
Hana menunggu kedatangan Yura yang sedang berada dalam perjalanan untuk menemaninya. Haris sendiri tengah bersiap-siap untuk menghadiri undangan syukuran makan malam atas wisudanya Aris, adik dari Arini yang baru saja pulang dari Shanghai, China.
Haris memakai pakaian casual agar lebih terlihat santai, baju kaos dongker polos dan celana jeans sudah dikenakannya. Tak lupa ia memakai jaket hitam untuk lebih menyempurnakan penampilan casualnya. ia pun menyisir serta mengoleskan minyak ke helaian rambut agar lebih terlihat rapi. Lalu ia menambahkan jam ke tangan kirinya dan memakai gelang giok hitam dengan batu kecil-kecil mengkilap pemberian Haji Zakaria. Ia juga menyemprotkan parfum non akohol dengan harum maskulin ke tubuhnya. Lengkap sudah ketampanan yang pria ini miliki. Muda dan Fresh.
Hana melihat detil setiap gerakan yang suaminya lakukan. Ia baru sadar bahwa sang suami memang memiliki pesona yang kuat. Tiba-tiba saja ada kecemasan yang hinggap dihatinya. Ia khawatir Haris akan didekati gadis cantik dan terperangkap oleh godaannya. Ah. Kecemasan yang tidak berdasar. Konyol sekali. Pikirnya.
“Sudah puas dari tadi memperhatikan suami tampan mu ini, huh?” Ucap Haris sambil melipat ringan lengan jaket hitamnya tanpa menoleh ke arah Hana. Tepat sasaran.
Hana tersadar, ternyata Haris tahu bahwa dari tadi ia memperhatikan semua kegiatan yang suaminya itu lakukan.
“Aku melihat dan berpikir, ternyata laki-laki juga berdandan kompleks ketika mereka keluar rumah” jawab Hana sambil mensedekapkan tangannya.
“Benarkah? Bukankah kamu tengah berpikir dan baru menyadari bahwa suamimu ini sangat tampan?” Haris pun menoleh menatap Hana dengan senyum usilnya.
“Ih, mas selalu GR, gede rasa!!” Hana manyun.
“Tapi aku senang lho kalau kamu sudah menyadari suami tampanmu ini memang tampan” Haris mendekati Hana dan menoel hidungnya. Hana memalingkan wajahnya. Kini Ia kehabisan kata-kata menghadapi Haris. Hana baru tau kalau Haris ternyata orang yang usil tapi juga menyenangkan.
Haris memegang dagu Hana dan mengarahkan wajahnya menghadap padanya.
“Kenapa wajahnya dipalingkan, hm? Aku suka kamu terus menatapku tanpa henti seperti tadi” Ucap Haris sambil Jemarinya menyisir rambut Hana yang memang sudah rapi. Perlakuan sederhana dari Haris sukses membuat jantung Hana berdetak melebihi detakan normalnya. Jika Sudah seperti ini, wajahnya akan bersemu seperti musim semi yang merekah.
“Yura jadi ke sini?” Tanya Haris mengikis kecanggungan Hana.
Hana mengangguk.
“Ia tengah dalam perjalanan ke sini. Mas mau berangkat ke acara kapan?”
“Aku harus memastikan Yura datang baru setelah itu aku akan berangkat ke acara” Jawab Haris pasti.
“Kalau Yura tidak hadir bagaimana?” Hana menguji Haris.
“Aku akan tetap di sini bersamamu, mana mungkin aku meninggalkanmu sendirian”
“Tidak apa-apa, mas pergilah penuhi undangannya. Insya Allah Yura akan segera tiba di sini” Hana berkata sambil tersenyum.
Haris menggeleng, ia tetap saja akan menunggu Yura dan memastikan Hana aman serta nyaman terlebih dahulu baru ia akan berangkat memenuhi undangan, walau ia sudah berencana akan pulang dengan segera, namun kenyataan di lapangan kelak tidak ada yang mengetahuinya.
Drrrrrttt drrrtttttt
Sebuah pesan masuk ke gawai Hana, ternyata orang yang tengah dibicarakan mengirim pesan,
Hana, ban mobilku kempis, tapi aku sudah menyuruh orang untuk mengantikannya, maaf aku akan telat tiba di sana, namun aku akan mengusahakankan masalah ban ini cepat selesai. Yura
“Ada apa? Siapa yang mengirim pesan?” Tanya Haris penasaran.
“Yura, mas” Jawab Hana.
“Bagaimana? Ia jadi kan menemanimu” Tanya Haris lagi. Hana tau Haris sedang buru-buru, ia bingung harus menjawab apa. Haris pun mengambil HP yang berada di tangan Hana lalu membaca pesan yang ada di dalam nya.
“Semoga Yura selalu dalam lindungan Allah” Ucap Haris mendoakan Yura.
“Aaamiin. Mas, nanti mas terlambat. Please mas pergi aja ya, sebentar lagi urusan Yura selesai, kalaupun harus sendirian, aku tidak masalah” Hana membujuk suaminya.
Haris menggeleng.
“Mas, ayolah. Ku mohon. Aku beneran ga masalah sendirian. Aku akan bermain handphone atau berdiri di jendela menatap indahnya malam seperti hari-hari biasa yang sudah sering ku lakukan”
Haris tetap menggeleng.
“Kalau aku memerlukan sesuatu, aku akan meminta bantuan perawat” Ucap Hana lagi.
Hana kehabisan cara membujuk Haris, ia tetap keukeuh ingin tetap menemani dirinya.
__ADS_1
Dddrrrrrrtttt drrrrrttttttttttttt
Gawai Haris bergetar, ternyata Aris menghubunginya,
“Assalamu’alaikum, Ar”
“Wa’alaikumsalam, dimana bro? Kok belum nongol? Apa ada kendala?” Tanya Aris di seberang sana.
Haris melirik ke arah Hana, gadis itu langsung paham dan mengisyaratkan agar Haris segera pergi.
“Ga, Aku baru aja mau ke sana. Ini lagi bersiap-siap” Jelas Haris.
“Okay, Aku tunggu ya! Ntar kita ngobrol all night long” Ucap Aris sambil tertawa ringan.
“Haha sip!” Ucap Haris seraya menutup obrolan mereka.
Haris kembali menatap Hana, ia tidak tau harus mengatakan apa.
“Pergi aja mas, I’m fine. Kalau ada apa-apa aku akan langsung menghubungi mas” Hana tersenyum, seperti biasa, senyumnya manis sekali.
“Baiklah, tapi kamu janji hubungi aku jika ada apa-apa ya!” Haris merasa enggan untuk pergi.
Hana mengangguk, Haris pun mengecup puncak kepala Hana lalu ia berjalan menjauhi gadis itu ke arah pintu dan memakai sepatunya. Ia menyempatkan diri melirik Hana yang menatap ke arahnya. Mereka saling melemparkan
senyuman.
Tiba-tiba Hana merasa sedih, mood nya memburuk. Ia tidak tau mengapa tiba-tiba saja suasana hatinya berubah, ia merasa semakin Haris berjalan menjauhinya, maka ia dan Haris semakin menjauh. Hana pun bangkit dari tempat
tidur nya, berjalan pelan ke arah pintu lalu membuka knop nya. Ia masih bisa melihat punggung Haris yang semakin bergerak menjauhinya. Langkah kaki laki-laki itu pelan namun pasti. Rasanya, ia ingin sekali Haris membalikkan
badan dan kembali padanya. Namun tentu saja itu mustahil dan ia pun enggan untuk memanggil Haris yang sudah hampir menghilang di balik tembok putih rumah sakit. Hana mendesahkan nafas. Ia memegang dadanya. Rasa tidak enak itu masih saja mengisi ruang di sana. Ia pun kembali masuk ke kamar, mengambil wudhu sebisa yang ia bisa dan mulai membuka mushaf lalu membacanya. Ya Allah, lindungilah mas Haris dimanapun beliau berada. Lirih hatinya.
***
Di Hotel XXX
pulih total, ia sudah pasti mengajak serta gadis itu dan tentu saja tidak akan ditinggalnya lagi seperti pada acara kantor sebelumnya.
Haris pun dengan cepat menyeret Langkah kakinya memasuki hotel. Tak lama, ia tiba di ruangan private tempat diselenggarakannya makan malam. Di sana sudah ada keluarga inti dan tamu undangan yang di undang khusus oleh bu Indah. Dari ambang pintu, ia mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling. Di dalam ruangan tempat berlangsungnya acara makan malam, sudah tersedia 13 meja bundar besar yang masing-masing di kelilingi oleh 10 kursi. Ia menghitung cepat, kira-kira ada 130 an orang yang berada dalam ruangan tersebut, lumayan juga.
Ada beberapa orang yang sudah dikenalnya. Edaran matanya berhenti ketika melihat Hanum, ternyata Wanita rekan kantor yang dicurigai sebagai salah satu tersangka atas kasus yang menimpa Hana juga di undang di
sana. Ia menggigit giginya, kemudian menarik nafas lalu menghembuskannya. Ia mencoba menguasai keadaan dan melangkah dengan santai ke arah pemilik acara.
“Wah wah, yang ditunggu-tunggu baru saja hadir, darimana saja bro?” Aris adik Arini menyapa ramah.
“Maaf semua saya terlambat, tadi ada sedikit urusan mendesak” Ucap Haris yang merasa tidak enak pada para tamu undangan yang sudah menempati meja dan kursi mereka masing-masing.
“Tidak apa-apa, Haris. Duduklah. Kursi kosong di samping Arini itu sudah disediakan untukmu” Ucap bu Indah yang sengaja bangun dari duduknya untuk menyapa Haris. Mau tidak mau pemuda 26 tahun itu duduk di
samping Arini.
“Hai mas, apa kabar?” Sapa Arini ketika Haris sudah mendaratkan tubuhnya di kursi.
“Baik Alhamdulillah” Jawab Haris datar.
“Bagaimana kabar Hana, mas? Apa Hana sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit?” Arini mencoba berbasa basi.
“Alhamdulillah Hana semakin baik, semoga dalam 2 hari ini sudah diperbolehkan pulang” Jawab Haris sewajarnya.
Pemuda ini memang berada di tengah kerumunan orang ramai, berada tepat di samping Arini. Namun sejujurnya, pikirannya melayang pada istri yang ditinggalkan di rumah sakit. Apa Yura sudah hadir menemani? Haris pun mengecek handphone nya, mungkin saja Hana menghubunginya, tapi sayangnya tidak ada nama Hana pada daftar orang-orang yang melayangkan pesan untuknya. Ah, kenapa tidak ia saja yang menghubungi gadis itu. Haris mulai mengetik pada keyboard ponselnya,
Assalamu’alaikum Hana, apa sekarang Yura sudah bersamamu? Apa kamu masih sendirian? Aku mencemaskanmu. Haris.
__ADS_1
Hana yang sedang berada di rumah sakit dan memang menantikan pesan dari sang suami pun kesemsem senang, hampir saja ia meloncat girang. Untung sebentar kemudian ia mampu menetralisirkan keadaan hatinya. Ia pun langsung membalas pesan dari Haris
Wa’alaikumsalam. Alhamdulillah ban mobil Yura sudah berhasil diperbaiki mas, ia tengah on the way ke rumah sakit. Insya Allah 5 menit lagi tiba. Mas jangan cemas ya! Enjoy the Meal. Hana menyertakan emoticon smile di ujung pesannya. Haris lega dan tersenyum membaca pesan dari Hana.
Arini melihat gerak gerik Haris yang tersenyum sendirian sambil memegang HP layaknya orang yang lagi kasmaran itu merasa sangat kesal. Ia merasa diabaikan. Haris pasti sedang chattingan dengan Hana. Tebak Arini. Mengetahui kenyataan Haris dan Hana yang semakin dekat, seperti ada sedikit rasa penyesalan dihatinya telah menolong gadis itu tempo hari lalu. Hmh, Betapa cinta mampu membakar kebaikan yang sudah dipupuknya.
“Mas tidak makan? Makanlah dulu sebelum makanannya dingin” Arini masih berusaha mengalihkan perhatian Haris.
Ah, bukankah dari awal Arini sudah berniat mengalihkan perhatian Haris? Lihatlah dandanan Arini, ia bahkan memakai pakaian yang style nya sangat mirip dengan style yang Hana kenakan. Tidak hanya itu saja, gaya bermake up nya pun ia setting sedemikian rupa hingga memang menyerupai Hana. Sayangnya Haris tidak menyadarinya. Belum menyadari lebih tepatnya, sebab dari tadi pemuda itu memang sudah menghindari diri dari menatap Arini demi menjaga Hati dan perasaannya.
Pertanyaan dari Arini berhasil membuyarkan lamunannya.
“Iya, mari kita makan” Ucap Haris kemudian, ia pun segera menyantap makan malamnya sambil melirik-lirik ke arah jam tangan. Rasanya waktu begitu lama berlalu.
Selesai makan, Haris bergabung bersama Aris, sudah lama sekali mereka tidak mengobrol sejak Aris memenangkan beasiswa sarjananya di Shanghai, memang Haris lebih tua dari Aris, namun kematangan pikiran dan wawasan yang Aris miliki menjadikannya dapat nyambung satu sama lain ketika mengobrol bersama. Pada saat mereka berdua lagi asik berbincang-bincang, tiba-tiba Arini dan Hanum datang menghampiri mereka.
“Hai mas Haris, bagaimana kabarnya?” Sapa Hanum dengan senyumnya yang tidak lupa ia sematkan. Haris semakin tampan saja. Batin Hanum mendamba.
Haris begitu malas melihat Hanum yang menghampiri dan menyapanya, namun ia tidak ingin merusak suasana.
“Alhamdulillah baik” Haris menjawab datar tanpa menoleh sedikitpun ke arah Hanum. Ia berpaling kembali ke arah Aris untuk mengalihkan suasana.
“Kamu keren ya! Bisa cumlaude. Proud of You” Ujar Haris memuji dengan tulus.
“Haha, biasa saja. Kalau mas berada di posisiku, mungkin prestasinya akan jauh melebihi ini” Ucap Aris merendah.
Mereka terus saja berbincang. Sampai pada Hanum yang diam-diam tanpa sepengetahuan Haris dan Aris mengetik pesan melalui WA dan dilayangkan pada Lisa,
Kamu sudah menyiapkan semuanya? Hanum.
Sudah. Apa aku sudah bisa beraksi? Lisa.
Okay. Good. Segera laksanakan Rencanakan. Hanum.
Bak komandan pasukan perang, Hanum dengan angkuhnya memerintahkan Lisa untuk segera melakukan rencana yang telah mereka persiapkan dengan matang. Hanum dan Arini pun saling melirik satu sama lain, lalu mereka tersenyum bersama tanpa ada seorang pun yang berada di ruangan tersebut yang mengetahuinya.
***
Di Rumah Sakit
“Yura, rasa-rasanya hatiku tidak tenang” Ucap Hana di sela-sela menyantap cemilan yang sempat Yura belikan sebelum mengunjungi Hana.
“Tidak tenang bagaimana? Apa kamu memikirkan mas Haris yang menghadiri acara syukuran temannya?” Hana terdiam, ia memberi jeda sesaat untuk berfikir. Rasanya terlalu berlebihan jika ia memikirkan Haris yang notabene nya hanya memenuhi undangan biasa. Sedangkan dalam kehidupan nyata yang sebenarnya, ia sudah terlalu banyak ditinggal sebab Haris full bekerja.
“Entahlah. Aku juga tidak mengerti dengan perasaanku” Jawab Hana pada akhirnya. Namun wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa khawatir dan cemasnya. Itu semua terlukis di sana.
“Jika hatimu tidak tenang, mari kita perbanyak dengan berdzikir dan beristighfar kepada Allah. Bisa jadi perasaan yang tidak enak itu berasal dari syaithan yang terkutuk” Yura mencoba menenangkan Hana.
“Kamu benar, Yur. Tidak seharusnya aku merasa cemas sedang Allahu ma’ana. Allah bersama kita” Ucap Hana lagi. Yura pun memeluk Hana. Betapa sahabat nya ini sangat tulus menyayanginya.
“Mari kita shalat dua rakaat dulu, ah aku ada ide, bagaimana setelah itu kita saling menyimak hafalan al-Qur’an sambil menunggu mas Haris pulang?” Ucap Yura.
“Masya Allah. Ide yang bagus” Hana berbinar-binar.
“Tapi kamu bantu menggantikan bajuku ya! Aku sudah sangat sering tidak mengganti baju karena keterbatasan gerakku” Hana berkata dengan membentukkan puppy eyesnya. Yura gemas melihatnya.
“Ah benarkah? Bukannya mas Haris sudah sering membantumu” Yura berkata setengah mengejek. Usil.
“Ih kamu bilang apa sih?” Hana tersenyum-senyum dan pura-pura marah dengan mencubit ringan lengan sahabatnya. tentu saja peryataan Yura itu tidak benar.
Mereka pun melanjutkan obrolan sambil bersenda gurau, kemudian mengambil wudhu melaksanakan shalat dan melakukan apa yang sudah mereka rencanakan.
***
__ADS_1
Hai Teman-teman, maaf kalau "Aris" nama dari adik Arini kurang nyaman dibaca sebab mirip-mirip dengan nama tokoh utamanya "Haris", awalnya Alana ga ngeh karena nama Aris itu spontan muncul begitu aja, terus ketika sadar dan mau diubah, eh ternyata di episode sebelumnya nama Aris sudah tersemat di sana. Jadi daripada pembaca bingung yudah lah, Alana memutuskan untuk tetap memakai nama Aris. Semoga kedepannya bisa lebih teliti lagi. Hehe peace.
Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN dan VOTE juga jangan lupa HADIAH-nya, Jazakumullah Khairal Jaza' ^^