
Haris membuka pintu kamar. Ia baru saja selesai shalat ‘ashar. Ketika keluar dari ruang rapat, pemuda ini memilih langsung ke mesjid dan beristighfar di sana. Terlihat Hana tertidur di atas sajadah. Sepertinya sang istri juga baru selesai menunaikan kewajiban lima waktunya.
Haris mendekat. Ia mengusap lembut pipi Hana. Wanita-nya menggeliat ringan namun tetap meneruskan tidurnya. Haris tersenyum simpul. Ia ingin mengangkat Hana ke atas kasur tapi sejenak diurungkannya. Laki-laki ini memilih menatap lekat-lekat wajah bersih yang sudah beberapa waktu tidak ia tatap.
Bulu mata lentik dan alis tebal namun tetap proporsional. Cantik. Gumam Haris mengusap pelan alis Hana. Jari telunjuknya berjalan mengikuti jalur garis rambutnya.
Rabbi... Perasaan itu masih sama. Tidak ada yang berubah. Bahkan rasa sayang nya semakin bertambah.
Tak menunggu lebih lama. Haris takut kalau-kalau Hana akan masuk angin. Ia pun langsung mengangkat tubuh istrinya perlahan. Lalu diletakkan di atas kasur.
Mata Hana terbuka. Terkejut. Spontan ia menarik kuat kerah leher kemeja orang yang mengangkatnya.
“Huk Uhuk Uhuk” Haris terbatuk memegang tenggorokan.
“Ah Mas! Aku pikir siapa!" Ucap Hana menguap. Ia duduk membuka mukena.
“Kamu ih. Hampir saja aku mati tercekik!” Haris bersungut.
“Astaghfirullah. Mas sih ngagetin! Mana sini aku lihat!”
Haris duduk di pinggiran kasur. Ia merapikan rambut Hana yang terlihat sedikit acak-acakan.
“Bagaimana mas? Ummi tidak terlibat kan?”
Haris menggeleng sendu.
“Alhamdulillah ‘alaa Kulli Haal. Aku sudah menduganya. Mana mungkin Ummi melakukan perbuatan keji” Hana sumringah. Ia menyatukan kedua tangannya. Lega.
“Tapi wajah mas terlihat tidak senang. Pasti mas merindukan alm. Abah dan Ummi” Lirih Hana. Haris tersenyum.
“Romi akan mengunjungi kita”
“Mas Romi? Jam berapa?”
“Mungkin sebentar lagi. Ia datang mengajak istrinya”
“Ha? Istri? Mas Romi sudah menikah? Kapan? Siapa istrinya? Kok aku ga tau?!” Hana tampak antusias. Ia bahagia akhirnya Romi bisa menemukan belahan jiwanya.
“Kamu itu… kalau nanya satu-satu. Jangan seperti kereta api. Aku bingung jawabnya darimana!” Haris menoel hidung Hana.
“Hmh aku sendiri juga tidak tau Romi nikah sama siapa. Nanti kita pastikan bersama, hm?”
Hana mengangguk. Haris bergerak mendekat setahap demi tahap. Tangannya mengambil kepala Hana lalu meletakkan kening dan hidungnya di rambut dekat telinga.
“Aku stress. Aku membutuhkanmu” bisik Haris. Hembusan nafasnya terasa hangat menjalar dari telinga sampai ke tulang pipi. Hana terhenyak.
“Kepala-ku terasa penuh. Dada-ku seperti ada yang menghimpit. Aku bingung. Apa aku masih tidak bisa ikhlas? Aku sudah berupaya untuk menenangkan diri. Tapi hatiku masih terasa sakit. Kenyataan bahwa Adanya percobaan pembunuhan hingga Abah meninggal terus saja mengganggu hingga Aku jadi menerka-nerka apa Ummi benar-benar pergi secara wajar. Hhhh Aku jadi khawatir kalau aku bukan termasuk ke dalam golongan orang-orang mukhlishin” Tak lagi bisa menahan. Akhirnya Haris mengeluarkan keluh kesahnya. Curhatan yang jarang sekali Haris lakukan membuat Hana terenyuh.
Bukan hanya itu saja. Aku jadi mengkhawatirkanmu dan keselamatan calon anak kita. Lanjut batin Haris. Air mata nya mengalir. Ia berkata sambil menelusuri tiap inci wajah sang istri dengan ujung hidungnya. Untuk sementara Hana hanya bisa diam. Ia membiarkan Haris melampiaskan keluh kesahnya. Melampiaskan apa yang suaminya itu ingin lampiaskan.
__ADS_1
“Mas…” Sendu Hana. Perlakuan Haris membuat nafas wanita ini menderu mulai tidak beraturan.
“Sudah begitu lama. Aku tau kau merindukanku...” Haris masih berbisik. Tangan dan gerak tubuh pemuda ini membawa Hana ke dalam dekapannya. Ia melancarkan aksi melabuhkan rindu di dermaga yang tepat.
Haris melakukan tugas nya dengan piawai.
Kesedihan, rasa sakit, kerinduan, rasa sayang, cinta juga Hasrat yang mengubun-ubun. Semua melebur menjadi satu. Ia harus menyalurkan ini semua. Sedikitnya untuk melepaskan Hormon Vasopresin (Hormon yang berperan dalam proses reproduksi) sehingga Hormon Oksitosin tercipta (Hormon Cinta, hormon bahagia) guna melepaskan perasaan negatif yang kian bercokol di tubuh. Laki-laki yang sudah menikah memang butuh menyalurkan nya.
Bagai disengati aliran listrik. Gelayar kenikmatan itu meledak seirama dengan tarikan nafas yang bersahut sambut. Seakan saling berebutan oksigen, bunyi nafas mereka menderu. Haris semakin membenamkan Hana ke dalam pelukkan-nya. Terakhir, ia menghujani puncak kepala sang istri dengan begitu banyak kecupan.
Hubungan badan antara kalian adalah sedekah. Para sahabat lantas ada yang bertanya pada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Wahai Rasulullah, apakah dengan kami mendatangi istri kami dengan syahwat itu mendapatkan pahala?’ Beliau menjawab, ‘Bukankah jika kalian bersetubuh pada yang haram, kalian mendapatkan dosa. Oleh karenanya jika kalian bersetubuh pada yang halal, tentu kalian akan mendapatkan pahala.”
Uqail Al-Hambil berkata tentang hukum suami yang tidak memberikan nafkah batin pada istri. Ia mengatakan,
“Ketika aku terkunci pada suatu permasalahan, maka aku panggil istriku untuk berhubungan badan. Ketika aku selesai, maka aku ambil kertas dan aku tuangkan ilmu padanya (mulai menulis), karena jima’ dapat membersihkan pikiran dan menguatkan pemahaman.”
Kalimat-kalimat tersebut terngiang-ngiang di kepala Haris hingga ia telah berhasil merealisasikan nya.
***
Haji Zakaria berdiri di dekat jendela kamar dengan wajah muram. Wajah ini bukan tampilan wajah seperti biasa melainkan wajah terluka dan kecewa. Dua jam sudah beliau termenung. Menyendiri lalu menunaikan shalat ‘ashr kemudian beristighfar.
Haji Zakaria hafal betul bagaimana keras kepala dan egoisnya sang istri. Ini semua sudah beliau ketahui dari sejak awal menikah. Sebagai seorang suami, beliau berusaha memaklumi hingga mengingatkan serta mengubah tabiat tersebut secara perlahan. Walau sifat dasar itu tidak akan pernah bisa berubah, setidaknya bisa direndam dan diminimalisir sebisanya.
Ciiitttt
Terdengar decitan suara pintu terbuka. Seseorang memasuki kamar. Menutup pintu perlahan. Berjalan mengendap-endap seakan tapak kakinya tak mampu menyentuh ubin. Orang ini berjalan mendekati Haji Zakaria. Lalu memberanikan diri melingkarkan kedua tangannya memeluk sang Ulama.
“Duduklah Mi… Semuanya kita tuntaskan sekarang juga” Ucap Haji Zakaria dingin.
Deg.
“Bah, Abah tampak Lelah. Biar Ummi pijatkan dulu!”
“Tidak"
"Bah, Ummi akan menyiapkan air hangat untuk Abah"
"Silahkan ambil tempat!! "
Hajah Aisyah bersungut. Beliau bergerak duduk di atas sofa yang tersedia di kamar. Sepersekian detik, Haji Zakaria mengambil tempat di hadapan beliau. Menatap tak berkedip dengan tatapan yang sulit untuk diterjemahkan. Hajjah Aisyah menunduk memainkan ujung kerudungnya.
"Bah, Ummi bukan seorang mafia. Ummi bukan pelaku pembunuhan. Tolong jangan menatap Ummi seperti seorang penjahat begitu... Abah seperti ingin menelan Ummi hidup-hidup" Lirih Hajjah Aisyah pelan. Beliau beralih memainkan jari jemarinya.
"Baik. Sekarang ini abah memang tidak ingin membahas tentang almarhum Hasbi. Melainkan tentang perselingkuhan Ummi. Tiga pertanyaan yang abah ajukan tadi, Ummi belum menjawabnya! "
Ucap haji Zakaria tanpa basa basi.
Deg.
__ADS_1
Tak disangka secepatnya ini haji Zakaria meminta jawaban.
"Abah menunggu jawaban untuk pertanyaan pertama! "
"Ummi tidak pernah berhubungan badan dengan orang lain. Abah lah satu-satunya" Jawab Hajjah Aisyah cepat. Mata beliau menatap ke sembarang arah.
"Benarkah?"
Hajjah Aisyah mengangguk.
"Bohong!!! " Hardik haji Zakaria. Rahangnya mengeras. Urat-urat yang ada disekitaran leher menonjol dengan jelas. Sebagai seorang sarjana Psikolog, Haji Zakaria tau betul jika lawannya tengah berbohong. Apalagi beliau bertanya dalam keadaan terdesak.
Hajjah Aisyah terperanjat. 35 tahun menikah, ini pertama kalinya beliau dibentak dengan sebegitu kasar oleh sang suami.
"U... Ummi... " Hajjah Aisyah mulai gemetaran. Keringat dingin mengucur deras.
"Ummi sudah bersumpah dengan nama Allah. Katakan yang sejujurnya! " Habis sudah kesabaran haji Zakaria. Tiba-tiba beliau mencengkram lengan Hajjah Aisyah dengan kuat.
"Aww sakit bah" Hajjah Aisyah meringis.
"Ummi... mengakulah! katakan yang sebenarnya! Sebelum Abah dengar dari lisan orang lain... Abah ingin mendengar semua itu dari mulut Ummi sendiri!" Desak haji Zakaria tegas.
"Yahya itu anak kita bah! Ummi bersumpah atas nama Allah yang menciptakan langit dan bumi. Yahya benar-benar anak kita! Dia darah daging Abah. Dalam darahnya mengalir darah Abah! " Aku hajjah Aisyah menangis.
"Lalu siapa kekasih Ummi? Apa Ummi pernah melakukan hubungan badan dengannya? " Haji Zakaria kembali memperkarakan pertanyaan yang tersisa. Namun kali ini sedikit melunak.
Sedetik. Dua detik. Sepuluh detik berlalu. Hajjah Aisyah bungkam.
"Mi...... Abah siap mendengarkan! "
Dan... Pada akhirnya Hajjah Aisyah mengangguk pelan.
"Ummi me.. mang melakukan nya"
"Berapa kali Ummi mencurangi Abah? "
"Ti... Tiga kali atau Em... mpat kali. Ummi lupa... Ummi khilaf... Ummi termakan bujuk rayu nya" Hajjah Aisyah masih menangis.
"Apa almarhum Sulaiman benar-benar anak kita? "
Hajjah Aisyah menggeleng.
"Bu. Bukan"
Genggaman kuat haji Zakaria yang menggenggam tangan sang istri terlepas seketika. Lepas bersamaan dengan turunnya hujan.
Tes Tes Tes
Air mata suci itu mengalir.
__ADS_1
***