Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 118: Filosifi Sepasang Angsa


__ADS_3

Sepeninggal Haris ke New York, Hana dijadwalkan akan tinggal bergiliran di kediaman orang tua mereka. Rencananya dua minggu pertama Hana akan menempati kediaman haji Zakaria dan hajjah Aisyah. Sisanya akan dihabiskan di kediaman bu Fatma dan terakhir di rumah abah dan umminya.


Selepas mengantar kepergian Haris di Bandara Soekarno-Hatta, Hana sudah dijemput oleh santri sekaligus asisten haji Zakaria. Atas perintah ulama kharismatik itu, Hana di tempatkan di kamar tamu utama. Kamar yang berukuran 4 x 4 meter dengan single bed, lemari dua pintu dan sebuah meja hias memang tampak nyaman.


Walau sebenarnya ada perasaan sungkan ketika Hana memasuki kediaman ini. Selain Hana tidak terlalu dekat dengan hajjah Aisyah, ia juga tidak memiliki teman di sini. Apalagi sekarang Haris tidak bersamanya. Hana hanya berharap semoga ia bisa betah melewati 2 minggu ke depan tanpa adanya masalah dan hambatan.


Tok tok tok. Seseorang mengetuk pintu kamar.


“Assalamu’alaikum Ning Hana” Sapa Sri.


“Wa’alaikumsalam”


“Ning Hana sudah ditunggu Ummi hajjah di aula tengah” Ucap Sri.


Deg.


“Baik. Sebentar ya mba. Saya ganti pakaian dulu”


“Baik Ning. Saya tunggu di luar. Kalau butuh apa-apa panggil saja saya” Ucap Sri sopan. Hana mengangguk.


Gamis hijau tosca dengan sedikit corak serta kerudung cream menghiasi penampilan ayu Hana. Para santriwati yang berpas-pasan dengannya terkagum-kagum akan kecantikan yang dimiliki oleh putri tunggal seorang ulama yang juga memiliki pengaruh di tanah Jawa.


Apalagi jika berpas-pasan dengan mereka, Hana tidak segan untuk memberikan senyumnya. Keramahan Hana membuatnya semakin mempesona.


“Ternyata Ning Hana itu aslinya sangat cantik ya. Ga salah dijodohkan sama Gus Haris yang tampan. Benar-benar pasangan serasi” Bisik salah satu santriwati kepada teman-teman dengan mata berbinar-binar menyampaikan rasa kagumnya.


“Iya benar. Tapi.. Kalian tau tidak?”


“Apa?”


“Sayangnya Gus Haris itu tidak cinta sama Ning Hana. Mereka kan dulunya dijodohkan. Malah sekarang Gus Haris tengah mencari calon istri kedua. Sepertinya beliau akan mengikuti jejak Gus Yahya” Salah seorang dari mereka menyebarkan berita yang entah dari dinding mana ia dengar.


“Ha? Masa? Ah yang benar kamu? Apa kurangnya sih Ning Hana itu? Udah Cantik, soleha, pintar, anak Kiayi, halus banget. Menurutku sempurna! Tidak di sangka ya, sayang sekali nasib Ning Hana ini” Komantar santriwati lainnya.


“Lah iya. Tapi ya mau gimana. Kabarnya Ning Hana itu ga bisa punya anak. Jadi mau tidak mau Gus Haris harus mencari istri kedua”


“Itu serius???” Pekik mereka berbarengan.


“Ssssstttttttttttttttt. Jangan keras-keras, nanti didengar ning Hana jadi ga enak!”


“Kalau gus Haris cari istri kedua, pasti banyak yang berebutan untuk daftar. Siapa sih yang akan menolak Gus Haris. Gus idola. Aku juga bersedia kok. Hihi!” Ucap santriwati yang paling cantik diantara mereka sambil mesem mesem.


“Yeee. Aku juga mau. Siapa tau ning Hana sendiri yang akan mencari istri kedua untuk suaminya. Sepertinya kita harus mencari perhatian Ning Hana nih! Hihii” Ucap Santriwati lainnya cekikikan.


“Huuuuss. Bubar-bubar! Kalau pembicaraan ini sampai ke telinga ustadzah apa lagi sampai ke abah dan ummi Haji, Kita bisa di hukum! Ayo Istighfar istighfar. Ga pantes rasanya kita omongin keluarga kiayi!” Santriwati yang paling senior di antara mereka memberi peringatan yang diiringi oleh bubarnya mereka semua.


Hana melangkah memasuki aula tengah. Di sana sudah ada hajjah Aisyah yang menunggunya.


“Assalamu’alaikum Ummi” Sapa Hana dengan mencium tangan takzim.


“Wa’alaikumsalam nak, duduklah!” Seperti biasa, Hajjah Aisyah memberikan pelukan hangat. Hana mengambil tempatnya.

__ADS_1


“Bagaimana kesan pertama di sini? Apa kamarnya nyaman?” Tanya Hajjah Aisyah berbasa basi.


“Alhamdulillah nyaman Ummi. Fasilitas di sini sudah lebih dari cukup”


“Alhamdulillah kalau begitu. Silahkan di minum dulu air nya nak!”


“Segar sekali, Mi” Ucap Hana sumringah setelah meneguk minumannya.


“Iya. Ini susu kurma, susunya adalah susu murni yang di peras langsung dari peternakan milik kita. Tapi sudah di sterilkan. Kurmanya jenis kurma Ajwa, kurma nabi. Insya Allah bagus untuk kesehatan” Terang hajjah Aisyah. Hana menganggukkan kepalanya.


“Nak, nanti sekali-kali kamu masuk kelas menyapa para santri ya! Ajarkan ilmu yang kamu punya. Salurkan kepada mereka. Insya Allah akan jadi amal jariyah-mu” Pinta hajjah Aisyah lagi.


“Sebenarnya kapasitas Hana masih belum mumpuni, Mi” Ucap Hana sungkan.


“Ah, kamu terlalu merendah. Ummi tau kamu mampu” Ucap hajjah Aisyah mengelus pundak Hana.


Suasana hening sejenak. Di dalam ruangan hanya ada Hana dan hajjah Aisyah. Haji Zakaria sendiri sedang menghadiri meeting di luar pesantren.


“Nak, Ada yang ingin Ummi katakan” Akhirnya hajjah Aisyah kembali membuka percakapan.


“Ummi merasa ini kesempatan yang tepat untuk berbicara, sebab Abah sedang tidak berada di sini”


“Apa itu mi?”


“Akhir-akhir ini sebelum nak Haris ke New York, Abah marah besar sama Ummi”


“Astaghfirullah. Bagaimana bisa, Mi?” Hana terkejut. Sebab yang Hana tau, haji Zakaria itu selalu bersikap hangat pada istrinya.


“Iya, ini berawal dari diskusi kita tempo dulu di sini. Menurut mu bagaimana tentang ramuan juga saran-saran Ummi? Apa ada yang salah?” Tanya hajjah Aisyah.


Deg.


“Naah, Kamu paham kan bagaimana maksud Ummi? Ummi ini hanya menginginkan kebaikan untuk kalian. Hanya ingin menjalankan Amanah. Agar semua hal berjalan sebagaimana mestinya. Tapi tampaknya abah salah paham akan niat baik Ummi” Ucap hajjah Aisyah seraya mengambil tangan Hana dan menggenggamnya. Tangan tersebut terasa dingin.


“Hhhhhh Sejak saat itu, abah menjauhi Ummi hingga saat ini” Keluh hajjah Aisyah. Hana tidak tau harus menjawab apa.


“Kamu mau bantu Ummi kan nak?”


“Ba…Bantu apa mi?” Tanya Hana sendu.


“Bujuk Haris membuka mata abah, agar abah tidak menyalahkan Ummi” Pinta hajjah Aisyah menatap ke dalam Netra Hana.


“Apa yang harus Hana katakan pada mas Haris mi?”


“Bujuk nak Haris untuk menikah lagi. Kemarin itu Ummi menawarkan Lisa sahabatmu untuk diperistri olehnya. Ummi yakin, kamu dan Lisa bersahabat karib. Pasti kalian akan saling memahami satu sama lain. Kalau Haris tidak mau memperistri Lisa. Kamu boleh pilihkan wanita mana saja yang layak menurutmu. Boleh dari pesantren ini, atau dari pesantren abahmu. Setelah semua setuju, kita akan membicarakan ini pada kedua orang tuamu”


Lisa? Gumam hati Hana.


Tessss. Setetes air mendarat sempurna dari kelopak mata Hana. Wanita ini menunduk dalam.


“Ummi tau, kamu itu wanita shaliha. Pengikut Ummahatul Mukminin Aisyah r.a, di katakan dalam al Qur’an di surat an-Nisa, bahwa seorang laki-laki boleh memperistri dua, tiga, bahkan empat istri dengan syarat dapat berlaku adil juga mampu. Dalam hal ini, Ummi tidak akan meragukan kemampuan Haris juga…… ”

__ADS_1


“Ummi sayang…. Hana sangat setuju kalau mas Haris itu menikah lagi. Hana sangat menyetujuinya kok...” Ucap Hana memotong kalimat hajjah Aisyah.


“Ummi sudah sangat bijaksana dalam hal ini. Apalagi mengingat kondisi Hana yang tak kunjung di amanahi anak oleh Allah kan mi? Hana sangat menyesal. Tapi inilah masalahnya, mas Haris itu sulit sekali untuk Hana bujuk.... "


"Keras sekali prinsip hidup beliau. Mas Haris memang persis abah Zakaria, marah kalau Hana ungkit masalah ini. Mungkin saja beliau mengikuti filosofi sepasang angsa, kalau sudah menentukan satu pasangan maka benar-benar akan setia seumur hidup nya. Ummi tau kan bagaimana perangai dan tabiat para angsa?


"Jadi tidak mungkin Hana bisa membujuk mas Haris apalagi abah...” Ucap Hana mengangkat wwajah dengan memberikan senyum manis. Kali ini ia memberanikan diri memandang wajah hajjah Aisyah yang tercengang akan jawaban Hana yang tak terduga.


Hana bergantian mengelus-elus punggung tangan Aisyah yang sedari tadi menggenggam tangannya.


Entah kekuatan darimana ia berani berkata demikian. Namun Hana ingat pesan Haris sebelum suaminya itu berangkat ke luar negri. Beliau berpesan, ketika menghadapi hajjah Aisyah atau siapa saja yang mengintimidasi, ia


harus berani mengungkapkan isi hatinya tapi tetap harus bersikap sopan lagi santun.


***


New York memasuki awal musim gugur. Pukul 10.00 pagi Haris dan rombongan tiba di Bandara Internasional John F. Kennedy setelah menempuh perjalanan udara lebih kurang selama 22 jam. Di sini, mereka sudah di sambut oleh


asisten dari LogoVo Group.


Haris turun dari pesawat masih dengan memakai pakaian casual. T-shirt putih, celana putih juga kacamata hitamnya. Ia berjalan santai sebab barang-barang dan segala keperluannya telah Roni bereskan.  Asisten yang menunggu di bandara memakaikan Haris baju coat ala musim gugur karena suhu mulai terasa dingin.


“Thank You” Ucap Haris berwibawa.


“You are welcome, Sir!” Sahut asisten bersuku Indian keturunan Eropa itu.


“Perkenalkan. Saya Mark. Saya akan mengantarkan tuan ke hotel. Mari!” Ajaknya lagi.


“Sebentar, Saya akan mengabarkan keluarga di Indonesia terlebih dahulu” Ucap Haris yang melirik jam tangannya lalu menepi ke pojokan.


“Assalamu’alaikum” Sahut seseorang dari nun jauh di seberang. Haris sudah hafal betul siapa pemilik suara merdu ini.


“Belum tidur, hm?” Tanya Haris lembut.


Walaupun di New York masih jam 10 pagi, namun di Jakarta sudah jam 9 malam. Perbedaan waktu 11 jam antara dua kota ini menyebabkan rentang waktu panjang yang begitu mencolok.


“Mas??” Pekik Hana. Ia melihat ulang nomor yang tertera di sana. +14556xxxxx. Nomor baru. Kode panggilan telepon milik negara Amerika.


“Aku baru saja sampai, ini masih di bandara” Ucap Haris.


“Alhamdulillah ya Rabb. Aku dari tadi menunggu kabar dari mas!” Ucap Hana dengan berkaca-kaca. Akhirnya ia kembali mendengar suara live sang suami setelah hampir 24 Jam hanya bisa melihat video-video virtual kebersamaan mereka yang ada di handphonenya.


“I miss You. I do miss You. Nanti kita videocall ya sayang. Ini  Aku ke hotel dulu. Untuk sementara, ini dulu yang aku kabarkan. Aku tau kamu juga merindukanku” Ucap Haris menutup pembicaraan singkat mereka. Tak bisa di pungkiri, walau baru sehari berpisah, namun rasanya sudah begitu lama. Apalagi untuk dua bulan ke depan. Laki-laki tampan ini benar-benar belum bisa membayangkannya.


Hana meraba kalung Liontin berlambang sepasang angsa yang tersangkut kuat di lehernya. Kalung pemberian Haris sebelum suaminya itu berangkat ke New York. Ketika memberikan hadiah ini, suami nya itu telah terlebih dahulu menceritakan bagaimana tabi'at sepasang angsa dalam kisah percintaan.


***


Maaf typo bertebaran. Belum sempat ngedit 🙏


Hi Teman-Teman, Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih ^^ Jazakumullah Khairal Jaza' ❤

__ADS_1


IG @alana.alisha


***


__ADS_2