Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Pertanda Buruk #102


__ADS_3

Benua Selatan, Kerajaan Mystick. Badai salju turun lebih lebat daripada biasanya, bahkan mengubur banyak sekali rumah-rumah kecil warga yang tak mampu bertahan lebih lama. Setiap manusia ada di Kerajaan Mystick hidup dengan pemikiran yang sudah direkayasa oleh Pangeran Kegelapan--atau lebih dikenal dengan nama Astaroth.


Di hari yang tidak dapat dikenali apakah siang atau malam, karena langit selalu saja gelap dengan dipenuhi awan mengerikan berwarna abu bercampur biru tua. Petir menyambar, mengkilat menyilaukan, dan bersuara menggelegar di balik gelapnya awan. Benar-benar suasana yang menyeramkan, langit seakan sedang mengamuk karena sesuatu hal.


Asta, atau juga dikenal dengan nama Astaroth. Laki-laki bermahkota hitam itu berdiri tepat di depan gerbang megah Istana Mystick, dan di hadapan banyak sekali prajurit manusia yang tampak tunduk di depannya. Jumlah dari prajurit yang saat ini ada di depan istananya ada lebih dari seribu, bahkan tidak kurang dari belasan ribu. Mereka semua manusia. Tepat di atas mereka terlihat ribuan makhluk mengerikan dengan sepasang sayap serta cakar berwarna hitam, gelap. Mereka melayang dengan mengepakkan masing-masing sayap mereka, dan diselimuti oleh aura gelap yang sungguh pekat sehingga tidak memperlihatkan seperti apa sosok mereka sebenarnya, hanya memperlihatkan sorot mata berwarna merah yang berjumlah ribuan.


"Ini belum semuanya, Yang Mulia. Pasukan ini adalah pasukan yang sudah ada di dunia sejak lama, dan sebagian dari mereka adalah mantan dari prajurit terdahulu yang dipimpin oleh Baginda Lucifer." Baltazhar muncul tiba-tiba, berawal dari gumpalan abu berwarna gelap, hingga memperlihatkan sosoknya yang ditutup oleh jubah gelap.


"Bagaimana kabar dari Baginda Asmodeus?" tanya Asta, melirik dengan kedua iris mata birunya kepada Baltazhar di sampingnya.


Baltazhar menundukkan kepalanya dan menjawab, "segera setelah pembukaan portal dilakukan."


Tatapan tajam Asta kembali ke depan, menatap ribuan prajurit yang berlutut di hadapannya--tidak peduli meski akan diterpa oleh lebatnya salju saat ini. Kedua iris mata berwarna biru milik Asta, perlahan berubah menjadi jingga kemerahan layaknya kobaran api yang menyorot dan menyala-nyala. Jubah hitam yang melekat pada zirahnya perlahan terangkat, diikuti oleh tubuhnya yang perlahan melayang.


Aura kegelapan yang menyeramkan menyelimuti tubuh dari Astaroth, sebelum kemudian tubuhnya diselimuti oleh salju yang bertiup hanya berputar di sekitarnya. Seiring ia mengangkat kedua tangannya seperti meminta sesuatu kepada langit, gemuruh langit kembali terdengar dengan petir yang kembali menyambar. Angin berhembus dengan sangat kuat, dan awan gelap yang berada tepat di atas Astaroth perlahan berputar hingga menciptakan layaknya lubang yang terbuat dari sebuah pusaran awan di langit.


"Para pengikutku yang setia, telah tiba hari di mana kekuasaan kita akan segera meluas, dan hari di mana kita akan membalaskan dendam atas terbantainya bangsa kita yang terdahulu."

__ADS_1


Astaroth berbicara dengan suara yang lantang, terdengar oleh seluruh prajuritnya. Entah apa yang diperbuat olehnya, namun gemuruh dari suara langit seketika teredam oleh suaranya di saat ia berbicara. Petir semakin menyambar seolah mengamuk, bahkan satu sambaran petir terarah kepada sosok Asta yang melayang di atas sana. Akan tetapi entitas magis kegelapan menangkis petir tersebut, sehingga melindungi sosok Asta yang hendak disambar.


Awan semakin gelap, dan semakin mengamuk. Alam seolah tidak merestui, dan tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh Astaroth. Tidak hanya satu atau dua kali petir menyambar tubuh Asta, namun hingga berkali-kali. Akan tetapi Asta zirah dan jubah milik Asta tidak tergores sedikitpun, sambaran belasan bahkan puluhan petir tidak ada artinya bagi Astaroth.


"Raja Iblis Terhormat Asmodeus tidak ingin menunggu lama, begitupula dengan diriku. Kita akan memulai sejarah baru, dan menuliskan sejarah kita sendiri di atas kemenangan!" seru Astaroth, sebelum kemudian disusul oleh sorak-sorai dukungan dari para prajuritnya. Mereka mengangkat pedang, tombak, dan panji-panji perang berwarna gelap yang mereka bawa. Begitupula dengan para prajurit langitnya.


Baltazhar kembali muncul tepat di sebelah Astaroth, melayang seperti laki-laki bermahkota hitam itu. Sorot mata merah milik Astaroth terus memandang ke bawah, melihat ribuan pasukan dengan kekuatan lebih dari tiga kerajaan digdaya sekaligus, sebelum kemudian pandangannya menatap ke atas, melihat ribuan iblis yang terbang dan mereka juga bagian dari pasukannya.


"Kita akan meraih kemenangan kita yang sempat tertunda, Yang Mulia?" tanya Baltazhar dengan intonasi bicara serak-serak.


"Dengan pembukaan ini, kita akan memberitahukan sejarah yang sebenarnya kepada dunia, dan menuliskan sejarah baru di atas kemenangan kita," sahut Astaroth dengan sorot mata tajamnya, "karena sejarah akan dituliskan oleh si pemenangan," lanjutnya.


***


Suasana malam yang sungguh tenang dengan pemandangan langit yang sangat indah, ribuan bintang bertaburan di langit malam ini. Akan tetapi ketenangan tersebut tidak berlaku bagi seorang pangeran sekaligus pewaris tahta dari Kerajaan Zephyra, yaitu Pangeran Welt. Laki-laki itu berlari menyusuri lorong istananya, menaiki anak tangga menuju lantai dua, dan mengetuk pintu sebuah kamar dengan terburu-buru.


Pintu kamar itupun terbuka, dan Raja Aiden bersama Ratu Caitlyn tampak keluar dari kamar tanpa pakaian resmi, hanya pakaian tidur. Mereka mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi dengan Welt.

__ADS_1


"Apa yang membuatmu terlihat seperti bertemu dengan setan seperti ini, Welt?" tanya Raja Aiden, mengerutkan dahinya, menatap bingung.


"Tenanglah ...!" timpal Ratu Caitlyn dengan lembut.


Welt menarik napas panjang, sebelum kemudian dirinya mengatakan, "kalian harus melihatnya!"


...


Raja Aiden dan Ratu Caitlyn berjalan mengikuti langkah dari Welt, menuruni tangga, melewati taman tengah istana, dan menuju ke perpustakaan istana. Langkah Welt sangat terburu-buru, seperti ingin menunjukkan sesuatu kepada kedua orang tuanya. Akan tetapi ia tidak memberitahukan terlebih dahulu apa yang sebenarnya sedang ingin ia tunjukkan.


Sesampainya di perpustakaan, bertemu dengan salah satu penjaga perpustakaan bernama Al. Welt menghampiri salah satu meja baca di tengah perpisahan, dan memperlihatkan sebuah bola kristal yang berwarna hitam gelap, sungguh pekat.


Raja Aiden dan Ratu Caitlyn tampak dibuat kebingungan dengan pemandangan yang sangat jarang terjadi itu. Bola kristal yang ditunjukkan adalah salah satu Kristal Sihir milik Kerajaan Zephyra, dan kristal tersebut biasa digunakan sebagai pertanda apa yang akan terjadi ke depannya.


"Gunakan mata sihir, dan lihatlah," ucap Welt.


Kedua mata milik Raja Aiden perlahan berubah menjadi warna hijau muda. Begitupula dengan yang dilakukan oleh Ratu Caitlyn, merubah kedua iris matanya menjadi warna kuning keemasan. Sesaat setelah itu, keduanya dibuat tercekat dengan apa yang mereka lihat. Aura kegelapan yang sungguh pekat dan mengerikan menyelimuti kristal sihir itu.

__ADS_1


Beberapa saat setelahnya, kristal sihir itu tiba-tiba saja pecah, hancur berkeping-keping hingga hanya menyisakan pecahan kaca kecil-kecil. Hal itu tentu sangat mengejutkan keempat orang yang ada di perpustakaan.


"Ini pertanda buruk," gumam Raja Aiden, kemudian ditimpali oleh Ratu Caitlyn yang mengangguk dan juga berpendapat sama, "sesuatu yang sangat buruk," ujar ratu cantik itu.


__ADS_2