
Gibran melirik melalui kaca spion depan ke arah kursi belakang mobil di mana Hana sedang terbaring lemah. Wajah gadis itu terlihat begitu pucat, ia pun mengarahkan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.
Para polisi sudah membawa ketiga preman ke kantor untuk penyelidikan lebih lanjut. Gibran begitu prihatin melihat kondisi Hana, mengapa bisa Wanita sebaik itu di zhalimi oleh orang dengan begitu kejinya, ia meremas stiur, geram.
Ah, walau begitu pertolongan Allah terasa begitu dekat, ia merasa sangat bersyukur sempat menolong Hana, Allah memilihnya menjadi perantara sebagai asbab tidak terjadinya musibah besar yang menimpa gadis itu. Alhamdulillah.
Rintik bergerimis hatinya melihat keadaan Hana. Meninju kepala preman dan menendangnya ke lantai merupakan detik-detik paling menegangkan dalam hidup, ia tidak pernah melakukan hal se-ekstrim itu kepada orang lain, namun melihat Hana yang hampir di aniaya sedemikian rupa, spontan keberanian dan kekuatannya timbul, entah karena rasa kemanusiaan atau entah karena perasaan cinta yang masih bercokol kuat di hatinya kepada gadis itu, padahal hari ini ia harus beristirahat total sebab esok ia akan menempuh perjalanan panjang ke Maroko yang memang bukanlah sebuah perjalanan singkat.
Ddrrrrtttt Dddrttttt
Handphone Gibran terasa bergetar membuyarkan lamunannya. Ada telepon yang masuk. Ia melihat layar kaca, ternyata Arini yang menelepon,
“Assalamu’alaikum Gibran, bagaimana Hana?”Sapa Arini dari seberang.
“Wa’alaikumsalam, Alhamdulillah aku datang tepat waktu, Hana hampir saja…..” Gibran terdiam, ia tidak bisa melanjutkan.
“Hampir saja apa??” Selidik Arini.
“Hhhhhhhhhh…” Gibran mendesah panjang dengan nada lemas seperti orang frustasi.
“Katakanlah!” Paksa Arini.
“Hana hampir saja di nodai kehormatannya oleh preman-preman itu” Gibran berkata lemah.
“Astaghfirullah…” Arini kembali menggigit-gigit kukunya. Tidak bisa dipungkiri, Ia merasa kasihan terhadap rival cintanya itu, persis dugaannya, jika gadis cantik dibawa ke hotel bagaimana bisa para lelaki menahan diri, apalagi para penjahat itu tidak memiliki hati Nurani.
“Rin, makasih ya sudah mengabariku” Kata Gibran dari seberang telepon. Gibran berkata dengan sangat tulus, semoga ketulusannya dapat dirasakan oleh Arini di seberang sana.
Arini terdiam, sebenarnya ia memberitahukan Gibran hal ini setelah melalui perdebatan panjang antara batin dan akal sehatnya. Sejujurnya ia sendiri sangat enggan untuk menolong Hana, namun entah mengapa hatinya mengatakan hal berbeda. Ia juga belum sempat mengabarkan Hanum tentang tindakan spontannya atas masalah ini, selain waktu yang mepet, ia takut terlambat dalam menolong gadis itu.
Mungkin pun Hanum akan sangat kecewa atas apa yang ia lakukan, ia telah mengecewakan sahabat karib yang sudah seperti saudaranya sendiri itu dan Hanum pun melakukan semua kejahatan itu demi dirinya, demi agar ia bisa bersama Haris selamanya namun nyatanya ia lebih memilih berkhianat. Ya. Ia telah berkhianat atas dasar nama kemanusiaan. Hhhh Rabbi...
Beberapa waktu lalu setelah melakukan pergulatan panjang dengan hatinya, Arini berpikir keras bagaimana caranya ia bisa menolong Hana namun dengan tanpa melibatkan Haris, tentu saja ia tidak rela lelaki yang namanya masih bersemayam kuat dihatinya itu menjadi pahlawan dalam drama penculikan ini. Lalu entah mendapat ilham darimana tiba-tiba saja nama Gibran terlintas dipikirannya, ia teringat cerita Lisa tentang kisah cinta
mereka, langsung saja tak segan Arini meminta nomor telepon pemuda itu pada Lisa, dan hasilnya seperti yang terlihat. Gibran dengan sigap dan cerdasnya berhasil menyelamatkan Hana.
“Rin, Rin… kenapa diam?” tegur Gibran.
“Tidak, syukurlah Hana selamat, terus bagaimana?”
__ADS_1
“Ini aku sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, semoga Kesehatan Hana tidak terganggu” Jawab Gibran lagi.
“Aamiiin, baiklah, kalau begitu sampai di sini dulu pembicaraan kita. Kalau ada apa-apa kamu bisa menghubungiku ke nomor ini”
“Ehm tunggu!!” Cegah Gibran.
“Ya?”
“Darimana kamu tau bahwa Hana diculik oleh preman dan dibawa ke hotel?” Selidik Gibran, ia merasa heran tiba-tiba saja Arini orang yang notabene nya tidak ia kenal menghubunginya untuk menyelamatkan Hana, mengapa tidak Haris saja, kemana perginya suami yang tidak bertanggung jawab itu?
“Hmh, i… it… itu…” Arini gelagapan. masalah baru muncul, Arini tidak menyangka bahwa Gibran sampai bertanya spontan sejauh itu.
“Baiklah, nanti kita berbincang kembali, aku sudah sampai di parkiran rumah sakit dan harus segara menghubungi perawat untuk membawa tandu ke sini, Hana sudah sangat pucat”
“Iya, baiklah” Huft lega rasanya.
“Tapi ingat, kamu masih punya hutang cerita kepadaku” Ucap Gibran lagi.
“Hmh.. Iya, assalamu’alaikum” Setidaknya untuk sementara Arini terbebas dari pertanyaan-pertanyan yang Gibran lontarkan.
“Wa’alaikumsalam wr wb”
***Tiiiiit tiiiiittt ***
***
Di Kantor Kepolisian Beika
Haris sampai di kantor kepolisian Beika tepat pukul 00.00 dini hari. Suasana di kantor polisi tampak sedikit lengang. Kesibukan para pekerja sudah berkurang mungkin karena hari sudah mencapai tengah malam. Haris bergegas masuk ke dalam kantor untuk membuat laporan, untuk kesekian kalinya ia kembali menelepon sang istri, mungkin-mungkin sekarang sudah dapat dihubungi, namun lagi-lagi nihil, nomor Hana tetap tidak ada yang mengangkat. Ridwan pun belum tampak batang hidungnya, Haris tidak bisa menunggu lebih lama, ia pun bergegas masuk ke dalam ruangan kantor bagian pelaporan.
“Pak, saya mau membuat laporan atas hilangnya istri saya” Haris menghampiri petugas dan ingin mengabarkan
bahwa telah terjadi penculikan terhadap istrinya.
“Tolong KTP bapak dan identitas istri bapak!” Sahut Petugas kepolisian
Haris memberikan semua informasi yang diinginkan oleh petugas, namun keningnya sedikit berkerut. Pak petugas kembali memeriksa ulang data, sebab informasi data yang diberikan sudah pernah tertera sebelumnya pada laporan beberapa saat yang lalu.
“Maaf. Bisa dibaca ulang informasinya, Pak?” Petugas kembali meminta Haris untuk membaca ulang lalu memeriksanya.
__ADS_1
“Maaf pak, laporan ini sudah terlampir di sini, dan Alhamdulillah kami baru saja meringkus tiga preman yang melakukan kejahatan pada istri bapak”
“Tiga Preman??” Haris shocked mendengarnya.
“Benar Pak!”
“Lalu bagaimana keadaan istri saya, Pak??”
“Istri bapak sudah dibawa oleh orang yang melapor, sekarang sedang menuju ke rumah sakit”
“Siapa yang mengajukan laporan sebelum saya pak?” Haris penasaran.
“Yang mengajukan laporan adalah atas nama bapak Muhammad al-Gibran”
“Apa???”
Haris kembali shocked, Lengkap sudah keterkejutannya. Apa Muhammad al-Gibran yang di maksud adalah Gibran mantan kekasih Hana? Haris bertanya-tanya di dalam hatinya. Ia harus segera mengetahui kejelasan yang sebenarnya.
Setelah merasa mendapatkan informasi yang cukup dari bapak yang bertugas, Haris pun keluar ruangan menuju tempat parkiran, Haris mau mengambil mobilnya dan langsung diarahkan ke rumah sakit tempat Hana dirawat.
Rasanya sudah tak sabar, perasaannya bercampur aduk sekarang. Sulit untuk dilukiskan, antara senang dan lega (setidaknya) Hana sudah ditemukan, marah karena ia sudah gagal menjaga istrinya, kesal tidak bisa menemukan Hana, ia seperti pecundang yang kalah tempur karena tidak berhasil lebih dulu menemukan gadis itu.
Hana bersama Gibran? Iya. Sudah pasti Hana bersama Gibran. Haris mengetuk ngetukkan jari jemarinya di gagang stiur, Memikirkannya saja kepala Haris seperti sudah mau pecah rasanya. Aaaarrgh. Ia mengepalkan tangannya sekuat tenaga. Huft. Siapa yang dapat memahami pergolakan hatinya saat ini? Siapa yang mampu meredam segala rasa yang menghimpitnya. Ia merasa lebih dari sekedar di khianati sekarang ini. menangis darah pun rasa nya sudah tak mungkin. Hana, kita harus segera bertemu. Lirih hati Haris.
Ridwan tiba di rumah sakit tepat saat Haris beranjak keluar dari pelataran kantor polisi, Ridwan mengklakson mobil Haris berkali-kali, lantas pemuda itu menghentikan mobilnya dan menurunkan kaca,
“Mau Kemana, Bro? Udah laporan??” Tanya Ridwan.
“Hana udah diketemukan oleh orang bernama Gibran” Ucap Haris tak bersemangat.
“Whattt? Secepat itu?? Hebat!!” Seru Ridwan.
“Terus gimana?” Ridwan lanjut bertanya.
“Nanti gue jelasin, kita ke rumah sakit dulu melihat Hana!”
“Okay”
Mobil Haris dan Ridwan pun melaju beriringan membelah pekatnya malam. Kesunyian menyertai mereka, hanya
__ADS_1
lampu-lampu jalanan yang masih setia menemani berserta berbagai pertanyaan rumit yang menghiasi isi kepala mereka, terlebih utama isi kepala Haris, suami dari Hana Fathimah Ameer.
***