Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Belum Menerima Kabar? #123


__ADS_3

Ibu Kota Zephyra, pagi menjelang siang hari. Jalanan utama ibu kota tampak sangat ramai sekali dengan rombongan prajurit gagah yang berjalan beriring-iringan, dan disaksikan oleh masyarakat kerajaan yang berdiri di trotoar jalan. Setiap mata tertuju pada rombongan prajurit gagah itu, menatap bangga dan bersorak-sorai, apalagi ketika sosok pangeran pertama yaitu Welt melintas di barisan kedua dengan menunggangi kuda putihnya. Laki-laki tampan berambut hitam berseragam putih lengkap beserta jubah itu sempat melirik ke setiap wajah ceria rakyatnya. Wajah-wajah yang dipenuhi dengan harapan itu, berhasil membuat Welt tersenyum kecil ketika memandanginya.


Jumlah dari rombongan prajurit berzirah perak itu sangatlah banyak, lebih dari ribuan, dan mereka bergerak keluar dari benteng ibu kota. Bagi warga atau rakyat Zephyra, pemandangan menyaksikan prajurit-prajurit gagah itu melintas membawa kesan kebanggaan tersendiri. Baik anak-anak sampai orang dewasa, mereka semua tersenyum dan menatap kagum setiap prajurit yang berjalan melalui jalanan utama ibu kota.


"Hati-hati, Yang Mulia!"


"Tumpas para iblis itu!!"


Terdengar beberapa kali seruan dari orang-orang kepada Welt dan pasukannya. Namun laki-laki itu hanya diam, dan memandang ke depan, memimpin pasukannya keluar dari gerbang benteng ibu kota. Ia tidak melambaikan tangannya atau menanggapi rakyatnya yang bersorak-sorai kepada dirinya.


Berita soal apa yang terjadi di Selatan sudah bukan lagi rahasia para petinggi. Semua orang sudah mengetahuinya, serta menaruh harapan agar hal tersebut tidak menjadi semakin besar dan semakin buruk.


Bianca menyaksikan prajurit-prajurit itu melintas, berdiri di antara kerumunan orang yang berada di trotoar. Berbeda dengan orang lain yang berseru serta bangga terhadap para prajurit yang melintas. Gadis berambut cokelat kemerahan itu justru merasa cemas, dan gelisah. Tidak ingin berlama-lama berada di antara kerumunan tersebut, Bianca memutuskan untuk segera beranjak pergi dari sana dan berniat untuk menemui seseorang.


"Perang akan terjadi ...?! Yang benar saja ...!?" gumam Bianca sembari terus berjalan dengan langkah cepatnya, menuju ke benteng istana kerajaan yang berada di tengah-tengah ibu kota.


Ketika hendak memasuki gerbang istana, langkah Bianca sempat tercegat oleh dua prajurit istana yang berjaga, "berhenti! Orang yang tidak berkepentingan tidak boleh masuk!" tegas salah satu dari kedua prajurit tersebut.


"Saya Bianca, dan saya ingin bertemu dengan Yang Mulia Ratu Terhormat," ujar Bianca, sedikit menundukkan kepalanya kepada dua prajurit penjaga itu.

__ADS_1


Memandangi sosok perempuan berseragam petugas perpustakaan itu dari ujung kepala hingga ujung kaki, sebelum kemudian prajurit kedua berkata, "maaf, tetapi kami tidak mendapatkan perintah untuk memberikan lewat siapapun tamu hari ini."


"Dan sekarang aku memberikan perintah kepada kalian untuk membiarkan Bianca lewat ...!" suara lembut wanita terdengar dari belakang kedua prajurit itu.


Ratu Caitlyn menghampiri kedua penjaga istananya yang menghalangi langkah Bianca untuk masuk. Kedua prajurit tersebut sempat terkejut, sebelum akhirnya mereka memperbolehkan Bianca untuk melintas. Bianca menundukkan kepala dan pandangannya kepada Ratu Caitlyn dan berkata, "terima kasih, Yang Mulia."


Berjalan melalui halaman depan istana, menuju ke taman samping istana. Ratu Caitlyn tampak senang sekali dengan kedatangan Bianca di istana siang ini. Wanita cantik bergaun kerajaan yang didominasi oleh warna putih dan corak emas itu tampak berbicara beberapa hal kepada Bianca mengenai kabar serta bagaimana pekerjaan gadis cantik itu.


"Mengapa kamu datang, Bianca? Apakah ada sesuatu atau masalah dalam pekerjaan mu yang ingin kamu sampaikan padaku?" tanya Caitlyn ketika berjalan bersama gadis cantik di antara taman bunga yang begitu indah warna-warni.


Bianca menggelengkan kepalanya dan menjawab, "tidak ada, Yang Mulia."


Ratu Caitlyn mengajak gadis itu untuk duduk di gazebo kesukaannya--tempat yang hampir selalu ia gunakan ketika sedang berbincang dengan putra bungsunya yakni Altezza. Suasana taman yang sangat menenangkan karena sepi, hanya beberapa pelayan istana saja yang tampak membereskan beberapa tanaman yang sudah waktunya dipotong.


"Apa yang membuatmu gelisah, Bianca?" tanya Ratu Caitlyn, menatap lembut gadis berambut cokelat kemerahan yang duduk bersebrangan dengan dirinya.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Yang Mulia? Apakah perang akan benar-benar terjadi?" tanya Bianca, menatap langsung kedua mata indah berwarna hitam milik sang ratu.


Caitlyn tidak terkejut dengan pertanyaan tersebut. Pandangannya perlahan tertunduk, memandangi kedua tangannya yang saling menggenggam di atas meja, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan tersebut. Wanita cantik berambut hitam itu tersenyum kecil dan berkata, "kita tidak bisa menghindari fakta tentang perang yang sudah berada di depan mata."

__ADS_1


"Mungkin kamu belum mengetahuinya, apa yang sebenarnya terjadi di Selatan sana, Bianca," lanjut Caitlyn.


Pandangan Bianca tertunduk. Benaknya menyimpan rasa penasaran. Ratu Caitlyn pun memutuskan untuk memberitahu serta sedikit menjelaskan secara singkat mengapa kerajaan mengambil keputusan untuk perang.


"Pasukan Iblis muncul dari Selatan, berasal dari Benua Selatan, dan mereka telah merebut perbatasan Selatan milik kita, yang artinya pasukan mereka telah berada di Tanah Zephyra. Tentu itu menjadi sebuah ancaman, tidak hanya Kerajaan Zephyra saja, melainkan ancaman bagi seluruh kerajaan. Terlebih kita semua sudah mengetahui sejarah satu abad yang lalu, sebuah perang besar yang disebabkan oleh para iblis," ujar Ratu Caitlyn berbicara kepada Bianca.


Bianca tampak diam dengan ekspresi syok terpaku ketika mendengar hal tersebut langsung dari mulut sang ratu--yang sudah pasti apa yang dikatakan bukanlah kebohongan. Gadis berambut cokelat kemerahan itu kembali menatap ratu cantik di hadapannya dan spontan bertanya, "bagaimana dengan Yang Mulia Altezza? Beliau belum kembali?"


Ratu Caitlyn tampak sedikit terkejut dengan pertanyaan tersebut, "bukankah seharusnya kamu sering menerima surat darinya? Aku mengira Altezza akan lebih sering menyurati dirimu."


Bianca menggelengkan kepalanya, "saya belum menerima surat apapun darinya dalam beberapa hari terakhir."


"Sama sepertimu, aku juga belum menerima surat apapun darinya," ujar Ratu Caitlyn dengan pandangan sedikit tertunduk.


Situasinya lengang sejenak, dan kecemasan tampak terlihat jelas pada raut wajah cantik milik Bianca. Menanggapi kecemasan tersebut, Ratu Caitlyn menatapnya dengan tersenyum lembut dan berkata, "jangan khawatir, dia pasti akan baik-baik saja," sembari meraih salah satu tangan milik Bianca yang ada di atas meja.


"Apakah kamu mau mengirimkan surat untuknya? Aku bisa membantu, kebetulan aku berencana demikian," lanjut Ratu Caitlyn sembari tersenyum.


"Sungguh? Terima kasih, Yang Mulia," sahut Bianca, turut tersenyum dan menundukkan pandangannya saat mengucapkan terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2