
My head's under water
But I'm breathing fine
You're crazy and I'm out of my mind
'Cause all of me
Loves all of you
Love your curves and all your edges
All your perfect imperfections
Give your all to me
I'll give my all to you
You're my end and my beginning
Even when I lose, I'm winning
'Cause I give you all of me
And you give me all of you
How many times do I have to tell you?
Even when you're crying, you're beautiful too
The world is beating you down, I'm around through every mood
You're my downfall, you're my muse
My worst distraction, my rhythm and blues
I can't stop singing, it's ringing in my head for you
***
Akhirnya Haris diperbolehkan pulang oleh tim dokter setelah menunggu pemeriksaan intensif tahap akhir. Haris di nyata kan pulih dan boleh pulang dengan berbagai catatan.
Selama masa Recovery, Haris tidak diperbolehkan bergadang, kerja terlalu berat juga harus mengkonsumsi makanan yang bisa menambah hemoglobin seperti buah bit, buah naga, kacang-kacangan dll.
Hajjah Aisyah mewanti wanti Hana untuk bisa mengontrol kegiatan dan pola makan Haris, beliau berharap tidak lagi mendengar anak angkat kesayangan nya itu masuk rumah sakit ke dua kali nya untuk kasus yang serupa.
Bu Fatma sendiri lebih menitik fokus kan pada perjuangan Hana dalam merawat dan menjaga Haris. Karena hal tersebut, beliau tidak sungkan untuk mengucapkan Terima kasih dan mendoakan agar rumah tangga anak menantunya itu selalu dalam penjagaan Allah SWT.
"Mas, sebelum pulang kita ke tempat bu Indah dulu ya! " Ajak Hana.
"Untuk apa? " Tanya Haris malas.
"Mas harus mengucapkan terima kasih, kan... Allah menolong mas itu melalui perantaraan beliau" sahut Hana.
"Oh begitu. Hmh Baiklah, terserah kamu saja! " Ucap Haris santai yang masih duduk di kasur menunggu Hana yang hampir selesai mem-packing kan barang-barang mereka untuk di bawa pulang.
"Sekalian kita jenguk mba Arini juga" lanjut Hana lagi.
"Arini? Dia Sakit lagi? " Haris mengerut kan kening nya.
"Iya, mba Arini lagi koma, beliau di rumah sakit ini juga mas! "
"Hmh, baiklah. Terserah kamu saja" Jawab Haris datar.
Kini tinggal Haris, Hana plus teman-teman mereka di sana yang tengah duduk mengelilingi Haris. Mereka enggan beranjak dari sana setelah membully usil habis-habisan Haris dan Hana yang kepergok insiden hampir melakukan ciuman Live show di hadapan mereka yang masih belum berpengalaman.
Tidak seperti yang lain, Gibran tampak murung, ia tidak terlalu bersemangat. Tapi mau tidak mau ia harus membesarkan hatinya menerima kenyataan.
Apalagi saat Hana begitu memberi perhatian ekstra pada Haris, dengan telaten menyuapi pemuda beruntung itu obat obatan, mengupas buah dan kembali menyuapinya . Melihat tatapan mereka yang saling bertemu. Semua membuatnya begitu ingin menghela nafas.
"Selesaaaiii" Seru Hana girang. Ia telah selesai melakukan tugasnya. Haris tersenyum cerah melihat berapa ceria istrinya itu.
"Alhamdulillah... Good Job. Thank You, Honey! " Ucap Haris tanpa segan lagi. Ia terang-terangan memanggil mesra Hana.
"Eheeemmm... jomblo ngenes bubar bubar! " Tepuk Romi dengan tangan membentuk gerakan mengusir teman-teman dari sekitar Haris.
"Yaakk ... Bubar-bubar... Dunia milik berduaaa" Ridwan ikut menimpali.
"Haha asem kalian! " Haris melempar tissue ke arah teman-teman usilnya. Mereka segera menangkis serangan tersebut.
__ADS_1
"Sebenarnya sih semua udah pada ada pasangan. Tinggal eksekusi nya aja, iya apa iya, Wan? "!!! Celetuk Romi. Ridwan dan Yura saling bertatapan.
" Laah iya, Ridwan udah sama Yura. Kamu sendiri memang punya pasangan? " ejek Haris bercanda.
"Haha sepele banget. Udah dong! Gue dan Ridwan udah ada pasangan, tinggal Gibran nih. Gimana Sa? Gibran Okay ga? " Romi mulai menggoda Gibran.
Spontan Gibran melirik Hana, sejenak mereka saling bertatapan. Hana segera memalingkan wajahnya. Lisa tidak menyangka sama sekali Romi akan mengalamatkan kalimat tersebut padanya.
"Haha, mana mungkin Mas Gibran mau sama aku, dari dulu sampe sekarang mas Gibran kan suka nya cuma sama Hana doang!" Tembak Lisa asal namun tepat sasaran.
Yura langsung meremas tangan Lisa, sedari dulu ia selalu merutuki mulut ceplas ceplos Lisa. Sejenak suasana menjadi canggung dan tak bersahabat. Tak ayal Lisa menutup mulut nya dengan telapak tangan. Wajah cerah Haris langsung berubah suram mendengar kalimat Lisa tadi.
"Ahahaha hmh, insya Allah semua akan bertemu jodohnya di waktu yang tepat! " Ucap Romi sambil tertawa untuk mengusir Kecanggungan.
"Ya udah, Yuuuk kita gerak! Udah mau sore nih" Ajak Ridwan kemudian.
Mereka bangkit beranjak keluar ruangan.
"Kalian duluan ya, Aku dan Hana jenguk Arini dulu" Ucap Haris pada Teman-teman nya.
Bersama, pasangan suami istri ini mencari ruang rawat Arini. Mereka berharap bu Indah juga ada di sana. Haris menenteng sekeranjang buah-buahan hasil dari pemberian orang-orang ketika mengunjungi nya kemarin, keranjang buah-buahan itu akan diberikan pada Arini.
"Ruang melati... Ruang Mawaar... Ruang Anggrek...." Hana membebel satu persatu ruangan yang mereka lewati, Haris hanya diam mendengar nya.
"Mas..... "
"Hmh.... "
"Apa kita salah jalan ya? tapi kan ruang Edelweis harusnya ada di lorong ini" Kepala Hana melirik ke kanan dan ke kiri. Haris hanya diam tanpa menjawab sepatah kata pun. Ia terus saja melangkah.
"Mas... "
"Hmh.... "
"Itu kamar Edelweis nya! " Seru Hana berbinar. Akhirnya mereka menemukan kamar Arini setelah mutar-mutar mencari ruangan yang di maksud.
"Aku ingin pulang... " Lirih Haris tiba-tiba. Ia merasakan mood nya memburuk saat ini.
"Ha? Kenapa mas? Mas sakit? " Tanya Hana cemas. Haris menggeleng cepat.
"Aku hanya ingin pulang sekarang. Bolehkah kita mengunjungi Arini dan bu Indah di lain waktu saja? " Pinta Haris.
"Baiklah... " Ucap Hana. Langkah mereka memutar haluan, untuk sesaat tidak ada percakapan berarti di antara mereka.
Beberapa menit berlalu. Haris mengambil tangan Hana, mereka berjalan sambil bergandengan tangan. Haris menyeimbangkan langkah kakinya dengan menyamakan dengan langkah Hana. Seolah tidak ingin meninggal kannya sedikit pun.
"Mas... "
"Hmh... " Jawab Haris tanpa kata.
"Kita singgah di toko Arab sebentar ya. Aku ingin beli madu, kurma juga air zam-zam untuk stok di masa pemulihan Mas" Pinta Hana.
"Hmh... " Lagi-lagi Haris menjawab tanpa kata. Aneh dengan sikap Haris, Hana mendongak kan kepalanya melihat ke wajah sang suami yang terus saja berjalan menuju parkiran dan menatap lurus ke depan dengan wajah yang sulit di baca. Tiba-tiba,
Bruuuukkk
Kaki Hana tersandung batu kerikil, tangan yang di genggam Haris tadi terlepas. Ia jatuh ke aspal berbatu. De Javu, Kejadian di awal mereka menikah seolah terulang kembali.
"Kalau jalan kenapa ga liat-liat sih?! Matanya kemana?!" Hardik Haris panik dengan suara keras. Kaki Hana mengeluarkan darah menembus rok putihnya.
Merasa di bentak, Mata Hana berembun. Entah mengapa Ia merasa agak nyeri di perut bagian bawahnya. Haris langsung mengangkat Hana ke dalam mobil.
Pemuda yang baru sembuh dari sakit itu meletakkan istri nya di kursi bagian belakang, Ialu buru-buru ke depan membuka jok dan mengambil peralatan p3K kemudian kembali masuk ke sana.
Haris langsung duduk di samping Hana, perlahan Ia membawa kedua kaki sang istri ke atas pangkuannya. Hana mulai menangis. Haris tidak mempedulikan tangisannya. Ia mengangkat rok gamis, membuka kaos kaki kemudian mengangkat celana legging yang membalut penuh kaki istrinya.
"Awww..." Rintih Hana pelan, ia mengusap air matanya.
Dengan telaten Haris membersihkan luka tersebut dengan sedikit cairan alkohol lalu mengoleskan obat merah di tempat yang terluka. Hana meringis, tangis nya makin menjadi.
"Gini aja kok nangis, sih! Memang luka nya sesakit itu apa?!" Kembali Haris membentak Hana. Mau tidak mau wanita ini menahan tangis nya dan sesugukan.
Terakhir, Haris membalutkan bagian tubuh Hana yang terluka dengan kain kasa lalu mengikat kuat di sana agar darahnya berhenti merembes.
Tak lupa, ia mengambil tissue dan mengusap pelan air mata yang mengalir di pipi istrinya itu. Lalu ia membuka pintu mobil, mengangkat Hana dari sana dan membawanya ke bangku depan. Haris melajukan mobilnya menuju ke tempat tujuan.
Sepuluh menit berlalu, mereka masih sama-sama ber diam diri, hingga Haris memarkirkan mobilnya di depan toko Arab yang tadi Hana pesankan, tanpa berbicara sepatah katapun pada Hana, Haris langsung melesat ke dalam sana.
"Hhhhhh" Hana menghembuskan nafas melihat perubahan mendadak sikap Haris padanya. Air matanya kembali mengalir.
__ADS_1
***
Malam merangkak naik, Haris baru saja pulang dari shalat isya berjamaah di mesjid. Ia sudah merasa lebih segar sekarang namun suasana hatinya masih tetap sama dan belum juga membaik.
Haris datang membawa sepiring nasi goreng pattaya dengan telur dadar ke kamar Hana juga menenteng peralatan p3K ke sana. Ia menyempatkan memasakkan Hana makan malam, mengingat pintu kamar istrinya itu tidak juga terbuka sejak tadi ia menurunkan istrinya itu ke atas kasur.
Haris langsung membuka kamar tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, ternyata Hana tengah mengganti pakaiannya. Tertatih istrinya itu berjalan menuju ke arah lemari. Baju tanktop putih dan celana sot berwarna cream menghiasi pandangan Haris.
Melihat suaminya, spontan Hana mengambil pakaian yang terjatuh di lantai lalu menutup bagian tubuhnya yang terlihat.
Haris meletakkan nasi dan kotak p3K di nakas lalu berjalan mendekati Hana. Ia mengambil pakaian yang berada di tangan istrinya itu, meletakkan asal lalu mengangkat Hana ke atas kasur.
"Aku telah melihat semuanya. Apa yang ingin kamu tutupi, hm?" Bisik Haris di telinga Hana saat ia meletakkan istrinya ke atas sana, Hana meremang. Haris mengambil selimut yang tak jauh dari mereka lalu menutupi bagian atas tubuh Hana sampai sebatas kaki yang terluka.
Haris melihat perban kain kasa yang masih berada di sana lalu membukanya, dengan telaten ia gantikan perban lama itu dengan yang baru.
"Mas... " Panggil Hana, tuk beberapa saat pandangan mereka bertemu.
"Hmh... " jawab Haris tanpa kata, ia kembali melanjutkan kerjaannya mengganti perban. Setelah selesai, ia pun menurunkan selimut hingga menutupi seluruh kaki Hana.
Haris melirik ke nakas dan mengambil piring nasi pattaya yang tadi baru saja di masak, perlahan ia mengangkat tubuh Hana dan membuatnya bersender di atas kepala tempat tidur, Haris mengambil nasi tadi menyendoknya lalu mulai menyuapi sang istri.
Mencium bau nasi pattaya yang menyengat, membuat Hana kembali merasa mual. Ia menutup hidungnya.
"Makanlah... " Titah Haris. Hana menggeleng.
"Kalau tidak makan nanti kamu sakit!! " Semprot Haris. Ia kembali mencoba menyuapi Hana.
"Aaaaaa"
Hana menggeleng, ia memejamkan mata dan benar-benar tidak sanggup memakannya. Jangankan memakan, melihat nya saja ia sudah merasa mual.
"Hhhhhhh... Aku bersusah payah membuat nya! Tidak bisakah sedikit saja kamu menghargai nya?!" Ketus Haris menghela nafas. Ia yang mood nya memang sedang buruk sedari tadi, seakan ingin melampiaskan segala energi negatif tersebut pada Hana.
Mata Hana kembali berembun, ia mengambil sendok di atas piring yang telah Haris letakkan, lalu berusaha menyuap nasi goreng tersebut ke dalam mulut. Hana memejamkan mata dan menahan nafasnya. Nasi tersebut berhasil mendarat sempurna di sana.
Namun Tiba-tiba,
"Hoooekkkkkk Hooooeekkkk... Buuurrrrrrr" Nasi di dalam mulutnya sukses tersembur ke baju koko putih yang Haris kenakan dan sedikit mengenai wajahnya.
Wajah Haris memerah. Ia kehabisan kata-kata.
"Ma... Maaf" Hana mulai menangis.
Haris keluar kamar Hana dengan menutup pintu, tak sengaja pintunya sedikit terbanting, ia masuk ke kamar nya sendiri lalu membuka kasar kancing-kancing bajunya dan diletakkan di tempat kain kotor
Haris pun masuk ke dalam kamar mandi, menyala kan shower dan air mengaliri dari kepala sampai ke kakinya. Ia menghembuskan nafasnya kasar. Matanya berkaca-kaca. Ia memukul dinding dengan kuat.
Haris merutuki kelakuan kasar nya pada Hana, ia masih belum bisa mengontrol dirinya. Hari ini ia terlalu marah, terlalu cemburu, terlalu kekanak-kanakan.
Jujur saja Ia tidak tahan melihat Hana dan Gibran saling bertatapan. Tidak hanya sekali, namun berkali-kali. Gibran yang mencintai istrinya sampai saat ini, Tatapan mendamba laki-laki itu tidak bisa membohonginya. Apalagi hal tadi di perkuat oleh kalimat-kalimat Lisa yang tepat sasaran.
***
Perlahan Haris membuka pintu kamar Hana, Ia memandangi tubuh istrinya yang telah meringkuk di bawah selimut sana.
Hhhhh ternyata Hana telah tertidur. Pikir Haris.
Perlahan ia membuka selimut yang membaluti tubuh istrinya itu lalu ikut merebahkan diri di sana, kemudian mengecup pelan puncak kepala Hana dengan penuh perasaan. Ia melingkarkan tangannya ke tubuh Hana lalu mengeratkan pelukannya di sana.
Hana yang sebenarnya sedari tadi belum tidur spontan menepis nya.
"Ha.. Hana, kamu belum tidur?" Tanya Haris, nada suaranya kini sudah lebih pelan dan teratur namun Hana diam saja. Wanita ini menahan tangisnya.
Haris kembali mencoba memeluk istrinya dan memgusap-usap pelan lengannya. Namun Lagi-lagi Hana menepis nya.
"Hana... Aku mint...."
Seketika Hana bangkit lalu duduk,
"Apa sekarang mas menginginkan nya?? " Tanya Hana dengan air mata berhamburan.
"Apa sekarang mas membutuhkan aku lalu esok pagi kembali membenciku??"
"Lakukanlah mas!! Lakukanlah sesuka hati mu!! " Tangis Hana pecah. Dengan cepat Ia mulai membuka kancing-kancing piyamanya.
Haris terhenyak.
***
__ADS_1