
Badai masih berlangsung, menerpa seluruh Wilayah Mutiara. Terlihat pasukan berjumlah lebih dari ratusan orang tampak sudah sangat siap, mereka berbaris dan berkumpul di balik pagar kayu-kayu yang runcing dan tajam dibangun di sepanjang perbukitan sebagai perbatasan. Seragam zirah besi mereka tampak basah kuyup diguyur oleh lebatnya hujan yang tak menurunkan intensitasnya sedikitpun. Jubah serta pakaian berwarna putih dan biru milik para penyihir kerajaan juga tampak basah.
Situasinya benar-benar tenang, hanya terdengar suara derasnya hujan, dan suara menggelegar petir yang tak berhenti menyambar. Raja Aiden masih berdiri di perbatasan, di depan para prajuritnya yang tak hanya terdiri dari prajurit kerajaannya saja, namun juga ada sebagian dari Kerajaan Victoria dan Lagarde. Akan tetapi jumlah total prajurit yang saat ini berada di Wilayah Mutiara belumlah semuanya.
Napas yang cenderung berat, Raja Aiden tampak cukup gemetar menyaksikan pasukan kegelapan yang sudah terlihat di kejauhan. Mereka tampak seperti koloni semut karena saking banyaknya, dan di antara koloni tersebut terdapat makhluk-makhluk aneh yang berukuran besar.
"Kenan, perintahkan para penyihir untuk mulai merapalkan mantra ...!" pinta Raja Aiden kepada seorang kesatria yang saat ini berdiri di sebelahnya.
Kenan menganggukkan kepalanya dan segera beranjak pergi ke barisan paling belakang pasukan. Setelah itu sang raja berbalik badan, memandangi pada prajuritnya dan mulai menyerukan beberapa kalimat.
"Saudara-saudaraku, apa yang akan terjadi di sini akan menentukan dan berpengaruh terhadap kehidupan esok hari. Kita akan berjuang bersama, menjadikan badai serta tanah ini menjadi saksi atas keringat serta darah yang akan jatuh. Melindungi apa yang mesti kita lindungi, dan memperjuangkan apa yang mesti kita perjuangkan."
Beberapa kalimat telah disampaikan, diserukan di hadapan pasukannya. Semangat dan ambisi perlahan terbangun, terlihat dari wajah-wajah setiap prajuritnya di tengah ketakutan. Suara petir semakin menggelegar, dan langit tampak semakin gelap. Tetesan air hujan yang sangat lebat itu perlahan berubah menjadi butiran es dan salju, dan hal tersebut tentu membuat terkejut sekaligus kebingungan prajurit-prajurit di sana.
Raja Aiden perlahan kembali berbalik badan, memandang ke arah Selatan. Kedua iris mata hitamnya dapat melihat pasukan kegelapan semakin mendekat, bukit-bukit di sekitarnya perlahan membeku, dan suhu di wilayah tersebut semakin dingin. Perubahan iklim yang sangat tiba-tiba, dan cukup ekstrem.
__ADS_1
Pria berjubah putih itu menoleh, memandang ke arah sosok Kenan yang berdiri di dekat menara pengawas, dan memberikan kode berupa anggukan kepala. Melihat kode tersebut, Kenan langsung mengkoordinasi para penyihir yang berada di barisan paling belakang untuk mulai menggunakan sihir.
Para ahli sihir yang berjumlah lebih dari 100 orang itu merapalkan mantra secara bersamaan, dan menciptakannya sebuah penghalang transparan berukuran sangat besar tinggi menjulang di sepanjang perbatasan. Setelah penghalang tersebut tercipta, para ahli sihir dari tiga kerajaan itu langsung merapalkan mantra selanjutnya untuk menciptakan perlindungan udara. Beberapa lingkaran sihir berwarna kuning keemasan tercipta di langit.
"Apakah anda memiliki rencana atau strategi khusus?" tanya Kenan ketika sudah kembali berdiri di sebelah sang raja.
Raja Aiden menggelengkan kepalanya dan kemudian berkata, "dengan kekuatan seadanya, kita hanya bergantung pada kekuatan penyihir kita di lini belakang."
"Pindahkan para pemanah ke barisan belakang untuk melindungi para ahli sihir, dan pasukan berkuda di sayap kanan dan kiri ...!" pinta Raja Aiden kepada kesatrianya, kemudian melangkah perlahan pergi dari belakang pagar perbatasan tersebut, mengambil posisi di antara para prajuritnya.
...
Di bawah sosok laki-laki berambut hitam bermata merah itu adalah pasukan kegelapan yang saat ini ia pimpin. Mereka tampak seperti koloni semut berskala besar, sangat banyak. Di antara pasukan tersebut adalah makhluk-makhluk berukuran besar dan berbentuk aneh mengerikan.
"Di depan adalah Wilayah Mutiara, dan di sana telah siap pasukan berjumlah sekitar 900 orang lebih. Di antara pasukan tersebut terdapat sosok raja dari salah satu kerajaan, dan para penyihir kerajaan di barisan paling belakang." Baltazhar berbicara dengan intonasinya yang datar dan rendah, masih dengan wujud yang terselimuti oleh jubah berwarna hitam menutupi seluruh tubuhnya.
__ADS_1
Astaroth menyeringai senang dengan sikap angkuh. Informasi yang ia terima sangatlah berharga. Akan tetapi dirinya tak menyangka akan menghadapi pasukan yang memiliki jumlah lebih kecil daripada pasukannya.
"Kita akan selesaikan Wilayah Mutiara siang ini juga," ujar Astaroth, masih tersenyum sinis dengan tatapan tajamnya. Petir kembali menggelegar memekakkan telinga sesaat setelah ia berbicara, dan sambaran petir tersebut terarah kepada sosok Astaroth. Akan tetapi sebuah pelindung transparan lagi-lagi melindungi tubuh Astaroth dengan mudahnya.
Hanya memerlukan beberapa ratus meter saja, Astaroth bisa melihat pagar-pagar kayu tajam yang dibangun di sepanjang bukit-bukit. Perbatasan tersebut juga terlihat dibatasi oleh sebuah sihir penghalang transparan.
Salah satu tangan kanannya terulur ke depan, terarah ke arah perbatasan dan penghalang sihir tersebut. Kedua iris mata berwarna merahnya tampak menyala, menyorot seiring dengan sebuah lingkaran sihir berwarna jingga kemerahan muncul dari telapak tangan kanannya.
"Sudah lama aku ingin menggunakan sihir ini," gumam Astaroth ketika lingkaran sihir di telapak tangannya tercipta, dan kemudian menyeringai setelah lingkaran sihir tersebut tercipta secara sempurna.
Tak ingin menunggu lagi. Laki-laki berambut hitam itu, Astaroth, tanpa merapalkan mantra sedikitpun dari mulutnya, sebuah bola api berwarna merah merona perlahan terwujud dari telapak tangannya yang terarah ke depan. Bola api tersebut berukuran sangat besar, lebih besar daripada bukit-bukit yang ada di wilayah itu. Setelah bola api berwarna merah merona itu tercipta, ia segera melepaskannya, melesatkan bola api berukuran besar itu ke arah perbatasan Wilayah Mutiara.
Di saat yang bersamaan, pasukan kegelapan yang ada di bawahnya berlari secara beriringan dengan mengangkat dan menghunuskan senjata-senjata yang mereka bawa. Prajurit-prajurit manusia, iblis, dan monster-monster tak lazim. Mereka mulai maju secara serempak, menyerang setelah serangan pembuka dari Astaroth diluncurkan.
BOOMM ...!!!
__ADS_1
Dentuman keras terjadi hingga membuat bukit-bukit di sekitar beterbangan seperti kapas alias hancur, bola api yang dibuat oleh Astaroth menabrak penghalang sihir yang membatasi perbatasan dengan cukup dahsyat. Memang, bola api itu tidak dapat menembus penghalang sihir yang ada, akan tetapi berhasil membuat penghalang tersebut melemah. Pasukan darat dan udaranya langsung menyerang, mengandalkan kemampuan mereka yang bermacam-macam, menghancurkan penghalang tersebut sebelum akhirnya bentrok antar dua belah pihak pasukan pun terjadi.
"Baltazhar, katakan kepada Asmodeus bahwa pertempuran sudah dimulai untuk pertama kalinya," ujar Astaroth dengan sangat tenang dan sikapnya yang dingin, memandangi pertumpahan darah yang sudah terjadi di bawah sana, baik dari pasukannya dan pasukan dari Bangsa Manusia. Kekejaman, kesadisan, semuanya terjadi di medan pertempuran. Badai yang sangat hebat, hujan kian lebat, petir terus menyambar, dan suasana yang semakin dingin, semua itu menjadi saksi atas pertumpahan darah yang sudah terjadi di Wilayah Mutiara.