Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Alasan? Tujuan? #55


__ADS_3

Malam hari, masih di hari yang sama. Sesuai dengan janji yang dibuat oleh Altezza sendiri, pangeran muda itu bertemu dengan pengawal setianya di ruang kerjanya. Sesuai dengan janji yang sempat dibuatnya, pangeran tersebut berniat untuk menjawab serta memberikan kejelasan mengenai tujuannya di balik perintahnya kepada Kenan untuk mengumpulkan informasi mengenai pendaftaran petualang di serikat petualang. Tak hanya itu, Altezza juga berniat untuk melihat reaksi serta tanggapan Kenan mengenai keputusan yang kemungkinan besar akan ia buat dalam waktu dekat.


Kenan datang seorang diri, menghadap kepada Altezza yang duduk di meja kerjanya. Ketika kesatria pribadinya telah sampai, pangeran muda itu langsung menyuruh Kenan untuk duduk dan santai di sebuah sofa panjang berwarna merah.


"Aku ingin berbicara santai saja, tidak perlu terlalu formal," ucap Altezza, beranjak berdiri dari kursinya, dan kemudian bersandar tepat di jendela besar yang berada tepat di belakang meja kerjanya. Pemandangan halaman belakang istana yang terlihat dari atas tempatnya berada.


"Sebelumnya aku ingin bertanya kepadamu," lanjut Altezza, menghadap serta memandangi pemandangan luar jendela, tanpa menoleh kepada Kenan yang duduk di sofa ruangannya.


"Silakan, Yang Mulia. Apa yang ingin anda tanyakan kepada saya?" ucap Kenan, melepas pedangnya yang bergelantung pada ikat pinggangnya, dan kemudian meletakkannya tepat di sebelah sofa tersebut.


Altezza tidak menoleh ataupun melirik sedikitpun kepada Kenan yang duduk di sofa tersebut, masih dengan pandangannya ke arah luar jendela, memandangi suasana remang-remang halaman belakang istana kesayangannya.


"Jika aku memutuskan untuk pergi jauh sementara waktu, apa yang akan kau lakukan?" cetus pangeran muda itu, berbicara dengan intonasi datar.


Terkejut sekaligus bingung dengan pertanyaan tersebut. Kenan seketika berdiri dari sofa panjang itu, dan kemudian langsung menyanggah, "apa maksud anda, Yang Mulia? Maaf, saya tidak begitu mengerti."


"Cukup jawab saja! Apa yang akan kau lakukan, Kenan?" sahut Altezza, sedikit menoleh dan melirik kepada Kenan yang berdiri tepat di belakangnya.

__ADS_1


"Saya akan ikut dengan anda! Mau bagaimanapun juga saya telah dilantik oleh Baginda Raja dan Yang Mulia Ratu untuk menjadi kesatria pribadi anda, jadi saya tidak bisa jauh dari anda, Yang Mulia." Kenan menjawab pertanyaan tersebut dengan sangat lugas, tanpa terbata-bata, dan dengan tatapan seriusnya.


Tidak terkejut dengan reaksi dari Kenan, serta sudah menduga kesatria tersebut akan memberikan jawaban tersebut padanya. Altezza menoleh, menatap tajam Kenan dan kemudian bertanya lagi, "bagaimana jika aku tak mengizinkanmu? Atau Raja dan Ratu yang tak memberikan izin tersebut?"


"Mengapa? Mengapa anda tidak mengizinkan saya? Dan mengapa Baginda Raja dan Yang Mulia Ratu juga tak memberi izin tersebut?" sahut Kenan, melempar balik pertanyaan itu kembali kepada Altezza, "Yang Mulia, maaf jika saya lancang, namun anda terlihat aneh hari ini," lanjutnya, menatap bingung Altezza dengan penuh pertanyaan dalam benaknya.


Altezza kembali memandang ke arah luar jendela, dan tampak memasang sikap cuek terhadap pertanyaan yang secara tiba-tiba dilemparkan kembali kepadanya. Suasana hening sejenak, dan Kenan masih berdiri di belakangnya, menatap dirinya wajah kecewa sekaligus bingung.


"Aku telah memutuskan untuk menggapai impian ku sejak kecil yaitu menjadi seorang pengembara, berkelana ke berbagai tempat dan negeri di luar sana, dan mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah ku ketahui." Altezza berbicara dengan tenang, memecah suasana hening tersebut.


"Anda tidak sedang bercanda, 'kan?" sahut Kenan, memastikan hal tersebut.


"Lalu, apa tanggapan Baginda Raja dan Yang Mulia Ratu?" sahut Kenan, kembali bertanya.


Altezza menggeleng dan berkata, "aku belum berbicara dengan mereka soal ini, namun aku bisa memastikan kalau Ratu Caitlyn akan merestui keputusanku."


"Yang Mulia, apa kata rakyat anda saat mereka mengetahui salah satu pangeran mereka pergi berkelana? Anda tahu keputusan anda akan menimbulkan berbagai asumsi publik, bukan?"

__ADS_1


"Selain itu, anda pasti tahu bahwa posisi anda adalah pangeran negeri ini, dan memiliki berbagai tugas serta tanggung jawab. Anda juga pasti tahu pasti ada banyak orang jahat di luar sana yang tidak suka dengan orang penting seperti anda."


Kenan berbicara berbagai hal tersebut kepada Altezza. Semua hal yang dibicarakan tentu saja sudah dipikirkan oleh Altezza sendiri. Pangeran itu berbalik badan, menatap pengawal setianya sebelum kemudian berbicara, "aku tahu semua risiko yang ada, dan aku akan segera membicarakan hal ini dengan Raja dan Ratu."


"Mengapa anda begitu ingin menjadi seorang pengembara? Dan apakah saya tidak diizinkan untuk mendampingi anda ke manapun anda pergi?" sahut Kenan, menatap dalam pangeran di depannya tanpa adanya ekspresi marah melainkan sedih karena pangeran itu membuat keputusan yang tidak disangka-sangka.


"Karena aku menginginkannya," jawab singkat Altezza, tersenyum kecil menatap pengawal setianya, sebelum kemudian kembali berbalik badan memandang ke arah luar jendela sembari berkata, "terserah kau boleh menyebutku egois atau apapun itu, namun aku akan tetap mengejar apa yang sudah menjadi impian ku sejak kecil, keluar dari benteng serta kerajaan ini agar aku bisa berkelana bebas ke manapun aku mau."


"Aku tidak mengizinkan mu, karena aku perlu orang yang dapat ku percaya untuk istana dan kerajaan," lanjut Altezza, menjawab pertanyaan kedua Kenan soal perizinannya untuk ikut berkelana. Laki-laki berseragam putih pangeran itu tampaknya tetap mencemaskan rumah serta tanah kelahirannya ketika ia tinggal pergi.


"Kerajaan Zephyra akan baik-baik saja meski tanpa diriku, Yang Mulia. Maka dari itu, kumohon izinkan aku untuk ikut bersama anda jika memang anda memutuskan untuk berkelana kelak ...!" ucap Kenan, benar-benar memohon hal tersebut kepada Altezza.


Sempat terlintas dalam benak Altezza soal pengalaman berkelana yang sama sekali tidak ia memiliki, dan mengajak seseorang yang dapat mendampingi atau menemaninya sepertinya adalah ide yang bagus. Namun laki-laki itu tidak langsung memutuskan, dan memilih untuk berkata, "akan ku pikirkan lagi soal itu," kepada Kenan.


Seolah mendapatkan secercah harapan soal perizinan tersebut, Kenan tampak sedikit tersenyum kecil ketika mendengar Altezza akan memikirkan keputusan mengajak dirinya atau tidak. Tetapi semua yang dikatakan oleh Altezza sepanjang perbincangan tampaknya masih belum cukup untuk membuat Kenan puas, karena dirinya belum mendengar soal alasan serta tujuan dari pangeran itu ingin berkelana.


"Namun, Yang Mulia. Bolehkah saya mengetahui apa alasan serta tujuan anda ingin berkelana selain hanya untuk mengejar impian?" cetus Kenan, menatap penasaran pangeran yang masih berdiri membelakangi dirinya.

__ADS_1


Altezza menghela napas dan sempat bingung, diam sejenak mendengar pertanyaan tersebut, sebelum akhirnya ia berbicara, "alasan, ya ...?" gumamnya kemudian tertawa kecil dan lanjut berkata, "kebebasan, pengetahuan, dan pengalaman. Mungkin ketiga hal itu yang menjadi alasan ku berkelana untuk saat ini, dan tidak menutup kemungkinan aku akan mengubah atau menambahkannya," ucapnya sembari memandangi langit malam yang tidak terlihat cerah, hanya gelap tanpa adanya cahaya sedikitpun dari bulan ataupun bintang.


"Lalu untuk tujuan, aku sendiri tidak ingin terlalu menentukan tujuan sebelum benar-benar berkelana, dan membiarkan pengalaman serta perjalanan yang menentukan tujuannya untukku," lanjut Altezza, yang sebenarnya tidak begitu dimengerti oleh Kenan ketika mendengar jawaban soal tujuan itu.


__ADS_2