
En palabras simples y comunes yo te extraño
Dengan bahasa sederhana ku katakan aku merindukanmu
En lenguaje terrenal mi vida eres tu
Dalam bahasa duniawi, Kau milikku
En total simplicidad seria yo te amo
Dengan seluruh kesederhanaan, aku akan mencintaimu
Y en un trozo de poesia tu seras mi luz, mi bien
Pada selembar puisi, bagai cahaya kau menyimpan seluruh kebaikan
La fuerza que me mueve dentro para recomenzar
Dari Kekuatan yang ada, menggerakkanku untuk memulai lagi
y en tu cuerpo encontrar la paz
Dalam dirimu ku temukan kedamaian
***
“Masya Allah, indah sekali!” Seru Hana dengan mengedarkan pandangan matanya saat ia menginjakkan kaki pada sebuah villa yang telah Haris persiapkan. Senyuman mengembang di raut wajah gadis itu setelah sebelumnya sempat buram akibat perjalanan nan panjang lagi melelahkan. Haris dan Hana menghabiskan total waktu 18 jam 25 menit dengan rute Jakarta-Madrid.
Hampir dua bulan sudah Haris mempersiapkan segala keperluan menyangkut keberangkatan mereka ke Spanyol sesuai permintaan sang istri. Ia membooking private villa dengan nuansa resort. Jadi, memang hanya mereka berdua saja yang berada di penginapan mewah itu dengan beberapa pelayan yang melayani keperluan seperti makan, mengganti seprai dll. Namun mereka berada pada ranah yang berbeda dan hanya boleh muncul ketika dipanggil menggunakan bel khusus.
Hana melangkahkan kakinya melihat ke sekeliling, aroma Lily menguar di mana-mana. Harum favoritenya. Ia tersenyum, betapa suaminya itu memperhatikan apa yang ia sukai. Hana meneliti keadaan villa lebih jauh, bak
seorang Arkeolog handal, Ia melihat detil ornament yang ada pada bangunan. Hmh, mirip dengan nuansa Timur Tengah. Pikirnya.
Hana pun membuka gorden besar yang berada di sisi kanan ruangan, tampaklah kolam renang yang hanya di batasi oleh kaca putih lebar sebagai penyekatnya.
“Akan sangat menyenangkan jika kita berenang bersama di sana” Ucap Haris yang tiba-tiba muncul dan memeluknya dari belakang.
“Tapi sayangnya Aku tidak bisa berenang” Hana mempoutkan bibirnya.
“Siapa bilang? Aku rasa semua orang bisa berenang”
“Benarkah?” Hana mengkerutkan keningnya. Ia menoleh menatap Haris dan berharap suaminya itu akan menawarkan untuk mengajarinya berenang.
“Tentu saja. Berenang… berenang gaya batu!” Haris sedikit menjulurkan lidahnya ke kiri dan tertawa.
“Ih, ga lucuuu” Hana mencubit ringan pinggang Haris.
Haris mengangkat pergelangan tangannya untuk membaca jarum dari jam tangan yang melinggar di sana. Terlihat jam 20.00 waktu Madrid.
“Kamu mau kita jalan-jalan ringan keluar sana, hm?”
Hana menggeleng.
“Sekarang Aku masih sangat Lelah, Mas!, kita istirahat saja, ya?” Pinta Hana.
“Baiklah. Sesuai yang kamu inginkan!”
“Kalau begitu Aku mandi dulu!” Ucap Haris. Hana mengangguk.
__ADS_1
Haris bergerak mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi. Namun beberapa menit kemudian tiba-tiba pemuda itu mengeluarkan sedikit kepalanya di sebalik pintu, kulit bahunya juga ikut tersembul. Haris telah
melepas baju kaosnya. Bunyi pintu yang berderit menyebabkan Hana menoleh,
“Ada apa, Mas? Kelupaan handuk ya?”
Haris menggeleng ringan.
“Lalu?”
“Apa kamu tidak ingin ikut mandi bersama? Kita bisa lebih menghemat waktu. Kemarilah” Haris mengerling Hana. Nakal.
“Maasss” Hana mendelikkan matanya. Semburat merah kembali muncul diwajahnya. Entah sudah kali ke berapa. Rona merah itu akhir-akhir ini sering sekali muncul.
“Ayolaaah” Rengek Haris manja.
“A.. Aku haus. Aku ambil air mineral dulu” Kini Hana mengerjap-ngerjapkan matanya. Buru-buru Ia melenggang keluar kamar.
Haris menggelengkan kepalanya sambil tertawa renyah. Malam ini aku tidak akan melepaskanmu, Hana! Lihat saja! Gumam Haris dengan menyunggingkan senyum percaya dirinya.
Dua menit kemudian Hana membuka kembali pintu kamar dan sedikit mengintip. Aman. Pikirnya. Gadis ini memilih menikmati secangkir susu hangat yang telah tersedia. Ia mengaktifkan ponselnya. Tampak banyak pesan yang masuk silih berganti dan beberapa panggilan tak terjawab. Pertama ia membuka pesan dari Ummi,
Nak, jangan lupa di minum vitamin herbal yang sudah Ummi siapkan itu ya! Itu untuk kesehatan dan kebugaran kalian. Pokoknya harus diminum. Suguhkan juga pada nak Haris, katakan Ummi yang berikan.
Hhhhh. Hana menghembuskan nafasnya. Nyaris ia melupakan pemberian Ummi, padahal Ummi nya itu sudah mewanti-wanti dari jauh hari agar ia dan Haris segera mengkonsuminya. Untuk apa sih herbal kesehatan itu? padahal ia dan Haris sudah rutin mengkonsumsi buah, sayur, Madu dan Habatussauda untuk menjaga kesehatan. Apalagi Haris rutin berolahraga. Pikir Hana. Namun ia tetap harus menghormati pemberian dari Ummi. Hmh, Tidak ada salahnya mengkonsumsi herbal, toh untuk kesehatan. Hana mulai menyeduhkan 2 gelas, untuknya dan Haris.
Ia kembali melihat ponselnya, pesan selanjutnya dari Yura,
Hanaaa, aku telah menyiapkan hadiah khusus untukmu. Aku tau kamu tengah berbahagia sekarang. Jika kamu menghargai persahabatan kita yang telah lama terjalin, maka kenakanlah. Lalu mintalah pendapat mas Haris.
Pesan berikutnya masih dari Yura,
Mengapa sekarang begitu banyak kalimat wanti-wanti dari orang-orang terdekatnya. Hana penasaran dengan hadiah pemberian Yura. Ia membuka ranselnya. Hadiah pemberian dari sahabatnya itu memang diletakkan di tas ransel bukan di koper sebab Yura memberikannya tepat di bandara sebelum Ia dan Haris take off.
Hana mengangkat bungkusannya. Terasa ringan. Hmh, tampaknya ini kerudung. Gumam Hana. Perlahan ia membuka bungkusan yang berlapis kertas kado itu.
Apa ini? Hana mengkerutkan keningnya.
Haah?? Seperti pakaian dalam. Baju Setengah jadi!! Gumam Hana histeris.
Hana memeriksa baju setengah jadi itu dengan saksama. Baju berwarna maroon seperti mini dress yang panjangnya hanya sejengkal di atas lutut namun dengan bahan yang sangat tipis. Huft. Sudah dipastikan akan tembus pandang. Kini mukanya memerah sempurna. Ia tidak bisa membayangkan akan mengenakan pakaian kacau ini di hadapan Haris. Hana merinding. Lalu ia juga melihat ada sebuah lipstick di sana dengan secarik kertas,
Gunakanlah Lingerie itu ketika kamu hanya bersama mas Haris. Jangan lupa poleskan lipstick merahnya ke bibirmu. Mas Haris akan mabuk kepayang. Jangan tanyakan darimana aku mendapatkannya, aku melakukan usaha yang sangat besar. Yura.
Lingerie? Astaghfirullah, Yuraa yuraa. Hana menutup wajah merahnya dengan telapak tangan. Malu. Dari mana Yura bisa dapat ide nyeleneh ini. Hana sedikit memijat pelipisnya.
“Kamu kenapa?” Haris muncul tiba-tiba dan berjalan mendekati Hana. Ia masih mengenakan pakaian mandi. Hana terkejut, ia terlalu sibuk dengan hadiah yang Yura berikan sehingga tidak mendengar suara derit pintu toilet.
Dengan bergegas gadis ini membawa tangannya ke balik punggung untuk menyembunyikan baju kacau itu.
“Ti.. tidak kenapa-napa, Mas sudah selesai mandi?” Tanya Hana berbasa basi. Ia tergagap.
“Itu apa?” Haris lebih tertarik dengan apa yang Hana sembunyikan.
“Bukan apa-apa!” Hana menjawab cepat dengan ekspresi tegang.
"Kalau bukan apa-apa kenapa kamu tegang begitu?" Haris merasa heran dengan gerak gerik Hana.
“Ini bukan apa-apa! Hmh, ini hadiah pemberian Yura. Hadiah antar sesama perempuan”
__ADS_1
“Kalau begitu biarkan aku melihatnya” Haris semakin mendekati Hana.
"Kalau kukatakan bukan apa-apa ya bukan apa-apa, Mas!" Hana jengah.
“Baiklah baiklah, mengapa jadi emosi begitu sih?”
"Siapa juga yang emosi" Hana melebarkan bibirnya ke kanan dan ke kiri sebagai tanda ia memberikan senyuman,... terpaksa.
“Baiklah, kalau begitu cepatlah kamu mandi” Ucap Haris sambil kembali mengusap rambut basahnya dengan handuk kecil. Lagi-lagi Hana mengangguk. Ia membawa serta baju kacau itu besertanya.
“Hana!”
“Ya?” Hana yang sudah hampir mencapai pintu kembali menoleh.
“Mandinya yang cepat, ya.. Aku menunggumu” Ucap Haris pelan dengan tatapan penuh menghujam tepat ke dalam bola mata Hana. Penuh makna.
Hana mengangguk walau sebenarnya ia tidak ngeh dengan makna tatapan Haris tersebut. Tak lupa Hana menyuruh Haris meminum herbal yang telah diseduhnya tadi. Pemuda itu mengiyakan.
Setelah Hana berlalu ke kamar mandi, Haris mengambil gawainya. Ia melakukan panggilan telepon, ada sesuatu yang masih saja mengganggu pikirannya,
“Tolong kamu awasi terus pergerakan Lisa! Aku tidak bisa membiarkannya lolos jika memang ia terbukti terlibat!”
“Siap, Pak!” Ucap orang yang berada di seberang.
Haris masih saja mencurigai Lisa walau Hana membelanya habis-habisan. Bagi Haris, pergerakan gadis itu cukup mencurigakan. Ada beberapa peristiwa yang membuat Haris meragukan sahabat Hana itu. Pertama ketika ia menjenguk Arini di rumah sakit ketika Arini mengalami kecelakaan, Lisa dan Hanum sedang membicarakan sesuatu di sana dan Mereka terlihat snagat akrab.
Kedua, Pas dipersidangan. Bukan suatu kebetulan, Hanum yang ketika itu sudah terpojok malah mendatangi Lisa dan bersikap brutal. Benar-benar suatu kebetulan yang tidak bisa dimaklumi. Pikir Haris. Perihal Lisa ini terus saja memenuhi isi kepalanya. Ia agak terganggu dan tidak bisa berhenti sebelum mengetahui kebenarannya.
Penglihatan Haris beralih ke isi pesan wattsapp, ada pesan dari Ibu beberapa jam lalu yang belum dilihatnya,
Nak, perlakukan Hana dengan baik. Ibu menunggu oleh-oleh cucu dari kalian.
Haris tersenyum membacanya. Ia pun membuka youtube dan melihat kembali doa-doa penting yang pada masa 'Aliyah dulu telah dipelajarinya dari para Ustaz tersohor.
***
“Sudah ku katakan aku akan menikahimu! Mari kita menikah! Aku juga ingin kamu bertaubat dan mengakui kesalahan serta dosa-dosa mu pada Hana!” Ucap Romi penuh ketegasan. Ini adalah kalimat yang sama kesekian kalinya yang pria itu katakan untuk meyakinkan Arini setelah mereka bermalam bersama hampir dua bulan yang lalu.
“Sudah berkali-kali juga kukatakan, aku hanya mencintai Haris. Stop menghantuiku! Aku membencimu!! Simpan semua angan-anganmu itu” Arini mengeraskan hatinya. Ia berucap angkuh.
“Kamu pikir Haris akan menerimamu?? Apalagi dengan keadaan….” Romi menatap Arini dari atas sampai kebawah. Ia sudah kehabisan kata-kata membujuk Arini.
“Keadaan apa?? Dasar Iblis!! Kamu mengambil kesempatan dalam kesempitan. Kamu memanfaatkan kelemahanku! Kamu sudah merenggut hartaku yang paling berharga!!” Arini memaki Romi dengan mata yang berapi-api.
“Aku akui aku salah. Aku sama sekali tidak bisa menahan diriku, kita bersama dengan posisi yang begitu dekat dan dalam waktu yang lama. Pria mana yang bisa menahan dirinya? Bahkan walau tidak ada cinta dihatinya. Apalagi
aku yang menyukai mu. Sedari awal kamu sudah mengetahui itu. Maka aku akan mempertanggungjawabkan perbuatanku” Romi berkata lirih.
“Aku akan tetap memperjuangkan mas Haris”
“Bagaimana jika ternyata kamu hamil?!”
Plaakkk. Arini menampar Romi, tamparannya cukup tajam. Ia melototkan mata merahnya lalu Ia berlalu pergi meninggalkan Romi yang masih mematung.
Di suatu tempat yang tidak diketahui oleh siapapun, Arini mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Ia kembali melihatnya setelah sebelum bertemu Romi tadi ia juga melihatnya.
Terdapat garis dua berwarna merah pada benda tersebut. Arini meremasnya.
***
__ADS_1