Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 74: Bagaimana Jika....


__ADS_3

Pada Elegi Seribu Kisah


Pena menari nari melekuk menggeliat


Jiwa merasuk bak tarian sufi


Yang khusuk bersama gelombang


Di bawah kolong langit aku melagu


Mendendangkan syair menawarkan suka


Kepada Angin~


Kepada Hujan~


Kepada Rindu yang kian menggerus


***


Penghujung Agustus. Hujan deras kembali mengguyur bumi. Akhir-akhir ini memang hujan sering datang terus menerus. Haris mengulurkan tangan melewati kusen jendela, ia menyapa hujan melalui jari jemari nya, mengusap bulir bulir bening yang singgah di telapak tangannya.


Ia teringat Hana. Istrinya itu sering melakukan hal ini jika hujan datang. Dulu Haris tidak pernah bisa mengerti mengapa Hana selalu senang melakukan itu. Lelaki ini penasaran, Kini ia mencoba nya, bagai magnet yang menarik, ia semakin syahdu masuk merasai irama hujan. Ternyata ini memang menyenangkan.


Haris menutup kedua kelopak matanya, merasai bau hujan yang kian membasahi tanah. Setiap tetesannya menguapkan aroma ke udara dan melewati penciumannya. Ia baru mengetahui bahwa bau tanah basah yang sebelumnya terkena uap matahari itu terasa menenangkan.


Bak aroma terapi yang menentramkan jiwa, kenangan tentang Hana yang selalu ia acuhkan dulu menjadikannya ingin sekali berlama-lama membersamai suasana ini apalagi dengan di sapa angin sejuk yang mendesau-desau. Ya Rabbana. Ia tidak mengetahui hal simple sepele itu bisa menjadikannya begitu merindui Hana. Allahumma Shayyiban Naafi'an. Ucap lisannya berdo'a.


Ia terus saja larut dalam kenangan dengan melakukan lamunan panjang. Jiwanya terpekur.,


"Sayang, ayo kita makan dulu. Aku sudah menyiapkan masakan istimewa untukmu" Panggilan dari Arini membuyarkan lamunannya. Gadis itu memanggil dengan suara mendayu penuh kelembutan.


Haris menoleh lalu menggelengkan kepalanya. Ia sama sekali enggan untuk menatap wanita yang memanggilnya dari depan pintu kamar dan masih menggunakan apron itu.


"Kamu makanlah terlebih dahulu, nanti aku akan menyusul" Haris membalikkan tubuhnya dan kembali menatap sendu keluar sana. Jari jemari dingin kembali diulurkannya. Ia tersenyum masam.


"Mas! Mau sampai kapan Mas begini dan terus saja mengabaikanku?! " Suara Arini meninggi. Ia kesal. Haris selalu saja menunjukkan sikap dingin sejak mereka menikah beberapa waktu lalu. Pemuda itu seperti orang yang kehilangan jiwanya.


"Mas!!! Kenapaa.... " Ucap Arini lagi, kali ini ia datang mendekat menghampiri suaminya.


"Baiklah" Haris memotong perkataan Arini, Hanya sepatah kata saja yang meluncur dari mulut nya.

__ADS_1


Pemuda itu berlalu dan kembali mengacuhkan istrinya. Ia keluar kamar dan menuju ke meja makan. Tatapannya datar. Kali ini ia hanya tidak ingin bertengkar. Ia sudah terlalu lelah untuk berdebat. Arini mengikutinya ke meja makan.


Haris menatap beraneka ragam makanan yang terhidang di atas meja, Ia sama sekali tidak berselera. Nafsu makannya hilang. Ia mati rasa.


"Kenapa cuma dilihat saja? Ayo dimakan mas" Haris masih diam saja.


Arini berinisiatif untuk mengambilkan makanannya. Perlahan Ia menyendokkan nasi berserta lauk pauk yang dianggapnya sebagai makanan favorit sang suami. Entah mengapa tiba-tiba Arini kegirangan, Ia mulai berdendang, *N**a Na Na*. Sayup-sayup Haris mendengar dendangannya. Kian lama kian keras memekakkan telinga.


"Makan mas, ayo! Aku sudah lelah memasak! " Arini memaksa. Tak sabar, Ia mulai menyendokkan makanan tersebut ke mulut Haris sambil masih berdendang keras Na Na Na. Tiba-tiba saja dalam pandangan mata Haris, makanan yang berada di sendok tersebut berubah menjadi belantung yang menjijikan.


"Tidak, jangan! Aku tidak mau! " Haris berkata keras. Ia memalingkan wajah. Arini tidak mempedulikan penolakan keras dari Haris, ia terus saja memaksa.


"Ayolah sayang! "


"Tidakkk, Rin. Jangaaan!!! "


Tiba-tiba,


"Ris, Ris, Haris!! Banguuun!! Sadar!!!"


Perlahan Haris membuka matanya. Hah Hah Hah. Nafasnya tersengal. Ia melihat Ridwan tengah mematikan alarm yang bernada dering Na Na Na tersebut.


"Lu kenapa? Mimpi buruk? " Ridwan bertanya keheranan mendengar igauan Haris.


Syaithan begitu mempermainkan nya. Ia jarang sekali bermimpi buruk, selama 26 tahun usianya bisa terhitung berapa kali sudah ia mengalaminya, itu juga pada saat ia masih kecil dan remaja. Haris masih menetralkan pernafasan nya.


Ridwan melirik ke arah jarum jam, pukul setengah 3 pagi.


"Yuuk shalat tahajud, kita berdoa pada Allah swt. Besok pagi kita akan menghadiri sidang" Ajak Ridwan, sahabat nya itu menginap di rumah Haris untuk menemaninya sambil mempersiapkan segala sesuatu untuk ke pengadilan.


Haris mengangguk dan bangkit mengambil air wudhu, di iringi Ridwan. Mereka shalat berjamaah bersama.


***


Kamis. Pagi hadir bersama mentari yang bersinar. Cerahnya terasa menghangatkan, tidak seperti hujan dingin nan sendu yang hadir di dalam mimpi Haris. Semoga saja ini pertanda baik.


Pukul 06.30, Haris dan Ridwan telah bersiap menuju ke Pengadilan. Setelan pakaian rapi telah dikenakan, namun begitu garis wajah mereka tetap saja menunjukkan gurat kelelahan.


Ridwan menepikan mobilnya diparkiran. Pintu utama Pengadilan Negeri hadir di depan mata. Haris tampak gugup. Rasa cemas mendera. Ridwan paham akan perasaan sahabatnya itu. Ia menepuk-nepuk pundak Haris menguatkan. Mata mereka bertemu. Hanya dari tatapan saja, seolah-olah Ridwan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.


Semua anggota keluarga inti telah berkumpul di sana, tak kecuali Gibran. Ia telah berada di sana dan duduk menyudut sendirian, ia tidak mengenal seorang pun di sini.

__ADS_1


Ketika Ridwan hadir ke tengah-tengah mereka, ia tampak sumringah. Gibran sendiri akan menjadi saksi pada gelaran sidang kali ini, sebab ia lah yang menyelamatkan Hana.


Orang tua Gibran dan Yura sendiri masih dalam proses pengobatan di Singapura, ibunda mereka tengah menjalani operasi batu ginjal di sana.


Di Pengadilan


Hakim dan jajarannya dengan penuh wibawa memasuki ruangan. Sidang akan segera di mulai. Masing-masing kuasa hukum telah siap dengan berkas-berkas mereka. Terdakwa dan Korban juga telah hadir. Para saksi menunggu giliran untuk dipanggil. Keluarga besar yang hadir juga telah memasuki ruangan, sidang dibuka untuk umum. Mereka sudah siap dengan doa dan harapan.


Sebenarnya Hanum, Lisa dan Arini tidak pernah menyangka semua akan berakhir seperti ini, tidak terlintas dibenak mereka ketika melakukan kejahatan bahwa pada saat nya mereka akan mengikuti jalan perkara di pengadilan, namun semua ini sudah terlanjur terjadi walau mereka tidak pernah menyesal telah melakukan itu semua.


"Saudari Yura, kami memberikan kesempatan pada Anda untuk menjelaskan mengapa obat-obatan terlarang jenis ekstasi itu bisa berada di dalam tas Anda! " Hakim Agung mempersilahkan Yura untuk menjelaskan. Hana menatap Yura, mereka saling menguatkan.


Dengan agak tercekat dan tersengal, Yura menjelaskan peristiwa na'as saat ia mengunjungi Hana di rumah sakit malam itu. Kesehatan gadis ini memang sedang tidak baik-baik saja.


"Saya sama sekali tidak mengetahui mengapa benda itu ada di tas saya, Pak! " Yura kembali menangis, Gibran melihatnya pilu, rasanya ingin sekali ia menghampiri adiknya itu, memeluk dan mengusap airmatanya. Ridwan melihat calon istrinya dengan tatapan tak tega, ia mengepalkan tangannya.


"Lalu mengapa sidik jari kamu bisa berada di sana? " Jaksa Penuntut Umum menembakkan pertanyaan jitu setelah memberikan gadis itu jeda untuk bernafas. Spontan Yura mendongakkan kepalanya. Ia dan orang-orang yang berada di sana terperangah tak percaya.


"Saudari Hana, benarkah Anda dan nona Yura terlibat dalam transaksi narkotika? " Penuntut beralih bertanya pada Hana.


"Saya sedang sakit ketika itu, bagaimana mungkin saya melakukan nya, Pak! " Hana menjawab dengan tenang.


"Mohon dijawab saja pertanyaan yang di aju kan sesuai konteks, jangan melebar ke mana-mana! "


"Maka saya jawab itu semua tidak benar, kami tidak melakukannya" Ucap Hana lagi.


Hana dan Yura semakin terpojok akibat adanya sisa sidik jari dari Yura di benda tersebut.


Samar-samar Lisa tersenyum, ia duduk menyaksikan jalannya sidang dari barisan keluarga Hana.


Semua tampak tegang. Kini giliran Advokat dari kedua terdakwa yang berbicara, pengacara yang di sebut sebagai penasehat hukum itu bertindak sebagai penyeimbang terhadap upaya paksa yang diberikan oleh undang-undang kepada penegak hukum.


Beliau mencoba menyeimbangkan kasus client nya dengan berkata bisa jadi sidik jari yang terdapat pada obat-obatan tersebut tertoreh saat Yura hendak mengambil benda yang berada di dalam tas. Beliau juga menunjukkan bukti-bukti dan prestasi yang sudah client nya torehkan. Sangat kecil kemungkinan Yura dan Hana melakukan transaksi apalagi jadi pengedar.


"Lalu bagaimana jika ternyata sidik jari bukan terdapat di bagian luar melainkan di sebaliknya? Sidik jari tersebut berada di bagian dalam" Pak penuntut menaikkan sebelah alisnya ke atas.


***


Hai Teman-Teman~ kalau Arini dan Haris menikah mungkin gambarannya bakal seperti di dalam mimpi itu yaa 🤔😅


Yuk dukung terus karya Alana dengan Like Komen Vote juga Hadiah nya, Terima kasih

__ADS_1


Semoga Allah memudahkan semua urusan teman-teman sekalian 🥰


__ADS_2