
Tawa canda terdengar, gurauan seolah tiada hentinya mewarnai makan malam sederhana di meja makan rumah kepala desa. Altezza ikut makan malam bersama keluarga kecil itu, dan ini adalah pengalaman pertama baginya merasakan makan malam yang berlangsung sangat sederhana. Meski tidak ada kemewahan, namun ada keistimewaan sangat terasa menyelimuti suasana makan malam yang berlangsung hangat.
Keluarga kecil dan sederhana itu juga berkali-kali mengajak Altezza ikut dalam pembicaraan yang berlangsung di antara mereka. Tidak terlihat adanya kesenjangan, dan kehadiran Altezza sangat diterima dan dihargai di rumah tersebut. Rasa senang dan bersyukur tentu dirasakan oleh Altezza saat momen makan malam tersebut, sekaligus rasa rindu yang tiba-tiba saja terlintas.
"Bagaimana? Apakah masakannya cocok di lidah kamu, Nak Altezza?" tanya Olivia yang duduk bersebrangan dengan Altezza.
Di depan Altezza terdapat satu piring dan satu mangkok yang sudah habis, bekas makanannya. Sup ayam hangat yang sangat enak, dan ikan panggang dengan sayuran yang juga tak kalah enak. Meski menu-menu makanan tersebut disajikan secara sederhana, namun rasanya sungguh nikmat ketika menyentuh lidah, itu yang dirasakan oleh Altezza hingga membuatnya menghabiskan makanannya dengan sangat mudah.
"Sangat cocok, dan enak! Terima kasih atas hidangannya," ujar Altezza tersenyum, memberikan pendapatnya sekaligus mengucapkan rasa terima kasih.
Olivia tampak tersenyum, "syukurlah, berarti Iris lulus malam ini," ucapnya.
Altezza seketika menoleh kepada Iris yang duduk tepat di sebelahnya, "lulus?"
Iris tersenyum senang, dan kemudian menjawab, "akhir-akhir ini aku sedang belajar masak, dan semuanya diajarkan oleh ibu. Pada malam ini, ibu memberiku ujian memasak untuk makan malam."
"Syukurlah kalau semua yang duduk di meja makan malam ini dapat menikmati makanannya, termasuk dirimu, Altezza," lanjut Iris, tersenyum dengan tatapan hangat nan lembutnya kepada Altezza.
Liam tersenyum melihat putri sulungnya mulai pintar memasak, "asal kamu tahu, Altezza. Ketika Iris memasak untuk yang pertama kalinya, aku sakit perut hampir tiga hari setelah memakan masakannya," celetuknya.
"Papa!!" gusar Iris dengan wajah merona, terlihat malu sekaligus kesal, namun ekspresi tampak menggemaskan di mata keluarganya yang kemudian memancing gelak tawa.
__ADS_1
"Untung Aria tidak mau makan yang pada saat itu!" timpal Aria yang duduk tepat di sebelah Olivia.
"Kumohon jangan didengarkan, Altezza ...!" ujar Iris, menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang sudah sangat merona.
Altezza hanya tertawa kecil dan tersenyum, "namun masakanmu malam ini sangat enak, Iris. Sepertinya kau memang sudah belajar banyak hal tentang memasak," ucapnya kepada gadis berambut kemerahan yang duduk di sampingnya.
Iris mengangkat kedua matanya, menatap Altezza dan berkata, "terima kasih," meski dengan sikap yang terlihat sedikit salting.
...
Beberapa waktu setelah makan malam sederhana yang berlangsung sangat harmonis itu selesai. Altezza berdiri di taman samping rumah, dekat dengan kolam ikan kecil, dan menatap ke arah langit malam yang tampak begitu indah dengan taburan banyaknya bintang. Laki-laki itu terlihat sedang menunggu, siapa lagi kalau bukan Shiro yang ia tunggu.
"Melihat bintang," jawab Altezza, sempat melirik untuk menatap paras Iris yang kini berdiri tepat di sampingnya, sebelum kemudian kembali memandang ke arah langit.
Iris tersenyum lebar, memandang ke salah satu kumpulan bintang, dan menunjuknya dengan salah satu telunjuk tangannya sembari berkata, "lihat, bukankah bintang-bintang itu membentuk seekor beruang?"
"Itu adalah Ursa Minor, sedangkan tak jauh darinya terdapat Ursa Major yang memiliki berbentuk seperti gayung atau panji-panji itu," jawab Altezza, sembari menuju ke arah berlawanan dari rasi bintang Ursa Minor yang dilihat oleh Iris.
Iris menoleh, menatap laki-laki di sampingnya dengan tatapan bingung, "Ur ... sa Minor? Ursa ... Major?"
Altezza tampak menoleh, menatap gadis itu dengan senyuman kecilnya dan menjawab kebingungan itu, "Ursa Major dan Ursa Minor, mereka adalah rasi bintang yang memiliki peran penting dalam navigasi untuk menunjukkan arah Utara," ucapnya.
__ADS_1
"Kamu tahu banyak hal, ya ...?" cetus Iris, tersenyum dengan tatapan kagumnya memandang laki-laki tersebut.
"Tidak juga," sahut Altezza, kembali memalingkan pandangannya ke langit dan lanjut berkata, "aku hanya membaca-baca soal mereka di beberapa buku."
Iris juga ikut memandang ke arah yang sama, memandangi langit malam yang dipenuhi oleh ribuan bintang. Beruntung sekali cuaca di malam ini sangatlah cerah, jadi bintang-bintang itu dapat terlihat tanpa harus terhalangi oleh gelapnya awan sedikitpun.
Tak berselang lama, keduanya melihat ke arah yang sama, menyaksikan seekor elang berwarna putih yang tampak terbang di antara ribuan bintang tersebut, sebelum akhirnya perlahan mendekat dan mendarat tepat di atas lengan kanan milik Altezza. Shiro akhirnya datang dengan membawa sebuah surat dengan cap pedang di paruhnya yang kuat.
"Cap kerajaan," ujar Iris ketika Altezza mengambil surat tersebut dari paruh milik Shiro.
Altezza membukanya, dan kemudian langsung membaca beberapa kalimat singkat yang tertulis pada isi surat tersebut. Ia tampak dibuat tersenyum, karena kedua matanya merasa tidak asing dengan model serta gaya tulisan yang saat ini ia baca.
"Apakah itu kabar baik?" tanya Iris, menatap penasaran lantaran ekspresi Altezza terlihat bahagia karena tersenyum dan tertawa kecil untuk beberapa kali.
"Ya!" sahut Altezza kemudian memberikan surat tersebut kepada Iris sembari berkata, "mereka akan langsung datang esok hari, dan meninjau lokasi pertambangan yang terbengkalai."
"Syukurlah!!" Iris tampak senang dan menghela napas lega, "Papa harus mengetahui kabar ini," lanjutnya.
"Sampaikan suratnya pada beliau," timpal Altezza.
"Iya, harus ku sampaikan padanya," sahut Iris tampak senang, sebelum kemudian bernajak pergi kembali masuk ke dalam rumah dengan langkah cepat, dan membawa surat tersebut dalam genggamannya.
__ADS_1