Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
115: Darah Segar Yang Mengucur


__ADS_3

Haris mengusap kasar wajahnya saat mengetahui ia harus ke New York selama dua bulan untuk mengikuti program pengalihan Chief Executive Officer, mengingat ia akan memimpin perusahaan besar beberapa bulan lagi.


Haris bangkit, ia membuka sisi kiri jendela. Bias Matahari pagi mengenai wajah nya. Jujur saja ia tidak siap berpisah dari Hana walau hanya untuk sementara waktu. Pemuda ini mengusap pelipis tak beringatnya.


Tok tok...


Seseorang yang ternyata sekretaris masuk ke ruangan.


"Permisi pak... Saya membawa nama-nama yang ikut serta untuk ke New York sebagai partner pak Haris di sana nantinya. Dua laki-laki dan dua perempuan. Nama-nama yang bersangkutan memiliki kepentingan dan tugas masing-masing dalam membantu bapak. Ini semua sudah di pertimbangkan dengan matang oleh Ny. Aisyah"


"Siapa saja mereka? " Tanya Harus datar.


"Mr. Ridwan Ibrahim, Roni Pangestu, Ms. Eva Lalisa juga Ms. Tasya kencana"


"Hmh.. Tolong hubungi mereka untuk menghadap saya besok!" Titah Haris.


"Baik Pak. Kalau begitu saya permisi ! "


Haris sedikit lega, setidaknya ada Ridwan dan Roni nantinya di sana. Tasya adalah kerabat hajjah Aisyah yang mengatur keuangan milik haji Abdurrahman selama ini, wajar jika ia diikutsertakan agar Haris mengetahui kemana saja aliran dana tersebut didistribusikan. Tapi Eva.. Siapa dia?


Haris membuka kancing kemeja teratas, melonggarkan dasi lalu melepaskannya. Kemudian menarik ke atas lengan kemeja panjang dan mengambil kunci mobilnya. Hari ini ia ada janji menemui dokter Irawan di tempat praktek beliau. Dokter ahli kandungan itu sedang menantinya.


"Assalamu'alaikum dok! " Sapa Haris ketika membuka pintu ruang praktek.


"Waalaikumsalam salam, masuk Pak! Sendirian saja? Tidak membawa nona Hana? " Tanya dokter Irawan yang melihat Haris hanya masuk ke dalam ruangan sendirian.


"Saya tidak memberitahu kan istri saya mengenai kunjungan hari ini dok! " Aku Haris.


"Baiklah. Apa yang bisa saya bantu? "


"Hmh..." Haris ragu untuk menjawab.


"Minumlah terlebih dahulu" Saran dokter Irawan.


"Istri saya belum hamil juga setelah melakukan kuretase hamil anggur tepat 6 bulan lalu... "Ucap Haris pada akhirnya.


"Hmh, Apa ada solusi untuk mempercepat kehamilan dok? Apa kuretase beberapa waktu lalu itu memang menyebabkan Hana akan sulit hamil?" Tanya Haris.


"Kita harus memeriksa nona Hana dan juga pak Haris terlebih dahulu baru kemudian menganalisis kira-kira apa yang menjadi penyebabnya" Dokter Irawan menjeda kalimatnya.


"Ibu yang sudah pernah memiliki anak, entah baru satu atau lebih. Berisiko mengalami infertilitas sekunder. Bahkan, pada pasangan yang sehat dan tidak mengalami gangguan pada organ reproduksi resiko infertilitas sekunder ini mungkin saja terjadi...


"Sulit hamil anak kedua atau ketiga dan selanjutnya dapat terjadi pada pasangan usia reproduktif (20-34 tahun) maupun yang sudah melewati usia reproduktif (di atas 35 tahun). Penyebab infertilitas sekunder ini sebenarnya hampir sama dengan infertilitas primer atau infertilitas yang terjadi pada pasangan yang sulit punya anak pertama....


"Ada beberapa faktor penyebab sulit hamil lagi karena infertilitas sekunder, yaitu faktor usia dan tingkat kesuburan, kualitas ******, Gangguan produksi, fungsi atau pengiriman ****** pada pria, Kerusakan tuba falopi, gangguan ovulasi, endometriosis dan kondisi uterus pada perempuan, Komplikasi yang berkaitan dengan kehamilan sebelumnya atau operasi, Faktor resiko seperti usia, berat badan dan penggunaan obat-obatan tertentu" Terang dokter lebih lanjut.


"Sebaiknya pak Haris membawa nona Hana untuk diperiksa kan bersama" Ucap Dokter Irawan lebih lanjut.


"Istri saya menolak jika saja harus melakukan program bayi tabung untuk bisa hamil, dok" Lirih Haris menjawab sang Dokter.


"Tidak begitu. Belum tentu harus melakukan program bayi tabung pak! Mungkin bisa hamil hanya dengan bantuan obat penyubur, atau cara lainnya"


"Baik dok, saya akan kabarkan pada istri saya perihal hal ini, Terima kasih untuk penjelasan" Haris Pamit dengan menyunggingkan senyumnya.


Pemuda itu keluar dari ruangan dokter dengan langkah pasti, namun kepalanya dipenuhi oleh berbagai keraguan. Ia Khawatir Hana akan tersinggung jika ia mengajaknya ke dokter.


Dan Haris lebih khawatir jika istrinya menempuh jalur pintas dengan menyuruhnya untuk menikah lagi. Sedang keluarga besar dari sebelah Ayah nya sudah mewanti-wanti agar ia segera memiliki anak.


Dalam hati, Haris bertekad akan menempuh segala cara agar tidak di rong rong untuk menikah lagi. Ia akan memperjuangkan pernikahan utuhnya bersama Hana.


Terkadang Haris berpikir, andai ia bisa memilih untuk tidak terlahir dari keluarga haji Abdurrahman. Lalu bisa hidup bebas menentukan pilihannya sendiri. Namun kembali lagi, takdir Allah-lah yang menentukan segalanya


Dddrrrttt Dddrrrttt


Panggilan telepon dari Hana menghiasi layar ponsel nya,


"Ya Sayang? "

__ADS_1


"Jadi ke tempat mba Arini mas? "


"Oh iya, Aku lupa! Ada syukuran ya? "


"Iya.... " Jawab Hana dari seberang. Arini memang mengundang mereka untuk menghadiri acara syukuran atas kesembuhannya.


Waktu yang begitu mepet. Haris melirik ke arah jam tangan. Ia harus mengikuti rapat juga harus mengurus berkas keberangkatan ke New York. Sedang ia sama sekali belum mengabarkan pada Hana perihal keberangkatan nya ini.


"Sayang, maaf... Masih ada beberapa hal yang harus ku urus untuk saat ini. Bagaimana jika kamu pergi bersama Yura saja? " Pinta Haris.


"Begitu yaa, Hmh... Baiklah"


"Oya, nanti malam kita makan di luar ya! Aku ingin fine dining bersama mu. Ada hal yang ingin ku sampaikan. Insya Allah Aku akan menjemput mu di rumah Arini jam 5.30 sore"


"Baik mas"


"I do miss You... " Ucap Haris sungguh-sungguh. Hana hanya tersenyum. Senyum manis nya tak terlihat oleh Haris.


"Kok ga di balas? "


"Nanti ya... " Sahut Hana. Tidak mungkin ia membalas, ada Abah dan Ummi di hadapannya.


"Ga mau, mau nya sekarang... apa susahnya sih bilang I miss you, I love you" sewot Haris.


"Too... " Jawab Hana cepat.


"Haiisshh... Baiklah. See you"


Tiiitttt... tiiitttt. Haris memutuskan sambungan teleponnya. Dengan langkah tergesa ia bergegas kembali ke kantor.


***


"Kalian berdua saja? " Tanya Arini pada Hana dan Yura. Wanita ini sedari tadi celingak celinguk seperti menanti kedatangan seseorang. Hana dan Yura saling bertatapan.


"Hmh, iya mba.. Kami berdua saja. Alhamdulillah mba sudah melewati masa masa sulit. Tuk kedepannya semoga sehat selalu" Ucap Hana tulus.


"Terima kasih, silahkan duduk. Nikmati hidangannya" Ucap Arini datar sambil berlalu menghampiri tamu lain.


"Mas, ke sini bersama siapa? " Yura mengerutkan kening.


"Tuh... " Gibran menunjuk Romi yang tampak sedang mengobrol bersama Arini.


"Hana, apa kabar? Dimana Haris? " Tanya Gibran basa basi yang kini memusatkan penglihatan nya ke wajah Hana.


"Hmh Mas Haris masih ada keperluan di kantor" Jawab Hana.


"Boleh bergabung duduk di sini? " Tanya Gibran lagi menatap Hana.


"Oh silahkan" Wanita ini menatap ke sembarang arah.


"Kamu apa kabar hm? "


"Baik Alhamdulillah"


"Mas Gibran, Hana... Sebentar ya! Aku ke toilet dulu! " Ucap Yura yang bangkit meninggalkan Hana dan Gibran berdua saja.


"Hmh, kuliah mu bagaimana? " Tanya Gibran lagi.


"Lancar mas Alhamdulillah"


Gibran asik mengajak Hana mengobrol. Yura kemana ya? Lama sekali. Batin Hana yang merasa kurang nyaman.


Dddrrrrttt Drrrrtttt


Sebuah pesan masuk ke handphone Haris. Laki-laki ini tengah mengikuti rapat bersama bawahannya. Ia mengabaikan pesan yang masuk itu.


Ddddrrrtttt Drrrrttttt

__ADS_1


Pesan tersebut kembali masuk ke no Wattsapp nya. Nomor yang tidak dikenal. Haris mengerutkan kening. Nomor di handphone nya ini begitu privasi. Hanya segelintir keluarga dan teman dekat nya saja yang mengetahui. Penasaran, Haris membukanya.


Astaghfirullah. Rahang Haris mengeras ketika melihat apa yang tertera di layar ponsel. Konsentrasi nya buyar. Tak ayal Pria ini bangkit dari duduknya.


"Rapat kita tunda. Ada hal yang harus saya urus. Permisi! " Ucap Haris yang langsung mengambil tas dan kunci mobilnya dari atas meja lalu meninggalkan ruang rapat dengan tergesa-gesa. Para staff yang hadir saling berbisik. Mereka tidak mengerti akan tindakan bosnya yang begitu tiba-tiba.


Dada Haris bergemuruh, Foto Hana dan Gibran yang masuk ke pesan Wattsapp nya dalam keadaan tengah asik mengobrol dengan jarak yang begitu dekat membuat darahnya naik seketika. Dengan cepat ia melajukan mobilnya ke rumah Arini.


***


"Hi Hana... Mas Gibran! " Sapa Lisa yang tiba-tiba hadir dari arah belakang mereka.


"Lisaaa... " Seru Hana dengan bangkit memeluk Lisa.


"Kamu kenal dengan Arini? " Hana mengerutkan keningnya.


"Ya... Kami baru-baru ini berteman" Sahut Lisa yang mengambil tempat di samping Hana.


"Oya, Aku akan ke New York minggu depan! " Seru Lisa.


"Wah hebat! Benarkah? "


"Ya. Perusahaan mamaku yang bekerja sama dengan perusahaan suamimu mengutusku ke sana. Mas Haris pasti telah mengabarkan nya padamu. Mengabarkan bahwa kami akan ke New York selama 2 bulan ke depan! " Ucap Lisa santai.


"Ke.. ke New York? dua bulan?" Gumam Hana yang nyaris tak terdengar, air muka nya berubah.


"Hana, kamu baik-baik saja? " Tanya Gibran mendongakkan kepala nya mendekat ke arah Hana.


"Aku... baik-baik saja mas" Di saat bersamaan, tak sengaja Hana juga mendongakkan kepalanya. Tuk sejenak tatapan mereka bertemu dengan jarak dekat yang hanya tersisa sejengkal. Gibran gugup. Nafas Hana terhenti sesaat karena begitu terkejut.


Seseorang melihat adegan ini dengan sudut berbeda dari jarak 50 meter begitu marah. Dengan cepat ia menghampiri mereka. Tak ayal, ia menarik kerah kemeja Gibran lalu,


Buuuugggghhhhh. Satu tinju melayang ke wajah bersih pemuda yang tengah menempuh pendidikan di Maroko itu. Lisa menyinggung kan senyumnya. Ia bahagia melihat ini semua.


Haris menarik kasar lengan Hana. Rasa cemburu yang tidak bisa ia tolerir.


"Mari pulang! " Tarik Haris paksa. Ia menatap tajam ke wajah Gibran yang sudah biru lebam.


"Mas, mas Haris! Mau kemana? Kenapa buru-buru? " Panggil Arini yang melihat Haris dan Hana sudah mencapai gerbang.


"Kami permisi ya.. Terima kasih jamuannya. Semoga Allah melindungi mu selalu" Ucap Haris datar. Ia tidak bisa menyembunyikan wajah kusutnya.


"Mas tidak makan? " Tanya Arini lagi.


"Aku sudah kenyang" Haris terus berjalan.


"Mas... tunggu!"


"Apalagi? " Tanya Haris jengah. Hana hanya diam, istrinya ini hanya bisa menggigit bibirnya cemas.


"Hati-hati" Ucap Arini pelan. Padahal ia berniat untuk menawarkan membungkus makanan untuk Haris bawa pulang. Namun melihat wajah berantakan Haris, Arini mengurung kan niatnya.


***


Buuuuuuggghhhh. Haris meninju keras tembok dinding apartemen mereka. Tangannya mengucurkan darah. Darah segar itu menetes dari buku-buku jari jemari kekarnya. Hana ngilu melihat nya.


"Mas.... Stop, ku mohon stop!! Itu sangat menyakitkan... Tanganmu bisa hancur, bisa remuk mass!!!" Cegah Hana. Ia menangis tersedu.


Hana mengambil sapu tangan dari sakunya dan mencoba membalut tangan Haris yang berdarah. Namun sang suami dengan cepat menepisnya.


"Hana..." Tiba-tiba Haris meletakkan tangan nya di kedua pundak Hana.


"Jangan pernah mempermainkan hatiku. Sebab... Aku tidak akan pernah mampu menanggung rasa sakitnya! Remuk tanganku ini tidak sebanding dengan rasa sakit ketika melihat mu mencurangiku ! " Lirih Haris sarkas. Mata merahnya berair. Ia menghujam kan tatapan nya dalam dalam ke dalam netra Hana.


***


Hi Teman-Teman, Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih ^^ Jazakumullah Khairal Jaza' ❤

__ADS_1


IG @alana.alisha


***


__ADS_2