Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Cerita Dari Timur #60


__ADS_3

Adelia duduk di kursi tepat di sebelah Altezza, dan memandangi pangeran itu yang tampak serius dan asyik sekali membaca buku. Perempuan itu sebenarnya cukup bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi kepada Altezza yang tiba-tiba memiliki semangat baca yang kelihatannya sangat tinggi.


"Ada apa? Apakah ada yang aneh dariku?" cetus Altezza, tanpa melirik sedikitpun ke arah Adelia yang duduk tepat di sebelahnya, namun ia tahu bahwa dirinya sedang diperhatikan secara terus-menerus.


"Iya, anda aneh sekali hari ini, Yang Mulia. Apa yang membuat anda secara tiba-tiba bersemangat membaca? Tidak biasanya anda seperti ini," sahut Adelia, tersenyum kecil.


Altezza melirik tajam ke arah perempuan itu dan berkata, "lancang sekali kamu, ya ...?" dan hanya mendapatkan respons tawa dari Adelia yang secara tidak langsung membuatnya ikut tertawa kecil dan tersenyum tipis kemudian.


"Maaf, Yang Mulia," sahut Adelia cengar-cengir tak bersalah.


Ada empat buku yang tergeletak tepat di hadapan Altezza, termasuk buku yang sedang ia baca. Adelia meraih salah satu dari keempat buku itu, buku dengan logo elang berwarna emas yang ada di depan sampulnya sembari berkata, "anda tahu kalau buku yang menjelaskan tentang negeri ini adalah lebih dari sepuluh buku, bukan?"


"Ya, tentu saja! Kakek moyang ku yang menulisnya, mana mungkin aku tidak mengetahuinya," sahut Altezza, tanpa menoleh ataupun melirik Adelia yang berada di sebelahnya, fokusnya masih tetap berada pada halaman buku tentang Benua Timur yang sedang ia baca.


"Sama seperti buku tentang negeri kita, buku tentang benua-benua yang ada di dunia ini sebenarnya ada banyak, bahkan mungkin dengan semua buku tersebut tidak cukup untuk menceritakan serta menjelaskan tentang luasnya dunia ini, Yang Mulia." Adelia tiba-tiba saja berbicara sembari membuka serta membolak-balikkan halaman buku tentang Negeri Zephyra.


Altezza menoleh, menatap serius Adelia yang tampak asyik membolak-balikkan halaman buku tersebut, sebelum kemudian dirinya bertanya, "apakah kau mengetahui atau sudah membaca semua buku tersebut?"


"Semua buku, Yang Mulia, kecuali yang berada di bagian terlarang karena aku tidak memiliki otoritas untuk mengetahui isi dari buku-buku yang ada di sana," jawab Adelia, menoleh sejenak dan menatap pangeran muda itu.

__ADS_1


"Lalu apakah kau mengetahui soal ini?" ujar Altezza, menunjukkan halaman buku yang ia baca. Halaman tersebut terlihat sedang menjelaskan makhluk mitos penghuni Oasis Terkutuk yang menarik perhatiannya.


Adelia melihat halaman tersebut, membaca serta menyaksikan adanya sebuah gambar siluet ular raksasa berwarna hitam dengan aura yang sungguh gelap. Menjawab pertanyaan tersebut, perempuan itu berkata, "banyak cerita rakyat yang tersebar di seluruh penjuru Benua Timur yang mendeskripsikan serta menjelaskan soal makhluk ini."


"Banyak variasi sebutan untuk ular raksasa yang mengerikan ini, di antara dari banyak sebutan yang ada, terdapat satu sebutan yang paling populer bahkan diakui oleh pihak Kerajaan Neverley di Timur."


"Sebutan?" tanya Altezza, tampak sangat serius dan tertarik dengan hal tersebut.


Adelia mengangguk dan menjawab, "ya, sebutan untuk makhluk ini adalah Basilisk, dan konon dia dibangkitkan satu abad yang lalu ketika kegelapan Raja Iblis Lucifer menginvasi kedamaian dunia dengan kekuatan jahat serta kegelapan."


"Namun banyak juga cerita rakyat di Timur yang mengatakan bahwa ular tersebut termasuk roh jahat yang dikuasai serta dikendalikan oleh Raja Iblis Asmodeus," lanjut Adelia.


"Dua Raja Iblis?" gumam Altezza, terlihat sedang mengingat-ingat sesuatu di masa lalunya.


Adelia menoleh, menatap pangeran muda itu dan berkata, "seharusnya anda tahu cerita tentang keduanya, dan apa yang terjadi 100 tahun yang lalu di kelima benua."


Altezza mengangguk dan menjawab, "ya, ketika aku masih kecil, Raja Aiden hampir selalu menceritakan soal perang besar yang terjadi seratus tahun yang lalu ketika aku hendak tidur, dan beliau berkali-kali menyebutkan soal Bangsa Iblis serta kedua nama itu."


"Saya sendiri juga mengetahui semua itu dari buku-buku serta cerita-cerita rakyat yang tersebar, karena pada saat bencana besar itu terjadi saya belum lahir," timpal Adelia.

__ADS_1


Perbincangan di antara keduanya kemudian terpecah beberapa detik kemudian dengan suara lonceng yang menandakan waktu senja telah tiba. Altezza sadar bahwa ternyata dirinya telah menghabiskan waktu berjam-jam berada di perpustakaan tersebut.


***


Altezza berjalan melalui taman tengah istana, dan menuju ke aula utama, sebelum akhirnya langkahnya membawa dirinya sampai ke taman samping istana. Menghampiri gazebo tempat kesukaannya, duduk di sana menikmati suasana tenang dengan salju yang menyelimuti taman di sore hari ini. Sangat sepi dan sunyi, tidak ada kehadiran Shiro di sana. Elang putih itu sepertinya benar-benar menghilang entah ke mana. Meskipun Altezza sudah berusaha untuk mencarinya, namun tetap saja akan membawa hasil yang nihil.


Angin terasa dingin, berhembus lembut mengelilingi tubuh pangeran muda yang tampak sedih jika mengingat soal Shiro. Seperti biasa, di saat pangeran itu kesepian, angin akan selalu datang menemaninya, bahkan juga mengajaknya berbincang atau berkomunikasi.


"Ya, aku tahu, ini memang aneh namun mau bagaimana lagi?" gumam Altezza, berbicara sendiri dengan intonasi yang sangat rendah.


"Dari awal Shiro adalah elang yang unik, bahkan aku baru menyadarinya kalau kehadirannya tidak disadari oleh pihak ahli sihir kerajaan, Welt saja tidak sadar dengan kehadiran Shiro di istana ini," lanjut pangeran muda itu, mengingat-ingat kembali bagaimana ia bermain dengan Shiro yang seolah bisa mengendalikan sihir angin ketika berada lapangan belakang istana.


Angin kembali berhembus pelan dan lembut mengelilingi tubuhnya, sebelum kemudian berakhir dengan sebuah terpaan yang membuat baju dan rambutnya bergelombang karena angin tersebut. Altezza terlihat tersenyum dan tertawa kecil seolah mengerti dengan apa yang sedang ingin disampaikan oleh angin miliknya.


"Terima kasih," ucapnya sembari tersenyum, sebelum kemudian lanjut berkata, "kalau kamu bertemu dengan Shiro di manapun dia berada, kumohon tolong sampaikan kepadanya bahwa aku dan istana selalu ada jika dia membutuhkan tempat untuk beristirahat."


"Alam mungkin tempat yang indah dan sangat nyaman untuk Shiro, namun istana ini akan selalu bersedia menerima keberadaannya jika dia ingin kembali ke sini," lanjut laki-laki itu kembali, berakhir dengan senyuman yang nampak cukup dipaksakan dengan ekspresinya yang terlihat muram.


Setelah Altezza selesai berbicara. Angin itu kembali berhembus, mengelilingi kembali tubuhnya sejenak, sebelum kemudian pergi menyatu dengan udara dingin bersalju sore ini.

__ADS_1


__ADS_2