Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 71: Rabbi, Ku Titipkan Rasa Rinduku Pada-Mu!


__ADS_3

Pesawat yang Gibran tumpangi mendarat sempurna di Bandara, ia kembali ke Indonesia lebih cepat dari perkiraannya semula. Setelah segala urusan di imigrasi selesai, ia langsung bergegas menuju ke kantor polisi.


Gibran, kamu dimana? Mengapa tidak menghadiri seminar tuan Assegaf?


Ni Rui teman nya di Maroko bertanya melalui pesan Wattsapp, ternyata mereka telah bertukar no handphone.


Gibran mengabaikan pesan tersebut, ia pikir nanti saja ia akan membalasnya. Sekarang ada yang lebih mendesak yang harus ia bereskan, beberapa hari ini hatinya cemas tak karuan, sejak mendapat kabar dari Ridwan tentang Yura dan Hana, ia sama sekali tidak berkonsentrasi terhadap apapun.


Kepulangan Gibran kali ini tidak membawa banyak barang seperti biasa, bahkan ia hanya membawa satu pasang baju yang saat ini di kenakan ditubuhnya. Maka dari itu sangat memudahkan langkahnya untuk langsung ke kantor polisi dan tidak harus singgah ke rumah terlebih dahulu.


Haris dan Ridwan baru saja menemui pengacara saat Gibran tiba di lokasi tujuan, pengacara mengatakan bahwa sidang pertama kasus Hana dan Yura akan dilaksanakan segera dalam waktu dekat.


Gibran muncul dan bergabung bersama Haris dan Ridwan yang terlibat dalam diskusi panjang.


Pada kasus penculikan, mereka hanya bisa menyeret satu nama saja, yaitu Hanum sebagai tersangka utama. Sedangkan pada kasus narkotika, mereka belum menemukan bukti khusus yang bisa menyudutkan pelaku.


"Arini akan terbebas dari semua masalah ini" Ridwan tersenyum pahit. Mereka semua telah mengetahui jalan kronologi kejahatan, namun belum memiliki bukti yang signifikan untuk menyeret semua tersangka sekaligus.


"Arini bisa cuci tangan terhadap kasus ini" lanjut Ridwan lagi, ia merasa prihatin atas semua ini. Haris diam saja.


"Bagaimana pun mereka harus membayarnya, sungguh! " Ridwan masih terus membebel. Haris berpikir keras.


Arini tidak hanya bisa terlepas dari ini semua namun ia juga akan menjadi pahlawan dalam kasus penculikan, apalagi ia melakoni peran utama dalam kasus penyelamatan yang berhasil menggerakkan Gibran. Brilliant.


"Kamu harus berbicara pada Arini! Ia harus bersedia untuk menjadi saksi utama demi terbongkar nya semua lika liku kasus ini, persetan ia di penjara atau tidak, aku hanya ingin Yura dan Hana selamat!!!" Gibran bersuara, ia menatap tajam ke arah Haris. Keegoisannya muncul.


"Kamu pikir, kamu saja yang ingin mereka selamat, Hah??! Aku lebih menginginkan nya daripada kamu! " Haris memandang Gibran dengan pandangan tidak suka.


"Lalu kenapa kasus ini tidak juga selesai? Malah menambah masalah baru!! Think twice, Kamu harus mempertanggung jawabkan ini semua!!!" Tambah Gibran lagi. Haris Berang, ia mencengram kerah leher Gibran.


"Stop stop! kalian pada kenapa sih? bukan saat nya baku hantam!! kalian harusnya malu sama Hana dan Yura, bukannya kita cari solusi di sini, malah memperkeruh suasana! kalian kamu dijebloskan ke penjara sekalian?? " Ridwan emosi melihat kelakukan kekanak-kanakan Ridwan dan Haris. Wajar aja sih, mereka berdua memang memiliki sentimen pribadi.

__ADS_1


Mendengar ucapan tajam Ridwan, Haris dan Gibran pun tersadar kalau mereka salah. Memang sekarang bukan lah saat yang tepat untuk saling menyalahkan. Mereka harus menemukan solusi dan memecahkan masalah yang sudah lama berlarut ini.


***


"Hana akan bebas dengan sangat mudah, aku akan membeberkan semua nya di pengadilan, aku juga punya semua bukti chating dan voice note tentang penjebakan ini, tapi ada syaratnya, mas! " Arini menatap beku ke arah Haris, ia sudah berubah, bukan lagi Arini manis yang Haris kenal dulu.


Haris dan Arini duduk bersama di taman kota. Haris ingin wanita itu mengakui semua kejahatan yang komplotannya lakukan.


"Apa itu? " Tanya Haris


"Jadikan aku istrimu"


Spontan Haris menoleh mendengar permintaan Arini.


"Ini konyol, Ini Gila, Rin! "


"Aku serius mas! Jangan buat aku berpikir dua kali" Ancam Arini.


"Akan kulakukan demi kamu" Ucap Arini mantap.


"Apa yang kamu harapkan dariku? Aku tidak memiliki apapun. Tolong jangan buat aku harus menghianati Hana, sungguh aku tidak ingin melukai nya, selama ini aku hanya bisa menorehkan penderitaan di hidupnya" Haris nelangsa.


"Mas pikir aku tidak menderita? Bukankah Hana yang sudah merebut mas dariku?? Katakan dimana letak keadilan itu mas! Aku sudah mengatakan ini berkali-kali pada, mas" Arini melototkan matanya. Haris menggeleng-gelengkan kepala.


"Sudah tidak ada cinta di hatiku untukmu, Rin" Haris berkata lirih.


"Aku tidak butuh cintamu, mas, aku hanya butuh kamu membersamaiku, itu saja" Haris kehabisan kata-kata.


"Kamu sudah berubah, aku sungguh tidak mengenalmu lagi" Haris benar-benar tidak menyangka Arini akan jadi begini.


"Aku berubah karena mu, aku berubah karena kamu!! jangan salahkan aku!! apa sedikitpun kamu tidak bisa memahami rasa sakitku? "

__ADS_1


"Maaf, aku tidak bisa menerima permintaan gilamu, aku ingin fokus dengan kehidupan rumah tangga ku. Aku hanya ingin membahagiakan Hana" Ucap Haris tegas, tidak ada keraguan di matanya.


"Kalau begitu jangan salahkan aku jika aku tidak bisa membantu apapun untuk menyelamatkan istri tersayangmu itu" Arini sangat kesal. Ia bangkit dari duduk nya.


"Baik. Aku merentangkan sayapku lebar-lebar, kapan saja kamu berubah pikiran dan datang padaku, Aku akan menerimamu" Ucap Arini untuk terakhir kalinya sebelum mereka berpisah.


Haris menatap kepergian Arini yang semakin menjauhinya. Seperti boom waktu, cepat atau lambat ia harus memberikan jawaban akan keputusan nasib pernikahannya.


Ia sudah berprinsip, jika ia menjalankan pernikahan maka tidak ada yang nama nya poligami dalam kehidupan rumah tangga nya. Tapi jika sudah begini, apa yang harus ia lakukan? Haruskah ia melepaskan Hana agar gadis itu bahagia? Haruskah ia merelakan Hana agar semua kejahatan terungkap? tapi bagaimana dengan dirinya sendiri? ia bahkan belum sempat mengungkapkan cinta kepada Hana. Ia bahkan belum sempat mengajaknya melihat purnama yang lebih indah. Rabbi...


Haris menangis dalam kesendiriannya. Hana, aku sungguh merindukan mu.


***


Hana larut dalam sujud panjangnya. air mata mengalir menemani kesendirian dan rasa sepinya, bahkan rasa sepi ini lebih menyakitkan dari semua rasa sakit yang telah tubuh nya Terima.


Ia membuka mushaf yang tersedia, lalu membacanya, ia juga banyak memohon ampun kepada Allah, mungkin saja kepahitan yang ia rasakan buah dari banyaknya dosa yang telah ia lakukan.


Tak lupa ia berdoa untuk kesehatan dan keselamatan Haris suaminya, ia berharap mereka bisa kembali bertemu. Sekarang, ia merasakan rasa sesak di dada yang teramat sangat, entah mengapa ia sangat sangat merindukan suaminya itu, padahal belum lama tadi mereka sudah bertemu.


"Rabbi, kutitipkan rasa rinduku pada-Mu."


***


Haris nelangsa~ sama~ author juga~


Maaf yaa man teman, alana terjebak sama drama yang alana ciptain sendiri, belakangan ini adalah episode episode terberat untuk Alana tulis, hiks. Insya Allah konflik akan segera berakhir, semoga 🥺


Thanks semua tuk kritik dan sarannya, positif ataupun negatif, apapun itu, love kalian banyak-banyak. Semoga Allah memudahkan semua urusan kalian 😇🌹


***

__ADS_1


__ADS_2