Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 90: Berdiplomasi


__ADS_3

Untuk Apa memperjuangkan orang yang tidak ingin berjuang?


Aku Hanya ingin hidup damai 


Aku Hanya ingin menghindari hatiku dari luka


Karena Aku menyadari bahwa ia terlalu berharga untuk tersakiti


***


Hana, apa yang harus kulakukan agar kamu mau memaafkanku? Tanya Haris yang mengirimkan pesan singkat pada Hana melalui wattsapp. Kini mereka berada pada kamar masing-masing.


Sejak peristiwa Ia dan Arini berpelukan, Hana menjadi enggan berbicara padanya. Istrinya itu lebih senang menghabiskan waktu di kamar. Jika pun keluar, maka Hana hanya melakukan tugas nya seperti menyiapkan pakaian untuknya, atau sekedar menyediakan makanan. Itu saja. Hal ini menyebabkan Haris menjadi uring-uringan.


Hana, aku merindukanmu.


Hana.


Hana.


Berkali-kali Haris melayangkan pesan, namun tidak satu pun yang terbalas.


Di kamarnya, Hana sendiri sedang tertidur pulas. Ia sama sekali tidak melihat handphone yang sembarang tergeletak di karpet bawah. Ia sudah Lelah bermalam-malam bergadang memikirkan Haris dan Arini.


Hana merasa suaminya belum sepenuhnya move on dari gadis itu. Bagaimana tidak? Hana menyaksikan sendiri bagaimana Haris tidak menolak pelukan yang Arini berikan malah membiarkan tangan gadis itu semakin mencengkram kuat. Mengingat hal ini, ketenangan hatinya terusik.


Menjelang dini hari Hana terbangun. Ia merasakan pusing dikepalanya dan tubuhnya terasa berat, ada sesuatu yang menimpanya. Ternyata tangan Haris sudah bertengger memeluknya di sana. Tapi Sejak kapan? Ah. Tadi Ia lupa mengunci pintu.


“Mas…” Panggil Hana. Ia berusaha memindahkan lengan Haris yang melingkar di perutnya.


“Kamu sudah bangun?” Haris semakin mengeratkan dekapannya. Ia sedikit merosotkan diri ke bawah. Kini hidung dan bibirnya sudah berada di ceruk leher Hana.


“Masss…” Mendapatkan perlakuan intens dari Haris, Hana mendesah.


“Aku merindukanmu” Bisik Haris. Udara yang keluar dari mulut Haris lalu menyapa daun teilnga cukup membuatnya meremang.


Menghirup aroma yasmine dari tubuh Hana, Haris menggila. Ia sudah menahan hasratnya berhari-hari lalu. Jika di suruh berhenti sekarang, Ia tidak akan mampu.


“Mas…” Hana memegang tangan Haris yang sudah bergerilya di balik balutan baju kaos nya. Hana menatap Haris dan hendak menyuruh suaminya untuk berhenti, sungguh suasana hatinya masih sangat buruk.


Namun, Haris menghujamkan tatapan sendu mendamba. Mata sayu nya mengatakan bahwa ia sangat menginginkan dirinya saat ini. Nyali Hana menciut, Ia tidak tega. Maka, untuk kesekian kalinya mereka kembali mengikis jarak.


Air mata Hana mengalir, Ia melihat Haris yang sudah terlelap disampingnya setelah pergumulan hebat yang terjadi diantara mereka. Haris benar-benar melampiaskan hasratnya. Ia merasa bersalah telah mengabaikan suaminya selama berhari-hari, namun hatinya juga belum bisa berdamai dengan keadaan.


Hana bangkit memunguti baju mereka yang berserakan di lantai, Ia bersiap-siap mandi untuk melakukan shalat malam dan berharap rasa sesak yang hinggap dihatinya menghilang bersama untaian doa.

__ADS_1


Hana sudah menyelesaikan 8 rakaat shalat tahajud nya di sertai dengan witir 3 rakaat. Hatinya masih belum merasa tenang. Ada sesuatu yang mengganjal dan perlu diluruskan di sana. Di tengah kebimbangan, ia mengambil gawainya dan melayangkan sebuah pesan,


Mba, Aku ingin kita bertemu. Ada hal yang harus kita luruskan. Hana melayangkan pesannya pada Arini. Ia merasa Arini sudah keterlaluan. Jika pun Haris akan memilih Arini pada akhirnya, maka ia siap untuk mundur. Harga dirinya terusik. Begitulah tekadnya.


Arini yang memang tidak tidur, dengan senang hati membalas pesan dari Hana.


Baik. Temui aku besok di taman kota pukul 10 pagi. Arini.


Haris terbangun. Di jam segini, biasanya secara otomatis memang Ia akan terbangun untuk melakukan shalat malam. Ia mengucek matanya, penglihatannya menangkap Hana yang masih terduduk namun dengan handphone di tangan.


Ada perasaan bersalah yang hinggap di hati, Hhhhh tadi Ia tidak meminta izin terlebih dahulu untuk memasuki kamar Hana, padahal istrinya itu pasti masih kesal padanya. Mau bagaimana lagi, ia benar-benar merindukan Hana.


“Sayang, kok kamu ga bangunin aku sih? Harusnya kita bisa shalat bareng” Sapa Haris. Hana menoleh namun Ia hanya diam dengan memasang wajah datar.


“Aku mandi dulu ya!”


“Hmh, boleh tolong ambilkan baju handukku?” Pinta Haris kemudian.


Tanpa bantahan, Hana beranjak mengambil dan menyerahkannya.


“Terima kasih” Haris mencoba memegang tangan Hana.


“Mas, Aku ada wudhu. Aku ingin menunggu subuh” Elak Hana. Haris mengangguk.


“Besok pagi aku izin keluar rumah” Ucap Hana lagi


“Bertemu teman”


“Laki-laki atau perempuan?”


“Perempuan!”


“Baiklah. Aku akan mengantarmu”


……………


“Mas…”


“Ya?” Mendengar panggilan dari Hana, Haris menoleh ketika ia sudah hampir mencapai pintu keluar.


“Apa mas masih mencintai mba Arini?” Tanya Hana spontan. Tatapannya menghunus.


……………


“Pertanyaan apa itu! Jangan mengkhawatirkan apapun. Tidak ada wanita lain di hatiku selain kamu dan ibu” Ucap Haris diplomatis.

__ADS_1


Namun jawaban tersebut bukan jenis jawaban yang Hana inginkan. Ia hanya ingin Haris menjawab Ya atau tidak. Ini kali kedua Hana menanyakan pertanyaan yang sama dan jawaban suaminya masih tidak berubah. Hana jadi ragu untuk berjuang.


***


“Hi Hana” Sapa Arini yang sudah duduk di salah satu bangku taman.


“Assalamu’alaikum mba”


“Waalaikumsalam, Bagaimana kabarmu?” Tanya Arini ramah berbasa basi.


“Alhamdulillah, seperti yang terlihat” Jawab Hana datar.


“Maaf, kemarin itu Aku tidak bermaksud membuatmu terluka” Ucap Arini hati-hati, ia mampu menebak tujuan dari Hana mengajaknya bertemu. Hana tersenyum masam.


“Apa aku harus memaafkan hal yang tidak pantas seperti itu, Mba?” Hana masih menahan dirinya.


“Maaf” Lirih Arini. Ia menunduk dalam sebelum kemudian melanjutkan,


“Seandainya kamu tidak menikah dengan Haris, Aku dan kamu tidak akan terluka” Ucap Arini, kali ini manik matanya dan mata Hana bertemu.


Angin pagi yang sepoi-sepoi melambai-lambaikan kerudung mereka, padahal hembusannya tidak terlalu terasa namun bagi Hana, seolah mampu membuatnya beku.


“Apapun itu, Sekarang ini aku dan mas Haris sudah terlanjur menikah, Aku sudah menyerahkan semua yang aku miliki pada beliau. Kami mengakui bahwa kami saling mencintai satu sama lain. Jujur saja, apa yang mba lakukan kemarin itu menyakitiku. Entah siapa yang memulai, sebagai seorang istri yang memiliki harga diri, Aku tidak bisa meridhainya” Jelas Hana dengan tenang.


“Sekarang katakan apa yang mba inginkan? Aku rasa kita sama-sama sepakat bahwa sekarang bukan saatnya lagi untuk aku menjambak rambut atau menarik bajumu seperti yang orang lain lakukan ketika melihat suaminya dipeluk


oleh wanita lain, kan?” Pernyataan Hana membuat Arini terhenyak. Ternyata Gadis ini bukanlah gadis polos yang bisa ia lumpuhkan dengan kata-kata.


“Keinginanku tetap sama, Aku hanya ingin Haris menikahiku. Maaf, mungkin di sini aku egois, tapi hatiku benar-benar tidak memiliki pilihan” Ucap Arini tegar.


“Baik lah kalau itu keinginanmu, aku akan merelakan mas Haris jika memang benar beliau sendiri yang memutuskan untuk menikahi mu. Jika mas Haris lebih memilihmu daripada aku, maka aku bersiap mundur. Namun, jika mas Haris tetap memilihku tolong jangan ganggu kehidupan kami. Sebagai sesama perempuan yang memiliki perasaan dan empati, Bolehkah jika Aku meminta demikian?” Hati Hana bergemuruh mengatakannya. Ia mencoba berdiplomasi dengan baik untuk kebahagiaannya.


“Hooekkk, hooeeekkk” Tiba-tiba Arini kembali merasa mual.


“Mba, mba kenapa??” Tanya Hana.


“Hooooekkk hoooeeeeeeeekkkkkk” Arini memuntahkan isi perutnya, sisa makanan yang berasal dari sana jatuh mengenai rumput-rumput. Hana tercengang.


“Maa,,, maaf” Ucap Arini.


“Aku akan mengantarkan mba ke rumah sakit” Ucap Hana, Ia baru sadar bahwa wajah Arini terlihat begitu pucat.


“Tidak, aku hanya masuk angin saja”


"Mba sangat pucat, mari aku antarkan!" Tawar Hana lagi.

__ADS_1


"Tidak, aku permisi pulang, kita berbicara lebih lanjut di lain waktu!" Ucap Arini. Kini ia merasakan pusing dikepalanya semakin menjadi-jadi. Namun, baru beberapa langkah ia berjalan, Ia sudah jatuh pingsan.


***


__ADS_2