Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Surat Telah Sampai #138


__ADS_3

Kantor pos di Ibu Kota Neverley rupanya cukup dekat dengan benteng pemerintahan dari Kerajaan Neverley, tepat di tengah-tengah padatnya ibu kota. Altezza dan ketiga temannya memutuskan untuk mengunjungi kantor pos itu terlebih dahulu sebelum mereka lanjut berkeliling. Tak ingin berlama-lama di luar, mereka berempat segera memasuki bangunan bertingkat yang berukuran cukup besar, dan didominasi dengan cat berwarna putih itu. Baik dari desain luar dan segala macam dekorasi di dalamnya, bangunan yang dijadikan pusat pos di ibu kota itu memiliki kesan yang mengusung nuansa klasik nan elegan. Besar dan mewah, namun elegan dan klasik, kira-kira begitulah simpelnya.


"Selamat sore, selamat datang ...!" sambut salah satu dari beberapa penjaga pria yang berdiri di dekat pintu masuk. Mereka berseragam seperti seorang kesatria, dan tampak dilengkapi dengan pedang yang selalu bergelantung di ikat pinggang.


"Ramai sekali," gumam Alaia, mengomentari suasana kantor pos sore ini. Situasinya cukup ramai, banyak sekali orang yang hendak mengirim atau menerima surat. Tak hanya surat, kantor pos tersebut tampaknya juga menyediakan jasa pengiriman barang baik berskala lokal sampai antar benua.


Aaron berjalan lebih dahulu, memimpin teman-temannya menuju ke salah satu bagian dari kantor pos itu, bagian khusus untuk menerima atau mengirimkan surat. Sesampainya di salah satu meja resepsionis, mereka berempat langsung meminta konfirmasi mengenai surat atas nama mereka kepada seorang wanita berambut pirang berseragam merah yang berjaga di balik meja tersebut.


Wanita itu kemudian berkoordinasi dengan salah satu temannya, sebelum akhirnya mereka pergi ke dalam gudang untuk memeriksa apakah ada surat yang ditujukan kepada keempat pengembara tersebut.


Beberapa menit telah berlalu, Altezza masih menunggu dengan berharap dan penuh penasaran, sedangkan satu per satu temannya sudah mendapatkan surat mereka masing-masing. Di antara keramaian kantor pos, ketiga temannya tampak asyik membaca surat yang ditujukan kepada mereka. Eugene tampak tersenyum senang, begitupula Aaron ketika membaca secarik surat yang ada di tangan mereka.


"Apakah tidak ada surat untukmu, Altezza?" tanya Alaia, tampak sangat memperhatikan laki-laki berambut hitam itu yang sedang menunggu.


"Entahlah, aku tidak tahu," jawab Altezza, tak lagi berharap ada surat untuknya.


"Permisi, apakah benar tidak ada surat dari Zephyra yang ditujukan untuk nama Altezza?" tanya Aaron kepada salah satu penjaga kantor pos.


"Kami sudah mencarinya, namun tidak ditemukan adanya surat dari Zephyra yang datang baik kemarin atau hari ini. Kami mohon maaf," ucap wanita berambut pirang itu kepada Aaron sekaligus Altezza.


Karena tak ada surat untuk dirinya, Altezza memutuskan untuk membuat suratnya sendiri, yang kemudian ia serahkan kepada pihak pengiriman untuk dikirimkan ke negerinya.

__ADS_1


...


Bersama Alaia, Altezza tampak berjalan keluar dari kantor pos tanpa mendapatkan surat dari rumah. Gadis bermata kelabu itu tampak merasa sedih terhadap Altezza--yang padahal laki-laki berambut hitam itu tampak biasa-biasa saja.


"Sayang sekali tidak ada surat untukmu, ya. Aku turut sedih, mungkin saja suratnya tertukar, atau ada kesalahan dalam pengiriman." ujar Alaia, kemudian tersenyum kepada Altezza yang berdiri di sebelahnya, tampak berusaha menghibur laki-laki itu.


Altezza tertawa kecil, menoleh dan tersenyum kepada gadis berambut kelabu itu sembari berkata, "tidak apa, Alaia. Mengapa jadi dirimu yang bersedih?"


"Aku turut bersedih, karena aku selalu menganggap sebagai pengembara menerima surat dari kampung halaman itu adalah salah satu hal yang berharga," sahut Alaia berbicara dengan pandangan yang cenderung tertunduk.


Laki-laki berjubah hitam itu berjalan sedikit menepi dari pintu utama gedung, juga agar tak menghalangi orang-orang yang tidak habis berlalu-lalang di sana. Ia berdiri sedikit di pinggir jalan, bersama dengan Alaia yang tampak tak jauh-jauh dari dirinya.


"Kamu mau ke mana?" tanya Alaia, penasaran.


Situasinya tiba-tiba saja menjadi canggung, di antara mereka berdua sama-sama diam. Alaia yang di sepanjang perjalanan terus berceloteh banyak hal, tiba-tiba saja kehabisan topik pembicaraannya. Sedangkan Altezza--ia memang orang yang jarang membuka pembicaraan jika dirasa tak perlu atau tak mau.


"Awas!" cetus Alaia, menujuk ke arah langit, melihat seekor merpati putih yang tampak terbang dengan cepat mengarah Altezza--seolah akan menabrak laki-laki itu.


Hal itu tentu langsung merubah situasi canggung yang sempat tercipta, keduanya sama-sama terkejut, sampai pada akhirnya seekor merpati putih itu terbang dan mendarat di atas pundak kiri milik Altezza dengan sebuah gulungan kertas yang terikat di salah satu kakinya. Alaia menatap kagum merpati itu dan langsung berkata, "sepertinya dia membawakan sesuatu untukmu!"


Sigap, Altezza melepas ikatan dan mengambil gulungan kertas yang ada pada salah satu kaki merpati. Ketika gulungan kertas itu sudah terlepas, si merpati langsung kembali mengepakkan sayapnya dan terbang setinggi-tingginya.

__ADS_1


"Apakah itu surat? Kamu dikirimi surat oleh merpati, itu sangat keren!" ujar Alaia, menatap dengan pupil mata membesar, berbinar-binar sekaligus penasaran dengan isi dari gulungan kertas yang kini ada pada genggaman tangan Altezza.


Gulungan itu perlahan dibuka oleh Altezza, sebelum kemudian ia membaca beberapa kalimat yang tertulis dengan tinta di atas kertas tersebut. Pertama-tama, ekspresi Altezza tampak sangat senang dengan senyuman lebar yang terpampang jelas. Benar apa yang dikatakan oleh Alaia, gulungan kertas itu adalah surat.


"Altezza, lihat! Bukankah itu logo kerajaan?!" seru Alaia, memandang bagian belakang kertas dan menemukan cap logo berbentuk elang berwarna emas di salah satu ujung kertas.


"Surat resmi?" gumam Altezza ketika membalikkan kertas yang ia baca dan melihat logo kerajaannya, tanpa sedikitpun terdengar suara.


"Apa isinya?" tanya Alaia kembali. Gadis berambut kelabu itu tampaknya memiliki rasa ingin tahu yang cukup tinggi, sekaligus antusias dengan surat yang sedang dibaca oleh Altezza.


Kerutan terlihat pada kening Altezza, dan senyuman yang awalnya tampak berbahagia perlahan luntur. Laki-laki berambut hitam itu lebih menunjukkan reaksi syok sekaligus bingung, terlihat dari kedua iris mata hitamnya. Akan tetapi ekspresi itu tidak terlalu terlihat dari parasnya, sehingga gadis berambut kelabu yang sedang ada di hadapannya tidak menyadarinya.


"Kegelapan?! Perbatasan Selatan Zephyra telah jatuh ...?! Benua Tengah dalam keadaan darurat, dan deklarasi perang telah digaungkan? Apa maksudnya!?" batin Altezza, hanyut dalam pertanyaan-pertanyaan yang spontan muncul ketika ia membaca beberapa kalimat terakhir pada suratnya.


"Ada apa? Kamu terlihat tak begitu bersemangat dengan surat itu, apakah surat itu bukan ditujukan untukmu? Merpatinya salah kirim?" tanya Alaia, menatap penuh tanya sosok Altezza di hadapannya dengan kepala yang sedikit miring.


Altezza tersenyum kecil, menggelengkan kepalanya dan berkata, "tidak ada apa-apa. Merpati itu benar, surat ini memang ditujukan untukku. Hanya saja ... sepertinya sedang ada masalah di rumah."


Laki-laki berambut hitam itu kemudian bernajak kembali masuk ke dalam kantor pos meninggalkan Alaia sejenak di sana, dengan niatan hendak mengirimkan satu surat lagi untuk negerinya. Gadis berambut kelabu itu hanya diam, dengan ekspresi bingung terhadap sikap Altezza. Ketika laki-laki itu berjalan dengan langkah sedikit cepat melalui pintu utama, dirinya sempat berpapasan dengan Eugene dan Aaron.


"Altezza, apakah ada yang tertinggal?" tanya Aaron ketika melihat Altezza berjalan kembali masuk ke dalam kantor pos di antara keramaian pengunjung.

__ADS_1


"Iya, kurang lebih seperti itu. Alaia menunggu kalian di depan," jawab singkat Altezza, sempat melemparkan senyuman kecil kepada mereka berdua, sebelum kemudian ia melanjutkan langkahnya.


Aaron dan Eugene dibuat diam sejenak, sempat saling menatap dengan tatapan bingung, sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk segera keluar dari bangunan tersebut dan menemui Alaia yang sudah berdiri di sana menunggu mereka.


__ADS_2