
Ketika sebuah pukulan dari Langit
menghantam dirimu,
bersiap-siaplah,
karena setelah itu
akan kau terima hadiah penghormatan.
Karena tak mungkin Sang Raja menamparmu,
tanpa memberimu sebuah mahkota
dan sebuah tahta untuk diduduki.
Seluruh alam-dunia hanya senilai
sebelah sayap kutu,
tapi satu tamparan dapat memberimu
ganjaran tak terperi.
~Jalaluddin Rumi~
***
Minggu Malam. Kediaman Haris didatangi oleh Haji Zakaria beserta istri, juga Ummi dan Abah Hana. Ibu nya sendiri sudah berada di rumah sejak sore hari. Di luar sana Gemerisik hujan memenuhi bentala, kilat dan petir menyambar-nyambar. Air dari kubah langit turun mengenai genting-genting. Bak air terjun, ia mendarat sempurna membasahi tanah melalui pipa pancuran. Haris sedang di sidang.
Para tetua duduk bersusun. Terlihat wajah-wajah yang sama sekali tidak ramah seperti biasa. Mereka menitik fokuskan penglihatan tepat ke jantung wajah Haris dengan mata nyalang. Nyali Haris menciut.
Raut muka Haji Zakaria tampak serius, giginya gemeletuk. Rahang kokohnya mengeras. Sedang Haji Amir terlihat lebih santai walau tidak bisa dielakkan wajah tersebut menunjukkan raut kekecewaan.
"Abah sungguh kecewa padamu, Bisa-bisanya kamu tidak mengabarkan berita sepenting ini kepada kami" Suara wibawa itu masih tetap sama, berkarakter namun terasa menggelegar memenuhi gendang telinga.
Haris menekukkan wajahnya. Pertemuan kali ini dirasa lebih sulit dari sidang munaqasyah skripsi ketika ia mengambil gelar sarjananya dulu.
"Sudah berapa lama Hana ditahan? " Tanya Haji Zakaria kemudian.
"Sudah beberapa minggu, Bah" Haris semakin menunduk, tenggorokannya tercekat.
Tatapan Haji Zakaria terus saja menyudutkan Haris, namun ini lebih baik dari pada Haji Amir yang terus saja berdiam diri tanpa mengatakan sepatah katapun sejak pertama mereka berkumpul setengah jam yang lalu.
Entah apa yang dirasakan pria paruh baya itu mengetahui anak perempuan satu-satunya yang begitu terjaga bisa mendekam di balik jeruji besi.
Ibu Hana sudah basah oleh linangan airmata yang terus saja mengalir sejak berita ini sampai ke telinganya. Ibu Haris sendiri juga demikian adanya. Ah, ibu sudah terlanjur sayang dan memang menganggap Hana seperti anaknya sendiri.
Ibu Haris juga tampak tertekan, kekecewaan nya atas tindakan sang anak benar-benar membuat nya malu. Sedang istri dari Haji Zakaria duduk di tengah-tengah sembari terus saja menggenggam erat juga mengusap-usap punggung ibu-ibu hebat itu.
Sebenarnya sejak awal Haris sudah ingin mengabarkan tentang musibah ini pada keluarga besar mereka, namun ia menunggu pendapat Hana. Benar saja, istrinya itu bersikeras untuk tidak ingin mengabarkan pada orang tua mereka, ia tidak ingin keluarga besar jadi susah dan berpikiran.
Hal ini ditakutkan juga akan menjadi bahan gunjingan di masyarakat kelak. Setidaknya mereka harus bertahan sampai putusan sidang. Haris pun menghormati pilihan Hana walau saat ini rasanya seluruh dunia menyalahkannya.
"Hhhh Ternyata sudah sekian lama. Waktu sudah tidak lama lagi, hanya tersisa 4 hari sebelum sidang dimulai" Haji Zakaria berpikir sejenak.
"Mi, Abah minta tolong untuk diambilkan handphone" perintah Haji Zakaria kepada istrinya.
Ulama kharismarik tersebut menekan salah satu nama kontak di telepon lalu melakukan panggilan,........,
Setelah menyelesaikan panggilan telepon nya, Haji Zakaria kembali menghujam kan tatapan mautnya.
"Nak, sungguh kami KECEWA"
"Maafkan kami Ji, kami gagal mendidiknya. Nak Haris tidak hanya menutupi kasus penting ini, juga telah gagal melindungi istrinya" Lanjut Haji Zakaria kepada Haji Amir.
***
Arini, Hanum dan Lisa duduk mengadakan rapat tertutup. Mereka berkumpul di apartemen milik Hanum. Hanum sendiri sejak status nya telah ditetapkan sebagai tersangka dari hasil penyidikan polisi, ia sudah menghubungi pengacara yang dianggap terbaik di seluruh kota.
"Apa langkah mu selanjutnya? " Tanya Lisa yang melihat Hanum masih sibuk menyesap cerutunya.
__ADS_1
"Aku tidak yakin mereka akan menang, bukankah seluruh barang bukti sudah kita lenyapkan? " sahut Hanum.
Lisa menggeleng tidak setuju.
"Kalau begitu tidak mungkin secepat ini kamu menjadi tersangka! " Sambar Lisa.
"Ini mudah saja, Mereka mengetahui aku dan Hana bersama saat terakhir kali di acara kantor, dari situ mereka menetapkan aku menjadi tersangka, hanya sebatas itu" Hanum menenangkan diri.
Arini diam saja. Ia berdiri di pinggir jendela memainkan ponsel nya. Statusnya sendiri hanya sebagai saksi.
"Aku sangat yakin aku tidak akan terjerat persoalan hukum" Hanum kembali berkata. Ia bangkit lalu berdiri di samping Arini dan membuka jendela merasakan hembusan angin malam. Hujan masih berderai di luar sana, ia menengadahkan tangan merasakannya. puntungan rokok telah di buangnya.
Arini menoleh. Pandangan nya dan Hanum bertemu.
"Num, Aku tidak ingin kamu di penjara. Sungguh, bertahanlah semampumu" Arini melihat ke arah sahabat yang sudah setia membersamainya dari bertahun-tahun silam itu.
Ada perasaan bersalah dihatinya, Semua kejahatan memang bermula karena dirinya, Arini menyadari itu. Namun, ia memang sudah terlanjur mencintai Haris dan Jika harus memilih, ia tidak mungkin melepaskan pemuda itu begitu saja, ia sudah berjuang sejauh ini, mengorbankan apapun termasuk hati nuraninya.
"Aku bersyukur statusmu hanya sebagai saksi, aku berharap akan selalu seperti itu tidak akan pernah berubah menjadi tersangka" Ucap Hanum tulus, ia mengusap airmata Arini yang jatuh ke permukaan.
Padahal Arini bukan menangisi kondisi Hanum melainkan menangisi kelemahan nya yang tidak bisa melakukan apapun untuk menolong sahabatnya bahkan mungkin akan membuat mereka binasa.
Lisa sendiri keberadaan nya belum terendus oleh polisi, namun tidak bisa dipungkiri ia tetap saja merasa cemas, bukan tidak mungkin bahwa ia juga akan terseret dalam kasus ini, Lisa tidak setangguh Hanum yang begitu idealis dan terlihat sangat optimis.
***
Haris tidak bisa tidur padahal sudah lewat dari dini hari. Wejangan yang diselimuti kekecewaan dari keluarga besar terasa seperti pukulan pelecut untuknya.
Ia terus saja memikirkan Hana. ya. Akhir-akhir ini ia sulit sekali tertidur, insomnia menyerangnya. Barang bukti yang telah terkumpul melalui berbagai penyidikan diharapkan akan mampu mengeluarkan Hana dan temannya saat sidang nanti. Ia tidak ingin membuat keluarga besar kecewa apalagi Hana.
Hanum, aku harap kamu segera bertaubat sebelum azab Allah menimpamu. Haris
Sebuah pesan ia layangkan ke gawai milik Hanum.
Mas pikir aku yang melakukannya? Hanum.
Aku telah mengetahui semua kebusukanmu. Aku tidak akan menyerah sebelum kamu dan teman-teman laknat mu mendekam di penjara. Haris.
Lagi-lagi Semua orang menyalahkan Haris. Sedang ia sendiri tidak tau apa yang sudah ia lakukan.
Apa?? Karena aku? Aku tidak pernah memiliki urusan denganmu! Kamu terlalu jumawa. Baiklah. Aku menunggumu di pengadilan nanti! Lihatlah apa yang akan terjadi. Haris mengepalkan telapak tangannya. Kesabaran nya habis sudah. Ia memblokir nomor Hanum dari ponselnya.
Hanum merasa kesal atas peringatan yang dilayangkan oleh Haris dan pemblokiran sepihak.
"Aaaaaaarghhh. Dasar Haris!!! Manusia paling egois sedunia, apa salahnya menerima perasaanku?? Jika tidak bisa menerima, setidaknya bersikap baiklah!!!" Sendirian, Hanum berteriak-teriak tidak karuan.
"Aku kurang cantik apa? Bukankah aku wanita pintar yang sangat cantik juga sexy?" Hanum bertanya sambil melihat pantulan dirinya di depan cermin, menanut-manutkan diri dengan membawa rambut yang tergerai ke depan dadanya.
"Jika tidak menerimaku dan sudah memilih Arini, mengapa malah memilih Hana??? Apa istimewa nya gadis lugu itu!!! Berkedok Alim!!! Aku benci!! Benci kamu Mas!!! "
Hanum berteriak sambil menghempaskan semua benda yang ada di atas meja riasnya, Suara riuh memenuhi kamar apartemen nya yang kedap suara. Pecahan kaca berserakan berkeping-keping.Ia seperti orang tidak waras yang sudah kehilangan akal sehatnya.
"Hahaha, kamu pikir akan semudah itu menghancurkan aku?? tidak akan!!! Hahahaha" Hanum tertawa lepas, entah apa yang ia tertawakan.
Sebentar kemudian terburu-buru Hanum mengambil gawai dan kembali menghubungi kuasa hukum. Tiba-tiba ia Gemetar lalu menggigit gigiti kukunya.
"Kerahkan kemampuan terbaikmu. Aku tidak ingin mendengar kata gagal!!!" Ucap Hanum.
***
Setelah merasa cukup untuk memperingatkan Hanum, Haris juga melayangkan pesan kepada Arini,
Aku harap, kamu akan menjadi saksi yang akan mengatakan semua kebenaran sesuai fakta nantinya, kamu sudah terlalu beruntung untuk tidak diperkarakan atas kejahatanmu, aku berharap Hana akan mengampunimu. Haris.
Apa yang kamu khawatirkan, Mas? Aku akan melakukan semuanya sesuai dengan keinginanmu, aku sudah merentangkan kedua sayapku lebar-lebar. Semua memang tergantung dari dirimu sendiri. Arini.
Baiklah. Aku sudah menyerahkan segalanya pada Allah SWT sebelum menyerah pada pilihan yang kamu tawarkan. Aku yakin kamu masih memiliki hati nurani. Haris.
Dalam hal ini, Hati nuraniku sudah terkait padamu, Mas. Arini.
Apakah kamu sudah melupakan keberadaan Tuhan? Aku hanya makhluk yang tidak berdaya serta memiliki keterbatasan terutama rasa sabar. Haris.
__ADS_1
Jika Tuhan memang berpihak padaku, Ia tidak akan membutakan serta memalingkan kan hatimu dariku. Arini.
Astaghfirullah. Istighfar Rin, Istighfar! Jangan melewati batas mu! Semoga hidayah menyertaimu. Haris.
Kalau begitu bimbinglah aku, maka aku akan aman dalam bimbingan mu dan kembali menjadi Arini-mu seperti yang kamu harapkan. Arini.
Haris memijat-mijat pelipisnya. Berdebat dengan Arini benar-benar sebuah kesia-siaan.
Apa Mas sudah mencintai Hana? Mengapa Mas memperjuangkan nya mati-matian? Apa istimewa nya dia? Arini kembali melayangkan pesan setelah sebelumnya pesannya diabaikan.
It's not your bussiness. Itu semua sama sekali bukan urusanmu. Tetap lah di posisi mu, sampai bertemu di pengadilan. Haris.
Kekasihku benar-benar telah melupakanku, Hana berhasil menebarkan racunnya, Batin Arini.
***
"Aku benar-benar tidak mengerti pemikiran Haris sahabatmu, dia begitu misterius akhir-akhir ini, padahal sidang akan dimulai" Ucap Gibran yang duduk di meja kerja Ridwan, ia memilih menginap di sana untuk mengusir kesepian.
"Haris sepertinya sudah mengambil keputusan" Ridwan melipat sajadahnya, ia baru saja menyelesaikan shalat tahajud 8 rakaat dan di tutup dengan shalat witir 3 rakaat.
"Keputusan apa?"
"Keputusan akan tawaran dari Arini" Ucap Ridwan
"Aku sama sekali tidak menyangka ia ternyata adalah seorang wanita yang kejam" Gibran menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku lebih lebih tidak pernah berfikir Arini akan seperti itu. Manusia bisa berubah kapan pun juga, Semoga Allah melindungi kita dari jalan menyimpang"
"Lalu apa yang Haris putuskan? " Tanya Gibran lagi.
"Hhhh Entahlah, apapun itu keputusan nya, benar-benar tidak menguntungkan. jika ia memilih Arini, itu artinya Haris harus memadu Hana atau melepaskannya. Namun, jika ia tidak memilih Arini, aku tidak yakin putusan sidang akan berjalan lancar, kita tidak memiliki cukup bukti" Ridwan menghembuskan nafasnya ke udara. Nafas nya terasa berat melayang dipekatnya malam.
"Aku tidak akan membiarkan Haris memadu Hana, biarkan laki-laki itu melepaskannya saja, sejak awal ia memang tidak berniat berumah tangga dengan Hana" Gibran menyatakan pendapat nya.
"Hana akan menderita menyandang status janda, ia masih sangat muda, Ran"
"Aku akan menikahi nya, aku yang akan membuat nya bahagia" Memang ini yang Gibran harapkan.
"Haris tidak seburuk yang kamu pikirkan, aku sangat mengenalnya" Ridwan membela Haris.
"Apapun itu, bagaimanapun dia. Aku tetap tidak setuju Haris menyakiti gadis seperti Hana, walau memang ia tidak punya pilihan"
"Posisi Haris sangat berat saat ini. Aku tidak bisa membayangkan jika kita yang berada di posisinya, sudahlah. Mari kita berdoa dan mengaji, memohon pada Allah agar semuanya lancar,? Memang ku akui Haris begitu misterius saat ini. Semoga ia tidak salah melangkah" Ucap Ridwan tenang.
***
Haris menutup handphone dan mengakhiri chattingan panjangnya dengan Arini, mematikannya lalu melempar acak. Ia bergerak dari atas kasur empuknya lalu keluar menuju kamar kerja. Lupakanlah tentang tidur malam, matanya masih menyimpan ribuan energi untuk terjaga.
Ia menghidupkan lampu kerja yang terdapat di atas meja, lalu menarik laci dan melihat rancangan hasil kerjanya yang telah ia susun selama berminggu-minggu ini. Kertas-kertas yang sudah tersusun rapi.
Ia juga memperhatikan surat panggilan dari kepolisian yang terselip diantara tumpukan kertas itu, posisinya saat ini sama seperti Arini, ia akan memberikan kesaksian atas kasus istrinya sendiri. Ia bersyukur setidaknya nanti ia akan mendapat kesempatan untuk berbicara.
Haris menyeka airmatanya yang kembali menetes. Ia bangkit berwudhu, di sepertiga malam terakhir ia melaksanakan shalat malam nya dengan khusu', ia akan memanjatkan doa, berharap sudi kiranya Allah mendengar doa dari seorang pendosa sepertinya,
Wahai Allah, Tuhan Penguasa Langit dan Bumi, kuserahkan segalanya hanya PadaMu, kupasrahkan jiwa dan ragaku untukMu, kemana kehidupan ini kan bermuara.
Wahai Allah, selamatkanlah Hana, Istriku. Engkau Maha Mengetahui bahwa ia adalah korban, Maka Tegakkanlah keadilan.
Wahai Allah, jika bukan kepadaMu, kemana lagi aku akan meminta? Jika bukan kepadamu, ke Tuhan mana lagi ku kan berharap? Karena memang Engkaulah pemilik semesta ini.
Di Tempat yang berbeda dengan perasaan yang sama, Hana juga tengah bersimpuh di sajadah panjangnya. Selama mendekam dalam tahanan, sekalipun ia belum pernah meninggalkan shalat malamnya.
Haris dan Hana, mereka berdua larut dalam doa-doa suci yang mereka panjatkan.
Setelah nya Haris kembali membersamai kertas-kertas, ia akan melakukan usaha terakhir nya. Seketika, matanya tertuju pada benda-benda penting yang tidak akan ia lewatkan. Lalu menggenggamnya erat. Benda itu diharapkan yang akan menjadi kunci penting bagi lisannya dalam mempertaruhkan kebebasan sang istri nantinya.
~Untuk Kalian Semua, Sampai bertemu dipengadilan. Ucap Batin Haris.
***
Hai teman-teman, yuk dukung Haris untuk menyelesaikan masalahnya, sepertinya ia lelah disudutkan terus kwkwkwk peace, I know your feeling, Guys✌😆 apapun itu tetap love you ^_^
__ADS_1
Jangan lupa juga dukung Alana terus dengan cara Like Komen Vote juga berikan hadiah nya, Terima kasih! Semoga Allah memudahkan segala urusan teman-teman dan membebaskan teman-teman dari segala kesulitan 🤲