Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 60: Firasat Ummi


__ADS_3

Di Ruang Rawat Inap


Hana, Yura dan Lisa masih berbincang dengan riangnya. Mereka saling menumpahkan rasa suka cita juga asa dan lara seperti biasa. Yura mengatakan bahwa hubungan nya dan Ridwan sudah mengalami perkembangan, tentu saja Hana begitu senang mendengarnya. Jika tidak ada aral melintang, dengan izin Allah liburan semester depan ia akan dilamar. Alhamdulillah 'alaa Kulli Haal.


"Masya Allah, aku ikut bahagia mendengarnya" Hana memeluk erat Yura dengan mata yang berkaca-kaca.


"Aku sudah yakin, mas Ridwan adalah orang baik yang gentleman" Hana menambahkan dengan mengacungkan jempolnya.


Lisa hanya diam mendengarkan, dalam hati ia merasa kesal bahwa teman-temannya bisa mendapatkan apa pun yang mereka inginkan, berbeda dengan nya yang memiliki kisah cinta tak seindah yang ia harapkan.


"Kamu bagaimana, Lisa? aku penasaran siapa orang yang kamu taksir, aku tidak pernah mendengar kisah mu! Ayolah ceritakan pada kami" Hana melihat ke arah Lisa, temannya itu pun menoleh.


"Haha, mungkin aku akan memilih menjomblo seumur hidup" Tukas Lisa sambil menatap tajam ke arah Hana.


"Ha? Benarkah?? kamu jangan mengada-ada, Lis! perkataan bisa jadi do'a lho! " Yura memperingatkan.


Huh, tau kah kamu kalau aku sangat mencintai kakakmu yang keras kepala itu? Kamu memang selalu saja lebih memperhatikan dan peduli terhadap Hana dibandingkan aku. Batin Lisa kesal.


"Lisa, kamu baik-baik aja kan? kenapa diam? " Hana mengkhawatirkan Lisa yang tidak seperti biasanya.


"Aku baik-baik saja kok, aku ikut bahagia mendengar Yura yang tengah berbahagia, selamat ya! " Lisa mengelus pundak Yura seolah ikut merasakan kebahagiaan yang sama.


Mereka bertiga tersenyum bahagia saling menatap satu sama lain. persahabatan yang indah~ seolah-olah.


Tiga sahabat masih asik berbincang ketika Haris berjalan kian mendekat ke ruang rawat inap, ia mendengar banyak suara di dalam.


"Assalamu'alaikum" Haris mengucapkan salam ketika berdiri di ambang pintu.


Para gadis yang berada di dalam ruangan pun menoleh,


"Waalaikumsalam" Mereka bertiga menjawab serempak sambil menoleh ke arah pintu.


"Mas?" Hana tidak menyangka Haris akan pulang secepat ini.


" Bagaimana keadaanmu? " Haris berjalan mendekati Hana sedangkan Yura dan Lisa memilih untuk agak mundur ke belakang.


"Alhamdulillah semakin baik, apalagi aku kedatangan teman-teman yang membuat semangatku bertambah, kenalkan mas, ini teman-teman ku! " Hana menjawab dengan ceria.


"Alhamdulillah, Terima kasih sudah datang menjenguk Hana" Haris menyapa ramah Lisa dan Yura yang juga membalas Haris dengan senyum ramah.


"Sudah merupakan kewajiban kami untuk menjenguk sahabat kami, di lain waktu kami masih boleh menjenguknya lagi kan mas? " tanya Yura meminta izin dari Haris


"Tentu saja, asal Hana senang dan bersemangat, kalian boleh mengunjungi nya kapan saja" Haris melirik Hana kemudian mengelus puncak kepalanya sambil menyelipkan anak rambut yang sedikit menyembul kelihatan ke dalam jilbab lebarnya.


Yura dan Lisa saling melirik dengan sedikit mengerling iseng ke arah Hana, gadis itu menjadi salah tingkah.


"Hmh, kalau begitu kami permisi dulu, Hana! cepat sembuh, nanti kami akan kembali berkunjung" Ucap Yura.


"Terima Kasih untuk kunjungan nya, I am so happy today! " Hana berkata dengan tulus, wajah ceria nya tidak mampu ia sembunyikan.


Yura dan Lisa mengangguk bersamaan, tak lupa mereka juga pamit pada Haris yang masih berdiri di samping Hana, namun belum sempat mereka keluar ruangan, pintu ruang di mana tempat Hana dirawat kembali terbuka,, ternyata Ummi dan Abah Hana yang berkunjung.


"Assalamu'alaikum" Ummi dan Abah memberi salam.


Mereka yang berada di dalam ruangan menjawab salam serempak.


"Ya Allah Hana, mengapa jadi begini, nak? " Ummi berjalan mendekati Hana sambil meneteskan airmata.


"Hana baik-baik saja Ummi, Hana sudah sehat kok, Ummi jangan khawatir ya" Hana memegang tangan Ummi.

__ADS_1


"Ketika di rumah, Ummi-mu sudah merasa tak enak hati, ternyata benar kamu memang sedang sakit. Batin ibu seringkali benar" Ucap Abah, Hana semakin menggenggam tangan Ummi, tak bisa dipungkiri ia sangat merindukan ibu yang telah melahirkan nya tersebut. Untuk sesaat, mereka berada dalam keheningan.


" Hmh, Kalau begitu kami permisi. Abah, Ummi, kami pamit" Kali ini Lisa meminta izin kepada Ummi dan Abah. Orang tua Hana itu pun menoleh ke arah mereka berdua.


"Masya Allah, ini teman-temannya Hana ya? Mengapa cepat sekali pamitnya nak? Ummi bawa banyak bekal makanan, ayo kita makan dan cicipi bersama" Ajak Ummi.


"Kami sudah lumayan lama di sini Ummi dan kami juga sudah kenyang, Terima kasih" jawab Lisa.


"Ayolah, sedikit saja" bujuk Ummi


"Baiklah, masakan Ummi sudah pasti enak" Yura mengiyakan, ia merasa tidak enak jika menolak tawaran dari ibu Hana, lagipun tidak ada salahnya makan sebentar, toh mereka juga tak punya agenda lain hari ini.


Haris melihat bekal yang Ummi bawa, bermacam aneka lauk dan cemilan enak. Ia yang tengah menenteng kantung berisikan makanan untuk Hana dan berniat untuk dimakan bersama nantinya, menjadi lesu dan mundur teratur.


***


Masih di rumah sakit, Lisa dan Yura sudah pamit pulang setelah menyantap makanan dan berbincang ringan dengan Abah dan Ummi.


Haris dan Abah duduk di sudut ruangan, mereka berdua saling berbincang bersama.


"Nak, bagaimana kata dokter? " Abah bertanya kepada Haris


"Dokter berkata akan mengobservasi Hana dalam 3 hari ini, jika Hana terlihat semakin membaik, maka ia akan diizinkan pulang, Bah" jelas Haris


"Sebenarnya Hana kenapa, nak? " Tanya Abah sambil menatap serius ke arah Haris.


"Hana tidak kenapa-kenapa bah, tiba-tiba saja Hana merasa pusing ketika kami mengikuti acara kantor" jelas Haris yang tidak berani menatap Abah, ia tidak sepenuhnya berbohong.


"Maaf kan Haris belum bisa menjadi suami yang baik untuk Hana, Haris masih lalai sehingga Hana harus masuk ke rumah sakit, bah" Haris terus saja menunduk, ia memang segan terhadap Abah sang mertua sekaligus merupakan guru fiqh nya di pengajian.


"Tidak nak, apakah kamu lupa firman Allah SWT dalam Qur'an Surat At-Taghabun Ayat 11-13:


قَلْبَهُۥ ۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ


11. Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.


وَأَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ ۚ فَإِن تَوَلَّيْتُمْ فَإِنَّمَا عَلَىٰ رَسُولِنَا ٱلْبَلَٰغُ ٱلْمُبِينُ


12. Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-Nya, jika kamu berpaling sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.


ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ


13. (Dialah) Allah tidak ada Tuhan selain Dia. Dan hendaklah orang-orang mukmin bertawakal kepada Allah saja.


Tentang firman Allah SWT: “Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah”, Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi dalam An-Nafahat Al-Makkiyah menjelaskan ini berlaku secara umum untuk berbagai musibah yang menimpa diri, harta, anak, orang-orang tercinta, dan lainnya. " Jelas Abah seraya memberikan wejangan pada Haris.


"Semoga Allah senantiasa memberikan kita kesehatan dan keselamatan dimanapun kita berada, nak" Ucap Abah lagi


"Aamiin yaa Rabbal 'aalamiin"


Abah dan Haris memang tengah berbincang berdua, namun seluruh pembicaraan mereka dapat didengar sepenuhnya oleh Ummi dan Hana.


"Nak, benar kamu pusing-pusing? " Tanya Ummi menatap Hana. Hana mengangguk kan kepalanya.


"Apa kamu juga muntah-muntah? "


"Hmh, iya benar mi" jawab Hana.


"Nak, kamu sudah testpack? mungkin saja kamu hamil. Ya. Mungkin kamu hamil nakk! " Ucap Ummi bersemangat, Ummi memang sangat ingin memiliki cucu dari anak perempuan satu-satunya itu.

__ADS_1


Haris yang tengah meneguk minumannya hampir saja memuntahkan isinya. Bagaimana mungkin Hana bisa hamil? Menyentuh nya saja ia tidak pernah.


"Tidak mungkin mi, Hana baru saja selesai Haid" lirih Hana dengan suara pelan.


"Hmh, tidak apa-apa nak, semoga Allah segera memberikan kalian anak keturunan, Ummi dan Abah sudah tidak sabar rasanya menggendong cucu" Ucap Ummi menyemangati.


Anak? Entah mengapa hati Haris menghangat mendengar doa Ummi, ini bukan pertama kalinya Ummi berdoa dan menyinggung tentang anak di hadapan mereka, namun tuk kali ini, untuk pertama kalinya, Haris menjadi ingin memiliki nya setelah sebelum-sebelumnya ia merasa datar dan biasa saja. Akankah bisa?


***


Azan Ashar sudah berkumandang, Haris dan Abah hadir untuk shalat berjamaah di mushala rumah sakit. Tinggal-lah Ummi dan Hana berdua di ruangan.


"Bagaimana perasaanmu terhadap suamimu sekarang, nak? " tanya Ummi sambil mengusap kepala Hana.


"Hana masih tidak tau, Mi" Hana berkata jujur sebab ia memang masih ragu akan perasaan nya.


"Apakah kamu nyaman berada didekatnya? "


Hana mengangguk.


"Apakah kamu pernah merindukan nya ketika kalian berjauhan?"


Hana kembali mengangguk.


"Apakah ada rasa sakit jika seandainya kamu mengetahui bahwa suamimu menyukai wanita lain? " Hana berfikir sejenak dan lagi-lagi ia mengangguk.


Ummi tersenyum.


"Mungkin cinta memang telah bersemi dihatimu, hanya saja kamu tidak menyadari nya nak"


Hana terdiam terpaku mendengar perkataan Ummi.


"O iya, tadi itu siapa temanmu? Yura dan siapa ya yang satu lagi? " Tiba-tiba saja Ummi teringat pada teman-temannya Hana.


"Lisa maksud Ummi? " Ummi memang lebih mengenal Yura dibanding Lisa.


" Hmh, tentang si Lisa itu, maaf.. entah mengapa Ummi merasa ia bukanlah orang yang tulus nak"


"Maksud Ummi bagaimana? " Hana masih bingung dan belum berhasil mencerna perkataan Ummi.


"Ummi merasa gadis itu memiliki niat tersembunyi, tapi ini hanya firasat Ummi saja. Ah, tapi kita juga tidak boleh menduga-duga"


"Insya Allah Lisa orang yang baik, Mi. Hana, Yura dan Lisa sudah lama berteman baik, semoga semua baik-baik saja"


"Aamiin yaa Rabb, tapi tetap saja kamu harus berhati-hati nak" Ummi masih saja mencemaskan Hana.


Gadis itu mengangguk mengikuti perkataan Ummi nya walau ia merasa sang Ummi sedikit berlebihan. Insya Allah Lisa adalah orang baik yang berhati tulus seperti yang selama ini ia kenal.


***


Di Kediaman Arini


"Bagaimana persiapannya? " tanya Hanum kepada Lisa


"Sudah 65 persen, sedikit lagi rencana sudah bisa kita jalankan"


Hanum mengangguk sambil tersenyum. Arini masih terdiam mematung tanpa mengatakan apapun, ia mengikuti arus rencana teman-temannya. Kemana saja arus tersebut bergerak mengikuti muaranya, akan ia pun akan mengikuti.


***

__ADS_1


__ADS_2