Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Bermalam Sebentar #101


__ADS_3

Perlahan kereta kuda yang ditumpangi oleh Altezza dan si pedagang memasuki Kota Aetheria yang tampak sangat indah di malam hari. Meski di malam hari, namun aktivitas di kota tersebut masih saja masif, terutama di wilayah pelabuhannya, karena tidak hanya warga asli Aetheria ataupun dari Kerajaan Lagarde saja, namun banyak orang asing yang rata-rata adalah pedagang.


"Saya turun di sini saja, terima kasih." Ketika kereta kuda yang ditumpanginya berhenti karena antrean kereta kuda lain yang hendak melewati sebuah perempatan. Altezza memutuskan untuk turun dari kereta tersebut, dan berterima kasih sekaligus berpamitan karena harus berpisah dengan si pedagang yang sudah baik memberikannya tumpangan.


Pria yang masih pemilik kereta kuda itu tampak memberikan sebuah kartu nama kepada Altezza, dan dengan tersenyum ia berkata, "simpanlah ini jika kau membutuhkanku, siapa tahu kita bertemu lagi di perjalanan selanjutnya."


"Baik, terima kasih banyak," sahut Altezza, menerima kartu nama itu, dan menundukkan kepalanya.


Kereta kuda tersebut perlahan kembali jalan, seiring antrean di depannya perlahan bergerak. Altezza menyeberangi jalan yang cukup ramai itu, melewati beberapa kereta kuda yang berhenti karena antrean, dan sampai di seberang jalan. Hal pertama yang ingin ia cari adalah serikat petualang di kota Aetheria, karena dirinya berencana untuk singgah sejenak di kota ini selama semalam, sekaligus mencari informasi mengenai hal-hal penting yang bersangkutan dengan perjalanannya.


Berjalan melewati trotoar yang ramai dengan orang dewasa, mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Tak hanya warga biasa, terlihat juga banyak penjaga atau prajurit dari Kerajaan Lagarde yang bertugas di kota tersebut, berpatroli dan selalu menjaga serta memastikan kota aman dari segala bentuk tindakan kriminal.


Langkah dari Altezza berbelok kiri di perempatan besar jalan utama, dan dirinya langsung bisa melihat adanya serikat petualang yang bangunannya berdiri kokoh tepat di seberang jalan. Laki-laki itu kembali menyebrang jalanan yang ramai, dan kemudian menghampiri Serikat Petualang yang tampak cukup ramai.


Langsung saja, Altezza membuka pintu kaca, dan masuk ke dalam serikat tersebut. Di dalamnya atau di lantai satu terdapat kedai, dan orang-orang yang berkunjung di situ adalah para petualang, terlihat dari cara berpakaian mereka serta senjata-senjata yang hampir selalu melekat dengan tubuh mereka. Mereka tampak sibuk menghabiskan waktu malam mereka dengan mabuk-mabukan, dan bersenang-senang sepuas mereka.

__ADS_1


"Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?" sambut seorang wanita muda berambut pirang, berkulit putih, dan berpakaian seragam berwarna kuning layaknya seorang penjaga resepsionis.


Altezza tanpa berbasa-basi langsung bertanya, "apakah saya bisa menyewa kamar yang ada di sini?"


Wanita penjaga resepsionis itu langsung menjawab, "sebentar, saya periksa terlebih dahulu," dan kemudian membuka sebuah buku berukuran besar dan tebal yang ada di ujung meja resepsionis.


Selama menunggu, dua orang pengembara laki-laki bertubuh kekar tiba-tiba saja mendatangi Altezza yang sedang berdiri di depan resepsionis. Mereka mendatangi Altezza dari belakang dan salah satu dari mereka yang berambut putih bertanya, "hei, apakah kau petualang baru?"


"Atau kau pendatang baru di kota ini?" timpal temannya yang berambut cokelat dengan intonasi merendahkan.


Sikap dan gerak-gerik mereka berdua jelas sedang tidak ramah terhadap Altezza, bahkan sudah memperlihatkan indikasi akan melakukan perundungan. Akan tetapi kedua pertanyaan itu hanya dijawab oleh Altezza yang berkata, "bukan urusan kalian," tanpa sedikitpun menoleh ke belakang.


"Terdapat satu kamar kosong, kelas standar dengan harga sewa lima koin emas satu koin perak," ucap wanita itu berbicara kepada Altezza.


"Baik, saya ingin menyewanya satu malam."

__ADS_1


Transaksi pun terjadi, Altezza membayarkan biaya yang diperlukan, sebelum kemudian si penjaga resepsionis memberikan kunci kamarnya. Setelah itu, ia langsung bergegas pergi, menuju tangga dan naik ke lantai dua tanpa sedikitpun menghiraukan kehadiran dari dua petualang tadi yang masih berdiri di belakangnya.


"Sialan," guman laki-laki berambut putih, dengan tatapan kesal ke arah sosok Altezza yang perlahan menghilang karena sudah menaiki anak tangga.


"Dasar anak baru yang sombong," timpal rekan si laki-laki pertama.


***


Sampai di kamarnya, Altezza membereskan diri dengan meletakkan ransel serta pedang yang ia bawa di atas sebuah meja kayu yang terletak tepat di sebelah ranjang. Sesuai dengan yang disebutkan oleh si penjaga resepsionis sebelumnya, kamar dengan kelas standar. Tidak ada yang istimewa dari kamar itu, berlantaikan kayu, dinding dengan cat putih yang sudah pudar, ranjang hanya untuk satu orang dengan kasur yang cukup nyaman, lemari kayu, meja kayu, dan sebuah jendela yang memiliki pemandangan jalanan tepat di depan serikat petualang.


Altezza melangkah menghampiri jendela kamarnya, dan berdiri di sana, memandangi beberapa bangunan yang berseberangan dengan gedung serikat petualang. Semuanya tampak gemerlap, lampu-lampu jalanan sekaligus rumah-rumah di sekitar menyala, dan langit malam yang kebetulan terlihat sangat bagus. Indah dengan taburan bintang, bahkan terlihat berbagai macam rasi bintang di malam ini.


Di dalam saku celananya, ia terlintas untuk membaca kartu nama yang diberikan oleh pedagang sebelumnya. Kartu nama kecil itu kini berada di salah satu tangannya, dan kemudian membacanya. Altezza dapat melihat adanya nama dari pria yang sudah baik hati memberikannya tumpangan, tempat asal dari pria itu, dan pekerjaan serta perusahaan tempat pria itu bekerja.


Perhatian dari Altezza tiba-tiba saja teralihkan ketika membaca kartu nama pemberian si pedagang. Kedua iris matanya melirik ke arah sebuah gelang berwarna hijau muda yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Laki-laki itu tiba-tiba saja tersenyum ketika melihat gelang pemberian dari seseorang yang berharga baginya.

__ADS_1


"Sudah jauh, namun masih kurang jauh," gumam Altezza, kemudian melemparkan pandangannya ke arah langit malam di luar jendela. Perjalanan panjang masih menantinya, bahkan dirinya belum menyebrangi samudra dan sampai di Benua Timur yang menjadi tujuan dari perjalanannya.


Altezza mengembuskan napas panjang, dan terukir senyuman kecil pada wajahnya. Dengan tatapan lembut menatap ribuan bintang yang menghiasi cakrawala malam, laki-laki itu berbicara dengan sendirinya, "padahal baru beberapa hari, bamun aku sudah merindukan kalian."


__ADS_2