
Dddddrrrtt Drrrtttt
Panggilan dari Yahya memenuhi layar. Hana yang tengah menghayati lantunan bacaan al-Qur’an yang keluar dari mulut sang suami seketika mengecek handphone yang ada di dekatnya.
“Mas, Ustadz Yahya memanggil”
Haris menoleh setelah menyelesaikan ayat hingga ke tanda waqaf (tanda berhenti). Beliau menutup al-Qur’an dengan menopang lembaran tersebut menggunakan dua jari tangannya.
“Assalamu’alaikum Gus, aku dan Iqlima sudah berada depan kamarmu. Keluarlah! Abah meminta kita untuk kembali ke ruang rapat”
“Baik Mas. Sebentar!”
Tiit Tiiit
Yahya memutuskan sambungan telepon. Laki-laki ini melirik sang istri dengan tatapan penuh kritik. Tadi diam-diam abah mengirim pesan untuk membawa Iqlima kembali serta, sebab akan membicarakan perkara hukum. Mengingat Iqlima merupakan seorang Advokat.
“Mengapa mas menatapku seperti itu?” Iqlima melirik ke arah pakaiannya. Apa ada yang salah? Sebab tempo hari Yahya pernah mengkritik tentang kerudungnya.
“Tidak. Aku hanya sedang ingin menatapmu. Sedang ingin berlama-lama menatap. Itu saja” Sahut Yahya diplomatis. Tiba-tiba Iqlima merasa jantung nya berdetak lebih kencang. Namun ia tidak cukup percaya diri akan kalimat yang suaminya lontarkan.
Masih di dalam kamar, Haris benar-benar menutup mushafnya.
“Sayang, apa sekarang kamu sudah merasa lebih baik?” Tanya Haris mengusap pelan pipi Hana. Keteduhan mata sang istri membuatnya merasa tenang.
“Harusnya aku yang menenangkan mas. Ini malah sebaliknya”
Haris tersenyum syahdu mendengar penuturan sang istri. Ia mengambil tangan Hana lalu mengecup lembut perlahan.
“Terima kasih sudah setia mendampingiku menghadapi hari-hari buruk ini. Aku menghadap Abah dulu, hm? ” Haris angkit tanpa menunggu jawaban dari Hana.
“Mas…”
“Ya?” Haris menoleh.
“Hari-hari yang harus kita lalui memang tidak selalu menyenangkan. Aku tidak dapat berjanji untuk bisa memperbaiki semua masalah, tetapi aku bisa berjanji kalau mas tidak akan harus menghadapinya sendiri” Ucap Hana masih dengan mata berkaca-kaca.
Seketika Haris berbalik arah. Ia kembali mendekat lalu mengecup puncak kepala sang istri penuh kasih sebelum akhirnya melangkah keluar. Tak lupa pemuda ini menyematkan senyuman di sana.
“Gus, aku ingin kita berbicara sejenak sebelum menemui abah! Maaf, sebenarnya aku terlalu malu untuk bisa berhadapan seperti ini dengan mu setelah adanya rekaman video dan keterlibatan Ummi. Namun aku tidak punya pilihan lain” Ucap Ustadz Yahya dengan suara yang terdengar pelan. Energinya sendiri sudah terkuras akan fakta-fakta yang terkuak.
“Aku kuat mas. Mas Yahya tidak perlu khawatir. Ini semua juga tidak ada sangkut pautnya dengan mas” sahut Haris menyunggingkan sedikit senyum. Hambar.
Pemuda ini mengikuti gerak Langkah kakak angkatnya itu ke ruang kerja. Yahya mempersilahkan Haris mengambil tempat. Mereka duduk saling berhadapan. Sedang Iqlima menepi duduk di pojokan memainkan handphone-nya.
“Gus Haris… Sebenarnya…” Yahya mulai menceritakan apa yang terjadi di ruang rapat sejak Haris meninggalkan ruangan. Yahya ingin menjelaskan bahwa Ummi-nya tidak terlibat dalam pembunuhan almarhum Hasbi. Yahya merasa ia harus mengatakan ini sebelum menghadap abah agar semua terang dan tidak ada kesalahpahaman.
Biarlah urusan rumah tangga abah dan ummi nya menjadi urusan mereka berdua. Bagaimana pun Yahya sangat menyayangi ibu-nya. Seburuk apapun perbuatan sang ibu, beliau tetaplah ibunya. Ibu yang sudah melahirkannya.
“Apa? Bu Indah? Ibunya Arini?!” Haris benar-benar terkejut mendengarnya. Kenyataan baru yang sulit dipercaya.
“Ummi tidak mungkin berbohong. Ummi sudah di sumpah menggunakan kitab suci al-Qur’an. Kamu hanya perlu mengusut kasus ini, Gus!” Ucap Yahya.
***
__ADS_1
Di dalam ruang rapat. Haji Zakaria menatap lekat sang istri yang berwajah sembab.
“Baiklah. Abah lelah. Sekarang tolong jawab pertanyaan Abah... Ummi telah melakukan sumpah menggunakan al-Quran. Sudah tentu akan menjawab pertanyaan abah dengan jujur" Ucap Haji Zakaria bersiap mengajukan pertanyaan. Hajjah Aisyah yang menangis mendekati sang suami.
"Pertanyaan pertama: Siapakah laki-laki kekasih Ummi itu?
"Pertanyaan kedua: Ketika perselingkuhan kalian sedang berlangsung, apa Ummi dan laki-laki itu pernah melakukan hubungan badan?”
"Pertanyaan ketiga: Apa Yahya itu benar-benar anak kita? Anak kandung Abah? " Hajjah Aisyah spontan menelan ludah. Pertanyaan yang sangat tidak terduga.
Tamatlah riwayatmu Aisyah! Bu Hajjah menutup mata. Jantungnya berdetak bertalu-talu. Ketukannya begitu kencang. Organ sentra tersebut memompa lebih cepat dari biasanya.
“U… Ummi… U.. Ummi” Hajjah Aisyah terbata. Wajah beliau berubah pucat pasi.
“Tolong di jawab Ya Aisyah Humaira!” Titah Haji Zakaria menggelegar. Kesabaran beliau menipis.
“Ka.. Kalau setelah Ummi mengatakan ini semua, apakah abah bisa berjanji untuk tidak akan menceraikan Ummi?” Tanya Hajjah Aisyah sendu.
Haji Zakaria kembali menarik nafas dalam-dalam. Rongga dada beliau terasa kian menyempit.
“Apa membahas hal tersebut begitu penting bagi Ummi?! Apa yang Ummi harapkan dari keutuhan rumah tangga yang didasari oleh sebuah penghianatan?!” Tanya Haji Zakaria tersenyum miris.
“Dengar! Saat ini kita bukan membahas tentang pernikahan, perceraian atau mempertahankan rumah tangga. Namun kita sedang membahas permasalahan Ummi. Ini semua tentang Ummi. Tentang Kecurangan Ummi dalam menistakan rumah tangga ini!!”
“Itu adalah hal yang utama! Untuk bahasan selanjutnya, akan abah putuskan setelah mendengar jawaban utuh!” Ucap Haji Zakaria tegas. Sorot mata terluka menghias di sana.
Tok Tok Tok
“Duduklah Ananda sekalian!”
“Ananda Haris….” Suara haji Zakaria terdengar semakin parau.
“Abah percaya Ummi-mu bukanlah seorang pembunuh”
“Iya bah, Haris sudah mendengarkan semuanya dari mas Yahya mengenai hal ini. Haris percaya. Haris Sami’tu wa Atha’tu (Haris mendengar, Haris taat)” Ucap Haris tanpa banyak bertanya. Hajjah Aisyah merasa sedikit lega.
“Lalu apa kamu akan mengusut kasus ini nak?!”
“Hmh… Di usut juga percuma bah, peristiwa ini sudah begitu lama berlalu. Mungkin pada akhirnya Haris akan memilih untuk ikhlas” Lirih Haris sendu.
Jujur saja, Ia yang baru mengalami kehilangan tidak memiliki semangat dan gairah apa pun. Hanya Hana dan calon bayi kembarnya saja yang menjadi titik fokus untuk saat ini. Itu juga dengan usaha yang tidak mudah, dengan upaya mati-matian terlihat tegar agar tidak terlalu membebani pikiran Hana. Haris merasa ia harus bertanggung jawab menjaga kesehatan mental sang istri yang sedang mengandung anaknya itu.
“Baiklah. Abah akan menghormati apapun keputusanmu. Tapi abah masih menganggap ini semua adalah keputusan sementara sebab lukamu belum mengering awan duka juga masih menyelimuti…”
Haris hanya bisa diam.
“Ananda yang Allah Rahmati, tidaklah musibah dan kesedihan menimpa kecuali Allah swt akan menaikkan derajatmu. Seorang pria sejati memang kerap hidup dalam kondisi yang sulit lagi keras. Ini termasuk dalam sunatullah. Semua manusia punya ujian hidup menurut tingkatan dan kemampuan masing-masing. Kita tidak bisa melepaskan diri dari ini semua”
“Ananda, kenyataan pahit memang tidak bisa di elak. Begitulah fakta yang ada. Tapi Kamu harus bergerak menghalau perasaan negatif itu. Karena dirimu sendiri adalah tonggaknya. Kamu adalah pemimpin bagi dirimu sendiri” Haji Zakaria memberikan wejangan dengan Bahasa begitu halus namun memiliki kekuatan. Haris mencoba mencerna setiap kata yang abahnya ucapkan dengan baik. Betapa ayah angkatnya itu ingin agar ia tidak mudah menyerah.
“Hhhhh Baiklah, mari kita fokus pada permasalahan. Ummi memang tidak terlibat dalam peristiwa yang menyebablan hilangnya nyawa abahmu. Tapi….”
“Ummi mengetahui semua rencana ini tapi malah mengabaikannya. Apalagi Ummi sudah dengan jelas mengetahui bahwa pemilik rencana tersebut adalah Indah!”
__ADS_1
Deg.
Hajjah Aisyah dan semua orang yang ada di ruangan spontan mendongak. Haris sama sekali tidak terpikir ke arah sana. Isi kepala nya seakan membeku. Abah Zakaria memang begitu kritis dan logis.
“Nak Iqlima, bagaimana menurut hukum jika seseorang mengetahui suatu kejahatan fatal tapi malah mendiamkannya? Kalau dari sudut pandang islam, hal ini jelas sekali salah. Apalagi menyangkut hilangnya Nya.wa Se.se.o.ra.ng!” Ucap Haji Zakaria penuh penekanan. Seperti enggan memberi ampun. Beliau terus menggiring kasus menemui titik terang.
“Bah, tapi mungkin Ummi tidak memikirkan ke arah sana sebab Ummi pikir setelah beliau membatalkannya, maka masalah usai…” Potong Ustadz Yahya membela ibunya.
“Nak, kamu memang mencintai Ummi-mu, tapi jangan campur adukkan perasaan pribadi demi membela sesuatu yang salah. Bahkan duri dalam daging-pun harus kita singkirkan walau diri kita sendiri akan merasakan rasa sakitnya. Demi sebuah kebaikan, kamu harus menahan rasa sakit itu!”
Yahya terdiam.
“Silahkan dijelaskan nak Iqlima!”
Hajjah Aisyah menatap Iqlima dengan wajah penuh ancaman.
“Hmh… bahasan mengenai setiap orang yang mengetahui adanya niat untuk melakukan suatu tindak pidana, hal ini diatur dalam Pasal 165 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”), penjabarannya lumayan panjang. Tapi Iqlima akan membahasakannya dengan lebih singkat"
“Barang siapa yang mengetahui adanya niatan untuk melakukan kejahatan berdasarkan pasal-pasal 104, 106, 107 dan 108, 110 – 113, dan 115 – 129 dan 131 atau salah satunya adalah pembunuhan berencana, maka merujuk dalam bab VII pada kitab undang-undang, sepanjang kejahatan itu dapat membahayakan nyawa orang lain dan masih ada waktu untuk mencegahnya. Serta dengan sengaja tidak segera memberitahukannya kepada pejabat kehakiman atau kepolisian atau kepada orang yang terancam. Jika kejahatan itu benar-benar di lakukan, maka orang yang mengetahui mendapat hukuman pidana paling lama sembilan bulan penjara"
“Jadi, apakah seseorang yang mengetahui suatu tindak pidana dapat dikenakan hukuman atau tidak, jawabannya adalah dapat dikenakan hukuman, jika orang tersebut tidak melaporkan kepada pihak yang berwajib mengenai adanya tindak pidana yang ia ketahui” Terang Iqlima berdasarkan pengetahuan ilmu hukumnya.
Iqlima….!!! Dasar menantu tidak tau diri!!! Awas kamu!!! Pekik Batin Hajjah Aisyah.
“Bagaimana nak?” Tanya Haji Zakaria menyentak lamunan Haris.
“Haris akan menyelidiki kasus ini bah! Haris akan membuat ibu Indah mengakui perbuatannya!”
“Nak Haris, Nak.... jangan hukum Ummi. Jangan perkarakan Ummi. Ummi khilaf nak! Jangan hukum Ummi hanya karena Ummi terlalu mencintai Abah!” Hajjah Aisyah memohon. Air mata Haris mengalir. Haji Zakaria hanya bisa menutup erat kedua kelopak matanya.
“Masalah ini sudah begitu lama berlalu. Haris akan melepaskan Ummi dari jerat hukum sebagai bentuk terima kasih karena Ummi tidak terlibat dalam pembunuhan Abah…” Haris menjeda kalimatnya. Ia mengusap air mata yang mengalir begitu saja tanpa bisa dicegah.
“Haris lega bahwa Ummi tidak jadi menyewa pembunuh bayaran. Haris tidak tau apa jadinya jika hal tersebut terjadi. Hati ini akan hancur. Bukan lagi berkeping-keping, melainkan terburai berantakan tanpa bisa di satukan lagi. Karena rasa sakit yang ditorehkan oleh kerabat dekat, orang yang disayangi dengan sepenuh hati, dihormati, dicintai melebihi dirinya sendiri. Itu sangat-sangat lah sa..kit”
“Tapi… kenyataan bahwa Ummi mengetahui perkara pembunuhan berencana, mengikuti ego Ummi serta mengabaikan hal ma’ruf membuat Haris benar-benar ke.ce.wa!”
“Walau kematian adalah bagian dari takdir. Setidaknya Ummi berempati untuk mencegah. Sebagai wanita, apakah Ummi pernah berpikir bagaimana Ummi Fatma melewati ribuan malam dalam kesepian? Apakah Ummi pernah membayangkan bagaimana malam-malam itu berlalu dengan penuh kerinduan tanpa tau bagaimana cara mengobatinya? Lalu disaat bersamaan, ia harus membesarkan putranya yang masih kecil seorang diri. Seorang anak yang masih sangat membutuhkan sosok ayah untuk tumbuh kembangnya. Tapi Ummi dengan santainya melindungi diri bersembunyi di balik kedok cinta. Padahal sebenarnya Ummi tidak mencintai abah. Melainkan terlalu mencintai diri sendiri”
"Jika benar Ummi mencintai abah, harus nya Ummi meneladani sikap abah. Ummi tau persis bahwa abah tidak akan membiarkan kejahatan terjadi jika memang mengetahui nya. Tapi Ummi malah menistakan itu semua! Cinta seperti apa yang Ummi agungkan?! Maaf jika ananda lancang. Pendidikan ananda memang lah tidak setinggi Ummi. Tapi setidaknya ananda masih memiliki hati nurani" Kalimat-kalimat yang Haris lontarkan begitu menohok. Hajjah Aisyah tidak bisa berkutik. Bagai dikuliti, Beliau terperangkap dalam tatapan tajam penuh angkara murka. Terutama tatapan Haji Zakaria. Dalam diam, Ulama shalih itu seakan berkata,.
Aisyah, urusan kita juga belum selesai~
***
Pasti nungguin jawaban hajjah Aisyah tentang perselingkuhan kan?? Hehe
Man Teman, mohon bersabar ya... permasalahan nya kita kupas satu persatu dulu. Baru setelah itu kita ungkap hal yang lebih besar. Biar alur-nya pas. 🥺🤍
Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih banyak ^^ Jazakumullah Khairal Jaza'. Semoga Allah memudahkan semua urusan kita ❤
IG @alana.alisha
***
__ADS_1