
Pertengahan musim dingin yang cukup ekstrem. Badai salju tiba-tiba saja datang, menghujani seluruh penjuru Negeri Zephyra satu malam penuh, dan mengurung hampir seluruh orang di Negeri Zephyra kecuali para prajurit yang tetap berjaga. Badai tersebut cukup memberikan dampak yang sangat terasa bagi Kerajaan Zephyra, karena banyak sekali rumah warga yang rusak akibat badai, serta juga beberapa fasilitas umum. Pohon-pohon juga banyak yang tumbang akibat tidak kuat diterpa badai yang cukup hebat tadi malam.
Di pagi harinya, Raja Aiden langsung mengutus salah satu menterinya yaitu Weiz untuk mengurus semua kerusakan dan kerugian tersebut. Selain dari segi material dan fasilitas, kerugian dalam hal pangan juga dialami oleh kerajaan. Ratu Caitlyn yang mengurus segala keperluan pangan kerajaan, mengetahui persediaan tidak akan cukup sampai musim dingin berakhir. Ratu tersebut langsung mengirimkan surat kepada salah satu dari kerajaan sahabat untuk menyelesaikan kasus tersebut.
Tak hanya Raja dan Ratu saja yang sibuk, namun kedua pangeran mereka juga tampaknya cukup sibuk. Pangeran Welt meninggalkan sejenak aktivitas akademinya, dan meninjau beberapa kerusakan di wilayah Barat kerajaan. Hal yang sama juga dilakukan oleh Pangeran Altezza yang mendapatkan tugas untuk meninjau kerusakan di wilayah Timur kerajaan.
Salju sangat tebal menutupi jalanan, bahkan trotoar yang harusnya masih bisa terlihat, kini tenggelam terkubur di balik salju, menjadikan seluruh struktur jalanan sama-sama rata dengan salju. Altezza berjalan di wilayah Timur kerajaan, pinggiran kota yang ia kenal dan tahu.
Hampir semua orang keluar dari rumah-rumah serta bangunan mereka setelah badai salju menerpa semalam penuh. Rakyat kerajaan tampak sangat kompak bergotong royong membereskan salju-salju yang terlalu tebal menumpuk, menimbun beberapa fasilitas umum yang ada. Altezza bisa menyaksikan betapa semangat dan antusias rakyatnya ketika saling bekerjasama.
"Selamat pagi, Yang Mulia!" sapa beberapa rakyatnya ketika melihat sosok pangeran tersebut berjalan bersama pengawal setianya.
Altezza menyempatkan diri untuk mendatangi salah satu sekelompok warga yang tampak sedang membereskan salju tebal yang menutupi rambu-rambu jalanan dan bertanya, "bagaimana perkembangannya? Apakah ada masalah di beberapa hal?"
"Tidak ada, Yang Mulia."
"Semuanya berjalan baik, kami juga sudah membersihkan tumpukan salju yang ada di Selatan jalan."
__ADS_1
Sekelompok pria dan wanita itu tampak tersenyum, dan menjawab pertanyaan Altezza. Mereka terlihat sangat senang sekali ketika didatangi oleh Altezza, dan bertanya-tanya kepada mereka, terlihat dari sorot mata mereka yang cenderung berseri-seri ketika melihat sosok Altezza di hadapan mereka.
Setelah memastikan tidak ada masalah, Altezza kembali melanjutkan langkahnya menuju ke sebuah tempat yang menjadi pusat kerusakan. Tak jauh dari sana, terdapat sebuah sekolah anak-anak yang tampak hampir rubuh, hampir semua bagian dari bangunan tersebut telah runtuh, hanya menyisakan dinding dan bagian belakang sekolah saja.
Ketika sampai di lokasi, Altezza langsung bertemu dengan dua orang pria penting di sana, seorang pria dengan pakaian hangat dan jubah berwarna merah, dia adalah Weiz salah satu orang kepercayaan ayahnya. Weiz tampak sedang berdiri dan berbincang dengan seorang pria lain dengan pakaian sederhana berwarna cokelat muda di halaman sekolah tersebut.
"Selamat datang, Yang Mulia," sapa Weiz melihat kehadiran Altezza bersama Kenan di sana.
Altezza sempat melihat ke sekelilingnya, halaman yang seharusnya menjadi tempat yang sangat menyenangkan bagi anak-anak, sekarang menjadi porak-poranda dan tertimbun banyak sekali salju tebal.
"Apakah ada korban?" tanya Altezza terlihat mencemaskan hal tersebut.
"Kau sudah mencatat semuanya, Weiz?" tanya Altezza menatap kepada pria berambut cokelat alias Weiz yang tampak membawa sebuah lampiran catatan di salah satu tangannya.
Weiz memberikan lampiran catatannya, "sudah, Yang Mulia. Semua total kerugiannya sudah saya catat di sini," ucapnya ketika memberikan catatan tersebut kepada Altezza.
"Selain itu kami sepertinya juga membutuhkan tenaga lebih untuk membereskan tumpukan salju ini," lanjut Weiz kemudian melemparkan pandangannya melihat ke arah sekeliling, menyaksikan salju-salju tebal yang tampak menimbun taman bermain sekolahan tersebut.
__ADS_1
Tanpa berbicara, Altezza menyerahkan lampiran tersebut kepada Kenan yang berdiri di sampingnya, sebelum kemudian ia melangkah menuju ke tengah-tengah halaman. Angin perlahan berhembus datang, dan semakin kencang, membuat jubah berwarna putih miliknya melambai-lambai.
Weiz, Kenan, dan kepala sekolah itu hanya melihat dari kejauhan apa yang hendak dilakukan oleh pangeran kedua. Tak hanya mereka bertiga, semua penjaga yang berjaga di sekitar lokasi tersebut juga menyaksikan hal yang sangat mengesankan.
Angin berhembus dengan sangat kencang, mengelilingi tubuh milik Altezza, sebelum kemudian skala dari angin tersebut semakin membesar, di saat itu juga sebuah penghalang angin tampak muncul membatasi agar tidak ada orang yang bisa memasuki halaman. Hanya dalam waktu yang cukup singkat, salju-salju tebal yang menimbun taman bermain untuk anak-anak di halaman sekolah tersebut perlahan terangkat seiring kencangnya angin tersebut bertiup.
Gundukan-gundukan salju yang terlihat perlahan memudar, dan memperlihatkan adanya beberapa permainan anak-anak seperti perosotan, trampolin, ayunan, dan masih banyak lagi yang sebelumnya sempat terkubur di balik salju. Altezza perlahan meredakan angin dan menetralkan seluruh sihirnya, setelah memastikan halaman sekolah tersebut tidak lagi tertimbun salju yang sangat amat tebal.
"Tumpukan saljunya sudah ku bereskan, tinggal lanjutkan dan fokuskan saja untuk pembangunan ...!" ucap Altezza ketika berjalan kembali mendekati ketiga orang yang berdiri di depan halaman sekolah.
"Kira-kira berapa lama waktu yang dibutuhkan?" lanjut Altezza, menatap kepada Weiz.
"Satu setengah pekan bisa saja, Yang Mulia." Weiz menjawab pertanyaan itu.
Altezza tampak tidak puas dengan jawaban tersebut lalu mengatakan, "satu pekan sudah bisa digunakan untuk belajar, apakah bisa?" dengan intonasi datar.
"Bisa saja, Yang Mulia." Weiz langsung menjawab pertanyaan tersebut.
__ADS_1
"Bagus, siang ini semua keperluan untuk pembangunan akan segera datang," sahut Altezza, mengangguk dan tersenyum.
Altezza terlihat sangat ingin sekolah yang hancur akibat badai semalam itu segera mendapatkan pembangunan serta renovasi, dan pemulihan dengan cepat. Setelah selesai meninjau lokasi tersebut, dan melihat sendiri seberapa parah kerusakan yang dialami, pangeran muda itu kembali ke istana bersama dengan Kenan dan menyampaikan hal tersebut kepada Raja Aiden secara langsung.