Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Keputusan Berkelana #61


__ADS_3

Malam yang sungguh tenang dan indah, dengan salju yang terus turun tanpa henti. Perlahan kota dan istana terselimuti oleh salju, dan semakin tebal seiring berjalannya waktu. Tidak ada lagi hijau-hijau pohon, rumput, atau semak-semak. Tidak ada juga bunga-bunga yang indah bertebaran di setiap taman yang ada di istana. Semuanya perlahan tertutup oleh putihnya salju.


Udara dingin begitu terasa, apalagi malam hari. Altezza dengan baju hangatnya yang sudah seperti jubah kerajaan berwarna putih putih, terlihat berdiri di teras lantai dua atau balkon lantai dua istananya, memandangi pemandangan taman samping istana yang terlihat dari atas situ. Pemandangan yang sebenarnya tetap indah dengan tampilan penuh salju, namun terasa hambar. Lampu-lampu taman kecil yang berdiri di sepanjang jalan bebatuan taman tampak menyala terang, dan gazebo tempat kesukaannya juga tampak bersinar putih terang. Hanya saja, sunyi dan sepi. Biasanya Shiro ada di sebuah kandang yang cukup besar dan luas yang terletak di sudut taman. Namun sekarang kandang itu kosong.


Altezza sempat memandang ke arah langit malam, dan melihat ke arah cahaya bulan yang terlihat, hanya saja tidak ada taburan bintang yang biasanya sering terlihat di langit malam Negeri Zephyra. Sempat terlintas harapan dalam benaknya, ketika ia memandangi langit dan bulan tersebut, secara tiba-tiba Shiro terlihat terbang di atas sana. Namun itu hanyalah sekadar harapan yang tidak terealisasikan.


Musim dingin telah tiba. Sempat terlintas dalam benaknya untuk memutuskan berkelana di pertengahan musim ini. Namun keputusan telah ia buat, yaitu pangeran muda itu mengurungkan niatnya dan menundanya serta berencana untuk pergi setelah musim dingin berlalu. Iklim yang terbilang ekstrem ini tentu menjadi pertimbangan utama bagi Altezza.


"Sepertinya ada yang sedang tidak baik-baik saja, nih." Suara lembut seorang wanita yang sangat tidak asing di telinga Altezza tiba-tiba saja terdengar dari belakang.


Altezza menoleh ke samping, mendapati sosok ibunda tercinta yang sudah berdiri tepat di sampingnya dengan jubah hangat berwarna merah yang ia kenakan. Meskipun ekspresi wajah laki-laki itu tampak biasa-biasa dan datar saja, namun sepertinya ia tidak dapat menyembunyikan perasaan muramnya dari kedua mata indah berwarna hitam milik Ratu Caitlyn.


"Masih soal Shiro?" tanya Caitlyn, menoleh dan tersenyum kepada putra bungsunya.


Pangeran itu mengangguk pelan dan menjawab, "ya, aku ... tidak dapat dipungkiri aku masih sedih soal itu."


"Namun di sisi lain, aku ada hal ... sedikit ... mengganggu pikiranku akhir-akhir ini," lanjut Altezza.

__ADS_1


Caitlyn menatap dalam-dalam paras tampan putra bungsunya dan kemudian bertanya, "apa yang mengganggu pikiranmu akhir-akhir ini? Apakah ada yang perlu kamu ceritakan atau bicarakan dengan ibu?"


Altezza menoleh dan menatap dalam-dalam ibundanya sebelum kemudian menjawab, "mungkin sedikit."


Pandangan Altezza kembali memalingkan pandangannya ke arah langit malam, sebelum kemudian lanjut berbicara, "aku telah memutuskan untuk pergi berkelana pada musim semi mendatang."


"Namun yang jadi masalah, aku belum berbicara sama sekali dengan ayah mengenai keputusan ini. Aku tidak yakin akan berjalan baik jika harus berbicara kepadanya tentang hal ini," lanjut Altezza, kemudian menoleh dan menatap bingung ibundanya.


Caitlyn tersenyum melihat ekspresi putra bungsunya yang terlihat tidak yakin serta takut, terlebih setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Altezza, dirinya langsung mengerti kalau putranya tengah menghadapi keraguan.


Tidak berkata, Altezza menjawab hanya dengan menggelengkan kepalanya. Melihat jawaban tersebut, Caitlyn langsung tersenyum dan berkata, "lalu mengapa kamu menganggap itu menjadi sebuah masalah? Padahal kamu sendiri belum mencoba untuk berbicara dengan ayahmu."


Altezza seketika termenung, diam, menyadari kalau apa yang dikatakan oleh ibundanya adalah kebenaran. Ia belum mencoba untuk berbicara dengan Raja Aiden mengenai keputusannya, namun dirinya sudah menerka-nerka reaksi serta apa tanggapan Raja Aiden yang bertentangan dengan keputusannya.


"Kalau ... ibu bagaimana?" tanya Altezza sembari menatap serius ibundanya.


Caitlyn tersenyum dan menjawab, "ibu sendiri mendukung keputusan mu, selama itu baik."

__ADS_1


Ratu Caitlyn tampak sangat mendukung keputusan yang dibuat oleh Altezza yaitu untuk pergi berkelana ke manapun yang diinginkan. Namun belum diketahui apakah Raja Aiden juga akan mendukung keputusan yang dibuat oleh putra bungsunya, atau justru malah bertolak belakang.


"Baiklah, akan ku cari waktu untuk berbicara dengannya," ujar Altezza, kembali memandang ke arah langit malam dan kemudian lanjut berkata, "habisnya Sang Raja selalu sibuk, bahkan makan malam kita hari ini saja dia tidak ikut hadir," dengan intonasi yang terdengar sedikit sebal.


Caitlyn langsung dibuat tertawa kecil mendengar apa yang dikatakan oleh putranya, "mau bagaimana lagi, bukan?" ucapnya, tersenyum dan memandang ke arah langit yang sama dengan yang dilihat oleh Altezza.


"Ngomong-ngomong, apakah besok kamu bisa menbantu ibu ke pelabuhan? Ada beberapa hal yang harus ibu selesaikan di sana," lanjut Caitlyn, menoleh dan kembali menatap putranya.


Gerak-gerik Altezza tampak bingung untuk menjawab pertanyaan tersebut, dan tentunya reaksi tersebut dapat dilihat jelas oleh Caitlyn. Dengan rasa tidak enak hati tentunya, Altezza menjawab, "maaf, tetapi aku ada janji ajak seseorang untuk jalan-jalan."


"Seseorang? Jalan-jalan?" cetus Caitlyn, menatap curiga namun dengan senyuman tipisnya ketika melihat gerak-gerik Altezza yang cenderung menunduk menyembunyikan wajahnya.


"I-iya," jawab Altezza kemudian tertawa kecil dengan sendirinya.


Caitlyn diam-diam juga ikut tertawa kecil, dan tampak tersenyum melihat ekspresi tersipu dari putra bungsunya, "kamu pasti hanya akan berdua bersama orang yang kamu ajak, bukan? Kalau begitu besok aku akan ajak Kenan saja untuk membantu pemindahan bahan makanan dari pelabuhan," ucapnya.


"Bersenang-senanglah ...!" lanjut wanita itu secara tiba-tiba berbicara dengan mendekatkan bibirnya pada salah satu telinga milik Altezza, dan berbicara dengan intonasi berbisik padanya. Meskipun tidak diberitahu siapa orang akan diajak oleh putra bungsunya jalan, namun berdasarkan ekspresi Caitlyn saat ini yang tersenyum-senyum memandangi paras Altezza, sepertinya beliau telah menduga-duga siapa orang tersebut.

__ADS_1


__ADS_2