
Sebuah kedai sederhana namun cukup ramai meskipun di pagi hari. Kedai tersebut memiliki letak yang strategis, di pusat kota, dan persimpangan jalan utama kota, jadi tidak heran jika kedai tersebut laris akan pengunjung. Altezza mengunjungi kedai sederhana itu, bersama Kenan dan juga Bianca. Reaksi yang wajar dan sudah diduga oleh Altezza. Semua orang yang ada di kedai tersebut tampak terkejut ketika melihat kehadiran seorang pangeran di sana. Mereka menyapa, memberikan hormat, dan menundukkan kepalanya ketika Altezza berjalan masuk bersama kedua orang itu.
"Selamat data ...."
Belum selesai mengucapkan 'selamat datang', seorang wanita paruh baya dengan pakaian sederhana yang tampak terkejut dengan siapa yang akan ia layani. Wanita itu seketika menundukkan kepalanya dan berkata, "selamat datang, Yang Mulia."
Altezza hanya tersenyum sebelum kemudian bertanya, "apakah kami boleh memesan?"
"Tentu saja! Silakan, mau pesan apa, Yang Mulia? Menunya sudah ada di sini," sahut wanita itu tampak bersemangat melayani calon pembelinya, dan kemudian menunjukkan sebuah lembaran menu yang ada di depan meja pemesanan.
"Cokelat hangatnya satu," ucap Altezza kemudian menoleh ke belakang dan bertanya kepada Kenan, "kau mau apa?"
"Saya sama seperti anda saja, Yang Mulia." Kenan tersenyum menjawab.
"Baik," gumam wanita paruh baya sembari mencatat pesanan pada secarik kertas, "kalau kamu, Bianca?" tanyanya kemudian menatap kepada Bianca yang berdiri tepat di sebelah Altezza.
"Saya seperti biasa saja," jawab Bianca.
"Seperti biasa?" gumam Altezza, menoleh dan menatap kepada gadis itu.
Bianca tertawa kecil, tersenyum dan berkata, "ini kedai langganan saya, Yang Mulia."
"Ya, benar! Bianca salah satu pelanggan setia kami," timpal wanita paruh baya itu, tersenyum lebar kepada para pelanggannya, dan kemudian lanjut berkata, "baiklah, tunggu sebentar, ya! Pesanan akan siap kurang dari lima menit!" setelah selesai mencatat.
"Hampir di setiap pagi saya ke sini untuk membeli sarapan, Yang Mulia. Selain harganya pas, tempatnya yang sederhana namun menyamankan, dan lokasinya sejalan dengan saya untuk pergi ke perpustakaan." Bianca berbicara dengan sendirinya sembari menunggu serta melihat wanita paruh baya itu menyiapkan dua buah cangkir cokelat hangat dan pesanan miliknya.
__ADS_1
Altezza sempat melihat di sekitarnya, kedai sederhana dengan lantai dan dinding yang terbuat dari kayu, dekorasinya juga terkesan klasik, dan memiliki lokasi strategis yang membuatnya ramai pengunjung. Pelayanannya juga sangat ramah, dan cepat. Seperti yang dikatakan sebelumnya, wanita paruh baya itu sudah kembali ke meja pemesanan dengan membawa dua buah cangkir cokelat hangat untuk Altezza dan Kenan, dan satu buah cangkir susu cokelat hangat beserta satu bungkus roti lapis berisikan daging untuk Bianca.
"Berapa, Nyonya?" tanya Bianca, menerima pesanannya.
"Satu bungkus roti lapis daging dengan secangkir susu cokelat hangat tiga koin perak, sedangkan dua cangkir cokelat hangat dua koin perak, jadi totalnya lima koin perak," jawab wanita paruh baya itu dari balik meja pemesanan.
Bianca mengambil dompet kecil berwarna putih dari dalam sakunya, dan hendak membayar. Namun secara tiba-tiba Altezza menyela, "lima koin perak, terima kasih," sembari meletakkan lima koin perak di atas meja tersebut.
"Terima kasih kembali, Yang Mulia. Ditunggu kedatangannya lagi," sahut wanita paruh baya itu, tersenyum lebar dan menundukkan kepalanya.
Altezza tersenyum kecil dan sempat melirik kepada Bianca yang menatap bingung dirinya, sebelum dirinya hendak beranjak pergi dari kedai tersebut setelah menerima pesanannya. Bianca ingin segera menyusul laki-laki itu, namun ditahan sejenak oleh penjaga kedai yang tiba-tiba saja berbisik padanya bertanya, "Bianca, sejak kapan kamu dekat dengan Yang Mulia Pangeran?"
"Um, sejak ... beberapa hari yang lalu," jawab Bianca cukup gugup menjawabnya.
Wanita paruh baya itu tersenyum melihat paras Bianca yang tampak sedikit merona dari biasanya, "ya sudah, terima kasih sudah berkunjung ya, Bianca. Buruan susul beliau ...!" ucapnya kemudian. Ia sendiri juga tampak sangat senang, apalagi kedai sederhana miliknya dikunjungi oleh seorang pangeran seperti Altezza, benar-benar kesempatan serta momen yang langka.
Altezza hanya tersenyum dan menjawab, "sama-sama." Sebelum kemudian mereka berdua lanjut berjalan, menyusuri trotoar jalan utama, menuju ke perpustakaan kerajaan.
Sesaat setelah meminum secangkir cokelat hangat miliknya, pangeran muda itu bertanya, "Bianca, apakah besok kamu sibuk?" menoleh kepada perempuan tersebut yang berjalan tepat di sebelahnya.
"Kegiatan saya hanyalah bekerja, Yang Mulia. Dan membaca buku di asrama, sih." Bianca menjawab pertanyaan tersebut, masih dengan senyumannya.
"Bagaimana kalau besok kamu ambil cuti? Aku ingin mengajakmu jalan-jalan ke suatu tempat," celetuk Altezza, menoleh dan menatap Bianca ketika berbicara itu.
Bianca tampak menghentikan langkahnya sejenak, terkejut dan berdegup ketika mendengar ajakan tersebut. Gadis itu menoleh, menatap penasaran Altezza dan bertanya, "sungguh anda mengajak saya, Yang Mulia?"
__ADS_1
"Ya, siapa lagi?" sahut Altezza, menatap serius dan tampak tersenyum.
Bianca kemudian sedikit menundukkan pandangannya dan berbicara, "besok bukanlah hari libur atau tanggal merah, jadi kalaupun saya mengambil cuti, saya harus memiliki alasan yang kuat untuk disampaikan kepada kepala perpustakaan."
Altezza lanjut berjalan, diikuti oleh Bianca, dan Kenan yang tetap mengikuti dirinya dari belakang. Mendengar jawaban yang diberikan oleh Bianca, laki-laki itu berkata, "katakan saja padanya kalau aku yang menyuruhmu untuk cuti ...!"
"Mana bisa seperti itu, Yang Mulia. Saya jadi merasa tidak enak hati kepada kepala perpustakaan jika memberikan alasan tersebut," sahut Bianca, tampak sedikit menyanggah hal tersebut.
"Tetapi bagaimana dengan jawabanmu tentang ajakan ku?" tanya Altezza, sembari terus berjalan.
Bianca masih dengan pandangannya yang ke bawah, memandangi setiap langkahnya yang hampir selalu serasi dan sama dengan langkah pangeran yang berjalan tepat di sebelahnya. Bibir merah mudanya juga tak berhenti tersenyum kecil, apalagi setelah mendengar ajakan yang ditawarkan padanya.
"Sa-saya ... tentu ... se-sebenarnya saya tidak ingin menolaknya, Yang Mulia." Bianca menjawab dengan intonasi serta sikap yang cukup gugup.
Altezza tersenyum kecil mendengar jawaban tersebut, apalagi ketika melihat reaksi Bianca yang seolah tidak pernah gagal menghibur dirinya, "serahkan saja padaku!"
"Besok aku akan menemui mu jam sepuluh," lanjut laki-laki itu.
"Maksudnya, Yang Mulia?" sahut Bianca, menoleh dan menatap bingung Altezza. Namun laki-laki itu hanya diam dan tersenyum kecil, tidak menjawab atau berbicara apapun setelahnya.
Suasana kota yang benar-benar berbeda dari biasanya, didominasi oleh warna putih. Semua bangunan dan jalanan terselimuti oleh putihnya salju yang lembut, dan dingin tentunya. Namun meski terselimuti oleh salju, Kerajaan Zephyra tetaplah terlihat indah, bahkan mungkin dengan salju-salju tersebut malah semakin memperindah tampilan ibu kota kerajaan.
Altezza, Kenan, dan Bianca. Mereka bertiga akhirnya sampai di sebuah perempatan yang dekat dengan istana. Mereka kemudian berpisah di sana, "jangan terlalu keras dalam bekerja, ya ...!" ucap Altezza kepada Bianca.
Bianca menundukkan kepalanya, tersenyum senang dan berkata, "anda juga, Yang Mulia. Iklim sudah berubah dingin, jangan sampai itu membuat kesehatan anda menurun!"
__ADS_1
Altezza hanya tertawa kecil dan tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Bianca, sebelum akhirnya perempuan itu mengambil jalan ke kanan untuk menuju ke Perpustakaan Kerajaan Zephyra. Mereka berdua berpisah di perempatan tersebut. Altezza kembali berjalan lurus, menuju ke istananya.
"Cokelatnya enak ya, Yang Mulia ...!?" cetus Kenan, kemudian berjalan tepat di samping Altezza.