Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 43: Hana, Mari Kita Bertemu!


__ADS_3

Hai Teman-teman sekalian, Aku mau promosi novel terbaruku berjudul “Dalam Dekapan Rindu”, Kalau berkenan, boleh dibaca ya! Jangan Lupa dukungannya dengan memberi LIKE, KOMEN, VOTE dan HADIAH nya agar Aku semangat dalam menulis. Terima Kasih ^^


***


Malam datang menjelang. Rembulan tidak menampakkan sinarnya, awan-awan menutupi pesona langit. Hana berdiri di sudut jendelanya. Kebiasaan yang sudah ia lakukan sedari kecil, sedari ia mengenal benda-benda langit, namun lagi-lagi alam seakan mengecewakannya. Ia tidak menemukan apapun di sana, bahkan untuk sekedar melihat bintang gemintang yang di cari pun tidak ia temukan. Ia termenung di sudut sana. Merenungi kehidupan yang entah mengapa semakin hari semakin sulit ia jalani. Sesekali ia mendengar suara jangkrik yang sahut menyahut di luar sana. Namun, ia sama sekali tidak menemukan keramaian disana. Sama seperti suasana hatinya.


Tok… tok.. tok


“Hana! Hana!” Terdengar suara Haris memanggil dari arah pintu luar. Hana mengusap air mata yang sedikit membasahi pipinya.


“Sebentar, mas!” Hana mengambil kerudung yang bertengger di atas tempat duduk kemudian memakainya. Ia memutar kunci pintu lalu membukanya.


“Ada apa, mas?” Haris menatap Hana dari atas ke bawah. Ah mengapa gadis ini semakin dilihat semakin


mempesona.


“Hmh, Aku ingin memberitahukan sesuatu!” Haris beranjak menuju ruang tengah. Hana mengikutinya dari belakang.


“Duduklah” Kembali Haris menepuk-nepuk sofa kosong disebelahnya.


“Sebentar, aku buatkan teh hangat dulu” Hana menuju dapur dan mulai membuat teh. Haris terus saja memperhatikan gerak gerik Hana. Apa iya gadis ini harus ku madu? Apa iya Hana mau menerimanya? Haris memejamkan mata sejenak. Beberapa menit kemudian,


“Ini tehnya mas” Hana memilih kursi yang berbeda dari yang disarankan Haris. Gadis itu meletakkan minuman dan


sedikit cemilan disana.


“Besok di kantor tempatku bekerja mereka menyelenggarakan acara. Aku ingin kamu menemaniku.” Haris membuka percakapan.


“Acara seperti apa itu mas?” Hana ragu, ia berpikir sejenak. Pasti itu acara yang penting, sedang ia tidak punya


gaun pesta yang layak pakai.


“Acara biasa. Salah satu nya adalah acara peresmian kenaikan pangkatku sebagai manager produksi” Ada sedikit


rasa bangga menyelinap di dada Haris, namun segera ia tepiskan.


“Masya Allah, selamat ya mas. Aku turut bahagia” Hana memberikan selamat dengan tulus. Hana merasa bangga pada suaminya.


“Hmh, hanya begitu saja?” Tiba-tiba pertanyaan ini melontar begitu saja dari mulut Haris.


“Maksud mas?”


“Ya. Kamu hanya mengucapkan ucapan selamat dengan ekspresi datar”


“Ha? Masa sih? Apa mas mau hadiah? Tapi aku belum mempersiapkannya mas” Haris memperhatikan detil setiap huruf yang keluar dari bibir Hana. Ia jadi kikuk.


“Hmh, Tidak. Lupakanlah” Dalam hati kecilnya, ia berharap Hana menyalaminya atau memberikan sedikit pelukan

__ADS_1


ringan atau bahkan…. Hmh… Menciumnya mungkin. Ah, lupakan. Lupakan!


“Hmh, mas..”


“Ya?”


“Aku tidak yakin bisa ikut acara besok bersama mas”


“Kenapa?”


“Aku tidak memiliki gaun yang cocok untuk ke pesta, mas”


“Besok kita butik untuk memilihkan gaun yang cocok dan sesuai untukmu” Ucap Haris, Hana pun sumringah.


“Terima kasih, sungguh aku tidak  ingin mempermalukan mas di pesta nanti!”


“Kamu cantik dengan apa adanya dirimu, Hana!” Haris berkata tanpa melihat kearah Hana. Hana terdiam mendengar ucapan Haris. Namun diam-diam sedikit kebahagiaan menyelinap dihatinya, namun hanya sedikit saja. Tidak lebih.


“Hmh, apa ada hal lain yang ingin mas bicarakan? Kalau tidak ada, aku mau masuk ke kamar” Hana hendak beranjak dari duduknya. Namun tangan Hana berhasil dicegat oleh Haris. ah, entah mengapa


cegat mencegat tangan Hana kini menjadi hal favorite bagi Haris.


“Duduklah sebentar lagi, mengapa kamu begitu terburu-buru”


“Iya. Baiklah mas, apa yang ingin mas katakan?” Hana kembali duduk diposisinya.


tanyakan. Mengapa malah pertanyaan ini yang keluar diantara banyak pertanyaan lainnya.


“Insya Allah jadi, mas. Kalau mas merasa keberatan untuk mengantar atau ada pekerjaan yang harus mas lakukan, biarkan aku mengajak Yura, mas!”


Hana mulai mencari alasan agar aku tidak jadi mengantarnya. Batin Haris. Matanya menyipit memperhatikan


gelagat istrinya.


“Tidak. Besok tetap aku yang akan mengantar dan menjemputmu”


Hana mendongakkan kepalanya kemudian ia hanya mengangguk.


“Sebenarnya apa hubunganmu dengan pemuda itu?” Tiba-tiba saja Haris penasaran dengan hubungan Hana dan Gibran.


“Beliau adalah kakak dari sahabatku Yura mas”


“Bukan itu jawaban yang aku harapkan, Hana”


“Jawaban apalagi yang harus kuberikan, memang itulah kenyataannya” Ucap Hana.


“Gibran mencintaimu, kan?”

__ADS_1


“Dan… Kamu juga memiliki perasaan yang sama dengannya!” Haris memperhatikan Hana, wajah gadis itu sedikit


terkejut. Hana terdiam. Ia tidak tau harus menjawab apa.


“Mengapa diam? Benar kan yang aku katakan?” Haris mendesak Hana.


“Sebenarnya apa yang ingin mas ketahui?”


“Ya. Apalagi kalau bukan hubunganmu dengan laki-laki itu”


“Kita Sudah menikah mas, aku dan kamu adalah pasangan suami istri yang sah, sedang aku dan mas Gibran tidak


memiliki hubungan apapun. Tidak juga bertemu diam-diam di luar sana atau masih menyimpan rasa satu sama lain” Ucap Hana. Matanya menyiratkan ketegasan. Haris merasa tersindir dengan kata-kata Hana.


“Apa kamu yakin dengan ucapanmu??” Haris melirik Hana sinis.


“Sebenarnya apa yang mas inginkan?”


“Katakan dengan jujur bahwa kamu masih mengharapkan laki-laki itu, Hana!”


“Sama sekali tidak! Mengapa mas masih saja membahas hal yang sama sekali tidak penting untuk dibahas”


“Aku tidak mempercayaimu”


“Atas dasar apa mas tidak mempercayaiku?”


“Kalau begitu katakan! Mengapa kamu enggan untuk kusentuh? Bahkan sampai saat ini saja kamu masih tidak mau melepas kerudungmu. Rumah tangga seperti apa yang sedang kita bina ini, Hana??” Hana terdiam.


“Ayo jawab!”


“Mengapa kamu diam!!” Haris terus saja mendesak Hana.


“Karena aku sendiri tidak tau bagaimana perasaan mas terhadapku” Hana berkata lirih.


“Itu sama sekali bukanlah sebuah alasan, Hana”


“Aku masih tidak tau bagaimana nasib pernikahaan kita mas, apa mas bisa menjamin kalau kedepannya mas tidak akan menikahi wanita itu? Sedang mas sendiri punya tambatan hati diluar sana. Apa mas akan benar-benar mempertahankan pernikahan kita??” Mata Hana berembun. Kini, Haris yang terdiam.


“Mas, aku permisi dulu” Hana tidak ingin airmata nya menganak sungai di hadapan Haris. Ia langsung pamit


menuju kamar meninggalkan Haris yang terdiam mematung. Di dalam kamar, Hana menangis tersedu-sedu. Ia tidak bisa berpikir jernih sekarang. Ia hanya bisa membiarkan rumah tangga nya mengalir begitu saja tanpa adanya cinta satu sama lain. Firasatnya mengatakan bahwa Haris punya rencana besar terhadap rumah tangganya kelak. Ia tidak tau itu apa. Namun melihat kedekatan Haris dengan perempuan bernama Arini itu, sudah sangat memberikannya fakta bahwa mereka tentu tidak dapat dipisahkan.


Ddddrrttttt drrrrttt drrrrt drrrttt


Satu pesan masuk dari no yang tidak dikenalnya,


“Halo Hana. Ini aku Arini, mari kita bertemu!”

__ADS_1


***


__ADS_2