Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 53: Siapa yang Menyelamatkan?


__ADS_3

Malam semakin beranjak naik, kurang lebih 2 jam lagi adzan subuh akan berkumandang. Suasana rumah sakit begitu lengang. Belum terlihat satu orang pun yang berlalu Lalang, hanya beberapa perawat yang bisa dihitung


jari berjaga di sudut ruang berbeda.


Gibran dan Yura keluar dari ruang rawat Hana mengikuti Langkah Ridwan setelah sebelumnya Ridwan mengamit lengan Gibran untuk menghindari perkelahian. Yura yang tidak mengerti duduk persoalan pun mau tidak mau


mengikuti arus keadaan walau tanda tanya masih menyisa dibenaknya. Mereka memilih duduk di kursi panjang yang berada tepat di seberang ruang melati tempat Hana terbaring.


Diam. Tidak ada satupun dari  mereka yang memulai percakapan, mereka tenggelam dalam keheningan suasana. Mungkin Gibran masih shocked atas apa yang terjadi, Ridwan juga tengah merangkai kata-kata, ia berpikir kata apa yang tepat untuk memulai pembicaraan, sedang Yura sendiri sudah enggan mengeluarkan suara, ia hanya mengalihkan pandangannya ke samping melihat Gibran yang berwajah kusut masih memegang sudut bibirnya yang terluka.


“Mas, biarkan aku melihat luka di mulut mas” Pinta Yura memecah keheningan, pada akhirnya ia tidak tahan melihat kakaknya yang sekali-kali meringis seperti merasa kesakitan, mungkin perih.


Gibran menggeleng.


“Tidak apa-apa kok” Gibran memaksakan senyumnya.


“Aku akan membeli obat dan plaster di apotek 24 jam, tunggu sebentar!” Ridwan menawarkan diri. Ia bangkit dan hendak beranjak pergi namun lengannya di cegat oleh Gibran.


“Tidak usah, duduklah. Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi” Ucap Gibran.


“Aku akan menceritakannya setelah membawa plester dan obat untukmu, tunggulah sebentar saja. Kalau tidak diobati nanti bisa infeksi!” Ridwan bersikeras. Gibran pun melonggarkan pegangan tangannya yang berada di


lengan Ridwan. Pemuda itu berlalu berjalan menjauhi kedua kakak beradik itu.


“Mas, sebenarnya ada apa?” Yura kembali bertanya.


“Mas juga tidak paham, dik” Jawab Gibran


“Lalu kenapa bibir mas bisa robek begitu??”


“Ini hanya kesalahpahaman saja”


“Salah paham bagaimana??” Yura semakin penasaran.


Mau tidak mau Gibran menceritakan kronologi kejadian yang tadi berlangsung. Gadis itu pun mendesahkan nafasnya ke udara. Ia tidak tau apa harus menyalahkan Haris yang memang salah paham terhadap kakaknya atau harus memahami perasaan laki-laki yang telah menjadi suami Hana tersebut. Ia kembali terdiam.


***


Di Kamar Melati

__ADS_1


Haris berjalan mendekati Hana yang memucat. Tak tahan, matanya berkaca-kaca menyaksikan tubuh yang terkulai lemah itu. Ditatapnya tubuh Hana dari ujung kaki sampai ke ujung kepala. Pelahan, digenggamnya tangan


Hana, lalu Ia mengecup kening gadis yang sudah menjadi istrinya selama berbulan-bulan itu. Ia mengecup kedua matanya, beralih ke kedua pipi, berlanjut ke hidung, berakhir di bibir merah jambu yang warnanya sudah menjadi lebih memudar. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Hana dan berbisik dengan sangat pelan,


“Maaf”


“Maaf”


“Maaf” Haris memejamkan matanya memberi jeda, Hana tidak juga bergerak dari tidur panjangnya,


“Maafkan aku yang sudah lalai menjagamu”


“Maafkan aku yang belum bisa menjadi suami yang baik untukmu”


“Maafkan aku, istriku”


Air matanya memeleh tak tertahan, airnya menetes terjatuh berderai ke atas pipi Hana, seolah air mata ini meluap bersamaan dengan semua rasa yang menghimpit jiwanya. Pipi Hana ikut basah, namun sama sekali ia tetap tidak bergeming.


Haris pun membisikkan doa-doa kesembuhan ke telinga Hana, dengan sepenuh hati ia memanjatkan doa untuk kesembuhan sang Istri,


أَسْأَلُ اللهَ العَظِيْمَ رَبَ العَرْشِ العَظِيْمِ أَنْ يَشْفِيَكَ


As’alullaahal azhiima rabbal ‘arsyil ‘azhiimi an yassfiyaka


اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لَا شَافِيَ إلَّا أَنْتَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقْمًا


Allahumma rabban naas mudzhibal ba’si isyfi antasy-syaafii laa syafiya illaa anta syifaa’an laa yughaadiru saqoman


Artinya, “Tuhanku, Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit. Berikanlah kesembuhan karena Kau adalah penyembuh. Tiada yang dapat menyembuhkan penyakit kecuali Kau dengan kesembuhan yang tidak menyisakan rasa


nyeri,” (HR. Bukhari, no. 5742; Muslim, no. 2191)


Ada rasa penyesalan mendalam dihatinya, ia menyesal memisahkan diri dari sang istri pada saat acara kantor sedang berlangsung, padahal Hana itu adalah gadis yang masih berumur 19 tahun dan tidak mengetahui bagaimana suasana gemerlap pesta. Dan juga pada saat acara berlangsung, banyak orang dari multietnis


dan multicultural bergabung, tak bisa di elak akan banyak minuman beralkohol dan makanan haram yang juga disajikan di sana.


Haris mengusap-usap puncak kepala Hana yang telah berganti kerudung itu. Ia mengelusnya lembut penuh kasih,


“Hana, bangunlah” Bisiknya lagi.

__ADS_1


“Hana, aku di sini” Lirihnya lemas, namun ia tidak putus asa.


Sebenarnya Haris sendiri tidak mengetahui mengapa kondisi Hana bisa sampai seperti itu, mungkin jika ia tahu yang sesungguhnya terjadi, ia akan lebih histeris dari pada sekarang.


“Hana, tunggulah sebentar, aku akan memanggilkan dokter untukmu, tunggu ya, sebentar saja tidak lama” Ucap Haris lagi dengan berbicara menatap serius ke arah gadis itu yang mana seolah-olah Hana telah terjaga.


Haris yang melihat tidak adanya pergerakan sama sekali dari Hana pun beranjak keluar hendak memanggilkan dokter.


***


Hanum tengah mengendarai mobilnya ketika telepon selularnya tiba-tiba berdering, di mengintip ke layar kacanya, ternyata si Jhonny sang tangan kanannya yang menelepon,


“Ya, ada apa Jhon?” Tanya Hanum santai.


“Bos, gadis yang diamankan oleh Boris dan teman-temannya berhasil diselamatkan, kini anak buah yang tidak berguna itu telah di bawa ke kantor polisi” Ucap Jhonny memberikan informasi.


“Apa?? Hana selamat?? Bagaimana bisa??” Hanum yang mendapat kabar melalui handphone bahwa Hana telah diselamatkan dan ketiga anak buah suruhan nya sudah di ringkus polisi merasa geram. Ia mengigit bibir bawahnya. Kesal.


“Ada seorang pemuda yang menyelamatkan gadis berkerudung panjang itu bu bos” Ucap Jhonny lagi. Ia dipekerjakan sebagai pengawas pergerakan Boris, Cungkring dan juga Botak.


“Siapa yang menyelamatkannya??” Hanum menaikkan sebelah alisnya.


“Itu masih saya selidiki, bos!”


“Baik, kamu pastikan Boris dan temannya tidak membawa-bawa nama saya di kantor polisi, saya akan mengusahakan agar mereka bisa segera bebas” Ucap Hanum lagi.


“Baik bu”


“Kamu juga harus secepatnya meyelidiki siapa dalang dibalik selamatnya Hana! Kabarkan kepada saya segera! Paham!!!”


“Baik bu, paham!”


Tiiiiiiitttt tiiiiiiiiiitttt


Hanum mematikan telepon yang masih sedang berlangsung, ia menggigit bibir bawahnya, tak bisa dipungkiri bahwa ia merasa sangat cemas sekarang. kalau-kalau aksinya ketahuan oleh semua pihak terutama pihak kepolisian, ia tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya kelak. Jika hal itu terjadi, maka otomatis ia akan di-PHK dari pekerjaannya dengan cara yang tidak hormat juga yang lebih buruknya ia akan mendekam di dalam sel tahanan selama bertahun-tahun.


Tidak. Tidak. Tidak. Ia tidak akan membiarkan itu semua terjadi semudah itu. Ia harus melakukan sesuatu. Ia harus berusaha entah bagaimana caranya agar aksinya tidak sampai di endus oleh polisi.


Tapi siapa yang menyelamatkan Hana dalam waktu secepat kilat itu? Ini semua seperti mustahil. Hanum juga merasa pergerakannya sudah sangat rapi dan sempurna, ia telah memusnahkan bukti CCTV, ia juga telah memastikan dengan baik semua hal berjalan lancar dan aman, tapi mengapa drama penculikan ini bisa terbongkar dan terendus polisi? Benar-benar diluar dugaannya.

__ADS_1


Sial. Ia memukul stiur mobil dengan sekuat tenaga. Rencananya tidak semulus yang dibayangkan. Mobil Hanum pun terus melaju dalam keheningan. Namun tidak dengan hatinya. Tugasnya bertambah sekarang. Ia sudah tercebur setengah dalam kubangan, jangan sampai seluruh tubuhnya pun ikut tercebur.


***


__ADS_2