Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Tujuan Kelompok #115


__ADS_3

Malam yang sungguh tenang dan indah di Kota Beladon. Altezza bersama dengan kelompok pengembara yang baru saja ia kenal. Orang-orang itu sangat baik terhadap dirinya, bahkan mereka menerima kehadiran Altezza seperti menerima seorang teman lama. Kelompok pengembara itu berencana untuk bertolak dari Kota Beladon malam ini, dan akan bermalam di tengah perjalanan menyesuaikan lokasi di perjalanan. Altezza sendiri tidak masalah dengan hal tersebut, karena sebelumnya pun dirinya sering melakukan perjalanan di malam hari meskipun hanya seorang diri.


Eugene memimpin jalan, bersama dengan Aaron dan Alaia mereka sempai menyambangi beberapa toko di Kota Beladon terlebih dahulu untuk melengkapi bekal. Altezza juga ikut membeli sedikit beberapa perlengkapan serta bekalnya, walaupun perlengkapan yang sempat diperoleh dari desa-desa sebelumnya masih ada di dalam tasnya.


"Kurasa semuanya sudah cukup," ujar Eugene, berkumpul bersama ketiga rekannya di pinggir sebuah perempatan jalan Kota Beladon.


Aaron menoleh, memandang ke arah sebuah air mancur berkuran cukup besar dengan satu buah Jam Air Matahari di atasnya sembari berbicara, "kita bisa berangkat sekarang menuju ibu kota, kemungkinan besar kita akan bertemu tengah malam di tengah perjalanan, di hutan atau perbukitan sebelum mencapai ibu kota."


Jam Air Matahari adalah salah satu metode yang digunakan oleh Kerajaan Neverley dalam mengetahui waktu. Wujud dari jam tersebut sangat simpel, berwujud vertikal layaknya jam pasir, akan tetapi terdapat dua mangkuk atau wadah dengan beda tingkatan yang terhubung oleh pipa vertikal. Wadah yang lebih tinggi diisi dengan air, dan air akan mengalir ke wadah yang lebih rendah melalui pipa. Dan waktu diukur berdasarkan seberapa penuh wadah yang lebih rendah terisi air.


"Altezza, bagaimana dengan dirimu?" tanya Alaia menaruh perhatiannya kepada laki-laki berambut hitam berjubah hitam yang berdiri di depannya.


Altezza tersenyum dan menjawab, "aku lengkap, dan tinggal menyesuaikan dengan keperluan kalian saja."


"Baguslah, kalau begitu kita bisa langsung berangkat menuju Ibu Kota Neverley!" seru Eugene tampak sangat antusias dan bersemangat.


Perjalanan pun dimulai. Kelompok pengembara tersebut perlahan berjalan keluar dari Kota Beladon, menyusuri jalanan tanah menuju ke arah Timur, dan melalui hamparan rumput serta bukit-bukit kecil yang sangat amat luas. Awalnya Altezza berasumsi kalau dataran di Benua Timur hanyalah padang pasir, namun asumsi tersebut terpatahkan ketika dirinya benar-benar menginjak Benua Timur serta melihatnya dengan kedua mata kepalanya sendiri.


Langit malam tampak sangat indah--tidak terlalu cerah sebenarnya karena terdapat beberapa kumpulan awan hitam yang menutupi ribuan bintang di atas sana. Angin berhembus dengan cukup kencang, dan terasa dingin meski masih belum terlalu larut malam. Beruntung Altezza dan teman-temannya mengenakan jubah yang dapat menghangatkan tubuh dan menyesuaikan cuaca.


Eugene dan Aaron berjalan lebih dahulu di depan, Alaia di tengah--di belakang mereka berdua, sedangkan Altezza berjalan di paling belakang mengikuti langkah ketiga rekannya. Ketiga orang itu tampak asyik berbincang satu sama lain sepanjang berjalan, bahkan beberapa kali Eugene dan Alaia tampak tertawa. Altezza sengaja tidak ikut masuk ke dalam pembicaraan mereka, dirinya memilih untuk memandangi tenangnya suasana malam di tengah hamparan rumput malam ini, menenangkan hatinya dan terasa seperti sedang berada di tanah kelahirannya yakni Negeri Zephyra.

__ADS_1


Gadis berambut kelabu itu melambatkan kedua langkah kakinya hingga dirinya berjalan bersebelahan dengan Altezza dan berbicara, "mengapa kamu dari tadi diam saja? Jangan sungkan dengan kami, ya ...!" ucapnya, tersenyum, dan berbicara dengan pupil mata membesar ketika menatap paras Altezza.


Altezza mengangguk tersenyum dan berkata singkat, "terima kasih."


"Kamu suka dengan alam? Wajahmu terlihat riang dan bahagia ketika memandangi langit serta pemandangan malam ini," cetus Alaia, memandang kedua iris mata hitam milik Altezza, sebelum kemudian mengalihkan tatapannya untuk memandang pemandangan yang sama dengan apa yang dipandang oleh Altezza.


"Ketahuan sekali, ya?" sahut Altezza, tertawa kecil, "sudah jelas aku akan berbohong jika aku menjawab 'tidak' atas pertanyaan mu," lanjutnya.


Alaia berakhir dengan memandang ke arah langit sembari terus berjalan. Gadis itu tampak tersenyum, membuat wajahnya yang cantik tampak semakin manis. Kedua iris matanya yang berwarna kuning keemasan tampak sangat indah, tampak bersinar ketika memandangi indahnya langit malam ini.


"Aku juga suka dengan alam, apalagi di saat-saat malam seperti ini. Dahulu ketika aku masih kecil, ibu selalu membacakan dongeng favoritku di atas ranjang dengan jendela kamar terbuka lebar agar aku bisa memandangi ribuan bintang di atas sana."


"Ngomong-ngomong soal dongeng, apa yang membuatmu ingin berkelana di Benua Timur ini?" lanjut Alaia tiba-tiba spontan bertanya demikian kepada Altezza yang berjalan di sampingnya.


"Maksudnya?" tanya Altezza tampak sedikit bingung dan tidak paham dengan maksud dari pertanyaan tersebut.


Pandangan Alaia kemudian menatap Eugene dari belakang dan nyinyir, "Eugene memiliki tujuan untuk mengulik salah satu mitos atau dongeng yang terkenal di Benua Timur, yaitu dongeng tentang ular raksasa yang bersemayam di bawah padang pasir."


"Itu bukan dongeng! Ada sejarah yang mencatat tentang ular itu!" sahut Eugene langsung menoleh, mendengar bahwa dirinya sedang dibicarakan oleh Alaia dari belakang.


"Tetapi aku pernah membaca tentang ular raksasa itu di buku-buku dongeng," sahut Alaia.

__ADS_1


"Ular itu makhluk mitologi yang dipercaya oleh Kerajaan Neverley, jadi kalian tidak perlu memperdebatkan apakah itu dongeng atau sejarah," ujar Aaron dengan sikapnya yang tenang, menengahi perdebatan singkat tersebut.


Altezza hanya tersenyum kecil memandangi sikap mereka yang tampak tidak ingin terlalu serius dalam berdebat, dan salut dengan peran Aaron sebagai penengah.


"Bagaimana menurutmu, Altezza?" tanya Alaia, menoleh dan menatap penasaran Altezza di sampingnya.


Altezza tampak mengerutkan dahinya, dan melemparkan sebuah pertanyaan, "apakah ular yang kalian maksud adalah Basilisk?" dengan intonasi santai dan menebak-nebak.


Langkah dari ketiga rekannya langsung terhenti, pas sekali ketika berada di atas dari salah satu bukit kecil sebelum masuk ke dalam hutan yang ada tidak jauh dari bukit tersebut. Tatapan mereka langsung tertuju kepada Altezza dengan ekspresi penasaran.


"Kamu mengetahuinya ...?!" tanya Alaia menatap Altezza dari dekat.


"Sudah ku duga kau pasti tahu soal makhluk mitologi itu!" cetus Eugene, tersenyum bangga terhadap Altezza.


"Tetapi itu hanyalah sekadar mitos belaka, bukan?" timpal Aaron.


Mengangkat kedua bahunya, Altezza menjawab ketiga pertanyaan itu dengan berkata, "aku sendiri tidak tahu apakah itu nyata atau tidak, maka dari itu aku ingin memastikannya dengan mendatangi sebuah tempat di salah satu sisi padang pasir Negeri Neverley."


Eugene tertawa terbahak dan berbicara dengan sikap yang sangat semangat, "ternyata kita memiliki satu tujuan, Altezza! Mengapa kau tidak bilang dari awal!?"


Altezza tampak heran, tertawa canggung, menggaruk kepala bagian belakangnya dengan salah satu tangannya sembari berkata, "mana aku tahu."

__ADS_1


__ADS_2