atas salju mendekati tabir tersebut.
Aurora yang juga tampak penasaran perlahan mendekati tabir gelap tersebut, dan mencoba untuk menyentuhnya. Namun usaha tersebut dibatalkan oleh Ruru si tupai yang tiba-tiba saja berteriak, "jangan ...!!!"
Tupai berbulu putih itu kemudian mengumpulkan serta membuat bola salju menggunakan kedua tangan mungilnya, dan kemudian melemparkan bola salju kecil itu ke arah kegelapan. Secara langsung dan tiba-tiba, bola salju yang dilemparkan olehnya terbakar hingga lenyap hanya dalam waktu satu detik.
__ADS_1
"Untung saja, kalau tidak tanganmu mungkin sudah terpanggang, Aurora." Ruru menghela napas lega karena Aurora belum sempat menyentuh tabir gelap tersebut.
"Aku belum pernah melihat hal yang seperti ini," gumam Aurora tampak berpikir kebingungan.
"Ini semacam segel terlarang kelas atas yang tidak dapat sembarang orang menguasai atau hanya sekadar menggunakannya, karena harga dari sihir ini adalah nyawa dari sang pemilik atau pengguna." Ruru berbicara sembari ia kembali memanjat salah satu kaki milik Aurora, dan beranjak naik serta kembali hinggap di atas pundak milik gadis berambut putih itu.
Pandangan Aurora perlahan terangkat ke atas, menoleh ke kanan dan ke kiri, sebelum kemudian kembali lagi memandang ke depan dan berkata, "ukurannya sangat besar dan tinggi."
Ruru mengangguk, "iya, sudah pasti pengguna sihir ini bukanlah manusia biasa!" ujarnya dengan intonasi bicara julid.
Menghela napas berat, "lalu bagaimana cara kita melaluinya ...?" keluh Aurora kemudian. Tak mungkin ia kembali lagi ke kerajaan dan istananya yang berjarak sangat jauh, dan di antara badai salju yang dapat menyesatkan serta mengubur apapun. Namun hampir sampai di perbatasan antara Benua Tengah dan Benua Selatan, langkahnya harus terhenti oleh tabir gelap berukuran raksasa.
"Siapapun pemilik kekuatan yang menggunakan segel ini, sepertinya dia orang yang sangat berambisi dan berfokus pada penggunaan sihir berskala besar tanpa memperhatikan keseimbangan serta ketahanan sihirnya," ujar Ruru, berbicara dengan nada bicaranya yang terdengar kecil dan cempreng.
"Maksudmu ... asal pakai sihir?" tanya Aurora, melirik ke arah Ruru yang hinggap pada pundak kanannya.
Ruru si tupai putih itu mengangguk dan kemudian lanjut berkata, "ada satu tipe orang yang di mana ia memakai suatu sihir dengan alasan sihir tersebut adalah sihir berkekuatan besar dan berskala luas, tanpa mempedulikan konsekuensi, harga, keseimbangan, dan ketahanannya."
"Mungkin si pengguna segel ini termasuk dalam tipe orang yang seperti itu ...?" lanjut Ruru, menebak-nebak dengan nada nyinyir menyindir siapapun pelakunya.
__ADS_1
Aurora menoleh, mengangkat kedua alisnya dan bertanya, "jadi, apakah kamu punya rencana?"
Tersenyum sinis, Ruru memandang paras cantik Aurora yang berukuran lebih besar dari tubuh tupai mungilnya itu dan berkata, "sebenarnya dirimu bisa mengatasi segel ini dengan kekuatan sihir yang kau miliki, Aurora. Namun berhubung sihirmu belum kembali, jadi serahkan segel ini kepadaku!"
Aurora hanya berdiri dan diam di sana, membiarkan Ruru bergerak di atas pundak dan lengan kanannya. Tupai kecil berbulu putih indah itu tampak berhenti dan berdiri tepat di atas punggung telapak tangan milik Aurora, sebelum kemudian tampak merapalkan mantra dengan kedua tangan mungil terulur ke depan.
Sebuah lingkaran sihir berwarna putih perlahan muncul tepat di hadapan Aurora dengan ukuran yang cukup besar. Tentu saja lingkaran sihir tersebut bukan dari Aurora, karena kekuatan sihirnya yang sudah lenyap oleh sosok Asta atau Astaroth.
Setelah lingkaran sihir berwarna putih itu terbentuk secara sempurna, sebuah cahaya dengan warna yang sama perlahan muncul dengan cukup menyilaukan. Kedua mata indah berwarna biru muda milik Aurora sampai harus sedikit terpejam ketika kekuatan sihir itu menampakkan intensitasnya.
"Tu-tunggu, ini sangat menyilaukan!" ujar Aurora, benar-benar memejamkan matanya karena cahaya putih yang sangat terang.
"Oh iya, lupa!" sahut Ruru, kemudian menciptakan sebuah pelindung sihir transparan berwarna putih, "maaf, hehe," ujarnya setelah pelindung itu tercipta, dan kemudian tertawa tanpa dosa.
Di dalam pelindung tersebut, Aurora bisa dengan mudah dan nyaman membuka kedua matanya. Dirinya bisa menyaksikan intensitas cahaya di hadapannya yang semakin besar, dan secara perlahan namun pasti menyerap serta mengalahkan tabir gelap yang menghalangi perbatasan. Gadis berambut putih itu berhasil dibuat terpukau oleh kekuatan sihir yang dimiliki oleh Ruru yang juga berskala besar dan luas.
Tak berselang lama, tabir berwarna gelap itu perlahan memudar, sebelum akhirnya benar-benar menghilang seperti abu yang tertiup angin. Ruru menetralkan kembali sihirnya, sebelum akhirnya ia kembali melangkah melewati lengan Aurora, dan duduk dengan nyaman di atas pundak kanan gadis berambut putih itu.
"Lanjut! Ayo, Aurora, perjalanan kita masih panjang!" seru Ruru bersemangat, "jangan lupa cari makanan dahulu, ya ...! Ruru juga sudah mulai merasa lapar, nih," lanjutnya sembari memegangi perutnya yang berbulu dan berukuran sangat mungil.
__ADS_1