Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 110: Dinding Impian


__ADS_3

Sudah hampir 6 bulan berlalu dari masa koma-nya Arini, wanita ini belum juga menunjukkan ada nya tanda-tanda akan siuman. Romi sudah hampir menyerah. Keluarga terutama sang ibu sudah ribuan kali mengingatkannya untuk segera menikah. Laki-laki yang berusia 28 tahun ini dilema.


"Sejak kapan kamu menyukai Arini? " Tanya Haris ketika menemui Romi di rumah sakit.


"Jauh dari sebelum kamu dan Arini saling mengenal" Jujur Romi. Haris terhenyak. Ternyata sudah selama itu Romi memendam rasa.


"Mengapa kamu tidak jujur? "


"Kebahagiaan Arini jauh lebih penting dari pada kebahagiaan ku sendiri. Ia lebih bahagia bersama mu daripada bersama ku. Aku tidak bisa memaksakan itu" Tukas Romi.


"Lalu apa rencanamu sekarang? Bukankah ibumu sudah mendesak agar kamu segera menikah? " Tanya Ridwan memotong pembicaraan.


"Aku akan mengabulkan permohonan ibu"


"Maksudmu? Kamu sudah menemukan sosok pengganti Arini? " Haris dan Ridwan mengerutkan keningnya.


"Aku akan menikahi Arini walau ia sedang dalam keadaan koma" Romi mengatakan dengan menutup kedua matanya.


"Ini bukan ide yang baik bro! " Ridwan menggeleng kan kepalanya tidak setuju.


"Bagaimana kalau Arini bangun lalu dia marah besar? Kalian akan menjalani hubungan yang tidak sehat" lanjut Ridwan lagi.


"Lalu aku harus bagaimana? Aku juga harus mempertanggung jawab kan perbuatan ku padanya"


"Perbuatan apa??! " Spontan Haris mendongakkan kepala nya.


"Aku tidak bisa memberitahukan hal ini pada kalian" tukas Romi.


"Jadi anak yang di kandung Arini itu anakmu?! " Haris bangkit. Ridwan yang sama sekali tidak mengetahui hal ini terkejut mendengarnya. Romi menunduk.


"Brengsek kamu, Rom!! Kenapa kamu merusak Arini, kenapa hah?! " Haris emosi dan beralih memegang kerah baju Romi. Ia kembali ingat ketika Arini mengaku bahwa ia telah diperkosa oleh orang yang tidak dikenal namun ternyata malah Romi yang merusak nya.


"Aku memang brengsek! " Aku Romi, Haris hendak melayang kan tinjunya.


"Ris, Haris... Mungkin Romi khilaf dan ada sesuatu yang tidak kita ketahui" Ridwan menenangkan Haris.


"Aku tidak khilaf, aku melakukan nya dalam keadaan yang benar-benar sadar" Aku Romi lagi. Tidak ada penyesalan dari pengakuannya.


Buuuuggggg. Haris melayangkan bogem mentahnya. Sudut bibir Romi mengeluarkan darah.


"Kamu memang harus bertanggung jawab!" Tunjuk Haris. Betapa ia merasa kasihan dengan wanita yang pernah berarti dalam hidupnya itu. Romi terdiam, tanpa di pinta pun ia sudah pasti akan menikahi Arini.


Hanya saja.. permasalahan nya, wanita itu selalu menolaknya.


Romi harus menghela nafasnya berkali-kali.


***


"Sayang..... kamu dimana? " Panggil Haris ketika ia sampai di apartemen yang telah dibelikannya untuk Hana.


"Aku di sini mas... lagi masak! " Sahut Hana. Haris menghampiri dan memberikan pelukan hangatnya dari belakang.


"Harum sekali masakanmu, hm? "Haris mengendus-endus kan penciumannya.


"Ih.. Mas, ke sana dulu. Aku masih bau bawang nih! " Tolak Hana ketika Haris malah mengendus-endus kan penciuman ke ceruk lehernya. Haris mulai nakal.


"Benarkah? Masa sih? Aku seperti tidak mencium bau bawang! Coba ku teliti lebih lanjut..." Haris semakin memperlancar aksinya.


"Haha... geli mas... udah ah... " Hana mengeliat kegelian akibat ulah Haris, namun sang suami sama sekali tidak menggubrisnya.


"Mas,,, i..itu... gosong gosong!!! " Pekik Hana saat Haris melancarkan aksinya lebih jauh. Seketika laki-laki ini merenggangkan pelukan. Hana kembali dengan kegiatannya. Tanpa sepengetahuan suaminya, Hana tersenyum.


"Huft... Lama sekali masaknya... " Keluh Haris. Ia sudah duduk di meja makan memandangi Hana yang sedari tadi mondar mandir antara dapur dan meja makan.


"Mas lapar? Ini udah mau selesai kok! Bentar yaa... " Ucap Hana. Istrinya itu dengan telaten meletakkan berbagai macam makanan yang telah dimasaknya ke atas meja.


"Ga begitu laper sih, cuma pengen cepet-cepet duduk di meja bareng kamu" Ucap Haris mengetuk-ngetuk ringan permukaan meja. Enam bulan terakhir ini sang suami memang menjadi begitu manja.


"Ini sudah mau selesai kok! Yuk makan! " Senyum Hana ketika duduk di samping suaminya. Berbagai macam lauk pauk terhidang di sana.

__ADS_1


"Enak! " Komentar Haris ketika menyendokkan makanan tuk suapan pertama.


"Tiap hari komentar nya kok sama sih? " Protes Hana.


"Ya karena memang beneran enak. Nih... Aaaa" Haris menyuapi Hana. Daging kepiting kuah santan itu mendarat sempurna dimulutnya.


"Gimana? Enak kan?" Tanya Haris tanpa memerlukan jawaban, ia terus saja menyendok makanannya.


"Oh iya, Mas tadi darimana saja? "


"Ke rumah sakit jenguk Arini" Sahut Haris santai.


"Ohh... "


"Akhirnya Romi mengakui kalau anak yang di kandung Arini itu adalah anaknya" Ucap Haris.


"Anak mas Romi? " Hana mengerutkan keningnya.


"Mba Arini dan mas Romi punya hubungan? Mereka saling kenal? "


"Begitulah" Sahut Haris, Hana terdiam.


"Kenapa diam? "


"Ga. Aku agak terkejut aja. Tapi ya sudahlah, ga usah di bahas. Ntar jatuhnya malah ghibah" Hana meneguk air mineralnya. Haris tersenyum mengusap-usap kepala istrinya.


Hana sudah lebih dewasa sekarang. Ia sudah sangat mempercayai Haris. Kepercayaan dan Ikatan batin mereka sudah jauh lebih baik dari sebelum-sebelumnya.


"Aku sudah selesai. Mau shalat dulu, terus kembali ke kantor. Nanti malam kita nonton ya! Aku udah beli 2 tiket. Filmnya bagus "


"Woaaa, film apa? " Hana Berbinar-binar.


"Genre nya Horror-romance" Sahut Haris sambil bangkit dari duduknya.


"Kok horror? " Hana bergidik.


"Yaah, tetap aja film horror itu menakutkan" Hana menguapkan nafas nya ke udara.


"Tenang.. Kan nanti ada aku di samping mu. Kalau takut tinggal peluk aku saja! "


"Huuu dasarrr! "


"Haha.... Baiklah. Kalau kamu keberatan, kita bisa memilih film lain nya" Sahut Haris, betapa keceriaan Hana menjadi prioritas nya saat ini.


"Hmh... Aku akan mencobanya. Jujur aku belum pernah menonton film dengan genre Horror-Romance" Hana mengalah.


"Aku yakin kamu akan menyukainya"


"Benarkah? "


"Tentu saja! "


"Baiklah, will see! " Hana menaikkan sebelah alis matanya.


"Oh iya mas, aku mau ijin ke rumah ummi fatma sebentar, sudah janji hari ini mau main ke sana. Nanti habis maghrib jemput aku di sana saja! "


"Baiklah. Kalau begitu sebelum ke kantor Aku akan mengantar mu kesana" Sahut Haris. Hana mengangguk.


Haris mengambil wudhu' ke kamar mandi. Hana membereskan sisa makanan yang baru saja mereka makan. Sekarang ia sedang haid, jadi ia tidak perlu melakukan ibadah shalat zhuhur siang ini.


Hana pun kembali ke kamarnya. Ia menuju ke sebuah dinding. Dinding yang ia dan Haris beri nama Dinding Impian. Banyak rencana-rencana yang telah ia dan Haris tuliskan di sana, setidaknya untuk setahun kedepan. Beberapa sudah terealisasikan termasuk melaksanakan ibadah umroh bersama.


Tidak hanya sekedar rencana umum belaka. Kegiatan Harian, mingguan, goals-goals kedepan pun mereka tintakan dengan begitu rapi di sana.


Hana bertekad akan giat ikut nge-gym mengikuti jejak Haris setiap minggunya. Dengan tujuan agar tubuh dan fikirannya fit dan fresh. Ia juga tidak ingin memiliki tubuh melar di kemudian hari. Tubuh yang rentan dimiliki oleh kaum hawa setelah mereka menikah. Ia ingin Haris selalu melihat nya dengan penampilan terbaik.


Mereka juga merutinkan kegiatan rohani juga kegiatan sosial mereka dengan kembali mengikuti pengajian bersama para Syaikh dan sering mengunjungi panti-panti asuhan atau berbagai majelis ilmu untuk berbagi kebahagiaan.


Haris juga berkewajiban memberikan Hana tausyiah singkat sehabis mereka melaksanakan ibadah maghrib bersama dengan tujuan untuk me-recharge keimanan dan ketaqwaan. Haris sadar membimbing Hana adalah tugasnya.

__ADS_1


Tidak hanya urusan ukhrawi saja bahkan urusan duniawi pun mereka rencanakan dengan begitu apik dan sistematis. Haris telah menulis kan hal-hal menyenangkan yang akan mereka lakukan. Diantaranya nonton film bersama, naik sampan ke tengah danau, mengikuti program kapal pesiar, belanja di pasar tradisional (khusus untuk tetap berbelanja di pasar tradisional, ini adalah permintaan Hana), jalan-jalan di taman, berkuda, juga memanah.


Hal Ini mereka lakukan dengan tujuan untuk semakin mempererat ikatan cinta diantara mereka dengan memperbanyak pengalaman dengan melakukan kegiatan yang menyenangkan.


Banyak hal yang tertera dan tertulis dinding yang tidak akan habis jika di ungkapkan satu per satu. Hana memandang nya dengan perasaan yang begitu bahagia. Betapa ia sangat beruntung memiliki partner hidup seperti Haris.


Namun, seketika senyumnya meredup perlahan ketika melihat impian yang belum terealisasikan sampai saat ini. Yaitu memiliki anak.


***


Bu Fatma sedang melukis bunga mawar berukuran besar. Tinggal finishing sedikit lagi maka lukisan tersebut akan selesai. Jari jemarinya begitu lihai menguaskan cat akrilik di atas canvas. Rencana nya lukisan ini akan dihadiahkan pada Hana. Mengingat anak dan menantunya itu baru saja pindah ke apartemen. Semoga cocok untuk diletakkan pada salah satu sudut ruangan. Bu Fatma tersenyum.


Soal seni, jangan diragukan lagi, memang bu Fatma juaranya. Beliau benar-benar pandai melukis. Di waktu muda ketika beliau tengah kesulitan ekonomi, beberapa dari lukisannya laku terjual. Sebagian uangnya diputarkan kembali untuk modal membeli cat dan peralatan, Sebagiannya lagi di tabung untuk memenuhi kebutuhan.


Bu Fatma mengangkat lukisannya, melihat-lihat apa yang kurang di sana. Namun tiba-tiba bel pintu berdering. Alhamdulillah. Hana sudah tiba. Gumam nya dengan menyunggingkan senyuman. Beliau meletakkan kembali lukisan tersebut lalu menuju ke pintu depan.


"Assalamu'alaikum dik Fatma" Sapa Hajjah Aisyah yang telah berdiri di depan pintu. Bu Fatma agak terkejut, sebab belum ada pemberitahuan kalau beliau akan kemari sebelum nya.


"Wa'alaikumussalam kak hajjah, Masya Allah... mari masuk" Ajak bu Fatma sumringah. Beliau membawa hajjah Aisyah duduk di ruang santai yang ada kolam ikannya.


"Aku buatkan minum dulu ya"


"Tidak usah dik, Aku membawa teh rempah dari rumah. Akhir-akhir ini aku lagi mengkonsumsi minuman-minuman herbal untuk kesehatan" Ucap hajjah Aisyah.


"Alhamdulillah kak... Aku senang mendengar nya. Semoga segala kesehatan dan kebahagiaan selalu menyertai kakak sekeluarga" Doa bu Fatma hangat.


"Aamiin yaa Rabbal 'Alamiin. Terima Kasih doa baiknya ya dik sayang..." Hajjah Aisyah mengelus lengan bu Fatma.


"Hmh... begini, sebenarnya ada sesuatu yang ingin ku katakan pada mu"


"Tentang apa itu kak?" bu Fatma mulai memfokuskan tatapannya pada hajjah Aisyah.


"Tentang anak mantu kita, Haris dan Hana" Ucap hajjah Aisyah. bu Fatma masih setia mendengar kan.


"Begini dik, sudah setahun setengah mereka menikah. Nak Hana belum juga hamil. Tempo lalu Nak Hana memang sudah hamil, tapi kita tidak tau apa kedepannya masih akan mengalami hamil anggur atau tidak" Keluh Hajjah Aisyah. Bu Fatma merasakan feeling yang tidak enak.


"Kurang dari 6 bulan lagi nak Haris akan diserahkan beban berat sebagai pewaris resmi almarhum haji Abdurrahman. Dan kita semua mengharapkan Haris memiliki pewaris berikutnya" Tutur kata yang sangat teratur dari hajjah Aisyah. bu Fatma mengerti kemana arah tujuan dari pembicaraan ini.


"Lalu bagaimana kak? Apa yang bisa kita lakukan? sedang amanah anak ini mutlak hak prerogatif dari Allah" Sahut bu Fatma.


"Benar, benar sekali. Kakak tidak menafikan hal tersebut dik! Hanya saja kita sebagai manusia wajib berikhtiar. Kakak sudah berkelut dan memikirkan hal ini matang-matang selama lebih dari 6 bulan bersama abang mu Zakaria. Jika nak Hana tidak bisa memberikan Haris keturunan, maka kita terpaksa harus menikahkan Haris dengan wanita lain" Sahut hajjah Aisyah. Bu Fatma kesulitan menelan ludahnya.


"Maaf kak hajjah, bukannya aku ga setuju. Tapi Haris dan Hana masih sangat muda. Kita juga harus memikirkan bagaimana perasaan Hana. Aku yakin ia pasti akan terluka. Kita masih bisa menunggu. Aku yakin Allah akan memberikan jalan keluar" Bu Fatma mencoba mengeluarkan pendapat nya. Wanita paruh baya ini khawatir hajjah Aisyah akan merealisasikan perkataan nya.


"Kita tidak bisa melibatkan perasaan pribadi kita di sini. Kita harus bijaksana dalam melihat, Ini bukan perkara sepele. Ini merupakan perkara kemaslahatan umat Dik! Berapa banyak yayasan yang Almarhum wariskan. Berapa banyak anak perusahaan di bawah naungan SunRise dan LogoVo group? Mau tidak mau Haris harus ada pewaris! " Bu Fatma terdiam. Beliau harus kembali menghela nafasnya.


Di satu sisi benar apa yang bu Hajjah katakan, namun di sisi lain akan ada Haris yang menderita dan Hana yang tersakiti. Dalam hal ini bu Fatma sama sekali tidak tega.


"Sebagai ibu kandungnya nak Haris, tolong kamu sampaikan perkara ini pada anak mantu kita, perkataan dan pandangan bijakmu Insya Allah akan mereka dengar kan dengan baik" Ucap bu Hajjah lagi. Lagi-lagi bu Fatma terdiam.


"Assalamu'alaikum, Mi.. Ummi... " Panggilan Haris mengalihkan pandangan hajjah Aisyah dan bu Fatma. Mereka sama-sama menoleh.


"Kenapa pintu nya tidak di kunci Mi? " Tanya Haris. Ia belum sadar akan keberadaan hajjah Aisyah di sana.


"Ah, Ummi lupa menguncinya nak, masuklah! Ini ada Ummi Aisyah bersama kita" Ucap bu Fatma. Haris dan Hana memberikan salam takzim pada kedua Ummi mereka.


"Mi, Haris titip Hana, sekarang Haris balik ke kantor dulu. Nanti abis maghrib insya Allah akan Haris jemput! "


"Baik nak, Ummi sudah lama tidak berbincang dengan nak Hana" Ucap bu Fatma merangkul Hana.


"Hati-hati di jalan nak, jaga kesehatan mu. Sebentar lagi kamu akan memegang amanah besar" Hajjah Aisyah bersuara.


"Mohon doa nya mi... " Ucap Haris sambil berlalu pamit.


***


Hi Teman-Teman, Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih ^^ Jazakumullah Khairal Jaza' ❤


***

__ADS_1


__ADS_2