
"Maaf, ibu membuat kalian menunggu lama, ya?" Caitlyn datang bersama dengan seorang pelayan wanita yang tampak membawakan sebuah nampan, di atasnya terdapat dua buah cangkir teh hangat serta satu piring berisikan kue-kue kecil dan masih hangat.
Pelayan tersebut menyajikan kedua cangkir serta satu piring kue-kue tersebut di atas meja keramik tepat di hadapan Altezza dan Bianca. Setelah selesai, pelayan tersebut tersenyum menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat dan kemudian beranjak pergi dari sana.
"Apa saja yang sudah ibu lewatkan? Kalian ibu lihat dari kejauhan asyik banget ngobrolnya," cetus Caitlyn, beranjak duduk tepat bersebrangan dengan pasangan tersebut.
"Banyak hal, namun tidak penting, tenang saja." Altezza langsung menjawab pertanyaan tersebut, dan kemudian lanjut berkata, "ibu sendiri sudah selesai dengan kegiatannya?"
Caitlyn tersenyum hangat menjawab, "sudah!"
Pandangan serta perhatian Caitlyn kemudian langsung terarah kepada Bianca yang terlihat duduk manis mendengarkan perbincangan ibu dan anak itu. Bianca sangat jarang berbicara, gadis itu tidak berbicara jika tidak diajak bicara terlebih dahulu oleh lawan bicaranya.
"Bianca, apakah ibu boleh bertanya beberapa hal padamu?" tanya Caitlyn, memandang sosok manis Bianca dengan tatapan lembut dan ramah.
"Tentu, Yang Mulia." Bianca menjawab pertanyaan tersebut, sempat menundukkan kepalanya, dan tersenyum hangat.
__ADS_1
"Tidak perlu harus selalu formal seperti itu, sayang. Kalau sedang tidak memakai pakaian formal, maka panggil saja 'ibu' sama seperti Altezza," sahut Caitlyn, berbicara dengan intonasi yang sungguh lembut, bahkan seolah ia menganggap Bianca adalah putrinya sendiri.
"Ba-baik, Yang--maksud saya ... ibu," ucap Bianca, menatap Caitlyn dan terlihat cukup senang dengan hal tersebut, meskipun dirinya akan sangat sulit untuk membiasakannya.
Caitlyn lagi-lagi tersenyum hangat, melihat perempuan yang ada di hadapannya dengan tatapan lembut serta dalam. Kedua iris mata berwarna hitam pekat dan memiliki kesan indah itu menatap Bianca, tidak melepaskan pandangan ke arah lain.
"Bianca, apakah kamu memiliki gaun untuk digunakan besok?" tanya Caitlyn dengan intonasinya yang seperti biasa, lemah lembut seperti ketika ia berbicara dengan putra bungsunya.
Pertanyaan tersebut membuat Bianca terdiam sejenak, terlihat bingung dan takut untuk berkata-kata. Ekspresi tersebut tentu mengundang perhatian Altezza, serta Caitlyn yang sebelumnya melemparkan pertanyaan.
Dengan pandangan tertunduk ke bawah Bianca menjawab dua pertanyaan tersebut dengan berkata, "sa-saya tidak memiliki gaun-gaun seperti itu, Yang Mulia. Maafkan saya," ucapnya dengan intonasi yang sungguh rendah.
Caitlyn tersenyum hangat melihat perempuan itu menundukkan pandangan, dan kemudian meminta maaf soal hal itu. "Tidak perlu meminta maaf, Bianca," ucap wanita itu dengan lemah lembut.
"Justru ibu ingin memastikan, karena ibu ingin kamu memakai gaun yang sudah ibu persiapkan besok," lanjut Caitlyn.
__ADS_1
Bianca mengangkat kembali pandangannya, kemudian menatap bingung sekaligus terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Caitlyn, "maaf, Yang Mulia, saya belum begitu mengerti maksud anda."
"Ibu ingin kamu hanya datang ke istana besok tanpa perlu membawa apapun, hanya persiapkan diri kamu saja. Untuk gaun serta riasan, semuanya sudah Altezza dan ibu persiapkan." Caitlyn langsung sedikit menjelaskan hal tersebut dengan pelan layaknya seorang ibu.
Mendengar hal tersebut, Bianca langsung kembali menundukkan kepalanya dan berkata, "terima kasih, Yang Mulia. Maafkan saya karena sudah merepotkan."
Caitlyn tertawa kecil, meraih salah satu pipi merona milik Bianca dengan salah satu telapak tangannya yang halus, sehingga membuat pandangan gadis itu kembali terangkat, dan kemudian dirinya berbicara, "kamu sama sekali tidak merepotkan, sayang. Jujur saja ibu sangat menyukaimu," ucapnya dengan intonasi yang sungguh lembut, serta senyuman manisnya diiringi oleh tatapannya yang dalam menatap Bianca. Tutur kata yang lembut itu seketika membuat Bianca diam dan tertegun. Hatinya seolah luluh dan bergetar, menyukai perlakuan Caitlyn kepada dirinya, mengingatkannya pada seseorang yang sangat ia cintai.
"Maaf, ibu terbawa suasana," Caitlyn kembali melepaskan tangannya dari pipi halus milik Bianca, dan tersenyum senang menatap kepada Bianca.
Di tengah-tengah suasana canggung tersebut, Altezza menyela pembicaraan dengan berkata, "kembali lagi, aku yang mengajakmu, Bianca. Jadi santai saja, aku akan bertanggung jawab atas semua kenyamanan mu selama di istana, terutama soal pakaian yang akan kamu kenakan besok sepanjang pesta," ucap laki-laki itu, kemudian menyeruput perlahan secangkir teh hangat miliknya.
Bianca tersenyum senang mendengar apa yang dikatakan, namun hatinya masih saja merasa tidak enak karena sudah merepotkan, "terima kasih banyak, Yang Mulia," ucapnya dan tersenyum kepada Altezza.
Altezza hanya tersenyum melihat perempuan yang bersamanya juga terlihat senang. Perbincangan mereka bertiga terus berlanjut, membahas banyak hal, dan semua hal yang dibahas adalah hal-hal yang tidak terlalu berat atau penting, hanya sekadar perbincangan santai.
__ADS_1
Bianca juga terlihat santai dan senang ketika dapat berbincang dengan kedua orang penting itu. Gadis itu merasa kehadirannya sangat diterima hangat oleh Altezza dan Caitlyn, bahkan membuatnya lupa sejenak dengan trauma masa lalu yang ia miliki terhadap keluarga bangsawan, serta berhasil merubah pemikirannya bahwa tidak semua bangsawan itu jahat.