Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 10: Bertindak Layaknya Teman


__ADS_3

Haris keluar dari kamar mandi sudah lengkap dengan pakaian ganti. Matanya menangkap Hana yang sedang menangis tersedu di depan meja belajarnya. Ia jadi kebingungan. Apa ada kata-katanya yang salah hingga menyakiti gadis itu. Pikirnya.


Haris pun berjalan mendekati Hana, memanggil dengan mencoba menyentuh sedikit bahunya. Hana tampak terkejut, dengan cepat ia menghapus air mata nya. Ia sama sekali tidak menyadari keberadaan Haris. Pikirannya sibuk memikirkan kepulangan Gibran yang tinggal 2 minggu lagi. Ia pun menunduk malu karena ketahuan sedang menangis.


“Ada apa? Kenapa kamu menangis, Hm?” Haris berjongkok menghadap ke arah Hana yang sedang duduk di atas kursi.


“Tidak kenapa-kenapa, Mas” Hana menjawab cepat seraya memalingkan wajahnya.


“Tidak mungkin kamu menangis tanpa sebab, apa ucapanku tadi menyinggungmu? Aku minta maaf, aku tidak bermaksud demikian” Hana jadi serba salah, ia tidak tahu harus menjawab apa.


“Kalau begitu mulai besok kamu boleh menyiapkan semua keperluanku. Sudah, jangan menangis lagi. Aku tidak tahan melihat wanita menangis” Haris menjawab diplomatis seraya memberikan selembar tissue padanya.


Ternyata Haris salah sangka pada Hana. Lebih baik ia diam agar Haris tidak semakin salah paham. Pikir Hana.


“Hapus lah air mata mu. Kamu terlihat jelek dengan wajah begitu” ucap Haris sekenanya sambil beranjak duduk di atas sofa yang berada di kamar itu. Ia mengambil mushaf al-Qur'an dan mulai mengaji dengan irama tartil.


Piaass. Hana pun segera mengambil tisu pemberian Haris. Ia merasa sangat malu. Wajahnya memerah namun tak juga menghilangkan segugukan akibat tangisannya.


Sepuluh menit berlalu. Hana merasa sudah lebih baik sekarang. Haris telah selesai ngaji. Ia pun menghampiri suami yang terus menatapnya. Jujur ia sedikit salah tingkah.


“Mas, mau aku buatkan kopi atau teh?”


“Tidak, kamu duduklah disini, aku ingin bicara hal penting padamu” Haris menunjukkan tempat kosong disebelahnya.


“Mas mau bicara apa?”


“Kita sudah menikah bukan….?” Haris memberi jeda pada pertanyaannya.


Ada apa ini? Apa mas Haris akan mengajukan poligami, bukannya baru kemarin menikah, huft. Hana mulai berburuk sangka dan menerka-nerka.


“halooo, kenapa kamu melamun?” Haris melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Hana.


“eh, Ma.. maaf mas, iya. Kita sudah menikah. Lantas kenapa mas? Apa mas mau menikah lagi?” tanya Hana polos namun sarkartik.


Haris terkejut dengan pertanyaan to the point Hana.


“Astaghfirullah, aku belum mengatakan apa-apa kamu sudah duluan menduga, apa psikolog memang seperti itu?” sindir Haris.


“Jadi benar mas mau poligami??” suara Hana sedikit meninggi.

__ADS_1


Haris ingin tertawa mendengarnya. Sekarang ia baru ingat kalau Hana masihlah seorang gadis berusia 19 tahun. Haris menggeleng-gelengkan kepalanya. Kesal tapi juga menggemaskan. Ia jadi ingin sedikit mempermainkan Hana. Apa gadis ini cemburu?


“Kalau aku poligami, memangnya kamu mengizinkan?”


Hana terdiam. Mas Haris mau poligami? Hmh…


“kenapa malah diam, coba jawab?” Pancing Haris lagi.


“Mas boleh poligami, tapi… “


“Tapi apa?”


“Ceraikan aku dulu mas” Hana berkata dengan raut wajah yang sulit dimengerti.


“Apa kamu mengharamkan poligami?”


“Bukan begitu mas, aku sama sekali tidak mengharamkan poligami. Walau tidak ada cinta, namun setidaknya aku tidak ingin diduakan dalam pernikahan, kalau mas melakukannya, aku mau kita pisah saja” Hana berkata tegas.


“Kamu tidak takut menjadi janda di usia muda?”


“Jadi mas benar-benar serius mau poligami??” Hana sukses mengeluarkan suara garangnya.


Haris tertawa lepas.


“Astaghfirullah, nyebelin banget. Harusnya kan aku ga perlu ngegas. Buang-buang energiku aja. sebel” Hana manyun. Ia merasa sangat kesal karena dipermainkan.


“Selain suka su’uzhan ternyata kamu cerewet juga ya”


“Lanjut aja kata-katain nya. Terus aja. Good” Hana masih kesal. Ia memalingkan wajah seraya mendekap kedua tangan didadanya.


“Okay-okay, udah dong, kita damai ya! sekarang kita mulai bicara serius” Haris mengancungkan tangan membentuk lambang peace.


“Dari tadi aku juga sudah serius mas!”


“Iya aku tau, aku minta maaf”


“Jadi gini, aku ingin kita pindah. Hidup mandiri. Tidak tinggal di sini ataupun dirumahku.” Lanjut Haris menatap Hana.


“Terus kita tinggal dimana?”

__ADS_1


“Di rumah dinas milik kantor. tidak besar, Cuma yaa untuk pasangan baru menikah sudah boleh, biar tidak repot juga membereskannya”


“Biar mas juga gampang bawa teman perempuan kerumahkan?” lagi-lagi Hana menuduh Haris secara blak-blakan.


“Astaghfirullah, cepat istighfar Hana. Aku tidak seburuk itu. Kita semua makhluk beragama, kalaupun aku membawa perempuan lain ke rumah, lebih baik sekalian aku berpoligami, sesuai Syariah dan tidak terlarang.”


“maaf mas” Hana menunduk.


“Kamu setuju kan? Kamu bisa bebas juga tanpa perlu melayaniku. Kita akan bertindak seperti emh… teman. Ya, teman biasa” Haris memberikan penawaran.


“Baiklah jika mas maunya begitu. Kita pamitan dulu sama Ummi dan Abah. Aku sebagai istri ikut mas aja”


“Alhamdulillah kalau begitu”


Kemudian Haris mengeluarkan 2 keping kartu atm dan menyerahkan salah satunya pada Hana.


“Ini untukmu, ini nafkah yang kuberikan padamu karena kamu sudah menjadi tanggung jawabku sekarang, kamu boleh menggunakannya untuk kebutuhanmu, bebas.”


“Satu atm nya lagi berisi uang tabungan. Uang ini sudah kutabung sejak aku mendapatkan gaji pertamaku, aku mau kamu menyimpankan. Setiap bulan akan ku transfer rutin sebagai simpanan masa depan kita” lanjut Haris menjelaskan.


Hana tercengang. Ia sama sekali tidak menyangka Haris akan mempercayakan ini semua padanya. Ia memang istrinya Haris. Tetapi perasaan itu belum sepenuhnya dirasakan. Ternyata Haris lelaki bertanggung jawab walau sangat menyebalkan.


“Terima kasih mas. Insya Allah aku akan menyimpan nya dengan baik”


“Nah, aku juga memiliki 2 kartu atm lainnya, yang satu untuk biaya makan operasionalku dan yang satunya untuk sedekah dan biaya sosial lainnya. Karena kamu adalah istriku, aku merasa perlu memberitahukan hal ini padamu.”


“Kamu tidak perlu mengkhawatirkan apapun, asal kamu patuh, aku tidak akan menuntut apa-apa padamu”


“Termasuk hal “itu” ?” Hana memotong cepat, namun ia segera menutup mulut dengan tangannya.


“Itu apa maksudmu?” Haris mengkerutkan keningnya.


“Tidak ada mas, lupakan”


“Hayoo, itu apa?” Haris mendekatkan wajahnya pada wajah Hana. Seketika Hana menjadi salah tingkah, ia langsung berdiri dan menjauhkan diri dari Haris.


“Hm, Aku ke tempat Ummi dulu mas, mungkin Ummi butuh bantuan untuk siapkan malam makan kita” Hana langsung melenggang pergi meninggalkan Haris.


Hahaha, dalam hati Haris tertawa, ternyata Hana lumayan menyenangkan, baru digoda sedikit wajahnya langsung memerah. Benar-benar gadis polos belia.

__ADS_1


Haris juga beranjak mandi, ia akan siap-siap untuk shalat berjama’ah di masjid. Ia juga berencana akan mengecek kesiapan rumah dinas yang akan mereka tempati. Nanti ia akan mengajak Hana ke sana.


***


__ADS_2