
I know just where to touch You
And I know just what to prove
I know when pull You closer
And I know when to let You loose
And I know the night is fading
And I know the time’s gonna fly
And I’m never gonna tell You
Everything I gotta tell You
But I know gotta give it a try
~A.S~
***
“Kamu benar baik-baik saja?” Tanya Romi yang mencoba meraba kening Arini. Mereka telah sampai di Apartemen. Arini mengelak sentuhan Romi pada keningnya.
“Jangan sentuh Aku! Jangan ngelunjak kamu!” Ucap Arini ketus.
“Aku hanya mengkhawatirkanmu. Itu saja!”
“Kenapa kamu membawaku kembali ke tempat laknat ini??” Protes Arini saat tersadar kalau Romi kembali membawa nya ke apartemen.
“Aku tidak tau harus membawamu kemana lagi” Romi beranjak ke meja makan mengambil sesuatu dari sana.
“Ini, makanlah! Kamu tampak sangat pucat, aku khawatir kamu sakit!” Ucap Romi seraya menyodorkan sekotak makanan.
“Aku tidak berselera” Arini mengabaikan pemberian Romi, Ia terduduk di sudut menatap kosong ke sembarang arah tanpa adanya titik fokus. Romi membuka bungkusannya. Ia mencoba menyuapi Arini.
“Aku tau kamu lagi sedih tapi kamu harus tetap sehat dan kuat. Aaaa please Buka mulutnya. Makan lah sedikit saja!”
"Aku tidak butuh perhatianmu!" Ucap Arini. Ia tetap bergeming.
Ting tong Ting tong
Terdengar seseorang dari luar sana memencet bel berkali-kali. Romi bergegas melihat siapa yang datang melalui celah lubang di pintu. Ia mengkerutkan keningnya. Amira, Polisi wanits teman seprofesinya datang berkunjung.
Romi membukakan pintu.
“Hai Romi, aku berkali-kali meneleponmu tapi kamu tidak mengangkatnya. Jadi aku berinisiatif langsung ke sini mengunjungimu”
“Ada apa, Ra? Tumben kamu kesini?” Tanya Romi datar.
“Aku membawa makan siang untukmu. Aku mengikuti saranmu untuk kursus masak, lho. Sekarang aku ingin kamu jadi orang pertama yang mencoba masakanku. Tolong di apresiasi!” Ucap Amira sumringah.
“Masuklah!” Romi mempersilakan Amira masuk.
Arini diam-diam menelinga percakapan Romi dan rekan kantornya itu tapi berpura-pura cuek dan tidak mempedulikannya. Amira bingung melihat di apartemen Romi ada seorang wanita yang duduk di sudut ruangan dengan menekukkan wajahnya.
“Itu siapa?” Bisik Amira
“Temanku”
"Benarkah? Bukan kekasihmu?" Selidik Amira. Romi diam saja.
“Kamu ga kenalin ke aku?” Bisik Amira lagi.
“Dia lagi sedih, sedang sberkabung. Biarin aja dulu sampai tenang. Kamu ke balkon luar dulu aja ya! Nanti Aku nyusul” Ucap Romi santai.
“Okay” Amira mengacungkan jempolnya. Ia bergerak ke luar dan menutup rapat pintunya.
Romi mendekati Arini.
“Rin, kamu mau gabung sama aku bareng Amira di luar?”
“Aku mau pulang saja!”
__ADS_1
“Tunggulah! Sebentar lagi aku akan mengantarmu!” Cegah Romi.
“Aku bisa pulang sendiri. Banyak taxi di luar sana!” Arini menghempaskan tangan Romi yang tertengger di lengannya.
“Baiklah. Kalau begitu sekarang Aku akan mengantarmu. Aku pakai jaket dulu, sebentar sebentar!”
“Tidak perlu. Pedulikan saja teman wanitamu yang sudah bersusah payah membuat dan mengantarkan makanan! Aku tidak ingin mengganggu kalian! Huh begitu! ternyata kamu sering bergonta ganti wanita di tempat laknat ini!! Dasar bajingan!!” Arini membebel panjang. Entah mengapa emosinya seketika meluap.
“Kamu jangan menuduh sembarang! Aku tidak pernah berbagi kasur dengan wanita kecuali denganmu!” Romi meninggikan suaranya.
Plaakkk. Kembali tamparan keras mendarat ke pipi Romi. Arini berlalu meninggalkannya, meninggalkan Romi yang mematung melihat punggung Arini yang menghilang di balik pintu.
Sesampainya di rumah, Arini masuk ke dalam kamar mandi dan menyalakan shower. Pancuran air dari atas mengalir ke bawah. Ia menangis di bawah air mengalir dan sama sekali tidak mempedulikan baju nya yang basah
kuyup. Ia merasa kotor dan hina lalu berteriak di sana tanpa ada sesiapapun yang mendengar dan mengetahui betapa pilu dan malang nasibnya kini.
***
“Mas, aku memikirkan almarhumah mba Hanum. Aku merasa bersalah. Karena kasusku, mba Hanum jadi dijebloskan ke penjara. Mungkin karena asbab sel tahanan maka mba Hanum jadi merenggut nyawanya” lirih Hana yang tengah berbaring bersama Haris di atas kasur.
“Aku juga ikut prihatin tapi itu salah nya sendiri. Ia yang menjebakmu, Ia juga yang menjebak Yura. Apa kamu tidak ingat betapa menderitanya kamu dan Yura kala itu? Apa kamu tidak bisa mengingat betapa hancurnya aku karena merindukanmu?” Haris mengambil Hana lalu mendekap dan mengecup pinggiran keningnya.
“Tapi aku masih heran, almarhumah Mba Hanum punya masalah apa denganku dan Yura? Aku bahkan tidak mengenalnya, Yura apalagi!” Hana berpikir keras, rasa-rasanya semua tidak masuk akal.
Haris hanya diam. Ia sebenarnya tau karena kesetiaan nya terhadap Arinilah maka Hanum rela berkorban dan melakukan perbuatan laknat. Ia juga tau jika Hanum mencintai diri nya namun rela mengalah demi Arini. Sedang Yura, hmh.. Mungkin saja ada kaitannya dengan Lisa. Haris sendiri masih menduga-duga. Ah, pada dasarnya pusat dari semua peristiwa yang terjadi sebenarnya disebabkan oleh diri Haris sendiri. Andai cinta itu tidak bisu dan membutakan, maka semua akan baik-baik saja. Haris memejamkan matanya. Ia merasa bersalah.
“Astaghfirullah. Tidak sepatutnya Aku mengajak Mas membicarakan orang yang telah tiada. Lebih baik didoakan agar Allah mau mengampuni dosa-dosa beliau” Tukas Hana kemudian dengan sedikit mengetuk keningnya. Haris tersenyum, ia mengacak asal rambut Hana.
“Berenang yuk! Gerah! Kita nikmati hari-hari terakhir kita di Villa ini. Tidak lama lagi kita sudah berada di Indonesia. Tidak akan ada kolam renang di rumah mungil kita” Haris mengalihkan pembicaraan. Ia menoel hidung Hana.
“Aku ga bisa berenang, gimana?” Hana mempoutkan mulutnya.
“Kan sudah ku katakan, berenang saja gaya batu! Haha”
“Ih nyebeliiin! Berenang saja sendiri” Ucap Hana dengan nada manja.
“Haha, ayolah! Temani aku, kita bisa mempelajari satu atau dua Teknik” Haris menyakinkan Hana dengan menaik turunkan alisnya.
“Tentu saja. Ayooo”
Mereka bersiap-siap. Haris sudah selesai menganti pakaian dengan celana pendeknya. Sedang Hana memakai gamis rumahan lengkap dengan kerudungnya.
“Mengapa dandanan mu begitu? Minimal pakai baju kaos dan celana pendek saja! Kalau pakai gamis ntar bakal berat karena air akan menyerapnya” Titah Haris yang menyoroti penampilan Hana.
“Nanti kalau ada yang melihat bagaimana? Trus mas juga kenapa sexy begitu! Bajunya kemana?” Protes Hana.
“Tidak ada yang melihat, kamu lupa ini private villa? Lagian semua pintu sudah terkunci” Ucap Haris cuek.
“Ya, setidaknya mas jangan se sexy itu! Mengotori penglihatanku saja!” Keluh Hana. Sebenarnya ia merasa gugup. Seminggu bersama ternyata masih belum membuatnya terbiasa. Melihat tubuh Haris secara terang-terangan membuatnya jantungnya masih saja berdebar.
“Bilang saja kamu terpesona!” Haris tersenyum sambil menjulurkan lidah mengejek.
“Ih GR banget sih!” Gerutu Hana.
“Sudah, lepaskan gamismu! Mari kita berenang!”
Hana mengikuti saran Haris. Kaos putih polos dengan celana legging ketat berbahan karet elastis menjadi pilihannya. Untuk penampilannya sendiri, Ia sama sekali tidak merasa canggung. Ia sudah terbiasa memakai pakaian minim di hadapan suaminya. Hana juga menggulung tinggi rambut hingga memperlihatkan leher putih jenjangnya. Hana melangkah mendekati Haris yang sudah lebih dulu menceburkan diri di kolam renang.
“Hemm, kemarilah!” Haris sedikit berdehem membuang rasa kecanggungan. Tadi Ia mengatakan Hana terpesona padanya, padahal sebenarnya Ia sendiri yang kesulitan mengontrol diri.
Haris mengajarkan teknik renang dasar. Kolam nya tidak terlalu dalam, hanya ada pilihan satu setengah meter dan dua meter saja. Berkali kali Hana mencoba mengikuti arahan Haris, namun berkali-kali pula ia gagal. Jengah. Ia memilih beranjak keluar dari air.
“Hana, kamu kemana?”
Hana menunjuk datar ke tepian kolam, Haris mengerti Hana mulai merasa bosan. Ia pun berenang menuju Hana.
“Kenapa menyerah sih? Ayo pegangan dipundakku!” Haris mengamit lengan Hana dan membawanya ke Pundak. Haris memposisikan dirinya seperti penyelam yang memikul tabung oksigen.
Haris membawa istrinya mengelilingi kolam, Ia sebenarnya tidak berenang, kakinya tidak bisa digerakkan lincah karena keberadaan Hana di belakangnya. Jadi ia hanya membawa Hana berkeliling. Keliatannya sang istri
menyukainya.
“Hana, Yo Te Amo” Ucap Haris.
__ADS_1
“Apa? Aku ga dengar”
“Yo Te Amoo”
“Aku ga dengaarrr” Hana cekikikan.
“Yo Te Amoooooo Lovee youuu” Haris berteriak. Ia masih membawa Hana di punggungnya. Mereka bermain air dengan riangnya. Seolah-olah beban yang ada menguap bersamaan dengan suara riuh tawa.
“Saranghae Oppaa, I love you too. Cuppp” Hana mengecup pipi Haris. Pemuda itu tersenyum.
“Kamu sudah mulai nakal yaaaa! Kamu harus bertanggung jawab!!” Haris beralih memeluk erat Hana dan membawanya ke tepi.
“Menua-lah bersamaku” Ucap Haris lagi dengan menatap mata merah Hana yang terkena gerusan air. Tak segan, perlahan ia mendaratkan bibir merahnya pada bibir merah jambu Hana.
***
17 jam 25 menit sudah Haris dan Hana menempuh perjalanan udara dengan sekali transit hingga sampai ke Indonesia. Perjalanan yang sungguh melelahkan.
“Hana, kita ke bagian imigrasi dulu!” Ucap Haris dengan meletakkan tas ransel yang tadi berada di bagian kabin pesawat ke punggungnya. Ia juga membantu memegang tas jinjing Hana. Sebelah tangan nya lagi memegang passport yang berisikan visa. Mereka bergegas menuju imigrasi sebelum mengantri panjang.
“Mas, aku ingin sekali ke toilet” Bisik Hana ketika mereka selesai mendapatkan stemple di passport masing-masing. Haris mengecek jam tangannya.
“Di luar ada toilet, aku akan menunggumu sambil duduk menjaga koper. Kamu bisa menunggu 5 menit lagi?” Hana mengangguk. Mereka pun keluar bandara melalui pintu International Arrival.
“Itu toiletnya!” Tunjuk Haris.
“Mas, nanti kita beli Roti ‘O ya! Aku lapar” Pinta Hana.
“Baik. Biar aku belikan selagi menunggumu!” Lagi-lagi Hana mengangguk, ia bergegas karena rasa yang sudah tidak tertahankan lagi. Setelah memastikan Hana aman di toilet, Haris pun menuju counter Roti ‘O yang terdapat di
bagian sudut bandara.
“Mas….” Seseorang memanggilnya dari belakang.
“A.. rini? Kenapa kamu di sini? Bersama siapa?” Tanya Haris yang terkejut. Arini menenteng jaket pinjam Haris di tangannya.
“Aku bersama Romi, kami menjemput Mas dan Hana” Ucap Arini dengan tersenyum.
“Mas kenapa tidak memberi kabar sih?” Protes Arini. Mereka berjalan bersama menuju ke tempat koper yang tadi Haris letakkan.
“Romi? Ada Romi di sini? Dia mana?" Haris mengedarkan pandangan ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Romi, namun ia gagal menemukan sosok sahabat karibnya.
"Duduklah. Kamu tampak pucat, tidak seharusnya kalian menjemput kami” Ucap Haris kemudian sambil menyodorkan sebungkus roti pada Arini.
“Terima Kasih. Romi sedang beli air mineral, Hana kemana mas?”
“Hana di toilet”
“Sekarang sepertinya Mas bahagia sekali, ya?” Sendu Arini. Ia beranjak berdiri setelah menghabiskan rotinya. Haris sendiri memang sedari tadi memilih berdiri. Ia menjaga jarak dari Arini.
“Alhamdulillah, Hadza min fadhli Rabbi” Ucap Haris, matanya sebentar-bentar mengarah ke pintu toilet yang berada 50 meter dari tempat duduk mereka. Sesekali ia juga mengecek jam tangannya.
“Apa Mas benar-benar telah melupakanku?” Tanya Arini tiba-tiba. Haris menoleh kearahnya,
“Rin, Aku lagi tidak mood membicarakan masalah kita. Kisah kita telah usai sejak Aku menikah. Tolong jangan dipertanyakan lagi” Ucap Haris ketus. Ia menatap Arini tajam.
“Tapi Aku masih tidak bisa melupakanmu. Aku sendirian sekarang, Hanum juga telah meninggalkanku. Apa mas tidak memiliki rasa empati padaku walau hanya sedikit?” Lirih Arini, wajahnya tampak sembab.
“Carilah kebahagianmu, Rin. Kamu berhak bahagia” Haris melunak. Sejujurnya ia juga merasa prihatin dengan kondisi Arini. Namun Ia telah memiliki Hana dan melabuhkan cintanya pada wanita berkerudung rapat itu. Ia
tidak ingin melukai hati istrinya.
“Kebahagiaanku ada padamu mas!” Ucap Arini lantang.
“Aku akan bahagia jika bersamamu!” Ucapnya lagi. Sepersekian detik, seketika Arini maju memeluk Haris erat. Haris terhenyak. Ia tidak sempat mengelak gerakan yang secepat kilat itu.
Di sisi lain, Hana yang telah selesai dari toilet terpaku melihat suaminya tengah berpelukan bersama Arini dengan begitu mesra. Seketika hatinya membeku. Romi yang juga telah kembali dengan menenteng air mineral nyaris tidak percaya pada penglihatan yang ia lihat.
***
Hi teman-teman, Yuk dukung terus karya Alana dengan LIKE KOMEN VOTE, juga berikan hadiahnya. Terima Kasih banyak. Jazakumullah Khairal Jaza’ ^^
***
__ADS_1