Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Kembang Api #46


__ADS_3

Selain soal menu hidangan yang sempat dicoba. Bianca juga terlihat bercerita mengenai pengalamannya bertemu dengan beberapa bangsawan selain Altezza dan keluarganya. Banyak bangsawan, dan sifat mereka bermacam-macam. Ada yang ramah ketika Clara dan dirinya menyapa mereka, namun ada juga yang bersikap acuh tak acuh.


"Bertemu dengan banyak bangsawan rupanya bukanlah pengalaman yang buruk, dan itu cukup merubah cara pandang ku memandang bagaimana 'bangsawan' itu," ucap Bianca, kemudian menoleh dan tersenyum kepada Altezza sebelum kemudian lanjut berbicara, "yang anda katakan kemarin itu ternyata benar, Yang Mulia. Bangsawan juga manusia yang tidak sempurna, mereka ada yang baik dan ramah, ada yang jahat dan suka memaksa, ada juga yang cuek ketika disapa."


Bianca kembali tersenyum, ekspresi riang gembira tidak pernah lepas dari wajahnya, memandang ke arah langit bertabur bintang di malam ini. "Saya masih takut dan trauma dengan masa lalu itu, namun ... setidaknya ... saya sudah bisa mengendalikannya," ucap perempuan itu.


"Dan saya sangat bersyukur sekaligus merasa beruntung, karena saya bisa mengenal sosok bangsawan yang baik seperti anda, Yang Mulia," lanjut Bianca sembari kembali menoleh, menatap paras Altezza dan berakhir dengan senyuman manisnya.


Diam, membisu dan tidak berkata-kata. Altezza seperti terkena hipnotis untuk tidak bisa berbicara atau berkomentar lebih, terlebih ketika melihat ekspresi bahagia Bianca yang sulit untuk pudar.


"Yang Mulia, apakah anda baik-baik saja?" senyuman Bianca sejenak pudar, menatap wajah Altezza dengan terlihat sedikit merah dengan tatapan kosong menatap dirinya.


Altezza langsung terpecah dari lamunannya, memalingkan wajahnya ke arah perkotaan sembari menjawab, "ti-tidak ada, tidak apa-apa, aku baik-baik saja, kok!"

__ADS_1


Bianca tiba-tiba tertawa kecil dengan senyumannya yang masih terpampang jelas, "maaf saya tertawa, Yang Mulia. Tetapi ekspresi anda baru saja terlihat lucu," ucapnya.


Di saat yang bersamaan, perbincangan mereka berdua disela oleh sebuah gemerlap api berwarna merah yang perlahan melesat ke langit malam dengan suara nyaringnya, "lihat! Kembang apinya sudah dimulai!" seru Bianca di saat itu dengan sangat antusias, sebelum akhirnya gemerlap api tersebut meledak di antara ribuan bintang, menciptakan pemandangan yang sungguh indah layaknya bunga raksasa berwarna merah bercahaya.


Setelah kembang api yang besar itu pecah di angkasa dengan menghadirkan gemerlap cahaya berwarna jingga kemerahan. Pertunjukan tidak berakhir di situ, dan langsung disusul oleh banyak sekali kembang api yang mulai melesat ke langit malam, dan ikut mempercantik indahnya langit malam ini dengan warna biru muda dan putih yang dominan. Ibu Kota Kerajaan Zephyra terlihat sangat indah sekali, pemandangan yang indah ini jarang terjadi, bisa melihat gemerlap lampu-lampu kota di bawah pemandangan pertunjukan kembang api dan ribuan bintang yang bertaburan di langit secara bersamaan. Sungguh pemandangan yang indah dan sangat berharga.


Namun perhatian pangeran kedua Zephyra justru teralihkan. Pemandangan indah itu dapat dinikmati dari menara istananya yang berada sedikit di atas bukit. Tetapi perhatiannya justru malah tertarik untuk bisa memandangi paras cantik Bianca yang terlihat indah, lebih indah dan berharga daripada pemandangan kota malam ini.


Altezza juga terlihat senang, memandang ke arah langit serta pemandangan yang sama, dan kemudian berbicara, "Bianca, ku harap ... kita ...."


"Ada apa, Yang Mulia?" sahut Bianca, belum selesai Altezza berbicara dirinya sudah menyela terlebih dahulu dengan tatapan penasarannya.


Masih dengan pandangan yang sama, memandang ke arah indahnya langit malam ini. Altezza melanjutkan kata-katanya yang belum selesai dengan berkata, "ku harap setelah pesta ini selesai, kita ... tetap ... bisa menjalin persahabatan dan berbincang-bincang di lain waktu."

__ADS_1


Bianca tertawa kecil mendengar hal tersebut, "tentu saja dan dengan senang hati, Yang Mulia." Perempuan itu kembali menatap langit yang sama dilihat oleh Altezza dan lalu lanjut berbicara, "hubungan ... persahabatan ... tentu adalah hubungan yang sangat berharga, dan saya tidak akan pernah melupakannya," berakhir dengan senyuman tipisnya.


Fokus Bianca kembali teralihkan kembali pada pertunjukan kembang api yang sudah mulai memasuki puncak. Beberapa kembang api pecah di angkasa dan menciptakan bentuk-bentuk yang menggemaskan seperti butiran salju dan boneka salju dengan warna biru muda indah bercahaya.


"Itu! Bukankah itu rusa?!" cetus Bianca menunjuk ke sebuah kembang api yang melesat dan pecah di angkasa, menciptakan motif lain yang terlihat indah.


"Yang di sana boneka salju!" lanjut Bianca, terlihat senang sekali ketika melihat pemandangan tersebut, seperti anak kecil.


Altezza hanya tersenyum dan tertawa kecil menyaksikan sikap riang Bianca. Tidak berkomentar lebih, membiarkan gadis cantik itu menikmati momen indah saat ini. Pesta musim gugur sangat jarang diselenggarakan di Kerajaan Zephyra, dan paling sering di kerajaan lain. Tentu momen berharga ini tidak ingin dilewatkan oleh setiap orang yang tinggal di Kerajaan Zephyra, salah satunya adalah Bianca yang terlihat sangat menikmati momen tersebut.


Seperti seolah tersadar, Bianca tiba-tiba sedikit meredam antusiasnya sembari berbicara, "maafkan saya jika saya terlalu antusias, Yang Mulia. Saya sangat antusias karena ini pesta musim gugur kedua saya, ditambah dengan momen serta pengalaman yang sangat berharga ini."


Altezza tertawa melihat sikap yang tiba-tiba saja kembali berubah formal dan kemudian berkata, "tidak apa, Bianca. Tidak perlu hiraukan formalitas, cukup nikmati momen serta suasana ...!" tersenyum kepada perempuan itu. Sedangkan Bianca hanya tertawa kecil dengan pandangan menunduk sejenak, sebelum kemudian kembali memandang ke arah langit malam serta perkotaan kerajaan yang sungguh indah.

__ADS_1


__ADS_2