Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 83: Masa Lalu yang Kelam


__ADS_3

Cuaca mendung masih saja menghiasi ibu kota. Awan hitam terus bergulung-gulung tanda hujan lebat akan segera hadir. Walau begitu Gibran sudah tampak rapi dengan baju kemeja navy dan celana jeans nya. Bagaimanapun hari


ini ia sudah membuat janji untuk bertemu Ni Rui , teman kuliahnya di Maroko. Gibran mengambil jam tangan dari tempat penyimpanan lalu ia kenakan di pergelangan kirinya. Dengan bergegas ia melesat keluar rumah setelah sebelumnya ia mengambil kunci mobil dan berpamitan pada Yura.


“Halo Ni Rui, where are you? Aku sudah sampai di tempat yang kamu katakan” Ucap Gibran melalui Gawai setibanya di lokasi.


“Hi Gibran, aku sudah berada di belakangmu” Seketika Gibran langsung menoleh ke belakang.


Kini Ia melihat Ni Rui dengan senyum sumringahnya. Gadis berkulit kuning itu tampak begitu segar. Baju Hijau lumut dengan celana cream serta kerudung dengan warna senada menghiasi penampilannya hari ini.


“Ni Rui, long time no see. Apa kabarmu?” Sapa Gibran ramah.


“Alhamdulillah seperti yang kamu lihat, terima kasih lho sudah menyempatkan menemui ku di tengah padat nya kegiatanmu” Ni Rui merasa terkesan.


“Haha, tidak juga. Kebetulan hari ini aku lagi kosong. Kamu sudah makan? Kita makan dulu bagaimana?” Ajak Gibran.


“Baiklah”


Mereka melesat ke sebuah tempat makan yang menyajikan menu tradisional dan modern. Sesuai permintaan dari Ni Rui, gadis itu ingin mencicipi makanan khas dari Indonesia.


“Bagaimana? Kamu suka? Tanya Gibran yang melihat temannya terlihat sangat enjoy menikmati makanan.


“Suka. Sejauh ini lidahku tidak memiliki masalah mencicipi makanan dari mana saja. Asal rasanya masih wajar” Ni Rui kembali mengunyah.


“Wah kita satu server, aku juga begitu. Mencicipi makanan dan menu yang berbeda dari biasanya seperti menambah khazanah pengetahuan baru” Ucap Gibran dengan menyendokkan makanan yang terhidang kemulutnya. Ni Rui mengangguk lalu mengacungkan jempolnya.


“Makanan Indonesia rasanya cenderung manis ya!” Ni Rui berkomentar.


“Tidak juga, Indonesia memiliki berbagai beraneka ragam jenis makanan dengan berbagai varian rasa sesuai dengan daerah masing-masing. Nah, yang sekarang kita santap ini adalah makanan yang berasal dari Jawa, daerah ini memang memiliki kecenderungan masakan dengan rasa manis. Jika kita ke daerah


Padang, maka cita rasa makanan di sana lebih ke rasa pedas. Namun, jika kita ke Aceh maka rasa asam dan pedas akan lebih menonjol...”


“Sama juga seperti makanan di Tiongkok yang mana daerah Sichuan memiliki kecendrungan terhadap rasa lebih pedas yang berbeda dengan daerah  lainnya” Gibran menjelaskan panjang dan lebar.


Ni Rui mengangguk-angguk.


“Gibran, maaf. Kamu menemaniku seperti ini apa tidak ada yang marah?” Ni Rui bertanya hati-hati.


“Ada yang marah? Maksudmu?”


“Ah, tidak. Lupakanlah…..”


“Aku sudah di tinggal menikah oleh orang yang aku cintai” Gibran berterus terang kepada Ni Rui. Entah mengapa ia merasa nyaman mengatakannya. Kedekatan mereka sejak di Maroko mengubah pandangannya terhadap sisi lain


negara Tiongkok. Mereka telah berbincang tentang banyak hal. Termasuk pengetahuan tentang muslim-muslim di China. Dari Ni Rui, Gibran mendapat banyak pengetahuan. Begitu pula sebaliknya.

__ADS_1


Mendengar pengakuan Gibran,  Ni Rui terperanjat.


“Maaf. Aku tidak bermaksud…” Ni Rui merasa tidak enak hati.


“Tidak masalah. Sekarang aku sedang beradaptasi dengan keadaan hatiku” Gibran memotong kalimat Ni Rui. Pemuda ini berkaca-kaca.


“Apa rasanya sesakit itu?” Ni Rui mencemaskan Gibran.


“Haha. Sesak. Rasa ini membuatku kesulitan bernafas. Aku harus beristighfar beribu kali untuk mengobatinya” Gibran tertawa dengan mata yang berembun.


Begitu special nya kah gadis itu? Gumam Ni Rui dengan suara yang nyaris tidak terdengar. Dalam hati ia berharap suatu ketika ia juga bisa merasa dispecialkan seperti itu.


“Sudah. Jangan mengkhawatirkan ku. Aku baik-baik saja” Gibran gagal menyembunyikan airmata nya. butiran itu mendarat setetes.


“Gibran, Air mata bukan lah sebuah kelemahan. Terima kasih sudah mempercayai ku dalam meringankan bebanmu” Ni Rui ikut berkaca-kaca.


“Maaf, suasana menjadi muram seperti ini” Gibran merasa bersalah.


“Tidak, Akulah yang memulainya”


Perbincangan mereka lanjutkan dengan mengganti topik. Ni Rui terpana mendengarkan penjelasan tentang negara Indonesia. Mereka membahas banyak hal, tentang budaya, kuliner, art dll.


Gibran, akankah bisa...  jika aku saja yang menggantikan seseorang yang begitu special itu di hatimu?


***


“Aku adalah Haris Abdurrahman Faiz. Ibuku orang Jawa-Sunda sedang Ayahku orang Betawi berdarah Suriah-Pakistan. Ibu adalah seorang gadis desa biasa yang dinikahi oleh ayah ketika beliau berusia masih 16 tahun. Ayah tertarik pada kealamian, ketegasan serta kedewasaan ibu padahal beliau masih sangat muda belia ketika itu…” Hana mendengarkan dengan seksama.


“Keluarga ibu datang dari keluarga biasa yang sederhana, sedang Ayah berasal dari keluarga terpandang dengan harta kekayaan berlimpah..."


"Ayah berencana akan menikahi ibu namun hal tersebut di tentang keras oleh Kakek. Bagaimana tidak? Keluarga besar tentu sudah mempersiapkan seorang pendamping yang dianggap pantas untuk mendampingi Ayah yang notabene nya sebagai seorang pewaris tunggal berdarah biru dari kalangan bangsawan keturunan Abdurrahman..."


"Kakek memiliki perusahaan raksasa turun temurun yang bergerak di bidang tekstil, otomotif, juga furniture. 90 persen dari kepemilikan saham SunRise Group dan LogoVo Group adalah kepunyaan beliau….” Haris bercerita sambil memainkan rambut Hana. Jari jemarinya dengan lincah menarik ulur sulur rambut halus tersebut.


“Ayah yang ditentang oleh keluarga besar ternyata tidak menyerah, malah semakin kuat keyakinan beliau untuk menikahi ibu sampai keinginan itu benar-benar diwujudkannya….” Lanjut Haris lagi.


“Lalu apa yang terjadi?” Hana bangkit, kini ia tidur telungkup menopangkan tangan ke dagu menatap Haris yang akan melanjutkan cerita. Ia semakin penasaran.


“Kakek menjadi murka. Nama Ayah di coret dari daftar penerima warisan. Tapi itu semua tidak menjadi masalah, sebab Ayah sendiri sudah memiliki usaha mandiri hasil dari kerja kerasnya sendiri. Ayah yang disekolahkan oleh kakek ke Amerika hingga mendapatkan gelar Master di bidang Managemen bisnis menunjukkan taringnya... "


"Tidaklah sulit bagi Ayah untuk memulai usaha, dalam waktu singkat Ayah memiliki asset dimana-mana. Sikap Ayah yang menunjukkan kemandirian dan kemakmuran hidup nya membuat kakek semakin murka…….” Haris menjeda sejenak ceritanya. Ia menarik nafas dalam-dalam. Hana masih menunggu.


"Kemakmuran hidup kedua orang tuaku mencapai puncaknya. Namun, itu semua tidak berlangsung lama. Ayah menjadi sasaran bulan-bulanan keluarga, banyak yang tidak senang akan sikap Ayah yang menentang kakek. Namun bagi Ayah, beliau hanya memperjuangkan kebahagiaannya....


"Ibu selalu saja menasehati Ayah untuk menghadap kakek dan keluarga besar agar meminta maaf dengan merendahkan hati. Dan, Ayah mendengarkan nasehat ibu. Tapi apa yang didapat? Prinsip kakek tetap sama. Kakek tetap ingin Ayah menceraikan ibu dan menikah dengan gadis pilihan beliau”

__ADS_1


“Lalu Ayah mengalah??” Hana bertanya spontan.


“Tentu saja tidak. Kesetiaannya membawa Ayah untuk tetap keukeh mempertahankan gadis pujaan pilihan hati nya sendiri. Namun apa yang


terjadi? Usaha dan seluruh bisnis ayah dihancurkan oleh kakek dan keluarga yang dipenuhi hasrat iri dan dengki serta keserakahan. Kehidupan Ayah dan ibu yang semula Makmur berbalik 180 derajat. Mereka jatuh miskin…”


“Hhhhhh... Akan tetapi, Ayah tidak juga menyerah. Semakin di tekan dan di tentang, semakin Ayah menunjukkan cintanya pada Ibu. Ayah semakin bringas bertahan. Ibu yang memang bukan berasal dari keluarga berada tidak mempermasalahkan hidup susah walau harus membanting tulang asal bisa hidup damai bersama Ayah sambil membesarkanku......”Lanjut Haris. Ia menitikkan airmata.


“Lalu Kehidupan Ayah semakin sulit, kepintarannya dalam berbisnis semua menjadi sia-sia. Itu dikarenakan ketika Ayah hendak memulai, pasti akan dibekukan oleh kakek yang memiliki jaringan dan relasi bisnis dimana-mana. Harta Ayah yang tersisa hanyalah sebuah villa usang tempat Ayah dan Ibu membesarkan ku, buah cinta mereka”


“Di masa-masa sulit ini, jadilah Ayah bekerja serabutan, apa saja dikerjakan untuk menghidupi aku dan ibu. Seringkali Ibu juga membantu Ayah menjadi buruh cuci atau pemetik daun teh. Sedang Ayah sendiri menjadi kuli bangunan yang rela bekerja di tengah panas terik matahari demi menafkahi kami. Pekerjaan yang tidak pernah beliau bayangkan seumur hidupnya” Lagi-lagi Haris menarik nafasnya sebelum melanjutkan,


“Sampai pada Suatu hari………”


“Suatu hari Ayah mengalami kecelakaan saat bekerja, beliau meninggal sebab tidak sengaja terjatuh dari ketinggian. Takdir Ayah telah tertulis di dalam Lauhul Mahfuz” Kalimat ini sukses membuat Haris menitikkan airmata lebih banyak lagi. Kini Hana yang tersedu. Haris menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa sesak.


“Jangan dilanjutkan lagi, mas!!” Hana merasakan sakit dibagian jantungnya.


“Kakek yang mendengar hal itu jatuh sakit. Beliau sendiri juga terserang stroke hingga meninggal karena rasa bersalah di seumur hidupnya. Sebelum meninggal, kakek sempat menitipkanku dan ibu pada kerabatnya yang bernama haji Zakaria, ulama sholeh yang juga pandai berbisnis.


"Kakek berharap harta kekayaannya mampu di Kelola dengan baik oleh tokoh yang disegani masyarakat itu. Kakek bertaubat dan meminta maaf pada Ibu. Kakek ingin menebus kesalahannya yang selalu menghalangi dan menghancurkan bisnis-bisnis Ayah. Memang dasar ibu memiliki hati lembut dan pemaaf, dengan penuh keringanan ibu dengan mudahnya memaafkan kakek, bahkan ibu selalu mewanti-wantiku agar sama sekali jangan pernah menaruh dendam”


“Kakek berpesan pada haji Zakaria untuk mewariskan semua harta kekayaannya padaku sebagai permohonan maaf nya ketika usia ku sudah genap berumur 28 tahun nanti. Selama penantian itu, aku tetap dialirkan dana sebanyak 5 persen dari penghasilan perusahaan di setiap bulannya. Sebanyak apa uang yang mengalir setiap bulannya ke rekeningku?”


“Hanya dalam sebulan, aliran uang 5 persen itu lebih dari cukup untuk membeli sebuah rumah mewah beserta isi-isinya. Tapi kakek berpesan agar aku diajarkan hidup dengan bekerja keras agar lebih bisa memahami kehidupan, tidak seperti kakek yang angkuh akan harta dan kedudukan, maka aku menjalani kehidupan seperti orang-orang pada umumnya, yaitu bersekolah, kuliah dan bekerja. Pekerjaanku diperusahaan diharapkan dapat memberikan pengalaman untuk dapat memimpin perusahaaan nantinya”


Cerita Haris sukses membuat Hana tercengang dan ternganga.


“Aku sudah menceritakan semuanya padamu. Jadi, sekarang aku minta kamu jangan khawatirkan darimana aliran danaku, sebab aku sama sekali tidak melakukan korupsi” Haris mencubit ringan hidung Hana sambil tersenyum menggodanya.


Hana masih saja ternganga mendengar cerita Haris. Ia merasa seperti akan ditimpa oleh gunung Uhud. Gadis ini sama sekali tidak menyangka bahwa ternyata sang suami adalah seorang jutawan pewaris tahta dari perusahaan raksasa. Namun di  sebalik kisah ini, ternyata juga menyimpan masa lalu yang begitu kelam lagi memilukan.


“Hana, aku tidak tau apakah harus mengatakan hal ini padamu atau tidak. Tapi aku merasa harus mengatakannya”


“Apa itu mas?”


“Gadis yang dulunya akan dijodohkan oleh kakek untuk menjadi pendamping ayah adalah… Ibu dari Arini”


***


Hi Teman-teman, kisah tentang Haris sang pewaris tahta ini sebenarnya bila teman-teman jeli, clue-clue nya sudah tampak di bab-bab sebelumnya ya. Apalagi di bab-bab awal.  Jadi pada bab ini Alana mencoba mengisah kisah lengkapnya. Maaf penulisannya masih berantakan namun semoga para pembaca bisa memahaminya hehe.


Yuk dukung ALana terus dengan cara Like Komen Vote dan berikan hadiahnya. Semua dukungan teman-teman memacu semaangat Alana Alisha tuk lebih semangat dalam menulis. Terima Kasih ^^


***

__ADS_1


__ADS_2