Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Kelompok Pengembara #113


__ADS_3

Gadis cantik berkulit kuning langsat dan berambut kelabu itu memandang ke arah Altezza, tersenyum lembut padanya dan memperkenalkan dirinya, "namaku Alaia, dan aku berasal dari Arandelle. Salam kenal, Altezza! Senang bisa bertemu denganmu," dengan intonasi bicara yang terdengar lembut dan riang. Sosok Alaia tampak tidak berhenti memudarkan senyumannya, serta ekspresi riangnya yang selalu terlihat.


"Aku Aaron, kakak Alaia," timpal singkat laki-laki berambut pirang yang berdiri tepat di sebelah Alaia, menatap Altezza dengan tatapan tenang serta menunjukkan sikap yang cukup dingin terhadap Altezza.


Alaia menoleh, menatap abangnya dengan sedikit menyipitkan kedua matanya dan berbicara, "jangan seperti itu, Aaron! Bersikaplah ramah dengan Altezza!" sebelum kemudian kembali memandang paras tampan Altezza, sedikit menundukkan kepalanya dan berbicara, "maafkan sikapnya yang tidak ramah, ya ...?"


Eugene terkekeh melihat momen tersebut, "Aaron akan bersikap dingin ketika adiknya dekat atau berbicara dengan laki-laki yang baru dikenal," ujarnya, melirik kepada Altezza yang saat ini berdiri di sebelahnya.


Situasi lengang sejenak, dan terasa agak sedikit canggung. Eugene menyela kecanggungan tersebut dengan berbicara, "baiklah, bagaimana kalau kita cari tempat lain sambil berbincang?"


"Ide yang bagus!" sahut Alaia, berseru dengan sikap yang sungguh riang, tersenyum dan setuju dengan ide dari Eugene. Mereka berempat pun beranjak pergi dari tengah keramaian pasar raya itu.


...


Berjalan menyusuri hiruk-pikuk Kota Beladon yang sangat amat ramai, Altezza berjalan di antara ketiga orang yang baru saja ia kenal. Selain Eugene yang paling aktif mengajak berbicara, sosok Alaia juga tampaknya memiliki karakteristik yang hampir sama dalam hal berbicara. Gadis berambut kelabu itu tampak asyik sekali mengajak teman-temannya berbicara, termasuk Altezza.

__ADS_1


"Kalian sampai menyewa penginapan?" tanya Eugene, menatap terkejut kepada Alaia dan Aaron.


"Kami sudah menunggumu dari kemarin, Eugene. Kami kira kamu memilih untuk menunda penyeberangan dari Lagarde ke Neverley," sahut Alaia mengangguk menjawab pertanyaan tersebut sembari tersenyum, berjalan di antara Aaron dan Eugene. Pandangan dari gadis cantik itu kemudian tertuju kepada Altezza yang berjalan di sisi lain Eugene dan bertanya, "Altezza, di Zephyra kamu tinggal di sebelah mananya? Aku cukup sering berkunjung ke negeri itu."


"Dan bagaimana ceritanya kamu bisa bersama Eugene?" lanjut Alaia, menambahkan pertanyaannya dengan tatapan mata cantiknya berwarna kuning keemasan terus memandang kepada Altezza.


Belum sempat Altezza memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut. Eugene sudah lebih dahulu memotong, dan atas dasar rasa penasarannya ia langsung bertanya, "Oh iya, Zephyra?! Apakah legenda tentang roh angin di Zephyra itu benar adanya?!" kepada Altezza dengan intonasi serta sikap antusias.


Sebal, Alaia mukul salah satu lengan Eugene dengan satu telapak tangannya sembari berbicara, "jangan suka memotong pembicaraan orang, dong! Altezza saja belum menjawab pertanyaan ku, dasar menyebalkan!" Eugene hanya tertawa tanpa dosa setelah menerima pukulan yang menyebabkan lengannya sedikit terasa panas atau pedih.


"Ngomong-ngomong, kita sudah sampai," ujar Aaron dengan intonasi tenang.


***


Menjelang sore hari yang sangat cerah dan indah di negeri yang juga tak kalah indah. Negeri Zephyra, salah satu negeri terindah dan ternyaman untuk ditinggali di Benua Tengah. Negeri tersebut juga sangatlah luas, dan terbagi menjadi berbagai wilayah--tidak hanya wilayah ibu kota kerajaan saja.

__ADS_1


Keindahan serta ketenangan sore ini tampaknya tidak dapat dirasakan oleh raja dan ratu dari Kerajaan Zephyra. Sebuah surat yang berisikan laporan baru saja tiba melalui prajurit bernama Franz, dan isi dari laporan tersebut mengenai apa yang terjadi di luar perbatasan paling Selatan dari Tanah Zephyra.


"Kau serius soal ini, Franz?" tanya Raja Aiden hingga bangkit dari kursi singgasananya.


Franz yang bertekuk lutut di hadapan sang raja, menundukkan pandangannya dan berkata, "benar, Yang Mulia. Para petani setempat yang menjadi saksi mata atas munculnya entitas gelap tersebut."


Ratu Caitlyn masih berada di kursi singgasananya, dan di tangannya terdapat secarik surat yang diberikan oleh Franz. Di dalam surat tersebut tertuliskan kalimat permohonan bantuan dari beberapa desa setempat atas kemunculan entitas magis tidak diketahui yang berasal dari luar perbatasan Selatan.


"Kita harus bertindak, Aiden ...!" ujar Caitlyn, menatap cemas lelaki yang kini berdiri di hadapan Franz yang masih bertekuk lutut di atas karpet merah.


Tanpa berbasa-basi Raja Aiden langsung mengambil keputusan, "kirim pasukan ke sana dan sertai ahli sihir kerajaan di dalamnya!"


"Baik!" sahut Franz, kemudian berdiri, memberikan hormat dengan cara menundukkan kepalanya, sebelum kemudian beranjak pergi dari ruangan tersebut.


Tak berselang lama, Raja Aiden juga tampak hendak pergi dari ruang singgasananya. Ratu Caitlyn beranjak dari kursinya, berjalan mendekati sang raja dengan ekspresi cemas. Lelaki berambut hitam itu menoleh, menatap ratu cantik itu dan berbicara, "aku juga akan pergi ke sana untuk melihat entitas magis itu."

__ADS_1


"Apa kau yakin?" tanya Caitlyn tampak menyimpan keraguan dalam hatinya.


Aiden mengangguk, tersenyum yakin dan berbicara, "aku akan pergi bersama Kenan, dan akan ku suruh Welt untuk menyusul, jadi jangan khawatir!"


__ADS_2