Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 135: Kepingan Puzzle


__ADS_3

Haris masih terduduk saat Umminya berlalu. Untuk sesaat laki-laki ini terdiam. Ia gamang. Tak tau harus melakukan apa. Sebuah titah mutlak dari sang Ibu serasa pukulan telak yang tidak bisa ia elakkan. Bagai makan buah simalakama. Mungkin peribahasa ini cocok untuk menggambarkan keadaan nya saat ini.


Ceklek


Suara gagang pintu yang sengaja di buka. Sesosok wanita hadir di hadapannya dengan wajah bingung. Wanita itu tampak anggun dalam balutan gamis hijau lumut nya. Ia terlihat fresh dengan kerudung yang berwarna lebih terang.


"Mas... Ummi kemana? Aku belum memberikan salam! " Wanita yang tak lain adalah istrinya itu mendekat. Ia melirik ke kanan dan ke kiri.


"Mas... Kenapa duduk di lantai begini? " Hana kembali bertanya. Tenggorokan Haris terasa tercekat.


"Mas... "


"A... ku mau kembali ke kamar, berwudhu sebentar. Lalu shalat di mesjid" Ucap Haris bangkit. Ia memegang tangan sang istri menuntun nya untuk keluar ruangan. Hana diam. Mungkin untuk saat ini suaminya sedang tidak ingin menjelaskan apapun.


"Mas... Apa mas tidak ingin kita makan siang bersama? "


"Kamu duluan aja ya... Kamu ga boleh telat makan! Aku... Hmh nanti aku menyusul" Sahut Haris. Ia melangkah menuju kamar. Hana mematung mengamati punggung sang suami yang terus melangkah meninggalkan nya di tempat.


"Hana...." Haris menoleh ke belakang.


"Makan banyak sayuran! Vitamin nya jangan lupa di minum! " Pesan Haris. Hana mengangguk. Wanita ini merasa seperti ada sesuatu yang aneh.


Haris bergegas masuk ke dalam kamar. Ia mengunci pintu lalu mengambil gawai memanggil seseorang.


"Wan, lu di mana? gua mau ngobrol"


"Ampun Ris... Ini tengah malam di Amerika. Lu yang bener aja. Besok deh. Gue ngantuk ni! " Sahut Ridwan menguap. Ia memang sudah berada di alam mimpi tapi terbangun akibat panggilan dari Haris.


"Gua lagi kacau. Gua ada masalah" Ucap Haris. Mata menahan kantuk Ridwan sontak melebar.


"Lu ada apa? Ga lagi berantem ama Hana kan? " Ridwan mengucek matanya.


"Ummi nyuruh gue nikah lagi"


"Beuuh... Cerita lama! Ummi Hajjah apa kaga ada kerjaan lain? Hobby banget nyuruh poligami? Laah.. tapi bukannya Hana sekarang lagi ha.... "


"Bukan Ummi Aisyah. Tapi Ummi kandung gue! Ummi minta gua nikahi Arini dalam waktu dekat" Sahut Haris mengacak kasar rambutnya. Ridwan tercengang.


"Kok tiba-tiba banget? "


"Gue juga heran... "


"Pasti ada konspirasi nih! Kalau boleh su'uzhan, mungkin ada ancaman dari pihak luar!" Tukas Ridwan berpikir cepat.


"Gue kepikiran Hana. Takut dia drop. Apalagi sekarang mood nya lagi naik turun. Apa jadi nya kalau gue nikahin Arini! Gue juga ga bisa nikahin siapapun..."


"Lu tolak aja... Bicarakan baik-baik sama Ummi... Insya Allah Ummi bisa luluh"


"Andai semudah itu. Gue ga bisa sakitin hati Ummi. Apalagi tadi Ummi bilang ga pernah minta apapun. Mungkin ini permintaan pertama dan terakhir. Huft Runtuh pertahanan Gue. Sebagai anak, gue juga belum berbakti sepenuhnya" Lirih Haris tak semangat. Speechless. Ridwan tidak bisa berkata-kata.

__ADS_1


"Okaylah. Gue mau shalat dulu. Udah Adzan Zhuhur di sini! " Ucap Haris pada akhirnya.


"Ris, lebih baik lu selidiki dulu. Bagaimana pun ini mencurigakan. Jangan asal bertindak dan memutuskan sembarangan. Nikah lagi sama sekali bukan solusi. Kalau lu ga bisa adil antara Hana dan Arini, jatuhnya lu bisa zhalim. Please lu selidiki dulu. Percaya ma gua! "


"Thanks ya Wan"


***


Bu Fatma turun dari mobil. Di teras sudah ada Hajjah Aisyah dan Layla menunggu. Mertua menantu ini kompak menunggui kepulangan bu Fatma dari pesantren.


"Saya shalat dulu kak Hajjah" Ucap bu Fatma sembari mempersilahkan mereka masuk. Wajah lesu terpatri di sana.


"Mi... Apa ini akan berhasil? "


"Entahlah nak... Semoga saja... " Sahut Hajjah Aisyah cemas.


Ancaman bu Indah benar-benar akan direalisasikan nya. Sepucuk surat dengan bahasa yang jelas sudah beliau tuliskan dan dipastikan akan segera di kirimkan ke haji Zakaria. Jantung Hajjah Aisyah tidak sanggup menanggung semua beban ini. Maka tidak ada cara lain kecuali memanfaatkan kepolosan dan kebaikan bu Fatma.


Sudah kepalang tanggung. Sebenarnya menyerahkan setengah harta Haris kepada Indah juga tidak masalah. Tapi terlalu riskan. Resikonya sangat besar. Haji Zakaria beserta jajaran pasti tidak akan bisa menerima. Satu-satunya cara yang paling masuk akal untuk saat ini hanya dengan menikahkan Haris dan Arini. Hajjah Aisyah tidak berani mengambil resiko diceraikan oleh sang suami. Baru setelah masalah ini selesai. Beliau berencana kembali mengambil hati haji Zakaria.


"Kak Hajjah... " Bu Fatma memeluk Hajjah Aisyah. Airmata nya berhamburan. Beliau gemetar. Tak berdaya dengan apa yang terjadi.


"Bagaimana dik? Haris bersedia menikahi Arini? "


"Haris masih terlalu terkejut. Tapi Saya tau Haris itu anak berbakti" Bu Fatma mengusap air matanya.


"Ancaman Indah tidak bisa kita biarkan dik! Dia masih menaruh dendam padamu! Aku takut kalau Haris tidak menikahi Arini, janin di kandungan nak Hana tidak akan selamat. Bahkan nak Hana sendiri bisa celaka. Kamu tau kan Indah itu jenis manusia yang bagaimana? Ini saja belum apa-apa sudah mengancam akan membuat Haris menderita. Sudah mengancam akan memusnahkan cucu-cucu kita" Bu Hajjah semakin menakut-nakuti bu Fatma.


"Dik... Kakak tidak bisa berlama-lama di sini. Banyak hal yang harus dibereskan. Kami permisi dulu. Kakak mendoakan segala kebaikan untuk kita semua. Terutama untuk nak Haris dan nak Hana" Hajjah Aisyah menutup pertemuan dengan kembali memeluk bu Fatma. Mobil beliau berlalu menembus tol untuk kembali pulang ke pesantren.


Mi, Layla sudah membersamai Ummi dalam perkara ini. Semoga kelak Ummi juga bisa membersamai Layla dalam berjuang untuk memperebutkan hati mas Yahya. Layla juga tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi mas Yahya kalau mengetahui bahwa Ali dan Umar bukanlah anaknya mas Yahya. Ucap batin Layla.


***


Ceklek~


Hana membuka pintu kamar. Ia sempat melihat Haris yang tidur berbaring di atas tempat tidur dengan tatapan kosong.


"Kamu udah kembali? Gimana tadi? Lancar? " Haris memberikan rentetan pertanyaan tanpa ingin sedikit pun beranjak dari sana.


Hana melepaskan kaos kaki juga kerudungnya. Lalu dengan santai meloloskan gamis hingga menyisakan baju kaos dan celana leggingnya. Ia Sedikit gerah. Cuaca saat ini memang lagi panas-panasnya.


"Hhhh Mas tadi ga liat aku di sana" Hana mendengus. Ia kecewa tidak melihat keberadaan Haris sampai membuat konsentrasi nya sedikit terpecah. Hana memilih duduk di meja rias dan menyisir rambut panjangnya seperti biasa. Haris mengusap wajahnya.


"Maaf... Aku kurang enak badan... "


"Mas sakit?! " Hana menoleh. Ia bergegas menghampiri Haris.


"Tidak... Hanya sedikit tidak enak badan..."

__ADS_1


"Aku buatkan minuman rempah ya mas... " Hana bangkit. Namun Haris dengan cepat memegang tangan Hana.


"Aku tidak apa-apa. Aku... mau minta izin menemui Arini. Boleh? "


"Kenapa mau menemui mbak Arini? " Lirih Hana mengerutkan keningnya. Haris bangkit. Dengan cepat ia memeluk Hana.


"Mas.... "


"Mas.... Ada apa? "


"Hana... Aku mencintaimu... Insya Allah kemarin, sampai detik ini atau sampai nanti... Hanya ada kamu di sini" Haris menunjuk ke arah jantung nya.


"Aku begitu ingin kita menua bersama. Kelak, Aku yang akan menyisir rambut putihmu. Dan kau akan tetap membuatkan ku secangkir kopi atau teh tanpa gula setiap pagi seperti biasa... Kita akan menyaksikan anak-anak tumbuh dewasa. Sebagaimana kamu membersamaiku dengan baik. Mereka pun juga akan tumbuh dengan baik... Karena kamulah Ibu mereka..." Ucap Haris merenggang kan pelukan nya. Matanya melihat ke dalam mata Hana. Ia berkaca-kaca. Tatapan sendu. Tatapan ketika laki-laki ini memiliki masalah. Tatapan hangat yang sudah begitu Hana kenal. Hana terhanyut... Ia kembali memeluk Haris erat.


"Kenapa mas? Apa ada kerabat yang menyuruh mas menikah lagi? Dan... wanita yang harus mas nikahi itu.... mbak Arini kan? " Tanya Hana tepat sasaran. Entah mengapa perasaan nya begitu peka dan sensitive akhir-akhir ini. Tenggorokan Haris tercekat.


Ddddrrrtttt Dddrrrrttt


Sebuah panggilan mmasuk mengalihkan tatapan mereka. Dari Roni.


"Pak Bos... Sejauh pengamatan saya tidak ada yang mencurigakan dari gerak gerik bu Fatma. Sepulang dari pesantren beliau langsung pulang..."


"Hmh... Begitu ya..."


"Tapi..."


"Tapi apa? "


"Ada sebuah mobil yang baru saja keluar dari halaman rumah Ibu Fatma"


"Mobil? Mobil jenis apa? Berapa nomor platnya? "


"Mobil Alphard Hitam plat B 5xxx"


"Itu kan.... Mobil Ustadz Yahya" Haris mengerutkan keningnya.


"Di dalam mobil tersebut terdapat seorang supir dan dua orang wanita. Satu sudah agak berumur dan yang satu lagi masih muda" Sahut Roni lagi. Haris mengerutkan keningnya. Bagai menemukan sepotong kepingan puzzle. Pikiran laki-laki ini melayang.


***


Hi Kak kaka, Mak Emak readers pembaca setia... Author terkejut dengan hebohnya pesan yang masuk kemarin... isiannya...? Allahu Akbar... Atuut πŸ˜‚


Dahsyat banget kekuatan ancang-ancang Haris menikah lagi. Tetiba wajah akun pembaca cerita Haris Hana yang sebelum nya ga pernah muncul, ga pernah like atau komen tetiba muncul... tapi di sini Author happy walau kak Kaka yg ga pernah muncul ni cuma hadir hanya untuk melayangkan protes akan alur cerita nya... Author anggap sebagai sebuah bentuk dukungan yaahh πŸ˜‚βœŒ


Eh tapi padahal Haris belum ijab kabul lhooo... apa mungkin kalau ijab kabul beneran komen meramaikan nya akan bisa lebih banyak... πŸ€”πŸ€”πŸ€” #hehe candaaa πŸ˜„βœŒ Pada dasarnya Author sama sekali belum kepikiran bagaimana alur cerita di eps berikutnya yaaa... karena nulis nya memang On Going... Hebatnya pikiran kak kaka readers sudah mendahului pikiran author dalam berkisah... emesh bgttt...makasih loh... Sedikit banyak nya menginspirasi author dalam menimbang tuk menulis part berikut nya ❀❀❀


Oh iya. Kok balik ke cerita lalu sih kak Author? Kok Balik ke Arini lagi? Karena cerita tentang Arini masih menggantung ya... Mau ga mau Author harus bertanggung jawab menyelesaikan ini biar dapat ending yang pas.


Terima kasih dukungannya... apalagi yang komen, like, terus kasih hadiah dan ngevote diam-diam tuk karya yang ga seberapa mana ini... Jazakumullah Khairal Jaza'... Semoga Allah memudahkan urusan kita semua... Keep Health... Positive Vibes ❀❀❀

__ADS_1


IG: @alana.alisha


***


__ADS_2