
Seorang laki-laki tampan berambut hitam, dan dengan pakaian formal pangeran berwarna putih. Ia adalah Welt, dan saat ini ia berdiri tepat di tengah halaman istananya, dan di dekatnya terdapat dua pangeran dari kerajaan sahabat yang datang dengan membawa bala bantuan berupa pasukan berjumlah lebih dari puluhan ribu prajurit. Ketiga laki-laki tampan itu tampak sedang berbincang banyak hal, dan tentu semuanya adalah perbincangan serius, terlihat dari ekspresi mereka yang cenderung tajam dan dingin ketika perbincangan berlangsung.
Akan tetapi perbincangan ketiga pangeran dari tiga kerajaan berbeda itu terhenti ketika suara dentuman terdengar, dan bersumber dari langit. Mereka bertiga pun memandang ke langit Zephyra yang ada di sebelah Selatan, dan dapat menyaksikan fenomena alam yang tampak aneh terjadi di sana. Gumpalan asap atau awan berwarna hitam dengan petir menyambar berwarna ungu terlihat, di antara gelapnya gumpalan tersebut juga terlihat cahaya hijau dan merah membara layaknya sebuah api.
"Apa yang terjadi di sana ...?" gumam Xavier, memandang kagum sekaligus terkejut kejadian aneh di langit tersebut.
Tampaknya tak hanya mereka bertiga saja yang menyaksikan fenomena alam tersebut, melainkan semua prajurit dan masyarakat yang ada di ibu kota juga menyaksikan hal yang sama. Semua aktivitas di ibu kota tersebut berhenti sejenak, semua orang memandang kagum bercampur dengan kebingungan dan ketakutan ke arah langit yang sama.
"Bagaimana menurutmu, Welt?" tanya Pangeran Azura, berdiri tepat di sebelah Pangeran Welt yang masih memandang bingung fenomena alam tersebut. Lantaran langit tampak semakin gelap sejak gumpalan awan-awan hitam itu muncul, dan memperlihatkan beberapa cahaya aneh di dalamnya.
TAP ... TAP ... TAP ...!!
"Aku yakin itu pertanda dari alam untuk kita bersiap karena pasukan musuh pasti sudah mulai bergerak," terdengar suara lembut seorang wanita dan langkah kaki, berjalan dari pintu masuk istana yang terbuka lebar, hingga berhenti tepat di belakang Welt. Wanita cantik tersebut adalah Ratu Caitlyn, dan ia juga sudah menyaksikan fenomena alam yang juga disaksikan oleh semua orang di kerajaannya, bahkan pemandangan aneh di langit itu masih dapat terlihat meski sudah beberapa menit berlalu.
"Salam, Yang Mulia Ratu." Sapa kedua pangeran tampan dari kerajaan tetangga, menundukkan kepala dan memberi hormat kepada Ratu Caitlyn yang hadir di sana meski tanpa mahkota.
"Welt, perang di depan mata, kegelapan semakin mendekati ibu kota, raja jatuh sakit, dan rakyat kita dalam bahaya. Menurut aturan yang ada, kedudukan tertinggi kini ada di tanganku, akan tetapi aku tak bisa melakukannya sendiri." Ratu Caitlyn berbicara dengan intonasi yang terdengar getir dan tatapan mata tampak gemetar memandang serius kepada putra sulungnya, "aku butuh bantuanmu," lanjutnya dengan tulus dan intonasi lembut.
Masih belum mengetahui apa yang akan dihadapi, seperti apa sosok dari pasukan musuh, dan berapa jumlah mereka. Namun Welt telah mengambil keputusan, ia menatap dalam-dalam sang ibundanya yang tampak kebingungan dan berkata, "amankan benteng istana ...!"
__ADS_1
"Azura, Xavier, posisikan pasukan kalian 300 meter di depan gerbang Selatan benteng ibu kota ...! Rencana selebihnya akan menyusul ketika kita sudah berada di atas benteng ibu kota. Untuk sementara kita tidak bisa mengharapkan bantuan dari kerajaan di luar benua, sampai mereka benar-benar datang," lanjut Pangeran Welt, langsung mengambil keputusan serta melayangkan beberapa arahan untuk kedua sahabatnya serta ibundanya.
Laki-laki berambut pirang bernama Xavier, dan temannya berambut hitam bernama Azura. Mereka mengangguk paham, sebelum kemudian mengambil langkah cepat untuk pergi dari halaman istana tersebut.
Kini hanya ada Pangeran Welt dan Ratu Caitlyn atau ibundanya. Laki-laki berambut hitam itu memandang dalam-dalam kedua iris mata sang ibu dan berkata, "jangan tinggalkan benteng istana apapun yang terjadi ...!"
...
Berdiri di atas gerbang besar pintu masuk benteng ibu kota sebelah Selatan. Welt memandangi tanah luas rerumputan di hadapannya yang dipenuhi oleh prajurit-prajurit berzirah dan bersenjata lengkap. Di sana ia tak sendirian, Pangeran Azura dan Pangeran Xavier bersamanya, ikut memantau posisi serta formasi dari pasukan yang terdiri lebih dari lebih dari puluhan ribu orang.
"Total pasukan kita berada di angka sekitar 40.000 prajurit, itu sudah termasuk regu penyihir serta pemanah," ujar Pangeran Azura, berdiri di sebelah kanan Pangeran Welt.
"Ini sangat berisiko, Welt. Bagaimana caramu mengendalikan massa yang sangat amat banyak ini?" tanya Xavier, menoleh ke belakang, dan melihat banyaknya rombongan masyarakat yang digiring serta dijaga ketat oleh banyak prajurit Kerajaan Zephyra untuk sedikit lebih dekat dengan Benteng Istana.
"Di situasi seperti ini semuanya pasti berisiko, Xavier. Apapun caranya, akan ku lakukan selama itu demi keamanan rakyat ku." Pangeran Welt menjawab pertanyaan tersebut, dengan sangat tenang, dan sikap yang dingin.
Pangeran Welt menujuk ke beberapa posisi di sisi samping setiap barisan prajurit yang sudah berbaris di atas tanah lapang itu sembari berkata, "posisikan kavaleri di setiap sisi, letakkan beberapa regu penyihir di bukit Barat dan Timur, dan beberapa regu pemanah di posisi tertinggi."
Banyak meriam, balista, pelontar batu, dan beberapa alutsista lagi yang tampak dikerahkan, semuanya diposisikan di masing-masing barisan prajurit. Barisan paling depan tampak dipenuhi oleh prajurit bertameng tebal, disusul oleh prajurit bertombak di barisan kedua, dan beberapa barisan pemanah di barisan ketiga. Selain itu, banyak prajurit berpedang yang tampak dikerahkan dengan jumlah yang tak sedikit, mereka mengisi di sekitar barisan pemanah tersebut, dan masih diperkuat oleh banyak prajurit berkuda di setiap sisi formasi. Beberapa bukit yang ada di luar benteng kerajaan juga tampak diduduki oleh banyak penyihir serta pemanah yang akan mempertahankan posisi tanah yang lebih tinggi.
__ADS_1
Pasukan Aliansi yang berjumlah puluhan ribu orang itu memenuhi padang rumput tersebut layaknya semut. Pangeran Welt dengan tenang memandangi formasi pasukan gabungan tersebut. Kekuatan pasukan yang tak bisa dipandang sebelah mata, ditambah dengan jumlahnya yang sangat banyak.
Angin berhembus semakin kencang dan perlahan berubah arah, yang sebelumnya bertiup dari Utara ke Selatan, sekarang arah angin tersebut berubah berbalik. Langit di sebelah Selatan terlihat sangat gelap, pekat, dan diwarnai dengan beberapa kali kilatan petir bercahaya berwarna biru. Benar-benar suasana alam yang sangat tak ramah terjadi di sebelah Selatan.
"Bagaimana kabar Altezza? Apakah kau tidak menerima informasi apapun tentangnya?" tanya Azura, sedikit menoleh dan melirik sosok Welt di sebelahnya.
Pangeran Welt terdiam sejenak mendengar pertanyaan tersebut. Ia mengangkat sedikit pandangannya ke arah langit, memandangi langit di atasnya yang dipenuhi dengan awan-awan gelap dan menjawab, "aku tidak tahu, tetapi aku selalu yakin kalau dia akan baik-baik saja, dan akan tiba pada waktu yang tepat."
"Fenomena alam di atas sana ... masih terlihat," ujar Xavier, memandang ke arah langit, memandangi gumpalan hitam dengan kilatan-kilatan petir berwarna ungu yang masih terlihat di atas sana.
"Selain ungu, aku melihat warna hijau di balik tabir gelap itu," timpal Azura, memandang ke arah yang sama, dan dapat melihat adanya beberapa kali kilatan cahaya berwarna hijau muda yang muncul dari balik gumpalan asap hitam di atas sana.
Pandangan sang pangeran Zephyra itu kembali ke depan, menyaksikan pemandangan gelap nan mengerikan di langit sebelah Selatan sembari bergumam dengan penuh harapan, "cepatlah kembali, Altezza."
***
Derap kuda putih terdengar, berlari di tengah padang rumput dengan sangat cepat menuju ke arah Timur. Seorang laki-laki dengan zirah perak dan sebuah pedang yang bergelantung di pinggangnya. Kesatria berkuda berambut hitam itu adalah Kenan, dan ia mendapatkan tugas khusus dari Baginda Ratu untuk berkuda meninggalkan negerinya. Tugas khusus tersebut termasuk tugas darurat, dengan tujuan untuk mencari dan membawa pulang Pangeran Altezza.
"Yang Mulia, anda ada di mana ...? Segeralah kembali, Zephyra membutuhkan anda," gumam Kenan, memandang terus ke depan, menggenggam erat tali untuk mengendalikan laju kudanya dengan kedua tangannya.
__ADS_1