
Derap kuda para prajurit kerajaan tampak terdengar. Mereka tampak gagah dan keren dengan pakaian zirah besi dengan identik warna biru muda. Mereka semua adalah para prajurit milik Kerajaan Lagarde, yang pada saat ini mereka menyambangi Desa Blissville dan bertemu dengan kepala desa. Liam dan Altezza hadir di hadapan para prajurit yang tidak dapat terlihat wajah-wajahnya karena tertutup zirah serta helm besi yang mereka kenakan.
Desa Blissville sangat ramai di hari ini, karena kedatangan para prajurit terhormat dari ibu kota kerajaan. Mereka datang untuk menyelesaikan permasalahan yang menimpa desa tersebut. Liam sebagai kepala desa menyambut kedatangan mereka dengan sangat baik dan hangat, bahkan warga desa juga tampak senang dengan kehadiran para prajurit tersebut.
Seorang pria berjubah biru muda tampak mendekat, menunggangi sebuah kuda berwarna putih bersih, berjalan di antara para prajurit tersebut. Tidak ada mahkota, namun kedua mata Altezza merasa tidak asing dengan sosok pria yang kini telah turun dari kudanya dan berdiri tepat di depannya.
"Selamat siang, Yan--*ekhem* ... Altezza dan Tuan Liam." Pria berambut cokelat kemerahan dan berkulit putih itu tampak sedikit gugup, bahkan sempat batuk sekali di tengah kata-katanya yang kemudian langsung ia ralat.
Altezza tersenyum sekaligus merasa lega karena perjanjian yang ia tuliskan pada surat yang kemarin ia kirim dijalankan dengan baik, meski pria di hadapannya hampir saja terpeleset ketika memanggil dirinya.
"Perkenalkan, nama saya Ethan. Kedatangan saya ke desa ini sesuai dengan surat perintah yang diberikan oleh Yang Mulia Pangeran Xavier serta telah disetujui oleh Yang Mulia Ratu Freya," ucap pria bernama Ethan, sembari mengambil sebuah gulungan surat berukuran cukup besar dari tas yang bergelantung di sisi pelana kuda miliknya, dan membacakan isi dari surat tersebut.
"Pangeran Xavier telah menerima berbagai laporan mengenai permasalahan yang disebabkan oleh adanya proyek pertambangan terbengkalai yang dimiliki oleh Kerajaan Lagarde, dan beliau mengirimkan kami ke sini untuk menyelesaikan permasalahan tersebut."
Liam tampak tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh pria bernama Ethan itu. Kabar baik, karena permasalahan yang dialami oleh desanya akan segera diselesaikan. Ethan belum selesai membacakan surat tersebut, ia pun lanjut membacakannya.
__ADS_1
"Terlampir pertama ditulis oleh Pangeran Xavier, kami akan menyelesaikan permalasahan yang menimpa Desa Blissville dengan tempo yang sesingkat-singkatnya. Kedua, kami tidak akan kembali sebelum permasalahan yang sedang menimpa belum terselesaikan. Dan yang ketiga, kami akan menjamin kenyamanan serta kedamaian desa ini," ucap Ethan, kemudian menatap dan tersenyum kepada Altezza serta Liam yang ada di depannya setelah kalimat terakhir yang ia baca selesai.
Liam tampak sangat senang mendengar banyak sekali kabar baik di siang hari ini. Pria itu menundukkan kepalanya di hadapan Ethan dan berkata, "mohon bantuannya, terima kasih."
Ethan menanggapi sikap tersebut dengan berkata, "angkatlah kepalamu, Tuan Liam. Dan simpan rasa terima kasihmu untuk Yang Mulia Ratu dan Pangeran," dengan senyuman yang terukir. Lirikan mata Ethan sempat melirik kepada Altezza, sebelum kemudian kembali menatap kepada Liam ketika pria itu kembali mengangkat kepalanya.
***
Liam, Altezza, dan Ethan berjalan melalui hutan yang terletak dekat dengan Desa Blissville. Mereka tidak hanya bertiga, ada sekitar lima sampai tujuh prajurit yang ikut mengawal keamanan mereka. Sesampainya di mulut goa, mereka bertiga berjalan masuk ke dalam gelapnya goa secara perlahan.
Struktur dalam goa terlihat sangat jelas, dan hampir secara keseluruhan adalah bebatuan granit berwarna . Liam sempat tampak tertegun melihat bebatuan granit yang tampak mengkilap ketika terkena cahaya dari tongkat sihir milik Ethan. Warna serta pola bebatuan granit yang tersimpan di dalam goa tersebut juga bermacam-macam, dari yang abu-abu, merah, cokelat, hingga hitam.
"Awalnya kami berniat untuk mengelola sumber daya alam yang ada di dalam goa ini, hanya saja terdapat beberapa kendala krusial yang kemudian membuat kami menghentikan proyek pertambangan tersebut secara paksa." Ethan tampak berbicara ketika berjalan melalui berbagai macam granit yang tampak berkilau dengan permukaan yang rata-rata halus di dalam goa itu.
"Apa terjadi?" tanya Altezza, berjalan di samping Ethan menuju kegelapan goa yang dalam.
__ADS_1
"Penghuni setempat tidak merestui rencana kami, dan mengganggu kebanyakan pekerja tambang kami, bahkan sempat melukai para pekerja tersebut," ucap Ethan menjawab pertanyaan tersebut.
Ethan kemudian menghentikan langkahnya ketika sudah berada di bagian yang cukup dalam di goa tersebut. Pria itu mengarahkan tongkatnya ke depan, dan kemudian perlahan cahaya pada tongkatnya semakin terang hingga memperlihatkan adanya ribuan kelelawar yang sedang tidur bergelantung di atas goa.
"Apakah benar mereka yang menyerang pemukiman dan menghancurkan pertanian kalian?" tanya Ethan kepada Liam yang berdiri di sampingnya.
Liam mengangguk dan menjawab, "iya."
"Apa yang kau lakukan kepada para kelelawar itu?" tanya Altezza, menoleh menatap pria kepercayaan Kerajaan Lagarde itu dan langsung lanjut bertanya, "kau tidak kepikiran untuk memusnahkan mereka, bukan?"
"Tentu saja tidak," jawab Ethan santai, menurunkan kembali tongkatnya, sebelum kemudian beranjak keluar dari goa tersebut.
"Dengan membereskan tempat ini dari barang-barang tambang mungkin adalah langkah yang terbaik, karena tentu itu akan membuat mereka nyaman di rumah mereka sendiri," lanjut Ethan berbicara ketika sudah sampai di mulut goa kembali, dan kemudian mematikan cahaya pada tongkatnya hanya dengan sekali ayunan kecil.
Ethan melipat kedua lengannya di atas dada, dan memandangi betapa besarnya goa tersebut dari luar, "sebentar lagi ada tiga orang ahli sihir dari kerajaan yang akan datang, dan mereka akan membersihkan semuanya," ucapnya berbicara.
__ADS_1