
Pangeran muda itu terlihat masih berada di gerbang depan istana, dan sempat bertemu serta berbincang-bincang dengan beberapa penjaga yang ada di sana. Altezza tidak beranjak dari gerbang tersebut, bahkan hingga terik matahari tepat berada di atas kepala, tetap saja tidak pergi. Kenan selalu bersamanya, setia menemaninya dan mendampinginya.
"Apakah anda haus? Saya bisa mengambilkan air untuk anda, Yang Mulia." Kenan tersenyum, menawarkan hal tersebut kepada Altezza.
Altezza tersenyum mendengar tawaran tersebut, "tidak perlu, terima kasih."
Beberapa menit berlalu, dan akhirnya pangeran itu tak lagi berada di sana, meninggalkan beberapa penjaga yang sempat ia ajak berbincang. Altezza perlahan beranjak kembali ke halaman istana bersama dengan Kenan yang selalu mengikutinya. Kenan tidak begitu mengerti apa yang sebenarnya ditunggu-tunggu oleh pangerannya.
"Apakah anda baik-baik saja?" tanya Kenan kepada Altezza ketika menaiki anak tangga menuju ke pintu utama istana.
Altezza menghentikan langkahnya dan menjawab, "apakah menurutmu aku sedang sakit?"
Kenan menggeleng, "tidak, hanya saja saya merasa anda lebih banyak diam, meskipun sempat berbincang sedikit dengan para penjaga di depan."
Altezza tidak banyak bicara lagi. Ia lebih memilih diam, dan melangkah perlahan menaiki anak tangga untuk masuk kembali ke istana. Ketika langkahnya berada di ambang pintu masuk istana yang amat besar itu. Tiba-tiba saja terdengar sedikit keributan dari gerbang depan istana, beberapa penjaga terlihat merapat, dan menghalangi seseorang untuk masuk ke istana.
"Maaf, Nona. Anda tidak bisa masuk tanpa surat resmi ataupun izin resmi!" ucap salah satu penjaga, dengan nada lantang dan tegas, berdiri menghalangi seseorang dengan salah satu tombak yang ia tegapkan di tangan kanannya.
__ADS_1
Tindakan para penjaga itu sontak berhasil menyita perhatian Altezza. Penasaran dengan apa yang terjadi dan siapa orang yang datang, dirinya pun mengurungkan niat untuk masuk ke istana, dan kemudian kembali berjalan menuju ke gerbang depan.
"Maaf, Nona, jika anda tidak berkepentingan dan tanpa surat resmi, dilarang masuk ke istana--"
"Siapa yang melarang dia? Biarkan dia lewat!" Altezza menyela dengan intonasi bicara tegas, sesaat setelah seorang penjaga memberikan peringatan terakhirnya. Kedua matanya melihat sosok perempuan yang sedari tadi ia nantikan.
"Yang Mulia?!" cetus beberapa penjaga di sana, terkejut dengan kehadiran Altezza yang tiba-tiba saja berdiri di belakang mereka, dan kemudian menundukkan kepala mereka sebagai tanda hormat.
Mereka langsung membukakan jalan, mempersilakan perempuan yang sedari tadi mereka halangi serta larang untuk memasuki istana. Altezza spontan tersenyum, melihat sosok Bianca yang kemudian melangkah mendekatinya, melewati para penjaga itu. Bianca menepati janji yang telah ia buat malam sebelumnya. Gadis cantik itu tampaknya datang tanpa persiapan lebih, masih dengan seragam petugas perpustakaannya yang berwarna biru, dan terlihat letih berkeringat, serta sebuah kertas di salah satu tangannya.
"Kedatangan saya ke sini untuk memberikan jawaban soal kemarin, Yang Mulia." Bianca tidak lupa bersikap sopan dan formal ketika berhadapan dengan Altezza. Ia menundukkan kepalanya secara tiba-tiba, dan kemudian langsung mengulurkan kedua tangannya, memberikan secarik kertas tersebut kepada Altezza.
"Kamu memutuskan jawaban ini tanpa adanya paksaan atau rasa terpaksa, 'kan?" tanya Altezza, menatap langsung kedua bola mata indah milik Bianca, dan kemudian tersenyum setelah mengetahui isi dari surat yang diberikan padanya.
Bianca langsung menggelengkan kepalanya menjawab, "tidak, Yang Mulia. Dari hati saya---maksudnya ... saya sangat senang hati memberikan jawaban itu," jawabnya, gugup, ditambah kedua pipinya yang perlahan merona.
"Baik, aku sangat senang sekali menerima jawaban ini darimu, terima kasih." Altezza tersenyum, terlihat ia tidak dapat menyembunyikan kesenangan yang saat ini ia alami, "kalau begitu bisakah nanti setelah makan malam kamu datang kembali ke istana? Ada yang harus dipersiapkan untuk hari esok."
__ADS_1
"Te-tentu, saya akan datang," jawab Bianca, terlihat cukup canggung dan bingung harus berbicara apalagi.
Situasinya terlihat cukup canggung, ditambah wajah cantik Bianca yang semakin merona, karena pertemuannya dengan Altezza di halaman depan istana sontak menjadi pusat perhatian banyak penjaga serta pelayan istana yang sedang mengerjakan dekorasi untuk pesta di sana. Kenan diam-diam tersenyum menyaksikan mereka, memberikan sedikit jarak agar tidak terlalu dekat dengan tuannya, berdiri sekitar satu meter di belakang Altezza.
"Apakah saat ini kau sedang sibuk, Bianca? Kalau tidak aku bisa menjamu tamu ku sebentar," ucap Altezza, melipat rapi, dan kemudian mengantongi surat tersebut di saku baju kirinya.
Bianca tersenyum hangat dan menjawab, "sa-saya sangat menghargainya, terima kasih, namun tidak perlu, Yang Mulia. Saya harus kembali bekerja," jawabnya, dengan menundukkan sedikit kepala dan pandangannya.
Altezza menatap hangat perempuan yang ada di depannya, menyaksikan Bianca yang terlihat cukup letih dan berkeringat, "apa perpustakaan saat ini sedang sangat ramai hingga membuatmu sangat sibuk seperti ini?" tanyanya kemudian.
Bianca terlihat senang ketika laki-laki di hadapannya bertanya dan terlihat cukup perhatian padanya. Ia tersenyum kecik dengan pandangan ke bawah, karena memang tidak berani menatap langsung Altezza, dan kemudian memberikan jawaban, "iya, Yang Mulia. Kami kedatangan banyak buku baru, jadi pendataan harus segera diselesaikan agar buku-buku itu tidak lupa mendapatkan perawatan."
"Ya sudah kalau begitu, namun tetap perhatikan kondisimu, ya ...! Jangan sampai terlalu keras dalam bekerja," ucap Altezza, tersenyum lembut kepada Bianca di hadapannya.
Bianca kembali menundukkan kepalanya dan kemudian menjawab, "terima kasih, Yang Mulia."
Setelah perbincangan singkat itu, tak lama kemudian Bianca memutuskan untuk segera pergi, karena tugas dan tanggung jawabnya masih yang masih harus ia kerjakan. Sedangkan Altezza, ia memutuskan untuk kembali lagi ke dalam istana, bersama dengan Kenan yang selalu bersamanya. Kenan sendiri tidak banyak bicara setelah apa yang ia saksikan, lebih memilih diam, meskipun beberapa kali dirinya sempat tersenyum dengan sendirinya kepada Altezza.
__ADS_1
"Bagaimana saran saya, Yang Mulia?" cetus Kenan, bertanya dan mengungkit saran yang sempat ia berikan kemarin.
Altezza melirik kepada Kenan yang berjalan tepat di sebelahnya, tersenyum tipis dan menjawab, "kerja bagus!"