Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 131: Malaikat Tanpa Cela


__ADS_3

Hana menemukan sebuah surat dari saku kemeja milik Haris. Selembar kertas bertuliskan tangan yang tintanya sudah sedikit luntur akibat basah oleh siraman air hujan. Namun huruf-huruf yang tertera masih bisa terbaca dengan jelas. Untuk yang satu ini, Hana tidak bisa untuk tidak penasaran. Sebab di sisi surat tertulis From Yelena. Dengan mengerutkan kening, perlahan Hana membukanya. Wanita ini membaca setiap kalimat tanpa ada yang tersisa. Sesekali ia menjeda bacaannya dengan menarik nafas-hembuskan nafas untuk menetralisirkan perasaan.


Driiitt


Terdengar suara deritan dari pintu kamar mandi. Hana dengan cepat melipat surat yang baru saja selesai dibacanya. Haris keluar dengan wajah basah.


"Berwudhu-lah, kita akan tahajud! " Titah Haris yang melihat Hana menatapnya intens tak berkedip. Haris beralih mengambil 2 sajadah yang terdapat di rak. Lalu membentangkan sajadah-sajadah tersebut tepat menghadap kiblat. Tak lupa tangan nya mengambil mukena Hana yang bertengger di sana.


Hana bergeming. Ia diam di tempat. Mematung. Menyadari sang istri yang masih tak beranjak dari posisinya, Haris mengerutkan kening lalu menghampiri.


"Ada apa, hm? Apa ada yang sakit? " Tanya Haris menatap perut Hana khawatir. Tuk sejenak mereka saling menatap tanpa Haris mengerti akan apa yang terjadi.


"Sayang... ada apa? " Tanya Haris lagi. Ia heran bercampur khawatir.


Hana menggeleng.


"Lalu?"


Dengan gerakan cepat Hana langsung memeluk Haris. Wanita ini memeluk suaminya dengan erat. Haris menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Wudhu nya batal seketika.


"Maaf..... wudhu nya..... jadi...." Lirih Hana namun wanita ini semakin membenamkan wajahnya ke tubuh sang suami. Terlanjur batal. Haris memilih untuk membalas pelukan Hana. Ia mengusap punggung istrinya penuh kasih.


"Sudah mau shubuh. Kita shalat tahajud dulu ya... waktu sepertiga terakhir adalah waktu terbaik. Sayang sekali jika kita lewat kan. Kita mohon ampunan juga meminta keberkahan untukmu, untuk ku... untuk seluruh kaum muslimin juga... untuk anak kita...."


Deg.


"Setelah itu baru kita akan mengobrol panjang lebar" Ajak Haris merenggangkan pelukannya dengan mempersilahkan Hana berwudhu terlebih dahulu. Tidak ada yang bisa Hana lakukan kecuali tercengang sesaat lalu kemudian buru-buru mengikuti apa yang Haris titahkan.


***


Gibran tersenyum melihat deretan daftar nama yang akan menjadi dewan juri pada Musabaqah Tilawatil Qur'an nantinya. Ya. Ada nama Hana tercantum di sana. Gadis itu memang mampu. Pikirnya. Namun Gibran mengerutkan kening saat nama Arini juga tertera di sana. Mengapa bisa?


"Mas... Kok abis shalat malah senyam senyum sendiri! Lagi kebayang gambaran surga kelak ya! " Celoteh Yura melihat tingkat aneh sang kakak.


"Gambaran surga? Hmh... Perumpamaan yang tepat sekali! " Sahut Gibran kembali tersenyum. Ia mengangguk setuju.


"Ih... Aneh banget... memang nya ada apa sih? " Yura penasaran. Ia mengambil tempat di samping Gibran lalu bergelanyut manja di sana.


"Nih... Baca! " Gibran menyodorkan kertas. Yura membaca dan langsung mengerti paham apa yang kakak lelaki satu-satunya itu maksudkan.


"Mas.... " Panggil Yura lembut. Gibran menoleh.


"Tolong jangan lagi mengharapkan Hana" Yura mengubah posisi duduknya menjadi tegak. Ia menatap mata Gibran dengan berkata sungguh-sungguh. Laki-laki calon Master di Universitas Sidi Mohammed Ben Abdellah itu terhenyak. Tenggorokan nya tercekat.


"Mas,, sudah cukup... Sudah saatnya mas move on dari semua kenangan masa lalu! Yura tidak ingin mas terus terluka. Hana sudah bahagia mas... Hana sudah bahagia bersama mas Haris. Hana benar-benar sudah bahagia..." Ucap Yura. Ia terus menekankan bahwa sahabat karibnya telah bahagia. Sebulir air mata jatuh seketika.


"Apalagi sekarang Hana tengah..... "


"Hana tengah mengandung buah cintanya bersama mas Haris. Apa mas Gibran tega merusak kebahagiaan mereka. Kalau pun kebahagiaan mereka tidak akan terusik, tapi bagaimana dengan kebahagiaan mas sendiri?" Yura terpaksa membongkar kehamilan Hana agar Gibran sadar.


"Ha... Hana hamil?? "


"Mas Gibran.... Mas berhak untuk bahagia. Sudah saatnya mas bahagia" Lanjut Yura lagi. Lagi-lagi Gibran terhenyak. Memang sudah lama ia lupa apa itu rasa bahagia.


"Mas... Ikutlah apa yang disarankan oleh Bunda dan Abah beberapa waktu lalu. Lamarlah Ning Alisha. Beliau sudah pulang ke Indonesia. Ning Alisha itu baru menyelesaikan s1 nya di Yaman. Yura dengar-dengar... Ning Alisha menolak lamaran banyak laki-laki karena menunggu mas Gibran"


"A... lisha? " Gibran mengerutkan keningnya.


"Ya. Alisha anak Haji Abdul Wahhab pimpinan pondok pesantren Insan Qur'ani" Sahut Yura. Gibran terdiam. Ia menerawang. Laki-laki ini memang sudah sering mendengar tentang Alisha. Gadis belia penghafal Qur'an itu menjadi incaran banyak Gus dari berbagai ponpes. Tapi... untuk melamar Alisha... Apa ia pantas?

__ADS_1


"Mas... Yura mohon... Lamarlah Ning Alisha... Yura jamin... Kualitas nya ga kalah dari Hana. Yura mohon... bukalah hati mas untuk gadis lain. Mas orang baik, orang taat. Mas berhak bahagia. insya Allah Ning Alisha adalah pilihan yang tepat. Abah dan bunda juga ingin sekali melihat mas menikah! " Yura memohon dengan air mata yang sudah berhamburan. Hati Gibran mencelos. Ia mulai berkaca-kaca.


***


"Kenapa merahasiakan tentang kehamilanmu begitu lama, hm? " Tanya Haris yang kepalanya tengah menumpu di pangkuan sang istri. Hana dengan bebas menarik ulur helaian rambut lurus Haris yang sudah agak lama tidak di pangkas. Mereka baru saja selesai shalat shubuh berjamaah juga melakukan tadarus bersama.


"Maaf... Hhhh... Aku tidak tau harus mulai memberitahukannya darimana... Aku juga khawatir kalau nanti mas akan cemas dan langsung pulang ke Indonesia lalu mengacaukan semuanya. Dan.... benar saja... mas langsung pulang ketika mendengar kabar kehamilanku" Keluh Hana memicingkan mata.


"Kamu tidak senang aku pulang, hm?"


"Nak... Lihatlah... Ummi tidak senang Abi pulang... Apa Abi harus kembali lagi ke Amerika...?" Kepala Haris berbalik menghadap ke arah perut Hana. Ia mengadu di sana.


"Bukan begitu mas... Tapi aku khawatir kepulangan mas ini akan menimbulkan masalah baru... kalau tentang aku senang atau tidak.... Hhhh... Apa aku benar-benar harus mengatakan nya? Apa mas sama sekali tidak bisa melihat binar itu dari mataku, huh? " Hana mengerucutkan bibirnya.


"Jadi kamu senang? Benar-benar senang? coba ungkapkan seberapa besar kadar senangnya... " Haris bangkit lalu mendekatkan wajahnya menodong Hana. Tiba-tiba wanita ini ingat sesuatu.


"Mas.... Siapa Evelina? "


"Evelina? Siapa dia? Aku ga kenal! " Sahut Haris cepat. Pemuda ini memang lupa tentang gadis Rusia yang pernah menemuinya di hotel.


"Benarkah? Bukankah di Amerika kalian pernah menghabiskan malam bersama? " Tuduh Hana sendu.


"Ha? Ka... kamu bicara apa? Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan. Jangan mengada-ngada! "


"Katakan kalau mas memang pernah bertemu Evelina! "


Haris berpikir sejenak. Namun Ia masih gagal.


"Mi Amor... Kamu bicara apa? Di Amerika aku telah menemui banyak orang! Mana mungkin aku bisa mengingatnya! "


"Hhhhh... Aku tidak tau... Apakah mas berpura-pura atau memang telah melupakannya... melupakan Evelina... Gadis Rusia itu" Sahut Hana jengah.


"Dia memang pernah menemuiku di depan kamar hotel! Tapi... Kamu tau darimana Evelina menemuiku? " Sahut Haris santai. Hana malah beringsut. Wajahnya merah paham seketika.


"Hana... Kamu kenapa? Aku dan dia tidak memiliki hubungan apapun. Aku berani bersumpah! "


"Aku tau kalian tidak memiliki hubungan... Tapi dia siapa? Mengapa ibunya menganggap mas begitu istimewa? " Hana menunduk. Haris langsung menjelaskan apa yang ia alami ketika itu. Tanpa di lebihkan atau pun di kurangkan. Hana menatap suaminya sendu.


"Aku minta maaf.. Semua terjadi secara spontanitas. Apa kamu keberatan aku memberikan uang 1 Miliar itu untuk nya, hm? " Tanya Haris. Ia ingin membawa Hana dalam pelukannya. Namun sayang, Hana kembali beringsut ke belakang.


"Aku sama sekali tidak keberatan! "


"Lalu? " Haris mengerutkan kening. Bingung.


"Apa hati mas tergerak ketika melihatnya? " Wanita ini tengah di landa rasa cemburu yang hebat. Ia menepis tangan Haris yang mencoba memegang tangannya.


"Mi Amor... Maafkan aku..." Haris menunduk. Ia menghembuskan nafasnya. Hana tersenyum pahit.


"Ku akui... respon alami tubuhku sedikit tergerak ketika melihat nya. Namun hatiku sama sekali tidak. Aku tidak berani berkilah bahwa hal ini merupakan sebuah kewajaran dengan mengatakan bahwa aku adalah seorang lelaki normal. Aku akan tetap mengakuinya sebagai sebuah kesalahan" Aku Haris. Jujur.


"Maka dari itu... Aku minta maaf...."


"Hana, Maafkan aku... Itu terjadi tanpa aku pinta. Wanita itu begitu banyak menyemprotkan parfum beraroma Yasmin. Harum yang begitu mengingatkanku padamu... Tapi percayalah... Aku sama sekali tidak menyentuh wanita itu! " Ucap Haris tanpa keraguan.


"Bagaimana mungkin hatiku bisa tergerak olehnya, sedang di dalam sini telah di penuhi oleh cinta untukmu. Rasa ini tidak mungkin berhenti semudah aku mengucap kata" Lanjut Haris kembali mencoba memeluk Hana. Wanita ini tidak menolak.


"Apa kamu cemburu, hm? " Hana mengangguk cepat.


"Sebenarnya Aku tau mas tidak melakukan kesalahan apapun. Aku tau mas sudah menolak wanita itu. Aku tau... Tapi maaf... Aku tetap tidak bisa untuk tidak cemburu" Aku Hana.

__ADS_1


"Mi Amor.... So sorry... Maafkan aku... begitulah cinta. Love is never without jealousy" Ucap Haris mengecup puncak kepala istrinya penuh kasih. Hana menyodorkan sebuah surat.


"Maaf, aku tadi lancang membacanya"


From Yelena


Wahai Malaikat tak bercela… Aku menulis surat singkat ini dengan deraian air mata. Maaf jika kau temui kalimat yang kurang menyenangkan. Aku memang si tua renta yang tidak berpendidikan. Maafkan jika sekiranya hal ini mengganggumu. Tapi aku harus menuliskan nya sebagai ungkapan rasa syukurku.


Wahai Malaikat tak bercela… Aku telah mendengar pertemuan singkatmu dengan Evelina, Putriku satu-satunya. Bagaimana malam yang telah kalian lalui bersama penuh dengan kesuka-citaan. Untuk hal itu, rasanya aku ingin segera menemui Tuhan agar terus bisa memohonkan kesejahteraan bagimu.


Wahai Malaikat tak bercela… Aku ingin terus memuji Tuhan ketika Evelina bercerita menggebu-gebu dengan binar mata peraknya bercahaya seterang Mutiara. Evelina bercerita bahwa ia ingin bekerja untukmu tapi kau malah menolak sopan dengan mengatakan kau telah memiliki istri dan tidak mungkin mengkhianatinya. Nak, kau berkata demikian disaat pemuda seperti mu mampu melakukan apapun sesuka hati namun lebih memilih untuk setia dan takut akan Tuhan.


Wahai Malaikat tak bercela… Bagaimana caranya aku bisa membalas budi baikmu? Betapa pundi-pundi yang kau berikan membuka mata kami bahwa di dunia ini masih ada orang yang berbudi lagi penuh welas asih. Tapi maaf anak muda, kami adalah orang Rusia yang pantang berhutang budi seburuk apapun kehidupan kami.


Wahai Malaikat tak bercela… Sebagai penutup dari surat ini. Setelah hadiah pertama yang aku berikan. Maka aku akan memberikan hadiah kedua. Bawalah Putriku Evelina bersamamu. Kau boleh menjadikan ia sesuka yang kau mau bahkan menjadi budak sekalipun. Tapi Aku yakin, orang berbudi luhur seperti mu tau apa itu nilai-nilai kebaikan.


Seumpama kau adalah malaikat tanpa cela, aku yakin istrimu juga pasti seumpama seorang peri pelindung yang dengan nya mungkin aku si tua renta ini akan tenang menemui Tuhan.


Address: 5 West 88th Street, Las Vegas, 10065 , The United States of America.


📞+1856xxxxxxxx


"Apa rencana mas selanjutnya? " Tanya Hana ketika melihat Haris selesai membaca surat tersebut.


"Aku tidak memiliki rencana apapun"


"Lalu Evelina? "


"Aku tidak bisa menerima nya sebagai apapun. Bahkan jika hanya bekerja untuk kita"


"Tapi mas... Kasihan Yel..."


"Stop Hana. Di masa depan aku tidak ingin memusingkan apapun. Itu hanya akan menambah masalah. Begini saja kau sudah cemburu dan beringsut menolak ku. Bagaimana jika dia ada bersama kita? Aku tidak bisa membayangkan akan melihat wajah kusut mu setiap saat! " Tegas Haris merobek kertas tersebut. Hana terdiam.


"Mi Amor... sekarang ini... Hanya ada kau dan aku...." Bisik Haris di telinga Hana. Hembusan nafas yang sengaja pemuda ini panjangkan membuat istrinya meremang.


Deg.


Haris melancarkan aksinya.


"Mas.... Ini masih pagi... " Bisik Hana yang tidak bisa menyembunyikan ******* yang lolos begitu saja. Ia menahan tangan Haris yang hendak melepas pengait bajunya.


"Hana.... Please.... " Ucap Haris sendu. Tatapan laki-laki ini menyiratkan segala nya. Kalau sudah begini, Hana tidak bisa melakukan apapun kecuali mengikuti alur yang sudah Haris ciptakan. Namun tiba-tiba,


Tok tok tok


Tok tok tok


Tok tok tok


Suara gedoran pintu yang begitu kasar membuat Haris dan Hana terhenyak. Di luar orang-orang sudah ramai berdatangan. Mereka mendapat informasi bahwa Hana memasukkan seorang laki-laki dewasa ke kamar nya. Informasi ini di berikan oleh Nilam kepada Layla hingga sampai ke telinga Hajjah Aisyah. Lalu dihembus-hembuskan hingga sedemikian rupa sampai orang-orang memutuskan untuk menggerebek kamar Hana.


***


Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih banyak ^^ Jazakumullah Khairal Jaza'. Semoga Allah memudahkan semua urusan kita ❤


IG @alana.alisha


***

__ADS_1


__ADS_2