Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Dasar Iblis! #91


__ADS_3

Ruang singgasana yang tampak sangat megah dengan dekorasi penuh dengan warna biru es. Terlihat seorang laki-laki duduk manis di atas kursi singgasana milik sang raja. Laki-laki tersebut adalah Pangeran Asta, dan tepat di hadapannya terdapat Putri Aurora yang dipaksa berlutut oleh tiga ekor makhluk mengerikan atau disebut dengan iblis.


Pangeran tampan bernama Asta tampak sangat berwibawa, apalagi dengan sebuah mahkota berwarna hitam yang terpasang di atas kepalanya. Benar-benar sosok laki-laki yang sangat angkuh, terlebih ketika ia mengetahui seorang putri raja yang kini berlutut dan tunduk di hadapannya, membuatnya semakin angkuh. Dengan sorot mata tajam berwarna kemerahan, Asta bertanya, "apa yang diperbuat olehnya?" kepada beberapa anak buahnya yang menggiring paksa Putri Aurora ke dalam ruang singgasananya.


"Menggunakan sihir, membekukan dinding penjara, dan meleburkannya," jawab salah satu dari tiga iblis itu. Wujud mereka seperti manusia dengan tangan, kaki, serta kepala layaknya manusia atau seorang pria. Namun mereka memiliki sepasang tanduk tajam serta cakar di masing-masing tangan dan kaki mereka. Sorot mata mereka juga tampak menyala berwarna merah, serta ketika mereka membuka mulut tertampak gigi-gigi runcing layaknya gergaji.


"Dasar penghianat!" ujar Aurora menatap tajam ke arah Asta di depannya.


"Diam!" tegas salah satu dari ketiga iblis yang membawanya, dan dengan kasarnya mendorong tengkuk gadis berambut putih itu hingga kepalanya menyentuh lantai dingin ruangan.


Pangeran Asta beranjak bangun dari kursi singgasananya, dan perlahan melangkah mendekati sosok Aurora yang berlutut serta tunduk tepat di bawahnya. Putri cantik itu berkali-kali memberontak, berusaha mengangkat wajahnya untuk menatap sosok pangeran yang dicap sebagai penghianat olehnya.

__ADS_1


"Mengapa kau mengecap diriku sebagai penghianat, kakakku tercinta?" tanya Pangeran Asta dengan intonasi serta sikap angkuhnya, melangkah mengelilingi Putri Aurora secara perlahan ketika berbicara. Langkah laki-laki itu kemudian berhenti, berdiri tepat di hadapan Aurora yang masih tertunduk di lantai dan lanjut berbicara, "padahal aku hanya ingin membuat Kerajaan Mystick lebih berkuasa dan digdaya."


"Kau bukan adikku! Kau iblis, Astaroth!" sahut Aurora dengan sangat lantang dan lancang, mengangkat paksa kepalanya, dan menatap tajam sosok Asta di hadapannya, "semua rencana yang kau miliki hanya akan membawa kepada kehancuran massal!" lanjutnya dengan tegas dan kedua mata yang tampak sedikit berkaca-kaca.


"Sebuah kekuasaan serta kekuatan memerlukan pengorbanan, Aurora. Ibarat kata 'kemenangan tidak akan bisa tercapai tanpa adanya pengorbanan', bukankah seperti itu?" ujar Asta dengan sangat santai, dan tampak tidak mempedulikan tatapan kebencian Aurora terhadap dirinya.


Pangeran bernama Asta itu kemudian berdiri membelakangi Putri Aurora yang masih berlutut di atas dinginnya lantai ruang singgasannanya. Tanpa menoleh sedikitpun, laki-laki itu lanjut berbicara, "seluruh manusia yang ada di kerajaan ini berada dalam kendali ku, termasuk si tua bangka yang sudah tak sanggup beranjak dari ranjangnya itu, kecuali dirimu," dengan sedikit mengangkat salah satu telapak tangannya, dan kemudian menggenggamnya seraya berbicara seperti itu.


Tatapan Aurora masih tajam, meski kepalanya terus ditekan menyentuh ke dinginnya lantai. Gadis berambut putih itu kemudian berbicara dengan intonasi rendah dan terdengar gemetaran, "apapun yang kau dan pasukan iblismu rencanakan, semuanya akan sia-sia seperti satu abad yang lalu, Asta ...! Camkan itu!"


"Oh, ya ...?" sahut Pangeran Asta, kembali berbalik badan menghadap ke arah Aurora. Laki-laki itu tampak menyeringai dengan ekspresi liciknya, "kita lihat saja nanti, Aurora. Benua tanpa permata berharganya, apakah bisa bertahan?" ujarnya dengan sorot mata semakin membara berwarna merah.

__ADS_1


***


Perjalanan Altezza terus berlanjut. Berjam-jam telah ia lalui, bahkan laki-laki itu telah melalui malam yang indah dengan lancar tanpa adanya kendala. Dirinya juga sempat makan malam enak dengan sayur-sayuran yang diberikan oleh keluarga Liam di desa sebelumnya. Matahari tampak terik di atas kepala, membuat rasa haus dan lelah terasa dua kali lebih terasa. Setelah melewati puluhan bahkan hingga ratusan kilometer, Altezza menemukan sebuah hamparan rumput yang sangat amat luas dengan bukit-bukit kecil di tengahnya.


Altezza berjalan mendaki salah satu bukit, dan berdiri di atasnya dengan tatapan kagum. Pemandangan alam yang sungguh indah dapat terlihat dengan sangat jelas dari atas bukit tersebut. Di sebelah Timur tampak sebuah samudera yang sangat amat luas, sedangkan di sebelah Utara terlihat benteng Kerajaan Lagarde yang terlihat sangat kecil karena saking jauhnya. Selain dua pemandangan tersebut adalah hutan-hutan seperti biasa.


Menghirup udara segar, dan kemudian menghembuskannya secara perlahan, itulah yang dilalukan oleh Altezza saat ini. Ia tampak tersenyum lebar, dan tidak bisa berhenti memandangi luasnya dunia yang ada di depan matanya. Di detik ini dirinya merasa bebas, sangat bebas.


"Sungguh pemandangan yang indah!" ujar Altezza dengan pandangan berbinar, semangat, dan antusias.


Tidak ingin terlalu lama berada di atas bukit itu, karena memang tidak ada pohon satupun untuk berteduh di atas sana dari teriknya matahari di siang hari ini. Altezza segera lanjut berjalan ke arah Timur, menuju ke hutan-hutan yang ada di sana. Benua Timur masih sangat jauh, dan untuk ke sana ia harus pergi ke Pelabuhan Aetheria terlebih dahulu.

__ADS_1


__ADS_2